MasukClara, seorang pewaris yang tertekan, terancam kehilangan perusahaan warisan ayahnya karena hutang dan intrik pamannya. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menerima perjodohan paksa dengan pengusaha tua yang serakah, Tuan Hendra. Namun, Clara menolak untuk menyerah. Ia membuat taruhan gila: ia hanya punya satu bulan untuk menemukan calon suami demi membatalkan perjodohan itu. Dalam keputusasaan, ia menemukan Alex, seorang CEO muda yang dingin, arogan, dan kejam. Alex setuju menjadi "suami palsu" Clara, tetapi dengan syarat: pernikahan mereka hanyalah bisnis, tanpa emosi, dan Clara harus tunduk pada setiap kemauannya. Clara pikir ia telah menemukan jalan keluar, tetapi ia tidak sadar bahwa ia telah melompat dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat mereka terpaksa berakting mesra di depan keluarga Alex, Clara menemukan bahwa di balik sikap dingin Alex, tersembunyi rahasia kelam dan rencana balas dendam. Keadaan semakin rumit ketika Clara mendapati dirinya menderita sakit, yang ia salah sangka sebagai tanda kehamilan. Hubungan palsu mereka menjadi nyata ketika Clara didiagnosis memiliki tumor dan Alex, secara mengejutkan, mengambil alih perawatannya. Di tengah semua konflik ini, Clara mulai melihat sisi rapuh dari Alex, membuka pintu pada sebuah ikatan yang tak terduga. Namun, apakah hubungan ini akan bertahan saat ancaman dari Tuan Hendra dan mantan kekasih Alex, Elena, terus membayangi, siap untuk membongkar rahasia pernikahan palsu mereka?
Lihat lebih banyakSophia's POV
The golden light of dusk spills through my bedroom window, casting long shadows over the sleek, modern furniture. I adjust the diamond studs in my ears, my reflection in the mirror poised yet exhausted. The red silk dress clings to my body, hugging every curve in a way I know Nathan used to love. Tonight is supposed to be special—our anniversary, a chance to remind him of the woman he fell in love with. Lately, things have been distant between us, but I refuse to believe our marriage has lost its fire. I glance at the elegantly wrapped gift on my vanity and smile to myself. It’s a personalized watch, engraved with Forever, S & N. A small token, a reminder of our promises. Maybe this will rekindle something in him, remind him of the nights we spent laughing over cheap wine and takeout before success consumed us. I smooth down my dress, grab my purse, and head out, heart fluttering with anticipation. The drive to Carter Enterprises is smooth, the city lights twinkling like scattered stars against the inky sky. I don’t call ahead—I want this to be a surprise. A spontaneous gesture to remind Nathan that I still believe in us. As I step into the towering glass building, the receptionist barely meets my gaze. My heels click against the marble floor, the air heavy with something I can’t quite place. Something feels... wrong. Shaking off the uneasy feeling, I take the private elevator up to Nathan’s office. The doors slide open, and the moment I step into the dimly lit corridor, I hear it. A soft moan. Then another. My breath catches, my stomach twisting into knots. No. Maybe I misheard. Maybe it’s a late-night movie playing on someone’s laptop. But as I take a slow step forward, the sounds become clearer—gasps, whispered names, the unmistakable rhythm of betrayal. My heartbeat pounds so loudly I can hear it in my ears. My fingers tremble as I push open the heavy oak door. The sight before me shatters everything. Nathan is half-dressed, his tie hanging loose around his neck. His body is tangled with someone else’s, his hands gripping her the way he used to grip me. But it’s not just someone else. It’s Chloe. My sister. A sharp, suffocating silence fills the room. Chloe smirks, stretching like a satisfied cat, completely unbothered by my presence. She grabs Nathan’s shirt from the chair and slips it on, buttoning it slowly, deliberately. "Well," she drawls, amusement flickering in her dark eyes, "looks like the surprise is on you." I can’t move. I can’t breathe. Every fiber of my being screams at me to react—to scream, to cry, to demand an explanation. But I refuse to give them that satisfaction. Nathan exhales, running a hand through his disheveled hair. He doesn’t look guilty. He doesn’t even look sorry. "You should have seen this coming, Sophia," he says flatly. "We haven’t been happy for a long time." My nails dig into my palms, the sting grounding me. "And this," I whisper, my voice eerily calm, "was your solution?" Chloe shrugs, unbothered. "You were always too busy playing the perfect wife," she says, tilting her head like she’s pitying me. "Nathan needed more. I was just giving him what he wanted." Something inside me snaps, but not in the way they expect. I didn't cry nor scream. Instead, I step forward, the sound of my heels slicing through the silence. With deliberate precision, I place the neatly wrapped anniversary gift on Nathan’s desk, right next to his discarded tie. Then, I reach for my left hand, sliding off my wedding ring. The diamond catches the light one last time before I drop it onto the desk with a soft clink. Nathan shifts uncomfortably. "Sophia—" I cut him off with a sharp look. My voice is quiet, but it carries the weight of a storm. "I’ll see you in court." I turn on my heel and walk out, my head held high. Each step feels like shedding a weight I never realized I was carrying. As the elevator doors close behind me, my breath hitches. But still, I did not cry. Not yet. But when I do, it won’t be because I lost Nathan. It will be because I wasted so much time believing he was worth loving.Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi
Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting
Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.
Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan