FAZER LOGINPernikahan Raga dan Embun terjadi bukan karena cinta melainkan karena kondisi yang menyakitkan. Mereka pernah menolak untuk bersama, tetapi tak mampu benar-benar bisa menghindar. Ada seorang bayi yang menghubungkan mereka yang akhirnya membuat keduanya menurunkan ego. Lantas, bagaimana hubungan mereka akan berjalan ketika di hati mereka masih menambatkan nama masa lalu mereka? Apakah mereka bisa bertahan, atau menyerah karena lelah berusaha?
Ver maisRaga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em
“Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann
“Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen
“Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.