Masuk🤩🤩 Matteooooo
Aria sudah biasa disingkirkan, jika Matteo dan Dante berbicara. Karena sebagian besar pembahasan mereka soal Notte. Tapi Ivy masih tidak terima. Dia keluar dari paviliun dengan wajah kesal. Mungkin tidak akan menjadi seperti itu jika tidak ada Aria.Mereka berdiri di taman yang ada di depan paviliun. Ivy memilih duduk di kursi taman, sementara Aria berdiri saja, memandang ke depan."Matteo sakit apa?" tanya Aria."Demam." Ivy menyahut seadanya. Matteo memang demam, hanya saja bukan karena flu."Dia tidak seperti terserang demam biasa. Apa ada penyakit lain?" Aria belum puas. Dia terbiasa melihat Matteo yang selalu sangat sehat, tentu mudah menyadari jika sakitnya Matteo sedikit aneh kali ini."Tidak ada penyakit lain, hanya demam.""Tidak perlu ke rumah sakit?""Tidak. Aku minta tolong pada Vero. Kemarin dia datang memeriksa.""Kenapa kalian selalu meminta tolong pada Vero? Dia Obgyn, bukan dokter untuk sakit biasa!""Kau pikir aku tidak tahu? Aku juga lebih memilih membawanya ke ruma
"Aku ingin berlibur dan menenangkan diri."Matteo berbicara dengan lebih tegas dan berat. Suara yang menurut Ivy merdu itu, berhasil mengalihkan semua perhatian orang yang ada di situ. Ivy yang sejak tadi gusar, juga langsung terdiam tenang."Berlibur?" Aria terdengar tidak percaya. "Kau tidak pernah berlibur."Beberapa tahun bekerja pada Matteo, dia tidak pernah melihat Matteo menyebut ingin berlibur. Dengan sembunyi-sembunyi, Aria melirik ke arah Ivy. Tentu dia menduga jika keanehan ini berkaitan dengan Ivy, karena dia satu-satunya hal baru di kehidupan Matteo.Sedikit sial, lirikan yang seharusnya tersembunyi itu, terpergok oleh Ivy yang kebetulan sedang memandangnya, karena protes Aria itu. Ivy tersenyum. Bukan senyum ramah, tapi senyum berbahaya yang menandakan dia siap berdebat."Justru karena itu. Sekarang Matteo butuh liburan. Siapa yang tidak jenuh jika setiap hari hanya mengurus pekerjaan?" sela Ivy."Oh.. Jadi ini bukan tentang New York?!""Dante!" Matteo akhirnya menghardi
Setelah dua hari terbaring lemas, akhirnya pada hari ketiga, Matteo mulai terlihat segar. Dia nyaris terlihat normal, kecuali ketika harus berjalan sedikit lama, tubuhnya akan kembali lemas.Ivy sebenarnya sudah ingin membawa Matteo pergi dari mansion Ranallo, namun keadaannya membuat mereka harus tinggal di situ lebih lama lagi.Ivy sama sekali tidak menyukainya. Menurutnya, tempat ini terus memberi mimpi buruk pada Matteo. Tiga hari berada di sini, hampir setiap malam Matteo terbangun karena mimpi buruk itu. Karena itu, Ivy bersukaria saat melihat Matteo bisa berjalan cukup jauh dari ranjang.Matteo terlihat mengambil salah satu buku, lalu duduk di dekat jendela membaca."Buku apa yang kau baca?" tanya Ivy, seraya meletakkan sarapan di meja kecil di depan Matteo.Telur tentu saja. Ivy membuat omelette lembut dengan sosis."Sejarah Warna dalam Seni." Matteo membaca judul buku yang ada di pangkuannya.Ivy hanya mengangkat alis, karena itu adalah jenis buku yang akan membuatnya tertidu
Ivy terbangun, saat merasakan dan mendengar hal yang aneh. Desahan dan suara orang seperti tercekik. Dia langsung membuka mata, dan melihat jika Matteo sedang berjuang dalam tidurnya.Tubuhnya kaku menegang, sementara keringat dingin membanjiri wajah Matteo. Ivy tidak perlu tahu mimpi apa yang sedang dialaminya, tapi ini hal yang wajar. Setelah semua banjir emosi seintense itu, akan aneh jika Matteo bisa tertidur dengan tenang."Matteo?"Ivy memanggil pelan, sambil menepuk pipi. "Bangunlah sebentar, itu hanya mimpi. Please..." bujuk Ivy.Mata Matteo terbuka lebar, dengan nyalang memandang ke sekitar. Ivy mengelus kening Matteo, dan berbisik di telinganya."Ini aku. Kau hanya sedang bermimpi."Bisikan itu untuk membuat Matteo cepat menyadari, jika apapun yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. "Mimpi?""Benar, kau hanya mimpi mimpi buruk. Kau sedang tidur bersamaku."Matteo mengedipkan mata cepat, menarik seluruh kesadarannya untuk menenangkan diri. Debaran jantungnya, bertalu-talu terngi
Ivy kembali merasa sedikit gembira, saat merasakan tangan Matteo yang ada dalam genggamannya, sedikit lemas. Tidak lagi kaku mencengkeram. Tanda jika dia sudah sedikit lebih rileks."Apa kau tahu kenapa kau melupakan kejadian itu sampai hari ini?" tanya Ivy.Matteo menggeleng. Kali kedua merespon kata-kata Ivy."Karena ketakutan itu. Kau tidak mampu mencerna ingatan itu, karena terlalu mengerikan. Karena itu tubuh dan otakmu dengan sengaja membuatmu lupa. Kau bahkan terlalu ketakutan untuk mengingatnya. Kau tidak mungkin mampu menolongnya."Ivy meluruskan kaki Matteo yang masih menekuk itu. Memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.Matteo seolah sudah kehilangan keinginan untuk melawan, dia menurut, bahkan kembali berbaring, saat Ivy hanya mendorongnya sedikit.Berbaring adalah posisi paling rileks, dan saat ini, Matteo membutuhkan bantuan sekecil apapun untuk bisa merasa rileks.Ivy mengembalikan mereka pada posisi awal, setelah dia ikut berbaring dan memeluk Matteo. Posisi itu, bisa
Ruangan itu terasa sangat sunyi, begitu Ivy menyelesaikan omelan panjang itu.Matteo kini menutup wajahnya kembali dengan kedua tangan. Dia tahu jika semua kata-kata Ivy bisa dikatakan sangat benar.Namun ingatan yang kembali itu melemparnya jauh ke dalam lubang yang selama ini seolah menganga di depannya, hanya biasanya dia tidak pernah menyadari. Lubang itu kini seolah menelan, mengurungnya dalam gelap penuh rasa sesal.Ivy meremas tangan Matteo. "Apa yang terjadi pada Fiore, kau tidak mungkin bersalah. Ayahmu yang melakukannya, bukan kau. Ingat ini!"Ivy ingin Matteo berhenti menyalahkan dirinya."Tapi itu memang salahku!" rintih Matteo."Bagaimana mungkin itu salahmu?" Ivy tidak paham.Matteo beringsut perlahan, lalu duduk menekuk lutut. Dia melipat lengan di atas lutut, kemudian menyembunyikan wajahnya di sana.Tubuhnya berayun perlahan ke depan dan ke belakang, sikap yang biasa diambil jika seseorang terlalu gelisah."Matteo, kau tidak mungkin bersalah..." ulang Ivy."Aku yang m







