Share

Bab 2

Author: Adyari
Rumah ini didekorasi dengan gaya minimalis. Dia pernah berkata dengan pasrah bahwa sejak aku datang, barang di rumahnya menjadi makin banyak. Namun, semua barangku muat dalam satu koper.

Saat aku pergi, Ashton memanggilku. Dia bertelanjang dada dan bersandar di pintu sambil menyalakan rokok.

"Ashley, kamu juga nggak muda lagi. Sudah waktunya kamu punya hubungan stabil dengan seseorang." Dia mengembuskan asap rokok dan tersenyum tipis. "Mulai sekarang, kita tetap adalah teman."

Aku mengerti maksudnya dan mengangguk. "Oke."

Musim dingin di Sarhai lembap dan dingin. Suhunya tidak terlalu rendah, tetapi hawa dingin yang lembap terasa meresap ke tulang.

Sepertinya sudah turun salju, aku merasakan kelembapan dingin menempel di hidungku. Aku mendongak, lalu melihat langit yang sebelumnya cerah tiba-tiba terlihat gelap. Butiran salju kecil yang tak terhitung jumlahnya jatuh mengikuti angin.

Sudah beberapa tahun salju tidak pernah turun di Sarhai. Sejak datang ke kota ini, aku dan Ashton sepertinya belum pernah melihat salju sekali pun.

Tiba-tiba, aku teringat salju di kampung halaman. Di kota pesisir kecil di utara itu, kelembapan dari angin laut berubah menjadi salju tebal dan lembut di musim dingin. Salju juga akan turun sepanjang malam. Pagi berikutnya, saljunya sudah setinggi lutut dan segala sesuatu tertutup lapisan putih.

Salju di sana sangat menyegarkan, tidak seperti salju yang dibawa angin selatan ini, berlarut-arut dan melekat hingga membuat orang merasa tidak nyaman.

Aku meletakkan koperku di samping, lalu duduk di halte bus dan menelepon ke rumah. Ibuku menjawab dengan cepat. Suaranya bercampur antara kegembiraan dan kehati-hatian. "Ashley?"

Embusan udara dingin memenuhi hidungku dan aku menggosok lubang hidungku yang sakit. "Ibu, aku pengen makan pangsit buatanmu."

Ibuku menyahut dengan gembira, "Kalau begitu, Ibu akan pergi membuatkanmu pangsit? Biar aku cek dulu tiket pesawatnya. Sebentar lagi Tahun Baru Imlek. Tiketnya mungkin sulit didapatkan ...."

Aku menyela, "Nggak perlu, Ibu. Aku akan pulang tahun ini."

Ibuku tertegun sejenak, lalu bertanya dengan suara penuh antusias, "Serius?"

"Emm!" Ketika aku mendongak, sepertinya ada serpihan salju yang masuk ke mataku. Aku mengedipkan mataku yang sedikit berkaca-kaca dan menjawab dengan suara serak, "Ibu, aku berencana mau pulang ke kampung halaman saja."

...

Sore itu, aku mengajukan surat pengunduran diri. Bosku berusaha keras membujukku untuk tetap bekerja, "Apa kamu punya tuntutan gaji? Katakan saja, kita bisa mendiskusikannya. Manajer departemen ini akan dipindahkan tahun depan. Kamu punya peluang terbesar untuk dipromosikan di departemen kita. Sayang sekali kalau kamu berhenti kerja sekarang!"

Aku tersenyum dan menggeleng. "Terima kasih, Kak Winny. Tapi, aku mau pulang dan habiskan waktu bersama orang tuaku."

Aku bukanlah orang yang ambisius. Aku tidak pernah bermimpi menjadi orang penting, hanya ingin menjalani hidup yang baik.

Aku datang ke Sarhai karena Ashton. Dia ingin mengembangkan kariernya di Sarhai, jadi aku mengikutinya tanpa ragu. Aku pikir selama aku berada di sisinya cukup lama, dia akan memperhatikanku. Ternyata, masalah perasaan memang tidak bisa dipaksakan tidak peduli seberapa berusaha pun seseorang.

Dalam perjalanan ke hotel, sebuah toko buku di samping jalan memutar lagu. Terdengar suara seorang wanita bernyanyi dengan keras.

"Tanpa sadar, aku mencintai hingga takut mengambil risiko. Menjadi bonekamu setahun, dua tahun, baru akhirnya menyadari betapa menyedihkannya diriku. Mencintai hingga terus berkompromi, tapi akhirnya tetap tak ada jalan keluar. Mengikatmu untuk mencegahmu terbang, sejarah terus berulang. Aku kian lelah ...."

Aku mendengarkan dengan tenang untuk beberapa saat.

Pertama kali aku bertemu Ashton adalah ketika aku berusia 17 tahun. Sekarang, aku sudah berusia 28 tahun. Setelah bertahun-tahun berkompromi untuk Ashton, aku telah hampir 30 tahun. Keabsurdan 12 tahun ini harus berakhir.

Malam itu, aku bermimpi tentang Ashton di masa mudanya. Ini sudah lama tidak terjadi.

Ashton yang berusia 17 tahun pindah ke kota kecil di mana aku tinggal di tahun kedua SMA. Sementara murid laki-laki lain masih terlihat berantakan, dia mengenakan jaket padding hitam dan rambutnya terurai di dahi. Dia berperawakan tinggi dan ramping.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status