Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 3: Penolakan Pertama

Share

Bab 3: Penolakan Pertama

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-09-11 14:52:55

Clara merasakan mulutnya kering. Dua menit. Hanya dua menit untuk meyakinkan pria yang bahkan tidak mau menjabat tangannya.

Alex masih menatapnya dengan tatapan dingin yang membuat Clara ingin mundur. Tapi kakinya tidak bergerak. Dia sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang.

"Saya tahu kakek Anda menekan Anda untuk menikah," kata Clara pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Dan saya tahu Anda tidak tertarik pada hubungan romantis."

Ekspresi Alex tidak berubah. Tidak ada kejutan. Tidak ada kemarahan. Hanya kekosongan yang dingin.

"Anda membaca artikel gossip dan pikir Anda tahu tentang hidup saya?" suaranya datar, tapi ada nada meremehkan di sana.

"Bukan hanya artikel," Clara melanjutkan cepat. "Saya tahu posisi Anda sebagai pewaris bisa terancam kalau Anda tidak—"

"Cukup."

Satu kata. Dingin seperti es. Clara terdiam.

Alex menatapnya dengan tatapan yang membuat Clara merasa seperti serangga di bawah mikroskop. "Anda pikir saya akan percaya pada wanita asing yang tiba-tiba menghampiri saya di acara publik dan mengaku tahu tentang urusan keluarga saya? Anda pikir saya bodoh?"

"Bukan itu maksud saya—"

"Saya tidak peduli apa maksud Anda." Alex berbalik sepenuhnya menghadap Clara. Tingginya membuat Clara harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. "Anda dari Arta Group. Perusahaan yang sedang tenggelam. Tentu saja Anda mencari cara untuk menyelamatkan diri. Dan Anda pikir saya adalah jalan keluarnya."

Clara menelan ludah. "Saya tidak mencari bantuan finansial—"

"Lalu apa?" Alex menyilangkan tangannya di dada. "Anda mau menawarkan apa? Saham perusahaan yang tidak berharga? Koneksi bisnis yang sudah mati? Atau Anda pikir saya akan tertarik pada... Anda?"

Cara Alex mengucapkan kata terakhir itu membuat Clara merasa seperti ditampar. Ada nada jijik yang samar di sana.

"Saya menawarkan solusi," kata Clara, memaksa suaranya tetap tenang meski tangannya gemetar. "Untuk masalah kita berdua. Anda butuh istri untuk menenangkan kakek Anda. Saya butuh—"

"Saya tidak butuh apa pun dari Anda." Alex memotong dengan suara yang lebih keras. Beberapa orang di sekitar mereka mulai menoleh. "Dan saya tidak tertarik pada permainan bodoh seperti ini."

Alex melangkah mendekat. Clara secara refleks mundur satu langkah.

"Dengar baik-baik, Nona Wijaya." Suara Alex rendah, berbahaya. "Saya tidak tahu dari mana Anda dapat informasi tentang keluarga saya. Tapi saya benci orang yang mencoba memanfaatkan situasi pribadi saya untuk keuntungan mereka sendiri. Jadi ini saran saya untuk Anda: pergi. Sekarang. Sebelum saya panggil security untuk mengusir Anda."

Clara merasakan wajahnya memanas. Malu. Marah. Tapi juga putus asa. Ini kesempatan satu-satunya. Dia tidak bisa membiarkannya lepas begitu saja.

"Tolong dengarkan saya sebentar—"

"Saya sudah mendengarkan. Dan saya tidak tertarik." Alex berbalik, memberi isyarat pada pria-pria di sampingnya untuk melanjutkan percakapan mereka.

Clara berdiri di sana, sendirian di tengah kerumunan orang-orang kaya. Musik klasik masih mengalun. Orang-orang masih tertawa. Tapi Clara merasa seperti dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam dua hari.

Dia menatap punggung Alex yang tegap dengan jas hitam mahalnya. Pria itu bahkan tidak menoleh lagi. Seolah Clara tidak ada. Seolah Clara hanya serangga yang tidak perlu dipikirkan.

Clara menarik napas dalam. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

Dia berbalik dan berjalan keluar dari ballroom dengan langkah cepat. Wajahnya panas. Matanya mulai memanas. Tapi dia tidak akan menangis. Tidak di sini. Tidak di depan orang-orang ini.

Begitu sampai di luar hotel, Clara berhenti di trotoar. Udara malam terasa dingin di kulitnya yang panas. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Apa yang baru saja terjadi?

Dia ditolak mentah-mentah. Dihina. Diusir.

Clara merasa bodoh. Sangat bodoh. Bagaimana dia bisa berpikir pria seperti Alex Anggara akan mau mendengarkan tawaran gila dari wanita yang bahkan tidak dia kenal?

Ponselnya bergetar. Pesan dari Paman Robert.

*"Sudah dapat calon suami palsu? Waktumu tinggal 29 hari, Clara. Jangan sia-siakan."*

Clara menatap pesan itu dengan perasaan mual. Paman Robert pasti sudah menceritakan taruhannya pada orang-orang. Pasti sudah menertawakan kebodohannya.

Dia mematikan ponselnya lagi. Tidak sanggup membaca lebih banyak.

Clara berdiri di trotoar itu selama beberapa menit, tidak tahu harus pergi ke mana atau melakukan apa. Taksi-taksi lewat di depannya. Orang-orang berjalan melewatinya. Tapi Clara hanya berdiri diam, merasakan beban di dadanya semakin berat.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

---

Dua hari kemudian, Clara duduk di ruang kerjanya yang penuh tumpukan dokumen. Dia tidak tidur dengan baik sejak malam di Hotel Mulia. Setiap kali dia menutup mata, dia melihat wajah dingin Alex dan mendengar suaranya yang meremehkan.

*"Anda pikir saya akan tertarik pada... Anda?"*

Clara menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran itu. Dia harus fokus. Harus mencari jalan keluar lain.

Tapi tidak ada jalan keluar lain.

Dia sudah mencoba menghubungi beberapa kenalan lama ayahnya. Semua menolak. Beberapa bahkan tidak menjawab teleponnya.

Dia mencoba mencari pinjaman dari bank. Ditolak. Riwayat kredit Arta Group terlalu buruk.

Dia bahkan sempat berpikir untuk lari. Pergi jauh. Mulai hidup baru di kota lain. Tapi kemana? Dengan uang apa? Dan meninggalkan warisan ayahnya begitu saja?

Pintu ruangannya diketuk pelan. Dina masuk dengan wajah khawatir.

"Bu Clara, ada surat dari bank." Dina meletakkan amplop putih di atas meja. "Sepertinya... surat peringatan terakhir."

Clara mengambil amplop itu dengan tangan yang gemetar. Dia membukanya pelan. Membaca isinya.

Penyitaan aset akan dilakukan dalam tiga minggu jika pembayaran tidak segera dilakukan.

Tiga minggu.

Bahkan lebih cepat dari batas waktu yang diberikan Paman Robert.

"Bu Clara, apa semuanya baik-baik saja?" suara Dina terdengar jauh, seperti dari ujung terowongan.

Clara menatap surat itu. Huruf-hurufnya kabur. Tangannya gemetar.

"Bu Clara?"

"Aku baik-baik saja." Clara meletakkan surat itu di meja, memaksa suaranya tetap tenang. "Terima kasih, Dina."

Dina terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk dan keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, Clara menyandarkan kepalanya di meja. Napasnya terasa berat. Dadanya sesak.

Dia gagal. Dia benar-benar gagal.

Tidak ada jalan keluar. Tidak ada harapan. Dalam tiga minggu, semuanya akan hilang. Perusahaan ayahnya. Rumahnya. Semua yang tersisa dari keluarganya.

Dan dia akan jadi milik Tuan Hendra.

Clara menutup matanya, merasakan air mata mulai keluar. Dia tidak tahan lagi. Tidak bisa berpura-pura kuat lagi.

Dia menangis dalam diam, sendirian di ruang kerja yang dingin dan sepi.

---

Malam itu Clara pulang lebih larut dari biasanya. Langit sudah gelap gulita. Jalanan sepi. Dia berjalan dari halte bus ke apartemennya dengan langkah yang berat.

Begitu sampai di depan pintu apartemennya, Clara berhenti.

Ada seseorang berdiri di sana.

Seorang pria tinggi berjas hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas dalam kegelapan. Tapi Clara mengenali postur tubuh itu.

Alex Anggara.

Clara terdiam. Jantungnya berhenti sedetik. Apa yang dilakukan pria itu di sini? Bagaimana dia tahu alamatnya?

Alex berbalik. Wajahnya terlihat dalam cahaya redup dari lampu lorong. Ekspresinya tetap datar. Dingin. Tapi matanya menatap Clara dengan intensitas yang membuat Clara tidak bisa bergerak.

"Nona Wijaya," kata Alex dengan suara rendah. "Kita perlu bicara."

Clara menelan ludah. Tangannya mencengkeram tas di bahunya.

"Tentang apa?" suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan.

Alex melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Berhenti tepat di hadapan Clara. Jaraknya terlalu dekat. Clara bisa mencium aroma parfum mahal yang samar.

"Tentang tawaran Anda," kata Alex, matanya menatap langsung ke mata Clara. "Saya punya syarat. Banyak syarat. Dan kalau Anda tidak bisa memenuhi semuanya, jangan buang waktu saya."

Clara merasakan jantungnya berdetak cepat. Ini bukan penerimaan. Ini bahkan bukan kesempatan. Ini hanya... kemungkinan kecil yang mungkin akan berakhir dengan penolakan lagi.

Tapi ini lebih baik dari tidak ada apa-apa.

"Saya mendengarkan," kata Clara pelan.

Alex menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Lalu dia mengambil kartu nama dari saku jasnya dan memberikannya pada Clara.

"Besok. Jam sepuluh pagi. Kantor saya. Jangan terlambat. Dan jangan datang kalau Anda tidak siap mendengar hal-hal yang mungkin tidak akan Anda sukai."

Sebelum Clara bisa menjawab, Alex sudah berbalik dan berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Alex masuk. Pintu tertutup.

Clara berdiri sendirian di depan pintu apartemennya, menatap kartu nama di tangannya.

Alex Anggara

CEO, A&A Group

Di bawahnya ada alamat kantor dan nomor telepon.

Clara meremas kartu nama itu di tangannya. Jantungnya masih berdetak cepat. Pikirannya penuh dengan pertanyaan.

Kenapa Alex berubah pikiran? Apa yang membuatnya datang ke sini? Dan apa maksudnya dengan "hal-hal yang mungkin tidak akan Anda sukai"?

Clara tidak tahu jawabannya. Tapi dia tahu satu hal: ini kesempatan terakhirnya. Dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status