تسجيل الدخول“Mama, apa-apaan!” Alex spontan berseru.Mama Vero tertawa. Tampaknya dia akan mengucapkan sesuatu, tetapi dua pelayan telah masuk membawakan hidangan. Menata dan menyuguhkan ke masing-masing piring dengan cepat.Sementara Faya tersenyum santai. Dia menatap pada Alex dengan wajah biasa saja. Seakan pertanyaan Mama Vero bukan sesuatu hal yang mengagetkan hatinya.“Mari kita makan dengan tenang.” Papa Agusto berkata begitu para pelayan selesai menghidangkan makanan. Lalu mengangguk sambil mengundurkan diri.Mama Vero tertawa lagi. Seakan dia tahu bahwa ucapan sang suami tertuju pada dirinya. Semacam peringatan kecil agar dia tidak meneruskan pertanyaan yang sempat dia ajukan pada Faya.Beberapa detik setelah tawa Mama Vero mereda, ganti Faya yang tiba-tiba berderai lirih. Sehingga ketiga orang lainnya serempak menoleh pada perempuan berambut panjang tersebut.Faya perlahan menghentikan tawanya. Lalu berkata, “Maaf, Pa. Bukan ingin membuat gaduh, tapi alangkah baiknya kalau Mas Alex menj
“Kalau kamu boong, aku bakalan marah beneran!” cicit Faya. Dia sengaja bermanja, dan itu membuat dia nyaman. Sesuatu yang tidak bisa Alex berikan dengan konsisten. Kadang suaminya itu memang dapat memperlakukannya dengan manis, tetapi lain hari watak kerasnya membuatnya merasa tidak berharga.“Sekarang bobo dulu, sudah malam, Sayang. Bayi cantik kita juga perlu bobo kan?” Suara lembut Revan menyapu syaraf pendengaran Faya.“Cantik? Berarti bayinya perempuan?” Faya terkikik.“Iya, biar cantik seperti mamanya.”“Tapi bayi perempuan biasanya mirip Papa.” Faya kembali terkikik.Suara tawa Revan terdengar renyah sekali. “Ya, sudah, bobo ya. Sampai ketemu besok.”Dan hati perempuan itu seketika merasai udara mengalir hangat di sekujur sendinya. Faya sampai mengecup ponsel tersebut, saking terbawa suasana.***“Bu Faya.”Faya menoleh. Dan menemukan Puput di sebelah pot besar. Perempuan muda itu merekahkan senyum tipis.“Saya mau klarifikasi, Bu,” ujar Puput sembari mendekat.Faya mengernyit.
Faya menarik napas dalam-dalam. “Semua itu kan bisa saja terjadi. Seandainya aku—”“Kalau begitu nggak perlu berandai-andai!” Alex menatap Faya tajam. “Kamu akan melahirkan anak itu, merawatnya dengan benar, dan kita kembali hidup seperti biasa.”Faya membalas tatapan Alex. Mata perempuan itu melebar. Kata ‘anak itu’ yang diucapkan Alex, sungguh membuat hatinya tertohok. Meski sebenarnya bukan yang pertama kali Faya dengar, sebab sebelumnya Alex pun memilih kata ‘anak itu’ pada janin yang tengah dikandungnya.“Apa Pap bisa mencintai anakku kalau dia lahir nanti?” Kali ini Faya sengaja menekankan kata ‘anakku’.Rahang Alex tampak kembali mengeras. “Jadi kamu benar-benar pengen berdebat?” Lelaki itu tersenyum sinis.Faya membuang muka. Ingin sekali dia mengeluarkan kata-kata yang mengganjal di hatinya. Namun sepertinya Alex memang akan menganggapnya sebagai perdebatan. Dan berdebat dengan Alex yang maunya menang sendiri itu percuma!Setelah beberapa detik terdiam dan terpaku di tempatn
Vero bangkit. Mengambil ponselnya, mulai meneliti nomor kontak teman-teman yang dia punya. Sembari mengingat-ingat, siapa saja yang dulu pernah secara samar-samar menawarkan anak gadisnya, sebelum akhirnya dia memilih Sofia.Klek. Agusto keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, setengah telanjang. Hanya menggunakan celana dalam saja.“Anak bungsu keluarga Santo kayaknya masih single loh, Pa,” kata Vero. Suaranya nyaring, seperti sudah menemukan solusi.Lelaki itu terlihat menghela napas. Terdengar sedikit menghentak.“Kenapa? Papa nggak suka ya? Cantik kok, masih muda juga, lulusan luar negeri. Bentar kucari sosial medianya.” Jari Vero lincah bergerak. Dia benar-benar niat sekali mencari pengganti Sofia.Agusto berangsur mendekat. Merangkul istrinya, memberi kecupan kecil. “Ma, jangan terburu-buru begitu. Kita ini keluarga terhormat. Apa kata orang-orang kalau tau Alex baru saja menikah, lalu tiba-tiba bercerai, dan sekarang mendadak mencari kandidat istri baru.”Antusias Vero sek
Setelah selesai, Nina kembali melakukan panggilan telepon. Kali ini dia menghubungi dokter Felish. Untuk memberitahukan informasi yang dia dapat, sekaligus rencananya terhadap Sofia dan Fatimah.“Aku akan terbang ke Paris besok. Kamu tunggulah dua atau tiga minggu baru menyusul,” perintah Nina.“Tapi soal pelayan gendut itu gimana? Kalau dia sampai ke klinik, dan orang Pak Agusto tau—”“Tenanglah, pelayan itu tidak akan sampai ke klinikmu. Pacar gigolonya sudah aku suruh menjemputnya di terminal.”Terdengar hembusan napas lega dari dokter Felisha. “Sepertinya aku akan tetap di sini dulu. Kalau aku menghilang, apa aku nggak dicari polisi?”Spontan Nina terkekeh. “Kamu pikir orangku itu ecek-ecek? Yang akan membuang mayat sembarangan? Dia itu profesional, Sofia dan Fatimah akan lenyap dengan damai tanpa keributan. Tapi kalau kamu memilih tetap tinggal di sini, itu juga bukan pilihan buruk.”“Karena bagaimana pun, aku dan cucuku juga akan kembali ke sini,” lanjut Nina. “Sampai jumpa, Fel
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang tidak begitu ramai. Sofia masih meneteskan air mata, menyadari bahwa semua rencana yang dia susun dan semula terasa begitu sempurna, kini sudah hancur.Namun dia tidak akan hancur. Dia percaya, Sofia Anastasia adalah perempuan berharga. Dia masih bisa mendapatkan lelaki kaya raya yang lain. “Dan saat itu tiba nanti, Alex. Aku akan datang untuk menghancurkan keluarga Chandra. Liat saja!”Sementara di rumah keluarga Chandra, Fatimah baru saja mendengar keputusan dari Pak Agusto.“Baik, Pak Agusto, saya akan meninggalkan rumah ini segera.” Bibi Fatimah menunduk. “Tapi saya tetap menolak semua yang disangkakan Bu Sofia kepada saya. Karena saya memang tidak melakukannya.”Pak Agusto diam saja. Demikian juga dengan Pak Alex.Fatimah pun mengerti. Tuan besarnya itu tampaknya tidak ingin lagi mendengar alasan apa pun. Maka dia bangkit, dan berpamitan untuk pergi menuju ke dalam kamarnya.Di ujung koridor menuju gedung belakang, di mana kamar-kamar
Revan tampak tersenyum getir. “Orang miskin sepertiku memang mudah sekali ketebak masalahnya ya?”“O-oh, bukan gitu… jangan salah paham, Re. Aku….” Faya menghela napas. Menatap lelaki muda itu. Kebingungan mengeluarkan kalimat yang tepat,
“Aku senang ngeliat kamu, kayaknya bahagia banget hari ini,” celetuk Revan setelah mobil berjalan beberapa saat. “Beda sama bulan lalu, kamu… galak.”“Sialan,” desis Faya. Dia melengos. Melihat ke samping kiri. “Kalau gitu aku mau galak aja ah!”Revan terkekeh. “Aduh, jangan cepat ngambek dong. Ba
“Saya akan transfer untuk biaya Kai dua minggu ke depan ya, Bu. Tapi tolong jaga dia, s-saya pasti akan menjemputnya… iya, iya… tolonglah…. Saya mengerti… terima kasih, Bu.”Faya menahan napas. Siapa Kai? Apakah dia yang menyebabkan Rev
“Faya, ini…?” Revan memungut benda tersebut. Memperlihatkan kepada Faya dengan kening berkerut. “Jadi... ini yang kamu beli di apotik tadi?”Faya terkekeh. Mengangguk-angguk. Terlihat biasa saja.“Tapi ini pil kontrasepsi?” Revan masih membelalak sembari mengamati tulisan kecil-kecil yang ada di du







