FAZER LOGINPerceraian Jonathan dan Ranum sudah diberitakan di publik dan membuat semua orang semakin mempercayai isu perselingkuhan Jonathan bersama wanita lain. Bisnis pria itu semakin goyah, seolah menurun drastis tanpa persiapan apapun. Jonathan jelas frustasi, pria itu sibuk mengadakan meeting besar untuk menyelamatkan perusahaannya yang kini diambang kehancuran. Jonathan seakan lupa dengan nasib keluarganya, terutama Zahra yang saat ini hancur. Wanita itu kembali murung. Hari-harinya terasa berat karena kondisi keluarganya yang mendadak hancur. Perselingkuhan Jonathan tentu membuat Zahra kecewa, tapi ia lebih kecewa dengan Ranum. Selama ini Ranum diam seolah menjadi orang bisu kala melihat Namira diperlakukan tidak adil oleh Jonathan. Tidak dengan dirinya, dengan Namira pun Ranum tetap menjadi ibu yang gagal. Zahra membuka pintu kamarnya, sudah seharian ini ia mengurung diri di kamar. Ia melihat Jonathan sedang duduk dengan pakaian berantakan, pria itu duduk menunduk menatap lantai. Ia me
Namira membuka mata perlahan, aroma khas rumah sakit tercium di hidungnya. Ia mengerjap, menoleh ke sisi kanan dan menemukan Elena tengah duduk sambil memegang tangannya lembut. Saat Namira mencoba bergerak, Elena sadar dan menatapnya penuh binar. "Kamu sudah sadar, Namira? Mama panggil dokter dulu ya?" ujar Elena, namun saat dia akan pergi, Namira memegang tangannya cukup erat. Gelengan kepala kecil Namira membuat niat Elena urung. "Kenapa?" tanyanya pelan kala melihat mata menantunya berkaca-kaca. "Ma, Elang. Aku mau Elang," bisiknya pelan. "Elang sedang keluar, Sayang. Mama coba telepon dulu ya?" Namira mengangguk sebagai jawaban. Entah lah, di saat seperti ini ia tidak menginginkan apapun kecuali ada Elang di sisinya. Pria itu sudah menjadi obatnya di saat ia sakit. Mengingat kejadian itu membuat Namira tidak sanggup menyadari fakta bahwasanya keluarganya sudah hancur total. Terlebih, mengingat perkataan Jonathan beberapa waktu lalu yang menyatakan ia bukan anaknya. Satu jam
Jonathan sangat mengagungkan kekayaan yang selama ini ia miliki. Menjadi pemilik rumah sakit dan memiliki perusahaan besar elektronik dan otomotif terbesar di negara ini membuatnya mudah melakukan sesuatu, salah satunya berselingkuh. Kendati demikian, Jonathan melakukannya secara sadar dan merasa ulahnya kali ini tidak ada yang tahu. Namun, siapa sangka, ia kepergok oleh Namira saat tengah ke hotel bersama Ajeng, kekasih sekaligus cinta pertamanya dulu. "Mas, apa kamu nggak mencoba memperbaiki pernikahan kamu dengan Ranum? Aku... aku nggak apa-apa kalaupun harus mundur," ujar Ajeng lembut. Meski mengatakan itu, Ajeng tentu memiliki ketakutan tersendiri karena Ranum memiliki kekuasaan yang tidak bisa disepelekan."Ajeng, kita sudah berpisah lama, dari dulu sampai sekarang kita terpisah karena Ranum dan keluargaku. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini." Jonathan memegang tangan Ajeng, ia mencoba meyakinkan kekasihnya itu untuk tetap bertahan. "Aku tahu semua ini tidak akan mud
Setelah melihat pemandangan yang tak mengenakkan, Namira memutuskan untuk menemui Jonathan yang saat ini sedang bersama wanita lain. Saat keduanya hendak masuk ke dalam lift, Namira tiba-tiba memegang lengan Jonathan dan memaksanya berbalik. Tatapan pria itu tampak terkejut namun ia sangat pandai mengontrol emosinya. Sedangkan Namira tidak bisa menahan rasa tidak percaya sekaligus kecewa karena memergoki papanya berselingkuh dengan wanita lain. "Jadi papa berselingkuh?!" tanya Namira sedikit membentak, ia menoleh ke arah wanita di samping Jonathan dan menunjuknya. "Dengan wanita murahan ini?!" "Jaga ucapan kamu!" balas Jonathan penuh tekanan. Ia melirik ke kanan kiri takut ada wartawan yang menyamar dan merekam kejadian ini diam-diam. "Kamu tidak harus bicara di sini!" "Lalu aku harus bicara di mana? Biar semua orang tahu kalau papa itu tukang selingkuh!" Namira menatap Jonathan tak habis pikir. "Kurangnya mama apa, Pa? Menurutku, dari dulu sampai sekarang mama selalu nurut dan ng
Seharian ini Namira masih memikirkan ucapan mama mertuanya tentang pernikahan Ranum dan Jonathan yang berantakan. Tidak ada pemberitaan apapun dan Namira pikir semuanya masih baik-baik saja, terlebih Zahra tidak mengatakan apapun. Sampai malam harinya, waktu Elang pulang, Namira masih memikirkan semua itu tanpa menatap satu detik pun ke arah suaminya. "Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan melamun?" tanya Elang. "Aku sedang memikirkan sesuatu tentang mama sama papa." Namira menoleh ke arah Elang. "Kamu tahu tentang pernikahan mama sama papaku yang sekarang berantakan?""Kamu tahu berita itu dari mana?" tanya Elang. "Mama Elena." Elang mengembuskan napas panjang, merutuki mamanya yang mungkin keceplosan. Meski kandungan Namira sudah normal dan tidak lagi lemah, Elang tetap tidak ingin Namira tahu tentang keadaan keluarganya yang sekarang ini. Lagi pula, mereka tidak membutuhkan Namira lagi. "Jangan terlalu dipikirkan, Jonathan sudah nggak menganggap kamu anak. Lagi pula, mama kamu
"Maaf." Adalah ucapan pertama kala Namira bertemu Elang saat malam hari, tepat pada saat pria itu pulang bekerja. Ia melihat alis pria itu terangkat sebelah. Namira bingung mulai bicara dari mana, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf untuk apa?" tanyanya bingung. "Maaf udah mendiami kamu kemarin," balas Namira cepat. Elang menghela napas panjang. "Aku pikir itu semua karena hormon ibu hamil, aku nggak terlalu memusingkan itu semua. Aku cuma mau, kalau ada apa-apa tolong cerita, aku nggak mau hubungan kita memburuk cuma karena salah satu dari kita kurang komunikasi." Namira diam, ia menunduk dalam. Elang menghela napas lalu meraih tangan Namira dan menaikkan wanita itu ke pangkuannya. "Sekarang cerita apa yang sudah membuat kamu seperti itu," ujarnya. "Kamu dan kak Zahra... kalian ada hubungan apa?" tanyanya pelan, ia menatap wajah Elang yang saat ini tengah kebingungan. "Kalian bertemu kemarin malam," sambungnya. "Kamu tahu?" Namira mengangguk. "Aku tahu hubungan kita







