LOGIN😌😌 no comment
Setelah menunduk hormat pada Matteo, dokter itu mulai memeriksa keadaan Ellie.Dokter seharusnya tidak sesopan itu pada keluarga pasien. Namun sopan santun yang umum, tidak berlaku bagi Matteo di Neive. Sama dengan Raven yang terlalu dimanja oleh dokter dan perawat di rumah sakit beberapa saat lalu.Dokter itu mengangguk puas, begitu selesai memeriksa keadaan Ellie. "Untuk saat ini, Anda akan baik-baik saja. Namun bayi dan ibunya dalam keadaan sangat rentan. Selama keadaannya dijaga ketat, tidak akan ada masalah."Ellie dan Raven mengangguk bersamaan. Raven yang sejak awal over protective terhadap Ellie, mulai bersumpah dalam hati untuk melarangnya bergerak."Untuk sementara ini, tolong jangan banyak melakukan kegiatan berat," lanjut dokter itu, sambil memandang Ellie tajam. Seolah mengatakan jika keadaan ini adalah akibat Ellie yang terlalu memforsir tubuhnya.Ellie mengangguk sekali lagi, dan sudah bertekad untuk patuh. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan bayinya.Ellie
"Aku tidak bisa berpikir. Aku merasa duniaku hancur saat melihatmu mengalami pendarahan itu. Tidak ada gunanya berpikir soal langkah di masa depan, karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau. Duniaku akan berakhir saat kau pergi. Aku tidak ingin memikirkan kehidupan yang seperti itu."Raven mengumamkan ketakutan yang membuatnya tidak bisa memikirkan masa depan, bahkan untuk satu jam ke depan.Ellie memeluk tubuh besar itu. Melingkarkan tangan ke perut Raven. "Aku di sini... Kami disini. Aku tidak akan sebodoh itu lagi, dan berkata akan meninggalkanmu."Kecupan kecil mendarat di puncak kepala Ellie. "Kau memang tidak boleh meninggalkanku..." desis Raven.Ellie mempererat pelukan, karena kehangatan cinta Raven seakan mengalir memasuki tubuhnya melalui kata-kata itu."Emm... Aku tidak keberatan kau memelukku, tapi tolong jangan seerat ini." Raven meringis kesakitan, sambil mengendurkan tangan Ellie."Ada apa?""Dua tulang rusuk retak.." Raven mengangkat telunjuk dan jati tenga
Raven hanya bisa memandang dengan mata kosong, saat petugas memindahkan tubuh Ellie ke atas tandu . Dan matanya melebar ngeri, saat melihat gaun Ellie bagian bawah ternoda oleh warna merah.Ellie mengalami pendarahan. Sesuatu terjadi pada kandungannya.Tubuh Raven yang sudah terluka, seakan mendapat tusukan pedang di jantungnya. Tusukan itu adalah rasa takut.Ketakutan akan kehilangan dua hartanya yang paling berharga di dunia ini.Raven mengetatkan rahang, menahan diri untuk tidak berteriak, mengingat dia sedang berada di depan siapa. Dia melangkah tertatih mengikuti petugas membawa ambulans itu."Haze...."Di dalam ambulance, Raven duduk di kursi panjang sebelah Ellie terbaring, dan menggenggam tangannya erat."Berapa usia kandungannya?" Petugas paramedic bertanya, sambil menggoreskan pena di atas kertas, mencatat."Lima..." jawab Raven."Ada sedikit pendarahan, tapi saya harap kandungannya sudah cukup kuat," kata petugas itu, dengan nada simpatik.Dia melengkapi diri dengan stethos
"Pastikan mereka pergi!" Matteo memberi tanda dengan kepala, dan pengawal yang mengikutinya segera berlari menyusul Stella dan Leone. Menyisakan Dante."Kau pergilah! Aku akan mengurusmu nanti." Matteo memandang Belle."Jangan melakukan apapun padanya! Dia sudah membantuku!" Ellie dengan cepat ingat Aria sudah menawarkan perlindungan kepada Belle.Matteo memandang Ellie, yang terlihat sangat serius. "Dante, beri dia satu pengawal. Aku tidak ingin Leone membalas dendam padanya," ujarnya.Dante mengangguk, lalu mengangkat ponsel, menelepon entah siapa. Yang jelas dua menit kemudian, seseorang datang membawa Belle keluar dari sana."Raven masih hidup?" Ellie sudah mampu berdiri tegak sekarang.Hatinya sedikit lega, setelah mendengar penjelasan Matteo. Namun kembali cemas, saat Matteo membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan itu."Kau tidak membunuhnya bukan?" ulang Ellie, semakin takut."Aku tidak membunuhnya. Dia masih hidup." Akhirnya Matteo bersuara.Matteo menganggukkan kepala ke
Dengan kalimat itu, Ellie tahu jika Leone benar-benar pecundang busuk. Dengan santainya, dia melempar kesalahan kepada orang lain. Wajahnya tetap datar tanpa dosa. Mengerikan sekali."Setelah semua itu, kau masih mengelak?" bentak Ellie."Tentu saja! Kau tidak mungkin percaya dengan kata-kata gadis seperti Belle. Dia sudah terkenal mampu melakukan apa saja untuk imbalan uang receh, termasuk berbohong." Dengan tangkas, Leone mendeskreditkan Belle. "Kau tidak memberiku uang receh kali ini. Kau memberiku seribu euro. Aku masih memilikinya di kantongku. Apa kau ingin melihatnya?"Belle merogoh dan mengeluarkan tumpukan uang yang masih baru, lalu melambaikannya di depan mereka semua."Ini seribu euro. Jumlah uang yang tidak mungkin aku miliki dengan mudah. Jadi kalian tahu sendiri dari mana aku mendapatkannya!"Belle mengantongi uang itu lagi, sebelum melanjutkan ceritanya. Gabungan kata-kata Stella dan Leone benar-benar membuatnya marah, dan siap membuka apa semuanya."Aku tidak semurah y
Dante langsung berjalan mendahului mereka bertiga begitu mereka masuk. Sepertinya akan melapor pada Matteo."Kau tunggu di sini!"Ellie menyuruh Belle tinggal di ruang depan. Dia ingin bertanya pada Leone, tanpa kehadiran Belle."Tolong panggilkan Leone." Ellie meminta tolong pada salah satu pelayan yang melintas, yang segera saja melaksanakan perintahnya sambil berlari."Kau yakin tidak apa-apa? Kau pucat, El." Aria memperingatkan.Ellie menggeleng. Dia sudah cukup menerima bully-an Leone. Kali ini dia akan melawan sekuat tenaga.***"Ada apa lagi?"Leone datang dengan wajah kesal, karena Ellie berani memanggilnya keluar. Jika bukan karena penasaran dengan tujuan Ellie, dia tidak akan mau memenuhi panggilan itu.Namun dia tetap tidak mampu menyembunyikan kesan puas di wajahnya. Berpikir Ellie masih termakan tipuannya, apalagi melihat keadaannya yang pucat dan tampak lemah. Korban yang sempurna"Bagaimana kau tahu Raven akan ada di deretan kamar itu?" tanya Ellie."Ha? Bukankah aku sud







