Inicio / Romansa / Menikahi Suami Kakakku / Part 10. Sikap Aneh

Compartir

Part 10. Sikap Aneh

Autor: Loyce
last update Fecha de publicación: 2026-10-09 09:28:53

Jauh di dalam hati Embun, sebenarnya dia tidak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya. Namun, perpisahan dengan Raga juga sudah ada di depan mata. Setidaknya selama beberapa bulan kedepan setelah Laksa berusia 2 tahun, dia dan Raga akan berpisah.

Lantas, setelah perceraiannya dengan Raga, apa yang akan dilakukan? Menikah lagi dan menjalani hubungan baru? Memiliki anak sendiri dengan suami yang mencintainya, atau dia akan berharap tetap bisa bersama Laksa meskipun dia sudah tidak lagi menjadi
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 13. Kesal Tanpa Sebab

    Raga mengernyit ketika pagi ini, Embun sibuk di dapur. Yang menjadi pertanyaan besar di dalam kepalanya adalah saat ada kotak bekal di atas kitchen island. Beberapa sarapan sudah tersaji di atas meja makan dan kopi Raga pun sudah siap diminum. Raga masih masih belum mengatakan apa pun dan terus menebak-nebak. Sayangnya dia tak tahan untuk tidak bertanya. Secara kebetulan, Bibi sedang meletakkan ayam kecap di atas meja. “Mau ada acara, Bik?” tanya Raga setelah menyeruput kopinya. “Embun sepertinya sibuk banget.” Setiap pagi, Embun memang selalu menyiapkan sarapan untuknya. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Ibu sedang masak untuk makan siang, Pak.” “Makan siang?” Raga tentu heran. Selama ini dia tak pernah memiliki permintaan untuk dibawakan bekal oleh Embun. Sekarang pun sama. Lantas, untuk siapa Embun membuatkan makan siang? Satu nama terlintas di kepalanya dan wajah laki-laki asing yang ditemuinya hari itu terbayang di matanya. Raga mengetatkan rahangnya. Ekspresi dingin l

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 12. Nostalgia

    Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Embun tidak terbiasa tidur dengan orang lain di sebelahnya setelah suaminya meninggal. Pasca menikah kembali dengan Raga pun, mereka tidak tinggal di kamar yang sama. Jadi, sekarang terasa asing dengan situasi seperti ini. Raga berbaring di sisi lain ranjangnya dengan Laksa berada di tengah-tengah mereka. Embun praktis tidak bisa tidur meskipun dia memejamkan matanya dan berusaha terlihat sudah terlelap. “Kamu sudah tidur, Embun?” Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Tidak keras, hanya terdengar rendah bak bisikan. Mata Embun terbuka. Dia menatap Raga yang ternyata sedang menatapnya. “Ada apa, Mas?” tanya Embun tak kalah lirihnya. Takut kalau-kalau suaranya akan membangunkan Laksa. Untuk beberapa waktu, Raga tidak mengatakan apa pun. Dia hanya terus menatap Embun dalam keremangan lampu kamar. “Kalau ada yang mau dibicarakan, silakan bicarakan, Mas. Aku mau tidur.” Raga pada akhirnya menggeleng. “Nggak jadi. Tidur saja.” Lalu

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 11. Satu Kamar

    “Harusnya kamu nggak perlu nganterin aku sampai ke rumah.” Embun tidak mengizinkan Samuel mampir ke rumahnya. Samuel pun juga tetap berada di dalam mobil dengan membuka jendelanya, sehingga dia masih bisa berbicara dengan Embun. “Sekarang aku udah sampai dengan selamat dan kamu sudah boleh pergi.” Samuel tersenyum kecil. “Kalau ada sesuatu yang nggak menyenangkan, kamu bisa hubungi aku. Aku akan membawamu pergi ke tempat di mana nggak akan ada orang yang menyakitimu.” Setiap kata yang disampaikan oleh Samuel, seperti ada arti besar yang tersembunyi. Namun, Embun tidak ingin terlalu banyak membahas hal tersebut.Dia hanya mengangguk tanda setuju. Atau sebenarnya agar segalanya cepat selesai. “Aku pulang. Salam buat Laksa.” “Akan aku sampaikan.” Samuel belum pernah melihat batita itu secara langsung dan hanya dari foto yang terkadang Embun kirimkan kepadanya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan bocah menggemaskan itu. Mobil Samuel pergi meninggalkan rumah besar yang d

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 10. Sikap Aneh

    Jauh di dalam hati Embun, sebenarnya dia tidak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya. Namun, perpisahan dengan Raga juga sudah ada di depan mata. Setidaknya selama beberapa bulan kedepan setelah Laksa berusia 2 tahun, dia dan Raga akan berpisah. Lantas, setelah perceraiannya dengan Raga, apa yang akan dilakukan? Menikah lagi dan menjalani hubungan baru? Memiliki anak sendiri dengan suami yang mencintainya, atau dia akan berharap tetap bisa bersama Laksa meskipun dia sudah tidak lagi menjadi istri Raga? “Embun!” Samuel memecah semua bayangan yang bergerombol di dalam kepalanya. Embun tampaknya sedang melamun terlalu jauh. “Sorry, Sam. Aku melamun.” “Kamu sepertinya terkejut dengan ucapanku.” Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Embun, tapi dia mengangguk setelahnya. “Iya. Tiba-tiba banget kamu bicara soal nikah.” “Karena aku nggak mau ketikung lagi." Begitu katanya dengan sedikit bercanda. “Aku nggak mau ada yang ketiga kalinya, Embun. Setelah Ricky, lalu sekarang kakak i

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 9. Samuel

    Embun tidak bisa menahan kekesalannya kepada Raga. Tidak ada manusia mana pun yang mau dibandingkan dengan manusia lainnya. Terlebih lagi, dibandingkan dengan saudaranya sendiri yang mana, saudaranya bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini.Setelah perdebatan itu, mereka tampak bersikap dingin satu sama lain sampai keesokan paginya. Embun tampak tidak peduli dengan Raga yang duduk tepat di depannya. Dia hanya peduli dengan Laksa dan sesekali tersenyum melihat putranya. “Sus Anita, nanti saya pergi sebentar. Tolong bawa Laksa ke belakang dulu biar nggak lihat saya pergi.” Pasalnya, kalau Laksa tahu ibunya akan pergi tanpa dia, batita itu akan menangis. Embun tahu diri untuk tidak lagi meminta izin kepada Raga agar bisa membawa Laksa. “Iya, Bu.” Raga tidak mengatakan apa pun, tetapi tampak sekali ekspresi tidak senangnya. Dia sudah melarang Embun pergi, tetapi istrinya itu sama sekali tidak mengindahkannya. “Kamu mau tetap pergi?” Pada akhirnya Raga bersuara. “Bukannya aku sudah n

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 8. Apakah Sebanding? 

    Malam ini Embun tidak bisa tidur. Tentu ini bukan pertama kalinya Laksa demam, itulah kenapa dia tidak begitu gugup membawanya ke dokter. Dia terus memantau demam putranya dan memastikan plester penurun panasnya berfungsi dengan baik. Sesekali dia akan ketiduran dan terbangun kembali saat ada pergerakan dari Laksa. Di sisi ranjang yang lain, Raga tengah tidur. Lelaki itu pasti kelelahan setelah seharian bekerja. Jadi, Embun membiarkan. “Mama.” Sedikit rengekan dari Laksa membuat Embun lagi-lagi membuka matanya. Padahal dia baru saja hampir tidur. “Mama di sini, Laksa.” Sepertinya batita itu butuh asupannya. Oleh karena itu, dia memberikannya asi dan Laksa langsung menerimanya. Sedikit demi sedikit, Embun sudah mulai menjauhkan Laksa dari asinya. Jadi, batita itu sudah tidak begitu ketergantungan. Hanya saja, keberadaan Embun tetap saja masih sangat dibutuhkan oleh Laksa. Wacana Raga untuk menjauhkan Laksa dengan Embun tentu bukanlah hal yang seharusnya. Tanpa terasa, Embun akhir

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status