Beranda / Romansa / Menikahi Suami Kakakku / Part 7. Revisi Keputusan

Share

Part 7. Revisi Keputusan

Penulis: Loyce
last update Tanggal publikasi: 2026-09-13 09:37:11

“Masih ada waktu 6 bulan.”

Suara Raga terdengar memenuhi ruangan. Embun diam menunggu lanjutan kalimat lelaki itu. Tatapannya lurus menuju luar tanpa bergeser sedikitpun.

Mereka duduk di sofa yang sama, tetapi dengan jarak yang cukup lebar. Embun duduk di sudut kanan, dan Raga di sudut kiri seolah mereka tidak ingin sedikitpun bersentuhan.

“Aku rasa kamu nggak perlu terburu-buru.”

Embun masih tidak menanggapi. Dia kini tahu apa yang sedang Raga bicarakan. Laki-laki itu berbicara tentang perpisahan mereka.

“Kamu bisa pelan-pelan mengajari Laksa tanpa kamu. Nggak perlu secara tiba-tiba yang membuat dia justru kebingungan.”

Napas Embun keluar dengan kasar mendengar penuturan Raga. Dia sendiri kan memulai semua drama ini?

Raga yang lebih dulu mencoba memisahkan Laksa dari Embun dengan cara mengajaknya tidur di kamarnya. Mulai berperan sebagai ayah yang aktif mengurus anak seolah Embun tidak becus melakukannya.

Hanya dua hari Embun ‘memberontak’ dengan berdalih mendukung keputusan Raga, justru laki-laki itu sendiri yang kelimpungan.

“Semua ini demi Laksa.”

“Demi Laksa atau memang kamu ngerasa nggak mampu, Mas?” tanya Embun telak.

Raga menoleh menatap Embun, tetapi Embun masih menatap kelamnya malam di luar sana.

“Aku hanya mencoba melakukan apa yang kamu inginkan. Aku mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” Embun mengambil jeda sebelum kembali bersuara. “Kamu yang memulai semua ini. Tadinya semuanya baik-baik saja. Aku tetap di rumah, menjaga Laksa seperti biasanya, tapi tanpa diskusi, kamu mengambil keputusan yang membuatku merasa disingkirkan secara pelan-pelan."

Rasa kecewa yang dirasakan Embun tidak main-main. Namun, dia hanya bisa menerima keputusan Raga yang selalu menggunakan statusnya sebagai ayah biologis yang berhak memutuskan apa pun terkait Laksa.

Mengingat itu saja, Embun rasanya kesal luar biasa. Raga benar-benar menunjukkan sisi keegoisan yang hakiki.

“Jadi, apa mau kamu sekarang?" Embun menoleh menatap Raga yang masih menatapnya. “Apa yang kamu inginkan?”

Raga diam, tetapi terlihat rahangnya mengetat kuat. Mungkin dia merasa egonya tersentil karena ucapan Embun.

“Satu hal, Mas. Saat kamu mengambil keputusan kamu malam ini, jangan lagi kamu merevisi keputusan kamu lagi dan lagi. Jangan buat aku seperti wanita bodoh yang terus mengikuti keputusan kamu yang membingungkan.”

Itu warning. Embun benar-benar mengatakan itu tepat di depan Raga tanpa merasa perlu menundanya. Dua hari ini dia tidak kalah kacaunya.

Dia seorang ibu yang sangat mencintai putranya. Namun, karena sebuah keegoisan dari seorang ayah yang merasa mampu mengurus anaknya tanpa seorang ibu, dia harus mundur pelan-pelan menekan rasa sakit yang luar biasa.

Pikiran Raga berkecamuk. Terlihat dari ekspresi wajahnya, dia kesal dengan ucapan Embun. Dia pasti merasa kalau Embun sudah terlalu berani kepadanya.

Akan tetapi, dia pasti juga mengingat betapa dua hari ini dunianya kacau luar biasa tanpa Embun di sisi Laksa.

Dengan gigi bergemeletuk, Raga bersuara. “Tetaplah urus Laksa seperti biasa sebelum kita benar-benar berpisah.”

Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Raga meskipun dengan perasaan kesal luar biasa. Embun harusnya bersorak penuh dengan kemenangan, tetapi dia hanya memasang ekspresi dingin seperti biasa.

“Dia masih butuh kamu.”

‘Dan akan tetap butuh aku,’ batin Embun meneruskan. Namun, dia memilih untuk tidak mengatakan secara langsung.

“Sejauh mana aku bisa mengurusnya?” tanya Embun hanya untuk memastikan. “Dia akan tetap tidur denganmu setiap malam dan aku hanya bisa sama dia saat kamu nggak ada di rumah?”

Pertanyaan itu seperti sebuah tantangan untuk Raga. Embun harus memperjelas semuanya agar dia tahu batasannya.

Sebenarnya dia kesal dengan aturan waktu yang diberikan oleh Raga kepadanya, tetapi sekali lagi, dia tak ingin banyak protes.

“Aku yang akan datang ke kamarmu kalau memang aku ingin melihat Laksa.” Ada sebuah keraguan dalam ucapan Raga. “Kamu bisa mengurusnya seperti biasa.”

Embun rasanya tidak lagi menampung kelegaan itu di dalam hatinya. Dia ingin tersenyum lebar, tetapi dia sadar dia tak boleh melakukannya di depan Raga.

Oleh karena itu, Embun hanya mengangguk mengerti.

Demi Tuhan, aksinya dua hari ini benar-benar membuahkan hasil. Dia terlalu percaya diri kalau Raga pasti akan menyerah dengan cepat. Bukan karena Raga mudah dikalahkan, melainkan karena Raga belum benar-benar mampu menangani putranya sendiri.

“Oke.” Embun menyanggupi. “Tolong jangan lagi mengotak-atik keputusan malam ini, Mas. Jangan buat aku seperti dipermainkan .”

Embun berdiri. “Aku akan melihat Laksa. Tenang saja, dia akan tetap tidur di kamarmu malam ini.”

Tanpa menunggu jawaban suaminya, Embun langsung berlalu dari hadapan Raga dan pergi menuju kamar suaminya.

Tersenyum penuh kemenangan di belakang Raga. Kalau Raga punya wewenang, dia juga punya bisa mengubah kewenangan itu dengan caranya.

Sayangnya, senyum lebarnya itu tidak berlangsung lama. Saat dia sudah mengelus pipi Laksa, dia merasa tubuh batita itu panas.

Mengecek sekali lagi, tubuh Laksa benar-benar panas. Tidurnya gelisah dan tampak tidak nyaman.

“Ada apa?” Raga muncul dan melihat ada kepanikan di wajah Embun.

“Badan Laksa panas.”

Embun mengatakan itu sambil lalu dan pergi menuju keluar kamar. Mengambil kotak obat di kamarnya yang selalu tersedia.

Kembali ke kamar Raga dan memasangkan plester penurun panas di dahi Laksa.

“Kita bawa ke rumah sakit sekarang?” Raga tak kalah khawatirnya.

“Tunggu sampai besok. Kalau panasnya nggak turun, kita ke rumah sakit.”

Embun mengambil Laksa dari box bayinya dan memindahkannya ke kasur. “Laksa cepet sembuh, ya. Pindahin panas Laksa buat Mama aja. Laksa nggak boleh sakit.”

Raga yang melihat itu hanya diam. Dia duduk di sisi kasur yang lain tanpa mengatakan apa pun. Ada perasaan bersalah yang muncul di dalam hatinya.

“Mas kalau mau tidur, tidur aja. Aku izin tetap di sini untuk jaga Laksa. Atau aku bawa dia ke kamarku aja?”

“Kamu boleh di sini. Aku juga mau mantau Laksa.”

Malam itu, untuk pertama kalinya bagi Embun tidur di kamar Raga. Mereka tidur bertiga seolah mereka adalah satu keluarga yang bahagia.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 7. Revisi Keputusan

    “Masih ada waktu 6 bulan.”Suara Raga terdengar memenuhi ruangan. Embun diam menunggu lanjutan kalimat lelaki itu. Tatapannya lurus menuju luar tanpa bergeser sedikitpun.Mereka duduk di sofa yang sama, tetapi dengan jarak yang cukup lebar. Embun duduk di sudut kanan, dan Raga di sudut kiri seolah mereka tidak ingin sedikitpun bersentuhan.“Aku rasa kamu nggak perlu terburu-buru.”Embun masih tidak menanggapi. Dia kini tahu apa yang sedang Raga bicarakan. Laki-laki itu berbicara tentang perpisahan mereka.“Kamu bisa pelan-pelan mengajari Laksa tanpa kamu. Nggak perlu secara tiba-tiba yang membuat dia justru kebingungan.”Napas Embun keluar dengan kasar mendengar penuturan Raga. Dia sendiri kan memulai semua drama ini?Raga yang lebih dulu mencoba memisahkan Laksa dari Embun dengan cara mengajaknya tidur di kamarnya. Mulai berperan sebagai ayah yang aktif mengurus anak seolah Embun tidak becus melakukannya.Hanya dua hari Embun ‘memberontak’ dengan berdalih mendukung keputusan Raga, ju

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 6. Perasaan yang Berat

    “Aku sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” Kalimat itu terdengar sangat manis untuk seorang istri baik hati yang penuh dukungan untuk sang suami. Namun, tentu itu seperti tamparan tak kasat mata yang Raga rasakan. Untuk keputusan besarnya, dia harus mengorbankan putranya sendiri. Batita yang masih bergantung pada ibunya itu diam-diam harus dijauhkan dari sosok yang selalu melindunginya. “Kemarin kamu nggak ke kantor.” Satu kalimat itu memecah hening yang beberapa saat lalu melingkupi mereka. Pernyataan Raga itu cukup mengejutkan untuk Embun. Dia bisa menebak kalau Raga mungkin sudah pergi ke kantornya untuk mencari tahu. Sayangnya, dia tidak merasa perlu panik atau menjelaskan apa pun kepada suaminya. Embun hanya perlu mengakui. “Aku kemarin memang nggak ke kantor. Lalu apa masalahnya?” “Kalau nggak ke kantor, lalu kamu ke mana?” tanya Raga penasaran.“Kenapa Mas ingin tahu?” Embun menatap Raga tanpa rasa takut. Ke mana pun Embun pergi, tidak ada hubungannya denga

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 5. Kekacauan

    Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 4. Langkah Awal

    “Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 3. Keputusan Menyesakkan

    “Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 2. Derai Tangis

    “Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status