Clara tidak tidur sepanjang malam. Dia duduk di sofa apartemennya yang sudah amblas, menatap kartu nama Alex yang diletakkan di meja kecil di depannya. Lampu ruang tamu redup, hanya satu bohlam yang masih menyala. Yang lain sudah putus sejak dua minggu lalu dan Clara belum sempat menggantinya. Atau lebih tepatnya, tidak punya uang untuk menggantinya. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Clara mengambil kartu nama itu lagi, menatap nama yang tercetak rapi. Alex Anggara Kenapa pria itu berubah pikiran? Dua hari lalu dia mengusirnya dengan tatapan penuh penghinaan. Dan sekarang tiba-tiba datang ke apartemennya, mengajaknya bicara. Clara tidak mengerti. Tapi dia juga tidak punya pilihan selain menerima kesempatan ini, apa pun syaratnya. Pukul lima pagi, Clara akhirnya bangkit dari sofa. Tubuhnya pegal. Matanya perih. Tapi dia harus bersiap. Dia tidak boleh terlambat. Clara mandi dengan air dingin. Pemanas airnya rusak sejak bulan lalu. Dinginnya membuat tubuhnya menggigil, ta
Terakhir Diperbarui : 2025-09-11 Baca selengkapnya