FAZER LOGINSetelah kembali, Elise menghabiskan waktunya dengan tidur. Dia tidak pergi bekerja seperti yang dia katakan pada David, waktu cuti yang masih ada dia manfaatkan dengan baik.Dia pergi membeli barang yang perlu saja, menghindari orang-orang yang tak dikenalnya. Saat berada di luar dia berusaha menyamar, agar tidak ada yang mengenali terutama Axel atau anak buahnya.Dia khawatir anak buah Axel berada di sekitarnya, meskipun dia tidak melihat ada yang mencurigakan.Hari itu Elise memutuskan tidak pergi kemana-mana. Dia menghabiskan waktu dengan tidur, sesuatu yang sangat ingin dia lakukan dulu. Dan kini, apa yang mau dia lakukan, akhirnya dapat dilakukan. Itulah hidupnya, setelah mempertaruhkan segalanya. Namun pria yang dia hindari itu, sudah sampai. Dan akan mengacaukan hidup tenang yang dia bangun di atas sebuah kepalsuan.Begitu sampai, anak buahnya langsung mengantarnya ke rumah Elise. Rumah yang sederhana tapi terlihat sangat nyaman. Pintu rumah tertutup rapat, gorden bahkan te
Pesawat yang dia tumpangi sudah mendarat, akhirnya dia sampai ke London. Setelah ini, dia akan menyembunyikan diri di rumah. Tidak akan keluar dan tidak akan pergi kemanapun.Selama David pergi, dia harus memikirkan jalan hidupnya lagi. Apakah dia harus lari lagi, atau harus dia hadapi?Tapi dia tahu, dia tidak bisa memakai rupa dan identitas orang lain lagi. Apalagi kalau sampai mengubah wajahnya dia sudah tidak bisa melakukannya lagi.Kalau memang harus dihadapi, dia harus melakukannya. Lari hanya akan menambah masalah. Setelah dia pikir baik-baik, dia sudah bebas. Dan tidak ada satupun yang bisa memaksanya untuk kembali ke masa lalu.Meski dia tahu, David akan tahu semua kebohongannya. Dia akan mengetahui kalau dia bukan Emma. Meski begitu harus dihadapi karena dia tahu konsekuensinya sejak awal. Terus melarikan diri dari kenyataan, hanya membuatnya lelah. Tapi sebisa mungkin dia akan menutupi hal itu.Elise langsung pulang ke rumah, menutup pintu dengan rapat. Dia menarik nafas
Pukul 03.00 pagi, Elise sudah bersiap-siap. Dia harus segera keluar dari hotel itu agar tidak diketahui Axel atau anak buahnya.Belum satu tahun dia melarikan diri, Ia masih berusaha beradaptasi hidup sebagai Emma tapi pria itu sudah menemukan dirinya.Padahal setelah menjadi Emma Grace, dia menjadi diri sendiri. Hidup tanpa tekanan dan tanpa dikekang siapapun. Dia tidak perlu takut akan berakhir di rumah sakit jiwa lagi, tidak perlu mendapatkan siksaan lagi.Tapi semua ketenangan itu hancur dalam sekejap karena Axel. Pria itu, bisa menyeretnya kembali ke masa lalunya yang gelap.David baru sadar, kalau semua barang-barangnya sudah siap. Rupanya, Elise telah merencanakan kepulangannya dengan matang.Hal itu justru semakin membuatnya curiga. Ketidaksabarannya itu seolah membuktikan kecurigaannya kalau Emma dan Axel Smith memiliki rahasia yang tidak dia ketahui meskipun rasanya mustahil Emma bisa mengenal pria itu.“Emma, Kenapa kau tergesa-gesa seperti ini?”“Maaf tidak memberitahumu.
Elise telah kembali ke kamar sedangkan David kembali menemui Axel untuk melanjutkan percakapan mereka. Walaupun sikap pria itu mencurigakan tapi dia harus menahan diri karena dia membutuhkan informasi itu. Lagipula Ema sudah kembali ke kamar, dia pastikan tidak akan mempertemukan Emma dengan pria itu lagi.David telah kembali ke tempat duduk. Tapi Axel tidak kembali begitu cepat. Dia berada di kamar mandi untuk beberapa waktu dan setelah itu barulah dia menghampiri David.Seolah tidak terjadi apapun, pria itu terlihat begitu santai. Lagi-lagi David harus menahan diri padahal dia sangat ingin tahu apakah Axel mengganggu tunangannya atau tidak.“Maaf membuatmu lama menunggu, tuan David.”“Tidak masalah, makanannya baru diantarkan,” ucap David bercanda.“Mana tunanganmu?” Axel menarik kursi, pura-pura mencari keberadaan Elise, “Apa dia tidak mau makan bersama kita?”“Tunanganku sedikit tidak enak badan. Aku telah memintanya kembali ke kamar. Aku harap kau tidak tersinggung.”Axel tersen
Tangannya dikunci ke atas, tubuhnya terhimpit di dinding. Elise tak memiliki ruang gerak. Bahkan, untuk meronta saja dia tidak memiliki kesempatan.Pria itu memaksa mencium bibirnya. Apa David? Tidak, David tidak melakukan hal seperti itu. Aroma tubuh itu, sangat familiar, dan masih dia ingat sampai sekarang.Axel, pria itu Axel. Tidak salah lagi. Tapi kenapa Axel menangkapnya dan menciumnya seperti itu?Elise kembali meronta. Tidak akan dia biarkan pria itu menghancurkan semua yang sudah dia rencanakan apalagi yang dia inginkan hanyalah kakaknya.Setelah beberapa saat, Axel melepaskannya. Namun, tangan Elise mendarat di wajahnya. Sebuah tamparan dia dapatkan. Tidak sakit, tamparan itu justru membuatnya tersenyum.“Kurang ajar kau!” Elise menggeram marah, “Beraninya kau memperlakukan aku seperti ini?”“Tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tahu siapa dirimu!”“Aku tidak mengenalmu!” Elise berteriak, “Aku tidak pernah mengenal pria sepertimu!”“Tidak mengenalku?” Axel mendekat, kembali me
David kembali menghampirinya setelah mengucapkan kata maaf pada Axel supaya pria itu tidak tersinggung.Entah apa yang terjadi dengan Emma, wajahnya begitu pucat. Dia seperti orang yang kekurangan darah. Emma bahkan harus berpegangan pada kursi supaya dia tidak jatuh.“Emma, apa yang terjadi denganmu?” David memegangi bahunya, menopang tubuhnya. Padahal keadaannya baik-baik saja sebelum dia menyambut kedatangan pria itu.Elise menggeleng. Tidak, dia harus tenang. Dia Emma Grace, bukan Elise Parker. Axel tidak mungkin mengenalinya.David berbisik, “Kembalilah ke kamar, aku akan meminta maaf padanya nanti.” Elise kembali menggeleng. Kalau dia lari, Axel akan semakin mencurigainya apalagi mata pria itu tak lepas darinya.“Tuan David,” Axel sudah berdiri di seberang mereka, “Apa yang terjadi dengan tunanganmu?”“Maaf, sepertinya dia kurang enak badan. Bolehkah aku mengantarnya ke kamar sebentar?”“Oh, aku tidak suka dengan hal seperti ini,” ingin lari darinya? Tidak akan dia biarkan.“Ka
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau







