로그인Miranda sempat menoleh, dan melihat senyum Yasmin yang terkesan mengejek, sebelum mantan sahabatnya itu pergi bersama mantan pacarnya.Perempuan itu mencetus derai getir. Siapa pun yang melihat, bisa tahu kalau kedua manusia berlainan jenis itu mempunyai ikatan sesuatu. Mungkin benar, kalau Yasmin tidak merasa menjalin hubungan istimewa dengan Wisnu, sebab Yasmin mempunyai rencana sendiri.Namun Wisnu? Dengan bodohnya, lelaki itu menyambut jebakan Yasmin begitu saja. Sampai Wisnu berani memutuskan hubungan mereka berdua dengan tiba-tiba. Hubungan yang sudah terjalin satu tahun lebih.“Astaga, Kak Mira!” Suara perempuan, salah satu penghuni kos, datang tergopoh dari dalam. “Masuk, Kak. Segera mandi air hangat. Nanti Kakak bisa sakit.”“I-iya.” Miranda memaksa tersenyum.“Sabar ya, Kak. Pasti berat, tapi harus direlain. Nggak seberapa cowok begitu,” ujar sang teman lagi. Dia adalah orang pertama yang melapor pada Miranda ketika melihat Wisnu dan Yasmin terlihat berduaan di sebuah kafe.
Alex kembali berdiri. Meninggalkan kamar itu untuk masuk ke kamar lain. Seperti biasa, dia selalu memesan dua kamar bersebelahan. Terlebih kali ini, dia harus tinggal di situ selama Faya bersama Revan. Untuk membuat alibi kepada orang tuanya, bahwa dia dan Faya benar-benar melakukan terapi.Begitu masuk kamar yang baru, Alex menyambar botol wine, menuangkan sebagian kecil ke dalam gelas berkaki. Menenggak tandas sekali teguk, lalu duduk menengadah. Kepalanya mulai pusing, tentu saja bukan karena secuil wine itu. Melainkan karena dia menyimpan marah. Amarah yang menggelegak karena kelakuan dua pegawainya yang bernama Yasmin dan Miranda.“Huff….” Nafasnya berhembus kencang. Harga diri Alexander Chandra benar-benar tercoreng oleh kedua perempuan itu.Yasmin ternyata tidak sepolos yang dia kira. Sekretarisnya yang genit itu sudah begitu detail merencanakan sesuatu untuk mengambil keuntungan dari keisengann
Perempuan dengan setelan blazer dan rok selutut itu tampak tersenyum. Menutup pintu, lalu berjalan mendekati Alex.“Maaf, kalau saya mengejutkan Bapak.” Miranda terlihat berhenti sekitar dua meter dari tempat Alex duduk. Lalu membungkukkan punggung sekilas. “Mungkin Pak Alex bertanya-tanya, kenapa saya bisa ada di sini.”Alex diam. Hanya menatap tajam kepada perempuan yang dia tahu sebagai teman dekat Yasmin. Beberapa kali dia melihat Yasmin dan Miranda berdua di area kantor, maupun acara-acara resmi lainnya. Meski sebenarnya Alex lupa nama Miranda, kalau saja perempuan itu tidak menyebutkannya di awal tadi.Tangan Miranda tampak bertaut. Menunduk. “Mungkin Yasmin tidak akan datang, Pak Alex. Karena setelah saya baca pesan Anda, tadi saya langsung menghapusnya. Saya—”“Kamu saya pecat. Dan segera pergi dari sini.” Alex berkata dengan lirih, tetapi tegas. Dia membuang wajah ke arah berlawanan dari Miranda.“Baik, Pak. Saya terima, tapi Pak Alex harus dengar in—”“Kubilang, pergi!” Kini
“Oh, siapa perempuan yang beruntung itu?” Faya menampakkan senyum. Meski hatinya bergelombang tak karuan. Aneh juga sebenarnya kalau dia merasa cemburu. Namun rasa itu muncul tanpa bisa dia cegah.Revan tersenyum kecil. “Namanya Kai. Tapi dia bukan cewek, dia laki-laki kecil termanis di dunia. Jantung hatiku.”“Yang ada di wall paper hape-mu?” Faya spontan menyambar. Dengan keterkejutan dan rasa penasaran yang meledak. “Eh, maaf… waktu hape-mu jatuh tadi, aku nggak sengaja liat.”Bibir Revan kembali tersenyum seraya mengangguk, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. “Kai, anak almarhum kakakku. Kakak yang sering aku ceritakan ke kamu itu.”“Almarhum? Jadi….” Faya menggigit bibir. Tak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Sama sekali tidak menyangka kalau orang yang sering kali Revan bicarakan dengan nada ringan, ternyata sudah meninggal.“Ya. Kai adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa, setelah kepergian kakakku. Tapi sekarang Kai ada di panti asuhan, sebab dinas sosial menilaiku nggak la
“Geli, ah kumisnyaaa….” Nada Faya sengaja bermanja, sambil melepaskan diri. Dia segera membalik badannya lagi, dan langsung merasakan tubuh Revan merapat.“Nakal ya,” bisik Revan gemas.Faya mulai terkikik ketika merasai sesuatu yang menempel di bokongnya mulai sedikit menekan. Kedua tangan Revan pun sudah mulai menyisir halus, membelai kulit perut, kemudian….Dert, dert. Ponsel Faya yang diletakkan di nakas bergetar-getar. Membuat kedua manusia itu otomatis menghentikan aktifitas mereka serempak.“Huff….” Faya justru menarik selimut. Membenamkan wajahnya ke lengan Revan. Napas perempuan itu menghembus panjang.“Faya, itu—”“Udah, ah, tidur aja yuk. Aku capek banget.” Faya memejamkan mata.“Telponnya… mungkin Pak Alex,” desis Revan.“Ya, sudah pasti dia. Selama ini nggak ada orang lain yang menghubungiku selain suamiku. Paling dia itu menelpon untuk memastikan kepentingannya berjalan lancar. Bukan karena ingin tau tentang keadaanku.” Faya mendadak memuntahkan kekesalan.Revan terden
Revan tampak tersenyum getir. “Orang miskin sepertiku memang mudah sekali ketebak masalahnya ya?”“O-oh, bukan gitu… jangan salah paham, Re. Aku….” Faya menghela napas. Menatap lelaki muda itu. Kebingungan mengeluarkan kalimat yang tepat, agar tidak menyinggung perasaan Revan.Lelaki itu justru berderai ringan. Wajahnya mendadak berubah, sudah tidak setegang beberapa detik lalu. “Aku sudah lapar. Boleh kita makan sekarang?”“O-oh, i-iya dong.” Faya meringis.“Wah, liat ini udangnya gendut banget. Mungkin pas di laut dulu dia terkenal sebagai si tukang rebahan,” celetuk Revan. Derainya kembali mengudara.Faya tertawa, sedikit dipaksakan, demi menghargai Revan.“Beneran enak makanannya.” Revan kembali bicara setelah suapan pertama. Tampak sekali dia ingin menghidupkan suasana.







