LOGIN"Aku akan membeli mobil baru, tas baju dan mungkin rumah."
Ellie menyusun daftar barang yang akan dibelinya di dalam kepala, jika pekerjaan terkutuk itu selesai.
Pada saat yang normal dia tidak memikirkan soal uang, tapi ini adalah keadaan luar biasa. Hanya alasan uang yang bisa dipakai Ellie untuk membuatnya bergerak. Membayangkan harus merawat pria yang paling dibencinya di dunia... rasanya menyesakkan dan memuakkan.
Ellie ingin sekali menghentikan mobil, lalu meneriakkan umpatan ke jalan. Mungkin dengan begitu hatinya akan sedikit lega. Tapi karena sudah menerima pekerjaan ini, Ellie kan bekerja sebaik-baiknya. Singkatnya dia akan bekerja secara profesional, mendapat bayaran, lalu pergi. Begitu saja.
Ellie sudah berusaha sekuat tenaga melupakan kakak beradik Wycliff itu, tapi nasib yang kejam justru mengirimnya tepat ke hadapan Raven. Bukan Lonan, tapi Raven.
Kalau Lonan, mungkin Ellie akan sedikit lebih rela. Hanya sedikit lebih rela. Di mata Ellie, Lonan tidak jauh berbeda dengan Raven.
Setelah malam itu, Lonan tidak berusaha menghubungi Ellie, sama sekali. Lonan mengabaikan puluhan pesan suara, dan juga text yang Ellie kirimkan.
Ellie mencoba menghubungi Lonan, bukan untuk meminta agar hubungan mereka kembali seperti semula. Hatinya masih digayuti rasa bersalah, karena jelas dia menikmati cumbuan Raven.
Dia hanya ingin meminta maaf. Tapi Lonan tidak menanggapi permintaan itu. Setelah mencoba selama hampir dua bulan tanpa hasil, Ellie akhirnya ikut mengutuk Lonan.
Ellie ingin menyelesaikan masalah ruwet ini dengan lebih dewasa, tapi Lonan malah membuat Ellie merasa seperti wanita mata duitan yang sesungguhnya, karena masih terus mengejar Lonan meski hubungan mereka berakhir.
Memutuskan untuk melanjutkan hidup, Ellie mengganti nomor ponsel, dan mengalihkan pikiran dengan bekerja lebih keras untuk mencapai semua cita-citanya. Dia sengaja mengambil shift panjang di rumah sakit, dan mendaftar hampir ke semua mata kuliah, yang memastikannya tidak akan memiliki waktu luang.
Ellie mencoba segala cara untuk melupakan semua kenangan--baik yang indah maupun yang buruk--yang berkaitan dengan kedua pria Wycliff itu. Dia ingin menghilang sepenuhnya dari mereka.
Kini semua kenangan itu kembali memenuhi sel otaknya dengan jelas, seolah tidak ada waktu lima tahun berselang. Dia masih bisa mengingat bagaimana mata Raven memandangnya, saat bibir mereka menyatu.
"HENTIKAN, ELLIE!"
Ellie akhirnya berteriak putus asa, sangat keras sampai mengalahkan suara musik dari radio di dashboard. Ini karena otaknya dengan kurang ajar mengulang dengan detail kejadian di ruang kerja itu. Tubuhnya juga masih bisa mengingat dengan baik, seluruh sentuhan Raven.
Di antara seluruh amarah yang dirasakannya untuk Raven malam ini, Ellie sebenarnya juga menyimpan amarah pada dirinya sendiri. Hatinya dengan sangat lancang berani menerbitkan rasa khawatir untuk Raven. Mulutnya yang jujur menanyakan bagaimana keadaannya, begitu tahu jika pasien itu adalah Raven.
Otaknya dengan aktif membayangkan keadaan Raven yang pasti mengenaskan. Seharusnya dia bahagia saat tahu Raven terluka parah, bukan malah mengasihani.
"Baju, mobil tas, rumah, berlibur." Ellie bergumam, mengulang kembali daftar keinginannya, untuk menjaga otaknya tetap waras.
***
"Ada denganmu? Biasanya kau selalu teliti, aku tidak pernah melihatmu seresah ini."
Rose, teman Ellie yang mengantarnya ke bandara, heran melihat gerakan gelisah Ellie yang berkali-kali memeriksa barang bawaannya. Ellie biasanya sangat teliti dan teratur, karena tuntutan pekerjaan mengharuskannya seperti itu. Tapi kali ini dia gugup dan terlihat tidak percaya diri.
"Tidak ada. Aku hanya khawatir soal pasien yang aku tinggal." Ellie memberi alasan lemah, karena semua pasien yang ditinggalkannya, menerima keputusan ini dengan cukup baik. Bahkan Beth yang sempat memprotes, bisa mengerti jika Ellie memang lebih dibutuhkan di tempat lain.
"Bisa tidak kau berhenti memikirkan semua pasienmu sebentar saja?" Rose memutar bola mata dengan kesal.
"Ada jet pribadi yang menunggumu di sana, dan kau malah memikirkan semua pasien itu?!"
Rose kembali menunjuk pesawat jet pribadi yang disediakan Wycliff dengan takjub. Tapi Rose tidak tahu, ini bukan pertama kalinya Ellie melihat pesawat itu. Pesawat itu pernah digunakan Lonan untuk membawanya ke Swedia lima tahun lalu.
Ellie tidak tahu apakah itu pesawat yang sama, tapi semua lambang dan tulisan Wycliff-nya sama. Ellie ingat, bagaimana dirinya mencubit tangan berkali-kali, memastikan tidak sedang bermimpi. Dalam bayangannya, sikapnya pasti sama noraknya dengan Rose sekarang.
"Ah... mereka datang." Rose menunjuk pria berseragam pilot yang berjalan pelan menuju ke arah mereka.
"Berhenti menunjuk!" desis Ellie. Dia sudah sangat menyesal meminta Rose mengantarnya hari ini, Rose terlalu gampang terkesan, dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa antusias dengan anggun. Tapi pilihan Ellie tidak banyak. Kesibukan juga berarti hidup sunyi tanpa teman.
Dia mengenal baik hampir semua pegawai di rumah sakit, tapi hubungannya dengan mereka hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Rose adalah satu-satunya teman Ellie tersisa, meski mereka jarang bersama.
Rose adalah guru taman kanak-kanak. Antusiasme itu sangat cocok dengan lingkungan kerjanya, dan kesabarannya adalah sifat yang membuatnya tetap betah berteman dengan Ellie.
Ellie berdiri dengan gugup, otaknya sudah tidak bisa bekerja dengan beanr, saat membayangkan sebentar lagi dirinya akan bertemu Raven. Dia nyaris tidak mendengarkan perkenalan pilot itu, dan menjawab sapaan mereka dengan sembarangan.
Saat akhirnya dia duduk, dan memasang sabuk pengaman, kegugupan Ellie nyaris tidak tertahankan.
Dia sama sekali tidak bisa menikmati kemewahan interior dalam pesawat, dan terus memandang keluar jendela. Dia menolak setiap penawaran makanan dan minuman yang ditawarkan pramugari, karena perutnya terasa mual. Ellie merasa seperti mabuk udara, padahal sebelum ini dia tidak pernah mengalaminya.
Sudah tidak bisa mundur, Ellie harus menghadapi pria yang menjadi sumber mimpi buruknya setelah ini.
Setelah menunduk hormat pada Matteo, dokter itu mulai memeriksa keadaan Ellie.Dokter seharusnya tidak sesopan itu pada keluarga pasien. Namun sopan santun yang umum, tidak berlaku bagi Matteo di Neive. Sama dengan Raven yang terlalu dimanja oleh dokter dan perawat di rumah sakit beberapa saat lalu.Dokter itu mengangguk puas, begitu selesai memeriksa keadaan Ellie. "Untuk saat ini, Anda akan baik-baik saja. Namun bayi dan ibunya dalam keadaan sangat rentan. Selama keadaannya dijaga ketat, tidak akan ada masalah."Ellie dan Raven mengangguk bersamaan. Raven yang sejak awal over protective terhadap Ellie, mulai bersumpah dalam hati untuk melarangnya bergerak."Untuk sementara ini, tolong jangan banyak melakukan kegiatan berat," lanjut dokter itu, sambil memandang Ellie tajam. Seolah mengatakan jika keadaan ini adalah akibat Ellie yang terlalu memforsir tubuhnya.Ellie mengangguk sekali lagi, dan sudah bertekad untuk patuh. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan bayinya.Ellie
"Aku tidak bisa berpikir. Aku merasa duniaku hancur saat melihatmu mengalami pendarahan itu. Tidak ada gunanya berpikir soal langkah di masa depan, karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau. Duniaku akan berakhir saat kau pergi. Aku tidak ingin memikirkan kehidupan yang seperti itu."Raven mengumamkan ketakutan yang membuatnya tidak bisa memikirkan masa depan, bahkan untuk satu jam ke depan.Ellie memeluk tubuh besar itu. Melingkarkan tangan ke perut Raven. "Aku di sini... Kami disini. Aku tidak akan sebodoh itu lagi, dan berkata akan meninggalkanmu."Kecupan kecil mendarat di puncak kepala Ellie. "Kau memang tidak boleh meninggalkanku..." desis Raven.Ellie mempererat pelukan, karena kehangatan cinta Raven seakan mengalir memasuki tubuhnya melalui kata-kata itu."Emm... Aku tidak keberatan kau memelukku, tapi tolong jangan seerat ini." Raven meringis kesakitan, sambil mengendurkan tangan Ellie."Ada apa?""Dua tulang rusuk retak.." Raven mengangkat telunjuk dan jati tenga
Raven hanya bisa memandang dengan mata kosong, saat petugas memindahkan tubuh Ellie ke atas tandu . Dan matanya melebar ngeri, saat melihat gaun Ellie bagian bawah ternoda oleh warna merah.Ellie mengalami pendarahan. Sesuatu terjadi pada kandungannya.Tubuh Raven yang sudah terluka, seakan mendapat tusukan pedang di jantungnya. Tusukan itu adalah rasa takut.Ketakutan akan kehilangan dua hartanya yang paling berharga di dunia ini.Raven mengetatkan rahang, menahan diri untuk tidak berteriak, mengingat dia sedang berada di depan siapa. Dia melangkah tertatih mengikuti petugas membawa ambulans itu."Haze...."Di dalam ambulance, Raven duduk di kursi panjang sebelah Ellie terbaring, dan menggenggam tangannya erat."Berapa usia kandungannya?" Petugas paramedic bertanya, sambil menggoreskan pena di atas kertas, mencatat."Lima..." jawab Raven."Ada sedikit pendarahan, tapi saya harap kandungannya sudah cukup kuat," kata petugas itu, dengan nada simpatik.Dia melengkapi diri dengan stethos
"Pastikan mereka pergi!" Matteo memberi tanda dengan kepala, dan pengawal yang mengikutinya segera berlari menyusul Stella dan Leone. Menyisakan Dante."Kau pergilah! Aku akan mengurusmu nanti." Matteo memandang Belle."Jangan melakukan apapun padanya! Dia sudah membantuku!" Ellie dengan cepat ingat Aria sudah menawarkan perlindungan kepada Belle.Matteo memandang Ellie, yang terlihat sangat serius. "Dante, beri dia satu pengawal. Aku tidak ingin Leone membalas dendam padanya," ujarnya.Dante mengangguk, lalu mengangkat ponsel, menelepon entah siapa. Yang jelas dua menit kemudian, seseorang datang membawa Belle keluar dari sana."Raven masih hidup?" Ellie sudah mampu berdiri tegak sekarang.Hatinya sedikit lega, setelah mendengar penjelasan Matteo. Namun kembali cemas, saat Matteo membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan itu."Kau tidak membunuhnya bukan?" ulang Ellie, semakin takut."Aku tidak membunuhnya. Dia masih hidup." Akhirnya Matteo bersuara.Matteo menganggukkan kepala ke
Dengan kalimat itu, Ellie tahu jika Leone benar-benar pecundang busuk. Dengan santainya, dia melempar kesalahan kepada orang lain. Wajahnya tetap datar tanpa dosa. Mengerikan sekali."Setelah semua itu, kau masih mengelak?" bentak Ellie."Tentu saja! Kau tidak mungkin percaya dengan kata-kata gadis seperti Belle. Dia sudah terkenal mampu melakukan apa saja untuk imbalan uang receh, termasuk berbohong." Dengan tangkas, Leone mendeskreditkan Belle. "Kau tidak memberiku uang receh kali ini. Kau memberiku seribu euro. Aku masih memilikinya di kantongku. Apa kau ingin melihatnya?"Belle merogoh dan mengeluarkan tumpukan uang yang masih baru, lalu melambaikannya di depan mereka semua."Ini seribu euro. Jumlah uang yang tidak mungkin aku miliki dengan mudah. Jadi kalian tahu sendiri dari mana aku mendapatkannya!"Belle mengantongi uang itu lagi, sebelum melanjutkan ceritanya. Gabungan kata-kata Stella dan Leone benar-benar membuatnya marah, dan siap membuka apa semuanya."Aku tidak semurah y
Dante langsung berjalan mendahului mereka bertiga begitu mereka masuk. Sepertinya akan melapor pada Matteo."Kau tunggu di sini!"Ellie menyuruh Belle tinggal di ruang depan. Dia ingin bertanya pada Leone, tanpa kehadiran Belle."Tolong panggilkan Leone." Ellie meminta tolong pada salah satu pelayan yang melintas, yang segera saja melaksanakan perintahnya sambil berlari."Kau yakin tidak apa-apa? Kau pucat, El." Aria memperingatkan.Ellie menggeleng. Dia sudah cukup menerima bully-an Leone. Kali ini dia akan melawan sekuat tenaga.***"Ada apa lagi?"Leone datang dengan wajah kesal, karena Ellie berani memanggilnya keluar. Jika bukan karena penasaran dengan tujuan Ellie, dia tidak akan mau memenuhi panggilan itu.Namun dia tetap tidak mampu menyembunyikan kesan puas di wajahnya. Berpikir Ellie masih termakan tipuannya, apalagi melihat keadaannya yang pucat dan tampak lemah. Korban yang sempurna"Bagaimana kau tahu Raven akan ada di deretan kamar itu?" tanya Ellie."Ha? Bukankah aku sud







