Mag-log in😌😌 aku mau Rave
"Untuk quartal kedua..."Raven menghentikan kalimat panjangnya, saat melihat ponselnya bergetar. Raven biasanya anti menatap ponsel saat bekerja, tapi kebiasaan itu harus berubah.Tentu karena Ellie. Raven tidak ingin melewatkan panggilan dari Ellie. Kalaupun ponsel itu ada pasa Jasper, ia juga akan segera meneruskan panggilan yang berasal dari Ellie.Raben pun juga hanya akan menjawab kalau panggilan itu dari Ellie, seperti sekarang."Haze? Ada...""MEREKA BERGERAK!" pekik Ellie. "Rave! Kau... Mereka... tadi begitu!" Lalu tangisan. Ellie terisak keras."Haze, tenang dulu jangan seperti ini." Raven juga sebenarnya panik, tapi mencoba menenangkan, karena tidak ingin Ellie menjadi lebih panik lagi.Raven jelas tidak sendiri. Ia sedang berada di depan sejumlah pemegang saham, dalam usaha menerangkan tentang strategi pemasaran yang paling baru.Peserta rapat yang lain sudah memandangnya dengan aneh. Selain melihatnya penjawab panggilan di tengah kalimat, mereka bisa melihat wajah Raven ya
Ini kesekian kali kalinya Ellie mengalami apa yang disebut pindah rumah. Namun prosesnya sedikit berbeda untuk yang ini.Kalau dulu mereka berpindah untuk menghindari siapapun yang menyerang Raven. Maka kini mereka berpindah dengan orang yang yang mencoba membunuh Raven. Perubahan yang sangat unik, dan ironis.Ketidakhadiran Luca, Leone dan Stella, rupanya sedikit menaikkan nilai rumah Ranallo di mata Ellie.Rumah itu sebelumnya terlihat kejam dan kelam, tapi saat dia turun dari mobil yang membawanya pulang dari rumah sakit, untuk pertama kalinya, Ellie melihat wajah lain rumah itu.Ellie melihat rumah itu seperti yang seharusnya. Rumah indah yang mewah."Apakah aku harus menggendongmu? Aku rasa aku harus menggendongmu," kata Raven. Dia mulai gugup begitu melihat Ellie berjalan. Saat di rumah sakit, Ellie memakai kursi roda."Tidak Rave, jangan panik berlebihan. Aku masih bisa berjalan. Berjalan tidak termasuk dalam pekerjaan berat yang dimaksud oleh dokter."Ellie dengan langkah perl
"Begitu saja? Kau mengejarku selama dua tahun, dan setelah ini kau membatalkannya begitu saja?" Raven menyahut, keras."Aku mengejarmu selama dua tahun, karena tidak tahu kau adalah suami Ellie. Jika aku tahu, aku tidak akan pernah mengejarmu," jelas Matteo.Uang Verga berharga untuk Ranallo, tapi tidak lebih berharga dari kebahagiaan Ellie. Dan karena jelas Ellie bahagia bersama Raven, maka Raven harus hidup.Ini versi jawaban lebih jelas, yang tentu saja tidak diucapkan oleh Matteo.Namun Ellie mengerti. Dia sudah terbiasa membaca di balik kata-kata dingin. Berkat Raven. Mungkin memang harus berusaha lebih keras, karena jelas lebih sulit mengerti sedikit kata, tapi Ellie sudah belajar untuk tidak menerima begitu saja."Bukankah akan ada yang keberatan? Kelompok dibawah Ranallo maksudku." Ellie tidak mau ada ancaman lain."Memang. Tapi mereka lebih peduli padaku, bukan Verga." Jawaban yang tidak memuaskan, tapi lumayan menurut Ellie. Karena Matteo tidak mungkin mau menjelaskan detail
"Apa maksudmu?"Pertanyaan yang membuat mata Raven menyipit, agak tidak percaya. Tapi meski wajah Matteo kebanyakan datar, Raven akhirnya percaya kalau memang Matteo tidak tahu apa penyebab Ibu Ellie membawanya kabur.Mata Matteo terus menatap Ellie, meminta penjelasan karena tidak ada yang bercerita padanya."Aku akan menjelaskan asalkan kalian berhenti berdebat." Ellie tidak membentak atau berteriak.Namun kalimat itu berhasil membuat baik Matteo maupun Raven, menurunkan tanduknya. Terutama Raven, tidak ada lagi keinginan untuk berdebat. Sadar perdebatan itu tidak akan membantu Ellie"Bolehkah aku yang memutuskan?" tanya Ellie.Raven langsung tersenyum. Diantara amarahnya, dia melupakan jika istrinya bukanlah gadis yang gampang menurut. Raven mendekat, lalu kembali duduk di sebelah ranjang Ellie, menggenggam tangannya."Tentu saja, Haze. Kau yang terpenting. Kau boleh tinggal di mana saja yang kau inginkan. aku akan menurut," ujar Raven."Sebelum memutuskan, aku ingin bertanya sesua
Setelah menunduk hormat pada Matteo, dokter itu mulai memeriksa keadaan Ellie.Dokter seharusnya tidak sesopan itu pada keluarga pasien. Namun sopan santun yang umum, tidak berlaku bagi Matteo di Neive. Sama dengan Raven yang terlalu dimanja oleh dokter dan perawat di rumah sakit beberapa saat lalu.Dokter itu mengangguk puas, begitu selesai memeriksa keadaan Ellie. "Untuk saat ini, Anda akan baik-baik saja. Namun bayi dan ibunya dalam keadaan sangat rentan. Selama keadaannya dijaga ketat, tidak akan ada masalah."Ellie dan Raven mengangguk bersamaan. Raven yang sejak awal over protective terhadap Ellie, mulai bersumpah dalam hati untuk melarangnya bergerak."Untuk sementara ini, tolong jangan banyak melakukan kegiatan berat," lanjut dokter itu, sambil memandang Ellie tajam. Seolah mengatakan jika keadaan ini adalah akibat Ellie yang terlalu memforsir tubuhnya.Ellie mengangguk sekali lagi, dan sudah bertekad untuk patuh. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan bayinya.Ellie
"Aku tidak bisa berpikir. Aku merasa duniaku hancur saat melihatmu mengalami pendarahan itu. Tidak ada gunanya berpikir soal langkah di masa depan, karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau. Duniaku akan berakhir saat kau pergi. Aku tidak ingin memikirkan kehidupan yang seperti itu."Raven mengumamkan ketakutan yang membuatnya tidak bisa memikirkan masa depan, bahkan untuk satu jam ke depan.Ellie memeluk tubuh besar itu. Melingkarkan tangan ke perut Raven. "Aku di sini... Kami disini. Aku tidak akan sebodoh itu lagi, dan berkata akan meninggalkanmu."Kecupan kecil mendarat di puncak kepala Ellie. "Kau memang tidak boleh meninggalkanku..." desis Raven.Ellie mempererat pelukan, karena kehangatan cinta Raven seakan mengalir memasuki tubuhnya melalui kata-kata itu."Emm... Aku tidak keberatan kau memelukku, tapi tolong jangan seerat ini." Raven meringis kesakitan, sambil mengendurkan tangan Ellie."Ada apa?""Dua tulang rusuk retak.." Raven mengangkat telunjuk dan jati tenga







