LOGIN“Dokter Lia siapa sih, Sayang? Kamu ketemu dia di mana?” tanya Arjuna yang masih bingung dengan ucapan istrinya.“Ketemu di rumah pasien tadi,” jawab Nadira.“Rumah pasien? Kok dia kenal aku?”“Tunggu bentar! Kata kamu dia dokter bedah umum kan? Tapi kenapa dia manggil dokter bedah ke rumahnya? Emang dia yang sakit?” lanjut Arjuna lagi.“Bukan. Yang sakit itu tantenya. Dan tadi Dokter Raka juga bingung kenapa bukan dia aja yang obatin. Padahal cuma jahitan lepas dan rembes aja tadi tuh.”Arjuna semakin bingung mendengar cerita istrinya.Mulai dari nama Lia yang tiba-tiba kenal dengannya. Lalu seorang dokter bedah yang memanggil dokter bedah lain, padahal keluhannya tidak berat.“Bentar ... kamu yakin dia dokter bedah?”Nadira menaikkan kedua kakinya lalu memegangi perutnya agar mendapat posisi yang nyaman.Dia memejamkan matanya sebentar, saat merasa mual naik ke tenggorokannya.“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Arjuna saat melihat reaksi istrinya.“He em. Padahal tadi gak papa. Kaki di ang
“Dulu kenapa, Dok? Ada apa dengan Dokter Juna?” tanya Nadira ingin tahu.Raka melirik ke Nadira. Tak lama kemudian dia tersenyum sendiri sambil melihat ke jalanan.“Gak papa,” jawab Raka.“Gak papa gimana? Tari katanya Dokter Juna bukan hanya kenal sama Dokter Lia. Apa mereka pernah pacaran?” tebak Nadira.“Tanyain aja ke Juna nanti. Aku mau tau dia jawab apa.”Nadira menatap ke Raka. “Kok Dokter bilang gitu. Emang ada apa sih, Dok?”“Udah tanya aja ama dia. Ntar kasih tau ya, jawaban dia apa.”Nadira menatap Raka tanpa suara. Tatapannya berbeda dari yang sebelumnya.Tatapannya penuh selidik, seolah ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan Raka.Bibir senyum itu berubah. Berubah jadi cemberut.Entah mengapa dia merasa cemburu saat mendengar cerita Raka. Padahal, tidak seharusnya dia cemburu pada masa lalu suaminya yang sudah terjadi, jauh sebelum dia mengenal Arjuna.Menyadari suasana mendadak jadi sunyi, Raka menoleh ke ibu hamil di sampingnya.“Kamu kenapa. Kok jadi diem aja,” tany
“Kamu ....” Raka tercengang melihat wanita di depannya, sampai dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.Nadira yang ada di belakang Raka, melihat ke arah wanita di pintu utama rumah besar itu.Bukan wanita yang sama yang dia temui kemarin di restoran.Ibu hamil itu kemudian melihat ke arah Raka. Tampak di matanya, kalau kini pria itu seperti sedang terperangah dan tidak mengalihkan pandangannya dari si wanita.“Raka?” sapa wanita itu dengan wajah terkejut.“Lia. Kok kamu di sini? Bukannya kamu di Australia ya?”“Aku udah lama pindah ke Surabaya. Dan ini ... ini rumah tanteku,” jawab Lia.“Tantemu?”Raka semakin kebingungan. Dia melihat ke belakang Lia, kemudian kembali melihat ke wanita cantik di depannya.Lia yang dia kenal adalah seorang dokter bedah umum. Kalau pasien Raka punya keponakan seorang dokter bedah, kenapa juga dia dipanggil ke sini.”Lia tersenyum melihat Nadira yang juga tampak bingung.“Eh, kalian mau liat tante ya. Yuk masuk. Aku anterin ke dalam,” ajak Lia pada dia tam
Jantung Arjuna berdegup lebih kencang dari biasanya. Tatapannya terus terarah ke layar TV di tembok yang sedang menayangkan wajah putranya.Genggaman tangannya juga semakin erat ke tangan Nadira. Rasanya dia tidak percaya kalau dia akhirnya bisa melihat wajah anaknya yang masih ada di dalam perut istrinya.Hal serupa juga terjadi pada Nadira.Ibu hamil itu bahkan sudah menitikkan air mata saat dia pertama kali menatap wajah putranya di layar.Belum menatapnya secara langsung saja sudah membuat Nadira terharu, apa lagi nanti kalau dia sudah bisa menyentuh dan memeluk bayinya secara langsung.Nadira sudah langsung jatuh cinta pada bayi tampan itu. Tatapannya tidak beralih dari layar TV.“Kayaknya cowok ini ya. Duuh ... pasti ganteng banget ini anaknya,” ucap Dokter Ira yang juga terpesona pada penampakan bayi Nadira lewat USG 4 dimensi.Bayi Nadira bergerak-gerak, sampai membuat tangan Dokter Ira juga ikut terus bergerak a
“Agnes?? Kok kamu ada di sini?” tanya Arjuna saat dia mengenali orang yang baru saja memberikan barang istrinya.“Aku lagi pulang, Jun. Mamaku sakit,” jawab Agnes.“Oh, pantesan. Kamu masih di Malaysia?” tanya Arjuna lagi.“Masih.” Agnes melihat ke Nadira. “Ini Sinta ya, Jun? Makin cantik aja ya,” puji Agnes.“Apa bawaan hamil ya?” lanjut Agnes dengan senyumnya.Nadira tersenyum canggung saat dia mendengar ucapan Agnes. Mata Nadira bergerak-gerak tidak nyaman, karena suasana mendadak sangat canggung.“Dia Nadira. Istriku,” ucap Arjuna sambil menatap Nadira.Agnes kembali menatap Arjuna. “Nadira? Loh ... bukannya istri kamu namanya Sinta ya? Apa aku salah orang?” Agnes menatap bingung.“Gak. Kamu gak salah. Aku sama Sinta udah cerai dan sekarang Nadira istriku.”Agnes kembali menatap Nadira. “Oh gitu.”“Nes,” panggil seseorang di meja lain.Agnes melihat ke temannya yang tadi memanggilnya sebentar, memberi kode kalau dia akan segera bergabung.“Eh, aku ke meja aku dulu ya. Masih pengen
“Dok, Dokter beneran gak mau bantuin Bu Sinta?” tanya Nadira saat mereka kini sudah ada di perjalanan.“He em.” Arjuna menjawab singkat sambil menyetir.“Alasannya?”Arjuna melihat ke istrinya sebentar lalu kembali melihat ke depan. “Alasan? Apa masih harus di jelaskan lagi?”“Itu bukan bidang kita, Nad. Meski bisa aja kita yang lakukan, tapi itu nyalahin aturan.”Arjuna menghentikan mobilnya di lampu merah. Dia menoleh ke istrinya yang duduk di sampingnya.“Emang kamu masih mau berhubungan sama dia lagi? Aku sih enggak,” tanya Arjuna.Nadira menggeleng. “Gak mau, Dok.”“Ya udah, berarti kita gak usah masuk ke hidup mereka lagi. Kita jalani aja hidup kita yang baru.”Nadira tersenyum. “Baik, Dok.”Arjuna menjalankan lagi mobilnya. “Oh ya, kapan kita USG lagi? Aku udah pengen liat dia,” tanya Arjuna sambil mengusap perut istrinya.“Gimana kalo besok. Biar saya ambil antrian di Dokter Ira. Saya juga penasaran,” jawab Nadira.“Pagi aja. Minta pertama. Saya agak repot. Pasien juga banyak
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika
“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal







