LOGINSemua masih tampak sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Bahkan barang-barang miliknya yang dia tinggalkan masih berada di tempatnya.Kalung mahal itu, hadiah pertama yang diberikan Axel untuknya, masih tersimpan rapi dalam kotak seolah tidak ada yang menyentuhnya.Benda itu seharusnya milik Alicia. Waktu melihat kalung itu, Alicia memarahinya dan memintanya untuk tidak menggunakannya. Dia ingat betul setiap kata yang mereka ucapkan waktu itu.Axel menjaga semua barang-barang itu. Perhiasan kecil yang sering dia pakai pun masih berada di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya begitu berarti bagi pria itu padahal waktu yang mereka lewati begitu singkat.Tapi setelah melihat barang-barang itu Elise tidak bertanya. Dia memilih tidur, dengan alasan sudah larut dan lelah. Axel pun tidak memaksanya. Dia tidak mengganggu Elise, dan membiarkan istrinya itu beristirahat. Dia tahu, butuh waktu bagi Elise untuk kembali seperti dulu.Pagi itu terasa lebih damai dibandingkan biasanya. Axe
Elise hanya diam, tidak banyak bicara. Rasanya menjadi canggung, dia tidak bisa bersikap seperti dulu lagi meski ibu dan adik Axel tidak berubah.Mereka benar-benar menyiapkan makanan untuknya. Bahkan, piringnya sudah dipenuhi makanan padahal dia tidak lapar.“Kenapa tidak makan?” tanya ibu Axel padanya, “Apa sudah tidak suka dengan makanan yang Mommy buat lagi?”Elise menggeleng, “Bukan begitu.”Selain gugup dengan situasi itu, dia juga tidak enak hati pada ayah Axel. Pria itu memang tidak bicara, tapi sikapnya itu membuatnya harus menerka apakah ayah Axel menyukai keberadaannya atau tidak?Atau, dia sedang marah karena telah ditipu olehnya?“Elise,” Axel memegangi tangannya, “Apa ada yang kurang? Atau kau tidak enak badan?”“Tidak,” Elise menggeleng dan berusaha tersenyum. Sebaiknya tidak menghancurkan suasana apalagi ibu dan adik Axel sudah begitu baik padanya.“Kalau begitu makanlah, setelah ini aku akan mengajakmu beristirahat.”“Aku ingin pulang, boleh?”“Kenapa tidak? Kita akan
Harmoni telah mendapat kabar kalau putranya telah kembali bersama Elise. Itu kabar baik yang dia tunggu sekian lama. Entah bagaimana Axel bisa bertemu dengan istrinya itu, tapi keberadaannya telah membuktikan kalau menantunya itu masih hidup.Axel juga sudah memberitahu, Elise memakai rupa orang lain. Dia telah mengirimkan foto pada ibunya supaya mereka tidak salah mengenali saat tiba nanti.Banyak yang ingin dia tahu, sebab itu Harmoni telah menunggu bersama putrinya yang juga sudah tidak sabar menyambut kepulangan kakak iparnya.Sambil menunggu, Harmoni menyiapkan begitu banyak makanan hanya untuk menyambut kepulangan menantunya. Kali ini tidak akan dibiarkan pergi lagi, dan mulai hari ini wajah muram putranya tidak akan terlihat lagi.“Mom, jam berapa Kakak akan sampai?” Violet menghampiri ibunya yang sedang sibuk menata makanan.“Mungkin sebentar lagi. Kakakmu bilang mereka akan langsung ke sini.”“Aku dengar kakak ipar sudah berganti wajah, apakah kakak tidak keberatan?”“Kakakmu
Elise duduk di dekat penjualan tiket. Kali ini dia benar-benar tak memiliki tujuan. Selain itu, dia tidak memiliki rencana juga tidak memiliki persiapan karena pergi terlalu terburu-buru.Yang membuatnya tak berkutik adalah, dia tidak memiliki Visa. Sekarang dia terjebak di Inggris. Selain keluar dari kota London, dia tak bisa lari kemanapun.Tapi apa gunanya? Axel pasti akan menemukannya lagi. Dan lagi, dengan keadaannya itu, mungkin dia akan berakhir menjadi gelandangan.Elise tertawa pelan, menertawakan nasib bodohnya. Selalu berakhir menyedihkan, hidupnya itu seolah tidak berguna sama sekali. Kalau memang begitu, hidup tak bergunanya itu apakah masih perlu dipertahankan?Daripada menjadi gelandangan dan kembali berakhir di rumah sakit jiwa, lebih baik diakhiri saja. Dengan begitu tidak ada lagi yang akan dia tipu. Mungkin saja, jiwanya akan bahagia setelah meninggalkan dunia fana itu.Tatapannya kosong. Pikirannya kacau. Dia sudah duduk cukup lama di tempat itu, tapi belum menemuk
Sebuah koper kecil sudah terisi penuh. Elise hanya mengambil barang-barang miliknya saja. Barang yang mereka beli di Belanda tidak dia ambil. Apa yang tidak menjadi miliknya tidak dia sentuh.Setelah semua selesai. Elise memandangi kamar yang dia tempati belum lama. Baru beberapa bulan dia menikmati status dan hidup damainya, tapi kini sudah kacau balau.Entah ke mana dia harus pergi setelah ini, dia tidak memiliki rencana dan sudah pasrah. Dia keluar dari kamar setelah cukup memandangi tempat itu. Sejak awal bukan rumahnya, tidak ada sedikitpun perasaan yang tertinggal di tempat itu.David masih berada di ruang tamu, berdiri di depan jendela seperti tadi. Dia berpaling saat mendengar suara pintu dibuka. Elise berhenti, mereka berdua saling memandang.Tiba-tiba saja muncul perasaan tak rela di hati David. Dia tahu tidak seharusnya dia memiliki perasaan itu, tapi melihat rupa Emma, dia jadi merasa sedang mengusir tunangannya sendiri. Lagi pula selama ini, Elise tidaklah buruk. Wanita
Setelah semuanya tenang, Elise memberanikan diri keluar dari kamar. Sudah seperti itu, tak ada lagi yang perlu dia rahasiakan. Semuanya harus dia luruskan Dia harus membongkar semuanya. Menceritakan bagaimana dia menjadi Emma. Setelahnya, terserah David mau melakukan apa. Dan seandainya dia harus berakhir di penjara sekalipun, dia akan melakukannya untuk menebus semua dosanya itu. David berada di ruang tamu, berdiri menghadap jendela seolah sedang menunggu dirinya. Elise menghampirinya tanpa keraguan. Sekarang, apa yang akan terjadi biarkan saja terjadi. Dia sudah pasrah, dan lelah mengejar hidup tenang yang tak akan dia dapatkan. “David, aku ingin berbicara denganmu.” David berpaling. Elise nerhenti sejenak. Sesaat, mereka berdua saling menatap. Dan setelah beberapa saat, dia kembali melangkah dan membuang keraguan juga rasa takutnya. “Mau bicara apa lagi? Apa ingin mengatakan padaku kalau kau Elise Parker?” “Aku memang Elise Parker, dan aku akan menjelaskan semuanya seca
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







