Home / Romansa / Menikahi Suami Kakakku / Part 6. Perasaan yang Berat

Share

Part 6. Perasaan yang Berat

Author: Loyce
last update publish date: 2026-09-12 10:50:26

“Aku sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” 

Kalimat itu terdengar sangat manis untuk seorang istri baik hati yang penuh dukungan untuk sang suami. Namun, tentu itu seperti tamparan tak kasat mata yang Raga rasakan. 

Untuk keputusan besarnya, dia harus mengorbankan putranya sendiri. Batita yang masih bergantung pada ibunya itu diam-diam harus dijauhkan dari sosok yang selalu melindunginya. 

“Kemarin kamu nggak ke kantor.” Satu kalimat itu memecah hening yang beberapa saat lalu melingkupi mereka. Pernyataan Raga itu cukup mengejutkan untuk Embun. 

Dia bisa menebak kalau Raga mungkin sudah pergi ke kantornya untuk mencari tahu. Sayangnya, dia tidak merasa perlu panik atau menjelaskan apa pun kepada suaminya. Embun hanya perlu mengakui. 

“Aku kemarin memang nggak ke kantor. Lalu apa masalahnya?” 

“Kalau nggak ke kantor, lalu kamu ke mana?” tanya Raga penasaran.

“Kenapa Mas ingin tahu?” 

Embun menatap Raga tanpa rasa takut. Ke mana pun Embun pergi, tidak ada hubungannya dengan Raga sama sekali. Mereka memang suami istri, tetapi itu hanya sebuah status di atas kertas. 

“Laksa sekarang juga udah punya baby sitter yang bisa menjaganya lebih baik dariku. Jadi, aku harus mencoba belajar untuk sedikit demi sedikit merelakan peranku untuk Laksa. Itu kan yang Mas mau?” 

Raga diam. Lelaki itu tampak sekali tidak suka dengan ucapan Embun. Mungkin bagi Raga, dia tidak pernah menyangka kalau Embun akan menerima keputusannya semudah itu. 

Menatap jam di pergelangan tangannya, Embun memilih melewati Raga begitu saja. Dia membayar bubur yang sudah dia makan bersama dua temannya tadi. 

“Mas mau ke kantor, kan?” tanya Embun setelah  selesai melakukan transaksi. “Aku juga harus pergi sekarang. Ada hal penting yang harus aku kerjakan.” 

Tanpa menunggu jawaban Raga, dia memilih pergi begitu saja menuju mobilnya. Tak jauh dari sana, berdiri gedung kantor sang suami. 

Tanpa disangka, Raga justru menyusul Embun dan menarik tangan perempuan itu agar berhenti. Embun sama sekali tidak memberontak, dia justru begitu tenang menghadapi sang suami. 

“Sebaiknya kamu pulang sekarang. Laksa tantrum nyariin kamu." 

Satu kalimat itu membuat Embun diam-diam bersorak di dalam hati. Namun, dia tak akan menyerah secepat itu meskipun keinginannya untuk bertemu Laksa begitu besar.

“Mas sendiri yang ingin Laksa belajar tanpa aku.” Jauh di dalam lubuk hatinya, Embun merasakan sakit luar biasa ketika mengatakan itu. “Dia harus mulai terbiasa. Itu kan yang kamu bilang. Ini adalah bagian dari Laksa belajar tanpa ibu di sisinya.” 

“Setidaknya kamu harus jadi jembatan untuk Sus Anita agar dekat dengan Laksa. Setelah itu kamu baru bisa melepaskannya secara pelan-pelan.” 

“Sus Anita nggak butuh jembatan untuk dekat dengan Laksa. Dia tenaga profesional dan dia punya banyak cara untuk dekat dengan seorang bayi. Mas nggak perlu khawatir.” 

Embun sadar jika dia sudah melakukan hal yang kejam kepada putranya. Laksa adalah separuh jiwanya. Meninggalkan Laksa hanya dengan seorang baby sitter tidak pernah ada dalam pikirannya sebelumnya. Namun, ini pilihan Raga dan mau tak mau dia harus ikut berperan aktif untuk ‘membantu’ suaminya. 

“Ini udah waktunya kamu kerja. Berangkat gih. Aku juga harus pergi. Oh ... ya, aku hari ini juga akan pulang larut malam. Jadi, sebaiknya Mas memastikan Laksa baik-baik aja di rumah.” 

Embun memberikan senyum kecil untuk Raga sebelum dia benar-benar meninggalkan lelaki itu. Ini masih pagi dan dia harus mengumpulkan moodnya untuk tetap baik. Sedangkan berhadapan dengan Raga selalu  melibatkan emosi di dalamnya. 

Embun menarik napasnya panjang setelah berada di dalam mobil. Saat kendaraan roda empat itu meninggalkan pelataran parkir kedai bubur, Embun masih bisa melihat Raga berdiri di tempatnya. 

“Sorry, Mas. Kalau kamu bisa egois, aku juga bisa,” bisiknya pada dirinya sendiri. 

Sebenarnya niat Embun datang ke komplek kantor Raga tak lain hanyalah ingin memastikan apakah suaminya itu kembali membawa Laksa atau tidak. Dia sengaja pergi sepagi mungkin agar dia tak melihat Laksa. 

Kekacauan yang dimaksud oleh Raga tadi pastilah karena Laksa memang mencarinya dan tidak ada yang mampu menghiburnya. Hanya dengan mengingat itu saja, pikirannya sudah ribut luar biasa. 

Embun menepati ucapannya untuk pulang larut malam. Pukul setengah sebelas malam, dia baru sampai rumah. Pemandangan di ruang keluarga kacau luar biasa. 

Sus Anita yang tampak kelelahan itu tengah memasukkan mainan Laksa yang berserakan di mana-mana.

“Ibu.” Sus Anita menyadari keberadaan Embun. Perempuan itu tersenyum kecut sebelum meneruskan pekerjaannya. 

Yang menjadi pemandangan menyesakkan adalah ketika Laksa berada di pangkuan ayahnya dengan sisa-sisa air mata di pipinya. Batita itu tidur, tetapi seolah tidak tenang dalam mimpinya. 

“Adek baru saja tenang, Bu. Baru bisa tidur setelah seharian tantrum.” 

Raga duduk di sofa dengan mata menatap lurus ke arah Embun. Dia tak bicara, ekspresinya dingin luar biasa. Diam bak patung hidup seolah jika dia bergerak sedikit saja, maka dia akan mengganggu tidur putranya. 

“Saya khawatir, Bu.” Sus Anita kembali bersuara dan membuat Embun menatap perempuan itu lagi. “Kalau terus-terusan seperti ini, saya khawatir dia akan sakit. Adek masih butuh kehadiran Ibu.” 

Kalimat itu cukup mampu menyentil perasaan Embun. Dia paham betul ucapan Sus Anita. Namun, ini bukan keinginannya. Dia juga terpaksa melakukannya. 

"Sus Anita istirahat saja. Biar saya yang lanjutkan beberesnya.” Embun kasihan melihat perempuan itu terlihat benar-benar lelah. 

“Nggak papa, Bu. Biar saya selesaikan dulu.” 

“Istirahat saja. Biar saya yang lanjutkan.” Suaranya terdengar memerintah dan tak mampu diabaikan. 

Oleh karena itu, Sus Anita mengangguk dan meninggalkan ruang keluarga. Embun menutup matanya dan menarik napasnya panjang sebelum meletakkan tasnya dan membereskan mainan Laksa yang masih berantakan di mana-mana.

Tidak ada obrolan antara Embun dan Raga. Mereka seolah sepakat untuk sama-sama tutup mulut. 

Pekerjaan Embun selesai tak lama setelah itu dan dia memutuskan untuk pergi ke dapur. Mengeluarkan air dingin dari sana, lalu menenggaknya hingga sisa setengah  botol. 

Perempuan itu menangis, tetapi dia langsung mengusap air matanya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah memeluk Laksa. Sayangnya batita itu masih bersama ayahnya. 

“Aku ingin bicara setelah ini.” 

Embun memutuskan untuk naik ke lantai dua dan langkahnya terhenti ketika suara Raga terdengar. Memilih untuk tidak menjawab, Embun berlalu begitu saja. 

Melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamarnya. Dia butuh mandi sebelum berbicara dengan suaminya. Entah apa yang ingin dibicarakan, Embun tidak ingin menebak-nebak. 

Ketukan pintunya terdengar saat dia selesai membersihkan tubuhnya. Embun membuka pintu dan mendapati Raga ada di sana. 

Mereka memilih berbicara di ruang baca sambil menatap gelapnya malam di balik dinding kaca lebar. 

“Apa yang mau Mas bicarakan denganku?” Embun memilih memulai lebih dulu. 

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 6. Perasaan yang Berat

    “Aku sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” Kalimat itu terdengar sangat manis untuk seorang istri baik hati yang penuh dukungan untuk sang suami. Namun, tentu itu seperti tamparan tak kasat mata yang Raga rasakan. Untuk keputusan besarnya, dia harus mengorbankan putranya sendiri. Batita yang masih bergantung pada ibunya itu diam-diam harus dijauhkan dari sosok yang selalu melindunginya. “Kemarin kamu nggak ke kantor.” Satu kalimat itu memecah hening yang beberapa saat lalu melingkupi mereka. Pernyataan Raga itu cukup mengejutkan untuk Embun. Dia bisa menebak kalau Raga mungkin sudah pergi ke kantornya untuk mencari tahu. Sayangnya, dia tidak merasa perlu panik atau menjelaskan apa pun kepada suaminya. Embun hanya perlu mengakui. “Aku kemarin memang nggak ke kantor. Lalu apa masalahnya?” “Kalau nggak ke kantor, lalu kamu ke mana?” tanya Raga penasaran.“Kenapa Mas ingin tahu?” Embun menatap Raga tanpa rasa takut. Ke mana pun Embun pergi, tidak ada hubungannya denga

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 5. Kekacauan

    Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 4. Langkah Awal

    “Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 3. Keputusan Menyesakkan

    “Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 2. Derai Tangis

    “Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 1. Perdebatan Malam

    Langkah kaki Embun sempoyongan ketika mendekati kamar yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Kepalanya pening luar biasa akibat tidurnya yang baru lima menit lalu terganggu oleh jerit tangis yang menyesakkan.Tanpa permisi, dia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Raga tengah mencoba menenangkan putranya. Tatapan mereka bertemu untuk sejenak sebelum Embun melanjutkan langkahnya mendekati lelaki itu.“Sini sama Mama,” katanya sambil meraih tubuh kecil Laksa yang sudah menggapai tangannya seolah meminta pertolongan.Raga menyerahkan bayi itu kepada Embun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Embun bermaksud membawa pergi Laksa ke kamarnya ketika Raga menahannya.“Kamu bisa mengAsihi Laksa di sini,” katanya pelan. “Setelahnya dia akan tetap tidur denganku.”Embun hendak memprotes, tetapi urung saat dia mengingat bayi yang ada di gendongannya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menenangkan Laksa. Memberinya asi agar bayi itu bisa kembali tidur.Maka dia telan semua pro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status