LOGIN"Semua barang-barang mu disini sudah dipindah kan kekamarku. Mulai malam ini dan seterusnya, kita akan tidur bersama!"
"Apaa?" Viola tersentak kaget. "Kiev, kita sudah sepakat akan bercerai!" Kiev kembali kesal setiap Viola mengatakan kata cerai. Padahal dia yang dulu menginginkan Viola menyerah. "Mama dan Nenek sedang ada disini. Mereka tidak lama, jadi selama mereka disini, kita akan tidur satu kamar!" Tegas Kiev, tanpa aba-aba, Kiev sedikit menunduk dan mengangkat tubuh Viola ala bridal style. Viola yang kaget reflek melingkarkan tangannya dileher Kiev. "Turunkan aku!" Viola meronta, namun Kiev tidak menghiraukannya. Justru Kiev membalik badan kemudian berjalan menuju kamarnya yang berada disebelah kamar Viola. "Kiev, dengar! Aku bisa berjalan sendiri!" Viola melotot. Namun Kiev tetap tidak mengubrisnya. Pada akhirnya kalah dan membiarkan Kiev menggendongnya, untuk pertama kali, Viola merasa dimanja dan diperhatikan Kiev, pria yang sangat dia cintai sampai mengorbankan semuanya. Tapi Kiev yang terlalu membencinya tidak pernah melihat kehadirannya. Viola tidak lagi merasakan kebahagiaan sekedar melihat Kiev, apakah rasa cinta itu masih ada? Kiev memang tampan, sangat tampan sampai bisa membuat seluruh gadis bertekuk lutut mengidolakannya. "Buka pintunya!" Ucap Kiev memerintah Viola. Viola sedang melamun, dia menatap wajah Kiev, antara benci dan cinta. Merasa tidak ada pergerakan dari Viola, Kiev menundukkan kepala guna melihat istrinya. Tanpa sengaja, kedua bola mata mereka bertemu selama beberapa saat. Viola yang tersadar memejamkan matanya dan menggelengkan kepala pelan. Viola tidak akan membiarkan hanyut kembali kepada Kiev yang tidak. akan mencintainya. Viola langsung meronta turun, Kiev tersenyum melihat tingkah Viola sampai dia lemah dan akhirnya menurunkan Viola. Dengan gesit, Viola mendorong gagang. pintu lalu masuk lebih dulu. Pemandangan didalam kamar membuat Viola sesak dan secara bersamaan. Dia melihat satu persatu pajangan yang ada didinding kamar. Semua foto-foto yang diturunkan dari dinding kamarnya, bagaimana bisa beralih menempel didinding kamar Kiev? "Selama tiga tahun aku baru menyadari, kalau aku memiliki foto setampan itu dikamarmu." Kiev berbicara dari belakangnya. Viola menoleh sedikit, "Nggak mungkin yang memasangnyal" Sahut Viola. Mustahil menurut Viola, bahkan setiap foto, Kiev tidak tersenyum, seolah menggambarkan memang pernikahan mereka paksaan. "Memang bukan aku." Kiev berjalan mendahului, lalu duduk dikursi sofa. didalam kamar dan meraih foto bingkai berukuran kecil. "Tapi Leon tidak akan memasangnya tanpa seizin dariku! Lihatlah. Aku sangat cocok dengan balutan tuxedo putih." Lanjut Kiev. Viola memalingkan wajahnya kearah lain. Pemandangan didalam kamar Kiev yang diimpikan dari dulu, sekarang sudah terwujud, tapi sama sekali Viola tidak merasa bahagia atau sedih. Apa ini yang dinamakan mati rasa? Setelah Viola masuk kedalam kamar mandi. Kiev bingung dengan dirinya sendiri. "Ada apa denganku? Kenapa aku selalu ingin dekat dengannya?" •••••••• Saat Viola keluar dari kamar mandi dengan setelah baju tidur, Kiev sudah berada diatas ranjang sambil tangan dibelakang kepala dan menatap keatas. "Aku nggak sudi tidur seranjang denganmu!" maki Kiev beberapa waktu lalu. Suara itu terngiang ditelinga Viola, dia masih mengingatnya. "Aku tidur disofa." Kata Viola seraya meraih bantal disamping Kiev diatas ranjang. Kiev menoleh, mengernyitkan keningnya. Sebegitu bencinya Viola sampai tidak mau seranjang dengannya. "Kenapa? Apa karena kita akan bercerai?" Tebak Kiev. "Salah satu alasannya!" Jawab Viola. "Katakan semua alasannya!" Desak Kiev. "Aku memiliki seribu satu alasan untuk tidak menjawab pertanyaanmu!" Sahut Viola dengan ketus, berjalan meninggalkan ranjang Kiev. Tidak tinggal diam, Kiev beranjak bangun dan berjalan cepat memutari ranjang. Menarik tangan Viola sampai Viola mendekat dan membentur dadanya. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Bentak Viola. Bantal ditangannya bahkan terjatuh karena kaget tiba-tiba Kiev menariknya. "Apa kamu lupa, kita ini siapa?" Kiev memeluknya sangat erat, tidak membiarkan Viola lepas dari dekapannya. "Kiev, ada apa denganmu?" Viola menatapnya tajam. Ada apa dengannya? Kiev sendiri tidak tau apa yang terjadi padanya. Mengapa tiba-tiba ingin selalu melihat Viola dan tidak suka pada sikap Viola yang mengacuhkan nya. "Apa kata-kataku tadi kurang jelas, Nyonya muda Arron? Malam ini dan seterusnya, kita tidur bersama." Sahut Kiev dengan entengnya. "Kita akan bercerai Kiev! Lepaskan aku!!" Sahut Viola dengan cepat, suaranya sedikit meninggi sangking geramnya dengan sikap Kiev yang Plin-plan. Viola selalu menyangkut kan kata cerai, itu membuat Kiev semakin tidak suka. Viola seperti sudah sangat membencinya dan ingin segera lepas darinya. Memang Kiev awalnya senang, tapi saat perubahan sikap Viola yang dingin dan tidak seperti biasanya yang selalu menganggunya, rupanya berhasil membuat Kiev kalang kabut dan tidak suka. Kiev perlahan melonggarkan "Silahkan kamu tidur disofa. Tapi aku akan memperlambat proses perceraian kita." Ancam kiev, dia mundur dan kembali keranjang. "kau mengancam ku?" Sahut Viola dengan ketus. "Itu pemikiranmu sendiri. Kamu selalu berfikiran buruk tentangku." Kiev melepaskannya lalu mundur, Dia tidak suka sikap Viola yang berubah menentangnya. Setelah dicampakkan, Viola bukan lagi gadis yang ramah terhadap Kiev yang masih menjadi suaminya sendiri. Kata-kata Kiev seakan Viola selalu jahat dan selalu menindas Kiev. Padahal Kiev sendiri yang selalu berfikiran buruk tentangnya. Bodohnya Viola selalu bertahan meskipun sikap Kiev kepadanya sangat dingin dan acuh. "Kamu memang nggak pernah berubah, Kiev. Dari dulu kamu selalu ingin kita bercerai, sekarang aku melepasmu, tapi kamu malah bersikap seperti ini! Apa sebenarnya maumu?" Bentak Viola yang tidak tahan lagi dengan sikap Kiev. Kiev berhenti melangkah, Kiev tidak tau apa yang dia inginkan, Bercerai dari Viola? Tapi mengapa hatinya tidak sinkron dan ingin mempertahankan Viola, padahal jelas bukan Viola yang diinginkan. Kiev membalikkan badan lalu menatap istrinya, dia berkata pelan, "Kamu hanya salah Paham, Viola. Kita bisa membicarakan ini baik-baik!" "Salah paham? Lalu kenapa kamu ingin menyingkirkanku?" "Kamu masih menganggap bahwa aku yang sudah membuatmu kecelakaan?" Tanya Kiev. Kecelakaan yang dialami Viola sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. "Aku berani bersumpah Viola, Aku tidak pernah berniat menghabisimu!" "Kamu selalu berbohong Kiev!" Bentak Viola. Dia berjalan menuju meja rias dimana banyak tumpukan buku-bukunya yang belum disimpan ada disana. Viola berjalan kembali kearah Kiev setelah mendapatkan apa yang dicari. "Polisi mengatakan rem mobilku sengaja disabotase. Dan malam itu, aku melihat. kamu sedang berada didepan mobilku saat di garasi rumah sebelum kamu pergi bersama Aliec!" Kiev tersentak kaget atas tuduhan Viola kepadanya. Malam itu memang dia mengecek mobil Viola, karena ada tetesan air yang menetes dibawah bumper mobil Viola. Namun dia tidak melakukan apapun dan bahkan menyuruh Penjaga untuk mengeceknya dan membawanya kebengkel. Kiev diam saja tidak membenarkan ataupun menyangkalnya. Itu membuat Viola semakin yakin kalau Kiev yang telah membuatnya kecelakaan. Violet menarik nafasnya, "Aku sangat membencimu, Kiev. Kamu menggunakan cara Licik untuk bercerai dariku!" BersambungSeperti biasa, saat tidur Viola selalu tidur dibagian tepi ranjang memberikan jarak untuk dirinya dan Kiev.Kali ini, Kiev tidak tidur diranjang. Justru pria itu hanya mengambil bantal dan selimut didalam lemari walk in closet lalu berjalan menuju sofa.Jujur saja, sebenarnya Kiev ingin tidur diranjang bersama Viola, tapi, Kiev tidak ingin membuat Viola merasa tidak nyaman dan gelisah.Viola merasa tidak ada pergerakan disebelahnya, hingga beberapa saat kemudian, barulah Viola mengintip sedikit dan ternyata disampingnya kosong."Kemana Kiev?" gumamnya, dia tidak bisa melihat dengan jelas karena pencahayaan yang kurang.Hanya lampu tidur yang menyala, Kiev tidak bisa tidur kalau lampu utama menyala.Viola bangun dari tidurnya lalu melihat kesana kemari kesetiap penjuru kamar. Barulah dia melihat sosok bertubuh tinggi dan besar itu tidur disofa panjang yang pas seukuran Kiev.Viola sedih, karena berfikir Kiev memang berusa
"Em ngomong-ngomong Kamu masih single?"Viola menjawab dengan santai, "Aku sudah menikah"Uhuk uhukFelix tersedak saat menyeruput Americano coffenya karena jawaban Viola yang seperti mematahkan hati dan semangatnyTapi, Felix rasanya tidak percaya."Sungguh? Kenapa aku melihat kamu seperti gadis?" Sahut Felix.Viola mengaduk-aduk hazelnut lattenya, sembari berfikir, apa benar dia memang seperti gadis yang belum menikah.Sepertinya memang sedikit benar, lagi pula usianya masih muda dan belum pernah hamil dan melahirkan."Aku nggak memaksa kamu percaya. Tapi memang itu kenyataannya!""Ah, kenapa gadis yang cantik seperti kamu harus sudah laku?" Celetuk felix memasang wajah putus asanya.Viola menahan senyumnya, bisa-bisanya Felix menyamakan dirinya dengan barang jualan. Tapi Viola sama sekali tidak tersinggung"Hidup itu maju, dan tidak berhenti. Masih banyak gadis yang berkeliaran." Sahut Viola.
Apapun yang terjadi dirumah tangganya, Viola tetap berusaha bersikap profesional di boutique dan berusaha melupakan pembicaraannya dengan Kiev. Tapi tetap saja, dia wanita normal yang segala sesuatu pasti selalu dipikirkan. Begitu pula Kiev yang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya di perusahaan. Dia selalu memikirkan Viola, dan kelanjutan pernikahan mereka. Kalau dia dan Viola bercerai, bagaimana dengan Nenek dan ibunya mereka pasti akan marah besar. Bahkan nenek dulu selalu mengancamnya, kalau seandainya dia melepaskan Viola, maka Kiev akan dicoret dari daftar warisan. Untuk warisan, Kiev tidak terlalu perduli. Semua harta dan aset yang dia miliki sendiri lebih dari cukup untuk menghidupinya dan keturunannya kelak. "Leon, menurutmu aku harus bagaimana?" Tanya Kiev. Saat ini, dia memang membutuhkan Leon untuk membantunya memecahkan masalahnya. Leon memang salah sa
Pagi yang sangat cerah, Viola sudah berada didalam kamar nek ratu. Membantu wanita paruh baya itu membersihkan diri.Setelah itu, Viola juga kedapur dan mengecek para juru masak wanita yang sedang membuat makanan untuk anggota keluarga."Untuk sup nya nenek, pastikan daginya harus matang sempurna. Jangan terlalu banyak garam dan micin." Titah Viola seperti ahli gizi.Para juru masak mengangguk paham, "Baik Nyonya.""Oh ya, tolong buatkan salad sayur untukku." Tiba-tiba saja, Violet menginginkan makanan itu.Para juru masak pun mengabulkannya. Mereka terus bekerja meski diawasi Viola yang memang sangat teliti untuk masakan keluarga.Tidak merasa risih atau canggung, karena mereka sudah terbiasa disaat ada nenek dirumah, karena Viola selalu ingin memastikan makanan nenek mengandung. gizi dan nutrisi yang seimbang dan terpenuhi.Tanpa Viola sadari, sepasang mata dari tadi terus memperhatikannya dari tangga.Kiev te
Saat matahari sudah mulai terbenam, Viola sampai dirumah keluarga Arron. Baru masuk dari pagar, dia melihat nenek Ratuliu tengah duduk ditaman bersama Clara.Viola pun menghampiri mereka, "Nenek, mama. Sudah mau malam, kenapa masih disini?""Nenek kamu, pengen cari udara segar sebentar." Jawab Clara."Sayang, kamu masih bekerja? Bukankah nenek sudah bilang, jangan lagi bekerja di boutique itu? Nama kamu bisa tercemar." Nek ratu menasehati.Viola tidak bisa menjawab. Tentu saja Viola tidak bisa berhenti bekerja disana, karena dia adalah pendirinya. Namun Nek ratu dan Mama Clara tidak tau, mereka hanya taunya Viola bekerja sebagai Maneger di Mutyara boutique."Emm, begini nek. Viola nggak enak sama teman Viola, kalau nanti dia sudah mendapatkan pengganti Viola, Viola pasti Resign." Jawab Viola berusaha meyakinkan.Dalam diri Viola yang Clara sukai, bukan hanya cantik, dan dari keluarga terpandang, namun Viola memiliki hati yang lem
Setelah gagal menemui Kiev dirumah, Aliec kini sampai di perusahaan grup Arron. Aliec sangat takut kalau Kiev marah dan tidak mau kalau Kiev terus mengacuhkannya.."Permisi, saya mau bertemu dengan tuan Kiev." Ucap Aliec kepada resepsionis"Baik, Nona Aliec. Saya akan menghubungi tuan muda Kiev." Jawab Resepsionis lalu menghubungi Secretaris Kiev untuk mengabarkan kalau Aliec datang.Hampir semua pegawai memang tau siapa Aliec, karena Aliec sering datang ke perusahaan grup Arron ketika pulang Kuliah. Dan Kiev juga memang terlihat sering bersamanya dibandingkan bersama Viola.Bahkan para karyawan juga kebanyakan. menyukai Aliec daripada Viola, dan mereka juga mendukung hubungan Aliec dan Kiev.Viola sudah terkenal buruk dimata pegawai karena merusak hubungan Kiev dan membuat Kiev tidak bahagia. Mereka lebih menyukai Aliec, terlebih Aliec gadis yang dicintai Kiev."Nona, silahkan masuk. Tuan muda Kiev. mengizinkan anda masuk." Ucap







