Menikahi Pewaris Dingin

Menikahi Pewaris Dingin

last updateHuling Na-update : 2026-01-04
By:  SolaceReinaIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
131Mga Kabanata
1.2Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Clara, seorang pewaris yang tertekan, terancam kehilangan perusahaan warisan ayahnya karena hutang dan intrik pamannya. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menerima perjodohan paksa dengan pengusaha tua yang serakah, Tuan Hendra. Namun, Clara menolak untuk menyerah. Ia membuat taruhan gila: ia hanya punya satu bulan untuk menemukan calon suami demi membatalkan perjodohan itu. Dalam keputusasaan, ia menemukan Alex, seorang CEO muda yang dingin, arogan, dan kejam. Alex setuju menjadi "suami palsu" Clara, tetapi dengan syarat: pernikahan mereka hanyalah bisnis, tanpa emosi, dan Clara harus tunduk pada setiap kemauannya. Clara pikir ia telah menemukan jalan keluar, tetapi ia tidak sadar bahwa ia telah melompat dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat mereka terpaksa berakting mesra di depan keluarga Alex, Clara menemukan bahwa di balik sikap dingin Alex, tersembunyi rahasia kelam dan rencana balas dendam. Keadaan semakin rumit ketika Clara mendapati dirinya menderita sakit, yang ia salah sangka sebagai tanda kehamilan. Hubungan palsu mereka menjadi nyata ketika Clara didiagnosis memiliki tumor dan Alex, secara mengejutkan, mengambil alih perawatannya. Di tengah semua konflik ini, Clara mulai melihat sisi rapuh dari Alex, membuka pintu pada sebuah ikatan yang tak terduga. Namun, apakah hubungan ini akan bertahan saat ancaman dari Tuan Hendra dan mantan kekasih Alex, Elena, terus membayangi, siap untuk membongkar rahasia pernikahan palsu mereka?

view more

Kabanata 1

Bab 1: Pernikahan Demi Hutang

Clara berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya yang asing. Gaun malam berwarna navy membalut tubuhnya dengan sempurna—terlalu sempurna untuk ukuran malam Jumat biasa. Seharusnya dia sekarang mengenakan jeans dan kaos santai, bersiap pergi ke pesta ulang tahun Mira.

Seharusnya.

Tangannya gemetar saat merapikan poni yang jatuh menutupi dahi. Dadanya sesak. Ada yang tidak beres dengan malam ini, dia bisa merasakannya.

"Sudah siap, Clara?"

Suara Paman Robert dari balik pintu membuat bulu kuduknya berdiri. Nada bicara pria itu selalu dibuat-buat ramah, tapi Clara sudah terlalu lama mengenalnya untuk percaya pada keramahan palsu itu.

Clara menarik napas panjang, memaksa suaranya keluar. "Siap."

Bohong. Dia sama sekali tidak siap.

Pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk. Paman Robert masuk dengan senyum lebar yang tidak sampai ke mata. Matanya menyapu Clara dari atas ke bawah dengan cara yang membuat Clara ingin menutup tubuhnya dengan selimut.

"Bagus. Kau cantik malam ini." Paman Robert mengangguk puas. "Ayo, kita jangan sampai terlambat. Tamu kita sudah menunggu."

Clara mengikuti Paman Robert keluar rumah. Mereka naik mobil sedan hitam yang dikemudikan supir langganan pamannya. Selama perjalanan, Clara mencoba bertanya ke mana mereka akan pergi, tapi Paman Robert hanya tersenyum sambil sibuk dengan ponselnya.

Jalanan Jakarta malam ini ramai. Lampu-lampu kendaraan bergerak lambat seperti ular cahaya. Clara menatap keluar jendela, melihat orang-orang di trotoar yang tertawa, bercanda, hidup normal. Dia iri pada mereka.

Mobil berhenti di depan restoran mewah di kawasan Menteng. Clara pernah lewat tempat ini beberapa kali. Restoran dengan lampu kristal besar di pintu masuk dan valet parking yang ramai. Tempat yang biasa didatangi pejabat dan pengusaha kaya.

Clara turun dari mobil dengan perasaan tidak enak yang semakin kuat.

Di dalam restoran, udara terasa dingin dari AC yang terlalu kencang. Aroma daging panggang dan wine bercampur dengan parfum mahal. Seorang pelayan berseragam rapi membimbing mereka ke ruang VIP di lantai dua.

Ruangan itu tertutup pintu kayu tebal. Begitu pintu terbuka, Clara melihat seorang pria tua duduk di sofa empuk.

Rambutnya memutih. Wajahnya keriput dalam. Tapi pakaiannya mahal—jas sutra berwarna abu-abu gelap, kemeja putih bersih, dasi bermotif. Arloji emas berkilau di pergelangan tangannya.

"Ah, Clara! Akhirnya!" Pria itu berdiri, senyumnya lebar. Tapi matanya menatap Clara dengan cara yang membuat perutnya mual.

"Clara, kenalkan. Ini Tuan Hendra." Paman Robert berbicara dengan nada riang yang dibuat-buat. "Beliau pengusaha tambang yang sangat sukses. Dan malam ini, beliau ingin berkenalan denganmu."

Tuan Hendra menjulurkan tangan. Tangannya dingin dan sedikit basah saat Clara menyentuhnya sekilas. Clara segera menarik tangannya kembali.

"Duduklah, Clara. Jangan malu-malu." Paman Robert mendorong bahunya, memaksa Clara duduk di kursi berhadapan dengan Tuan Hendra.

Pelayan mulai menyajikan makanan. Sup krim, salad, steak salmon. Semua terlihat mewah dan berbau harum. Tapi Clara tidak menyentuh apa pun. Perutnya mual.

Paman Robert dan Tuan Hendra berbincang tentang bisnis. Tambang di Kalimantan. Investasi properti. Proyek infrastruktur. Clara hanya duduk diam, mendengarkan dengan perasaan semakin tenggelam.

Lalu Paman Robert mengangkat gelas wine-nya, menggoyangkan cairan merah di dalamnya.

"Clara, Tuan Hendra ini sudah lama mengagumi keluarga kita. Beliau sangat tertarik untuk membantu Arta Group keluar dari masalah keuangan yang kita hadapi."

Jantung Clara berhenti sedetik.

"Tentu saja," Tuan Hendra menyambung, suaranya serak, "bantuan seperti itu membutuhkan komitmen yang kuat. Hubungan yang... lebih dekat."

Tuan Hendra memotong steaknya. Darah merah keluar dari daging setengah matang itu. Clara menatap darah itu mengalir di atas piring putih.

"Apa maksudnya?" Suara Clara keluar lebih tajam dari yang dia inginkan.

Paman Robert tertawa kecil, tapi matanya dingin. "Jangan berpura-pura bodoh, Clara. Tuan Hendra bersedia melunasi semua hutang Arta Group. Semua. Puluhan miliar. Asalkan..."

Dia berhenti sebentar, membiarkan kalimatnya menggantung di udara yang dingin.

"Asalkan kau mau menikah dengannya."

Dunia Clara seperti runtuh. Suara musik klasik dari speaker tiba-tiba terdengar terlalu keras. Lampu kristal di langit-langit terlalu terang. Udara terlalu dingin.

Menikah. Dengan pria tua ini. Pria dengan tangan dingin dan senyum serakah.

"Aku bisa memberimu kehidupan yang nyaman, Clara." Tuan Hendra berbicara pelan, tangannya meraih tangan Clara di atas meja. "Kau tidak perlu khawatir tentang uang lagi. Tentang perusahaan ayahmu. Aku akan mengurus semuanya."

Tangannya terasa seperti cacing basah di kulit Clara. Clara menarik tangannya dengan keras.

"Ayahku tidak akan pernah menyetujui ini!"

Paman Robert memandangnya dengan tatapan dingin yang membuat Clara merasa seperti anak kecil bodoh.

"Ayahmu sudah meninggal, Clara. Tiga tahun lalu. Dan sekarang yang mengelola Arta Group adalah aku. Aku yang bertanggung jawab atas semua keputusan."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian." Suara Paman Robert menjadi keras, menusuk. "Kau pikir kau punya pilihan? Hutang Arta sudah menumpuk. Bank sudah mengancam akan menyita aset. Kalau kita tidak bertindak sekarang, dalam tiga bulan perusahaan ayahmu akan bangkrut. Dan kau akan kehilangan segalanya."

Clara merasakan air matanya mulai memanas di belakang mata. Tapi dia tidak mau menangis di depan orang-orang ini. Dia tidak akan memberi mereka kepuasan itu.

"Ada dua pilihan, Clara." Paman Robert melanjutkan dengan nada seperti sedang menjelaskan rumus matematika. "Menikah dengan Tuan Hendra dan selamatkan perusahaan. Atau tolak, dan kau akan jadi gelandangan. Pilih."

Tuan Hendra tersenyum, mendekatkan wajahnya ke Clara. Bau parfumnya yang terlalu kuat membuat Clara ingin muntah.

"Jangan khawatir, sayang. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Sangat baik."

Perut Clara bergejolak. Tangannya mencengkeram serbet di pangkuannya sampai buku-buku jarinya memutih.

Lalu sebuah ide datang. Ide gila yang mungkin tidak akan berhasil, tapi setidaknya bisa memberinya waktu.

Clara menatap cincin di jarinya. Cincin emas dengan batu safir kecil yang bersinar redup di bawah lampu. Cincin yang dulu ayahnya berikan pada ibunya sebagai tanda pertunangan. Satu-satunya benda berharga yang tersisa.

Batu safir itu berwarna biru tua, seperti langit senja. Ayahnya bilang, warna itu sama dengan warna mata ibunya waktu mereka pertama kali bertemu.

Ibunya sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Ayahnya menyusul tiga tahun lalu.

Sekarang cincin ini adalah satu-satunya yang tersisa dari kebahagiaan keluarga mereka.

Clara menarik napas dalam.

"Aku tidak bisa menikah dengan Tuan Hendra," katanya pelan tapi tegas.

Paman Robert mengerutkan dahi. "Apa?"

"Aku sudah bertunangan."

Keheningan melanda ruangan. Bahkan musik klasik di latar belakang terasa berhenti.

Lalu Paman Robert tertawa keras. Terlalu keras. "Jangan bercanda, Clara! Dengan siapa? Aku tidak pernah lihat kau punya pacar!"

Clara mengangkat dagunya, berusaha terlihat percaya diri meski tangannya gemetar di bawah meja.

"Aku tidak perlu memberitahumu semua hal dalam hidupku, Paman. Tunanganku adalah pria yang jauh lebih baik dari siapa pun di ruangan ini."

Tuan Hendra menatapnya dengan mata menyipit. "Kau berbohong."

"Aku tidak berbohong."

Clara melepas cincin dari jarinya. Jari manisnya terasa kosong dan asing tanpa cincin itu. Dia meletakkan cincin di atas meja dengan bunyi keras yang membuat Paman Robert dan Tuan Hendra terdiam.

"Aku bersumpah dengan cincin ini. Cincin ayahku." Clara menatap mereka berdua. "Beri aku waktu satu bulan. Kalau dalam sebulan aku tidak bisa membuktikan bahwa aku punya tunangan, aku akan setuju dengan perjodohan ini. Tapi kalau aku bisa membuktikannya..."

Dia menatap Paman Robert tajam.

"Kau tidak boleh memaksaku lagi."

Paman Robert terlihat ragu. Matanya bergerak dari cincin ke wajah Clara, mencari tanda-tanda kebohongan.

Tapi Tuan Hendra malah tersenyum lebar. Dia meraih cincin itu, memutarnya di antara jari-jarinya yang keriput.

"Aku suka tantangan ini." Tuan Hendra menatap Clara dengan tatapan yang membuat kulitnya merayap. "Satu bulan. Kalau kau gagal, cincin ini jadi milikku. Dan kau... juga jadi milikku."

Clara menahan mual yang hampir keluar. Dia bangkit dari kursinya tanpa izin.

"Satu bulan," ulangnya. Lalu dia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat, memaksa kakinya untuk tidak berlari.

Begitu sampai di luar restoran, kakinya hampir lemas. Udara malam terasa dingin menusuk kulitnya. Clara bersandar pada dinding, menarik napas dalam-dalam.

Tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari tas.

Apa yang baru saja dia lakukan?

Dia baru saja membuat taruhan gila. Dia tidak punya tunangan. Tidak punya pacar. Bahkan tidak punya teman dekat yang bisa dia mintai tolong.

Satu bulan.

Tiga puluh hari untuk menemukan "suami palsu" atau hidupnya akan hancur.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Valentine Gabriella
Valentine Gabriella
🫰🫰🫰🫰🫰
2025-11-15 11:30:47
0
0
131 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status