Share

Bab 3 

Author: Adyari
Ashton sangat tampan, seperti seseorang dari dunia lain.

Sore itu, hampir semua murid perempuan setingkat pergi ke kelasnya dan mengintipnya melalui jendela. Beberapa hari kemudian, bahkan gadis tercantik di sekolah datang untuk memberinya surat cinta.

Namun, Ashton mengabaikan semua orang dan selalu tidur sendirian di belakang kelas. Dia terlihat tidak tertarik pada apa pun. Dia tidak pernah membawa apa pun ke kelas, juga tidak pernah mendengarkan pelajaran. Namun, para guru juga mengabaikannya.

Sesekali selama ujian, dia akan mencolek punggungku dan bertanya, "Hei, boleh nggak aku salin jawabanmu?"

Dia sepertinya sangat yakin bahwa aku tidak akan menolak. Namun, aku memang tidak menolak.

Gara-gara hal ini, ada banyak murid laki-laki yang tidak menyukainya dan mengatakan dia sok hebat. Sekelompok murid berandal akan berkelahi dengannya setiap beberapa hari sekali. Pada saat itu, aku melihat Ashton berkelahi di gang belakang sekolah hampir setiap hari.

Suatu hari, saat aku lewat, dia sedang bersandar di gang sambil merokok. Wajahnya penuh memar. Aku ragu sejenak, lalu menghentikan sepedaku. Aku mengeluarkan plester dari sakuku dan memberikannya kepadanya sambil berkata, "Wajahmu berdarah."

Dia mendongak, lalu menatapku dengan dingin dan menyahut, "Pergi sana."

Pada saat itu, aku merasa dia benar-benar menyebalkan. Untuk apa dia begitu sombong? Aku bahkan tidak menyukainya.

Sejak saat itu, tidak peduli bagaimana dia memintaku untuk memberinya jawaban, aku mengabaikannya sepenuhnya.

Sebulan kemudian, murid perempuan yang datang menemui Ashton menjadi jauh lebih sedikit. Akan tetapi, rumor tentangnya mulai beredar di kelas.

Ada yang mengatakan bahwa jaket padding yang hanya Ashton kenakan sekali itu berasal dari merek yang belum pernah kami dengar. Harganya lebih dari 60 juta.

Ada yang mengatakan Ashton adalah anak haram, sedangkan ibunya adalah selingkuhan. Keberadaannya dan ibunya diketahui oleh istri sah ayahnya sehingga ayahnya meninggalkan mereka. Sementara itu, ibunya yang tidak mampu mencari nafkah di Sarhai membawanya kembali ke kampung halaman.

Semua tatapan yang tertuju pada Ashton, baik yang penuh kekaguman, penghinaan, maupun penasaran, kini mengandung sesuatu yang lain.

Malam itu, dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku melewati gang itu dan menemukan Ashton tergeletak di lantai. Dia terlihat seperti baru saja berkelahi. Buku-buku jarinya berlumuran darah, wajah tampannya penuh memar, dan darah menetes di dahinya.

Awalnya, aku tidak ingin membantunya. Namun, aku melihatnya terbaring di atas salju dengan mata terpejam. Salju terus turun dan dia sudah hampir setengah terkubur di dalamnya. Wajahnya juga terlihat pucat. Aku takut dia akan benar-benar mati. Jadi, aku dengan hati-hati menghampirinya dan menyentuhnya.

"Ashton, kamu baik-baik saja?"

Dia tidak bergerak. Aku pun agak cemas dan mengeluarkan ponselku. "Aku akan panggil ambulans!"

Ashton akhirnya membuka matanya dan mengerutkan kening. "Kenapa kamu lagi?"

Aku sedikit kesal, tetapi juga tidak peduli sebanyak itu lagi sekarang. "Kamu terluka parah. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit."

"Urus saja urusanmu sendiri," cibir Ashton sebelum memejamkan matanya lagi.

Aku mengabaikannya dan menelepon ambulans.

Dia berpakaian sangat tipis, hanya mengenakan hoodie hitam. Aku ragu sejenak, lalu melepas jaket padding merahku dan menutupi tubuhnya dengan jaket itu.

Ashton tertegun sejenak. Saat aku pergi, dia memanggilku.

Aku pun menoleh. Jaket padding merahku sudah dari beberapa tahun lalu. Modelnya sangat ketinggalan zaman dan terlihat agak lucu di tubuh Ashton.

Dia bertanya dengan tatapan suram, "Kamu nggak tahu ibuku seorang selingkuhan?"

Aku naik ke sepedaku dan menjawab, "Pernah dengar, memangnya kenapa?"

"Lalu, kenapa kamu masih mau selamatkan aku?"

"Ibumu dan kamu orang yang berbeda." Aku berpikir sejenak sebelum menambahkan, "Lagian, meski jadi selingkuhan itu nggak bagus, itu juga bukan dosa sampai harus dihukum mati, 'kan?"

Ashton tidak berbicara. Butiran salju jatuh di bulu matanya yang sedikit gemetar. Dia menatapku dengan saksama.

Tidak lama kemudian, sirene ambulans berbunyi dan aku melambaikan tangan sambil berkata, "Jangan lupa kembalikan jaket paddingku."

Setelah itu, Ashton tidak datang ke sekolah selama seminggu. Beberapa murid laki-laki yang berkelahi dengannya juga tidak bernasib lebih baik. Setelah ibu Ashton datang ke sekolah dengan marah, mereka semua pun dikeluarkan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status