مشاركة

Bab 77

مؤلف: Iyustine
last update آخر تحديث: 2026-01-17 13:00:54

Mobil terus melaju. Membawa diri Sofia dengan segala harapannya yang menggunung. Bahwa sebentar lagi, dia akan menjadi menantu keluarga Chandra. Hidup dalam surga dunia, sampai akhir hayat nanti.

Dia hanya harus melakukan tugas terakhirnya. Dan itu lebih tepat dikatakan sebagai kesenangan, daripada tugas. Ah, bahagianya.

Eh! Senyum Sofia langsung pudar. Dia telah menangkap sopir di sebelahnya tengah tersenyum-senyum sendiri. Tampak sopir ini mentertawakan dirinya. Memang sih dari awal Sofia masuk, si sopir sudah kepergok menahan senyum. Seperti tahu, bahwa dia sudah salah langkah.

“Stop di depan!” seru Sofia dengan nada tinggi. Dia perlu pindah ke belakang. Tidak sudi harus terus bersisian dengan sopir ini sampai di rumahnya.

Diam-diam Sofia menandai wajah si sopir. Hmm… sopir ini dan pelayan muda tadi, adalah dua orang yang akan dia singkirkan begitu Alex menikahinya!

 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 95

    “Yang agak kasar,” bisik Sofia.“Hah?” Samuel yang sejatinya sudah hendak mencium leher Sofia, berhenti bergerak tiba-tiba. Setengah bangun dengan menumpu badan di sikunya. Menatap wajah Sofia lekat.Sofia menggigit bibir. Terkenang bagaimana saat Alex menghunjamnya terus tanpa ampun. Menarik pucuk dadanya sampai terasa sakit. Meremas sekuat tenaga…. Tidak ada belaian, tidak ada ciuman. Namun entah mengapa, Sofia merasa ingin lagi. Mungkinkah dia ketagihan?“Yang gimana, Sayang?” Samuel mencoba memecah diamnya Sofia.“Sini aku bisikin.” Sofia menarik kepala Samuel. Mengucapkan beberapa kata dengan nafas tertahan.Samuel membeliak, tetapi perlahan seringainya muncul. Sangat lebar. “Serius kamu?”“Hu uh. Tapi jangan terlalu brutal, cukup semi-semi aja gitu. Level satu.” Sofia menggigit bibir. Sudah membayangkan kejadiannya nanti.“Oh, pasti adik kecil bahagia mendengarnya.” Samuel mengusap area privasinya sendiri. Pria itu terburu turun dari ranjang. Langsung membuka ritsleting celanany

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 94

    Mencolek sesuatu di sana, sesuatu yang terasa lembab dan membuat sedikit rasa geli. Sofia mendesis. “Ah, punyaku lembut gini kok. Masa lebih enak punya perempuan mandul itu sih? Apalagi dia udah tua, pasti kendor kemana-mana.”Jari yang baru saja menyentuh area dalam pribadinya itu, dia tarik keluar. Lalu didekatkan kepada pucuk hidung. Menghidu sesaat. “Hmm… punyaku nggak bau aneh-aneh juga.”Ah, persetan dengan sikap Alex yang sekarang ini! Dengan kehamilannya nanti, pasti Alex akan berubah. Dan Sofia bersumpah akan membuat pria itu mabuk kepayang padanya. Bucin ugal-ugalan!Sofia mengambil pakaian yang baru. Memakai make up tipis saja. Tidak ingin mengesankan jika penampilannya menggoda, karena tanpa digoda Samuel sudah pasti tergoda.***“Semoga aku nggak salah pilih bunga,” ujar Samuel, pria muda dengan tinggi seratus enam puluh satu senti meter, sambil menyerahkan buket bunga anyelir untuk Sofia.“Buat apa ginian?” Sofia mengulum senyum. Menggoyang buket bunga tersebut.“Simbol

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 93

    “Kasih tau nggak ya….” Sofia berderai-derai. Merasa sudah menang dari perjuangan yang selama ini dia upayakan. Yaitu, merebut Alex dari tangan Faya. Satu langkah lagi dia akan menjadi menantu keluarga Chandra.“Dasar kamu ya!” tukas Mama Vero. Bukan marah, nadanya justru terdengar bagai semburan suka cita. Sedetik kemudian ibu kandung Alex itu terkekeh. “Semoga setelah ini Alex hatinya akan terbuka terus untuk kamu ya. Mama yakin, Alex akan lebih bahagia sama kamu.”“Oh iya, dong, Ma. Kami akan jadi keluarga sempurna. Suami, istri, dan anak-anak. Bukan sekedar suami dan istri mandul tidak berguna.” Nada Sofia melengking tinggi.Yang disambut tawa pecah membahana oleh Mama Vero. “Ngomong-ngomong, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil, Sof?”Pertanyaan ibu kandung Alex itu membekukan derai Sofia seketika. “Ih, Mama… anu-nya kan baru minggu lalu. Mm… tepatnya baru lima hari kan? Y-ya belum apa-apa dong, Ma.”“Setau Mama ada kok alat yang bisa menditeksi apakah sudah terjadi pembuahan sete

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 92

    “Faya….” Alex terlihat menyentuh lengan Faya. “Mama tanya soal terapi.”“O-oh. S-sukses, Ma.” Faya tergagap. Sedetik kemudian menyesali kata ‘sukses’ yang dia pilih. Namun sudah terlanjur. Mama Vero melempar senyum. “Kalian mau makan? Biar nanti Mama minta pelayan siapkan.”“Ya, kita belum makan dari tadi.” Alex yang menjawab. Tangannya bergerak merangkul bahu sang istri. Sedikit menekan di sana. “Kamu makan ya, Fay?”Faya spontan mengangguk. Dia memang lapar, tetapi mulutnya terasa tak sanggup sekedar mengatakan ‘iya’. Dia masih terlalu syok.Alex mendadak bersikap manis padanya, itu mengejutkan. Namun bila Mama Vero tiba-tiba memberi senyum kepadanya, itu… membahayakan! Jadi teringat cerita ibu tiri dan putri salju….“Fay. Ayo!” Alex menekan bahu Faya lagi.Faya terkesiap. Mama Vero sudah tidak ada di depannya. Namun samar-samar suaranya terdengar dari ruang makan. “P-pap, a-apa aku boleh mandi dulu?”Alex tampak mengernyit.Dan Faya sadar, sudah salah bicara. Dia pun segera melan

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 91

    Faya buru-buru mengikat rambutnya tanpa menyisir, sambil memandang Revan yang tubuhnya masih polos. Lelaki itu tampak terpaku di samping tempat tidur, memegangi koper Faya.“Faya!” Suara Alex lebih tinggi. Terdengar sudah mengandung amarah. Gedoran di pintu pun menyusul sedetik kemudian.“Y-ya!” balas Faya tak kalah kencang. Dia gegas mendekati Revan, mengambil alih kopernya. Dikecupnya sekilas pipi lelaki itu. “Sembunyilah.”Revan hanya terpaku. Dadanya seperti sedang menahan napas.Faya tidak sempat bicara lagi. Segera balik badan, setengah berlari menyeret koper. Keluar kamar tanpa menoleh lagi pada Revan. Kepalanya sudah berisik, mereka-reka apa yang harus dia lakukan jika Alex ternyata masuk dan singgah sebentar.Klek. Faya membuka pintu. Wajah Alex yang terlihat tegang menyergap pandangannya.Perempuan itu bernapas pelan-pelan. Men

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 90

    Faya yang sudah berada di dalam kolam renang tergelak ketika melihat Revan yang tengah berlari justru terpeleset, dan tercebur dalam posisi kepala masuk air terlebih dulu.Air pun berkecipak beberapa saat, setelah itu kepala Revan muncul dari dalam air. Terbatuk-batuk dengan wajah yang terlihat cengar cengir, tetapi cepat bergerak mendekati Faya.Sementara Faya masih tertawa-tawa, sambil menjaga keseimbangan agar tetap mengapung. Mengesankan jika dia sedang menunggu kedatangan Revan, tetapi ketika tangan lelaki itu hampir menyentuhnya, Faya sengaja menenggelamkan diri, berkelit, lalu bergerak menjauh.“Ayo tangkap aku!” teriak Faya yang muncul di sisi lain. Di belakang Revan. Terbahak lebih kencang. Dia memang pandai berenang.Revan kembali bergerak mendekat, Faya pun melakukan hal yang sama. Berulang kali begitu sampai akhirnya Faya membiarkan Revan menangkapnya.&ld

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status