LOGINMansion Lian, sore hari. “Wanita suci.” Kelembutan pria berjubah plum itu tertuju ke perempuan di atas ayunan rotan. “Apa kamu merindukan Raja Yan?” Serangan mendadaknya mengejutkan si perempuan. “Tidak.” Mei Anqi mengontrol ekspresi supaya sesuai dengan harapan Lian Fengjue. Bisa mengamuk pria itu kalau dia bilang merindukan suami jahilnya. Sapuan angin ringan di pucuk kepala Mei Anqi menandakan kelegaan Lian Fengjue. “Kenapa Ah Jue tiba-tiba membahas Raja Yan dan mengujiku?” Mei Anqi mengayunkan keduanya kakinya yang jauh dari tapakan tanah. “Kamu curiga aku membohongimu, ya?” tekanan suaranya melirih. Lian Fengjue dilanda kecemasan usai melihat respon sedih Mei Anqi. “Aku tidak berani meragukanmu wanita suci.” Jelasnya secepat kilat. ”Aku—aku hanya takut....” “Takut?” Kaki panjang Mei Anqi terjulur ke bawah, menapak bumi sekaligus menghentikan tempo ayunan. Lantas ia menepuki atas pahanya. Seolah diberi aba-aba, sedetik kemudian Lian Fengjue berlutut dan menya
“Suasana hatimu tampak cerah malam ini,” tukas Mei Anqi seusai melihat Lian Fengjue merajut syal dengan penuh semangat. Lian Fengjue menggeser atensinya. “Siapa yang tidak bahagia saat ditemani wanita cantik sepertimu?” “Alasan,” cibir Mei Anqi setengah bercanda. Ia mengambil sisi kosong di sebelah Lian Fengjue. “Ah Jue, tidak bisakah aku bertemu anak-anakku?” Mei Anqi mengangkat topik riskan kesekian kali. Tujuannya guna membuat Lian Fengjue tidak curiga karena ia bersikap amat patuh. Dengan menunjukkan keinginannya untuk pulang, Lian Fengjue akan mengira Mei Anqi tidak betah di sisinya. Lian Fengjue kadang curiga mengenai perilaku jinak Mei Anqi, hanya dengan memperlihatkan setitik sikap memberontak. Kecurigaannya bisa terhapus. “Tidak.” Lian Fengjue membalas tegas, menolak negoisasi. Pria itu selesai menggarap satu syal birunya. “Mendekatlah wanita suci,” ujarnya meminta. Mei Anqi patuh mendekat, detik berikutnya syal lembut dan hangat terpasang melingkari leher ra
“Permaisuri sangat sehat hari ini,” begitulah respon menyebalkan Lian Fengjue. Segala cacian mengenai status rakyatnya tak lagi menimbulkan rasa rendah diri. “Kau!” Permaisuri Wei jatuh lunglai terduduk di tepi ranjang. Zhen Litin meraih gaun ibunya dan menangis ketakutan. “Diam!” bentaknya marah. Zhen Litian belum pernah melihat Ibunya membentak apalagi memarahinya. Anak 3 tahun itu beringsut mundur ketakutan. “Tuan!” Bibi Yao menyeru setelah sampai di sisi Permaisuri. Ia menopang tubuh lemas wanita itu. “Anda bersikap terlalu jauh!” “Terlalu jauh?” Lian Fengjue mengunci kedua tangannya di belakang punggung. “Bibi Yao, jangan memutar fakta. Saya diam menerima cacian sejak tadi.” “Keluar!” pinta Permaisuri berteriak. “Jangan perlihatkan lagi wajahmu di depan mataku!” “Sayangnya mustahil. Kedatangan saya kemari karena ada sesuatu penting yang ingin saya bahas. Ini tentang kedudukan pangeran bungsu.” “Apa?” terperanjat kaget, tatapan Permaisuri Wei berubah horor. “Aku t
Istana Phoenix. “Māmā, apa yang terjadi?” Permaisuri Wei menimang Zhen Litian, tidur putranya terganggu karena suara tinggi Bibi Yao. “Kau membangunkan Tian'er!” “Yang Mulia, ampuni hamba. Pe-penasihat Agung menunggu kedatangan anda di aula tengah,” melapor terbata, Bibi Yao menahan kegugupan. “Penasihat Agung?” Permaisuri mengeratkan pelukannya ke tubuh kecil Zhen Litian. “Berani sekali dia datang kemari tanpa pemberitahuan! Kalian juga, berapa banyak prajurit di Istanaku? Ratusan orang gagal menahan satu orang!? Sia-sia aku mempekerjakan kalian, huh!” Kemarahan Permaisuri membuat semua orang segera belutut. “Mohon redakan amarah anda Permaisuri! Kami salah!” Permaisuri Wei mengibaskan lengan hanfu merah megahnya, “Dasar tak berguna!” Ia menendang pelayan terdekat beberapa kali. Napasnya terengah ketika memikirkan kesombongan Lian Fengjue. Kaisar Wu sudah lama mengabaikan Permaisuri Wei setelah skandal perselingkuhannya terkuak. Jika bukan karena Lian Fengjue kekasihnya
“Aku tidak melakukan sesuatu yang berbahaya, wanita suci.” Lian Fengjue berdiri menyambut kedatangan Mei Anqi. “Untuk apa kemari malam-malam? Kamu tidak tidur?”“Belum mengantuk.” Setibanya wanita itu di sisi Lian Fengjue, ia mengajaknya duduk. “Xiao Mi, datang dan bawakan makan malam untuk Ah Jue.” Pelayan pria di ruangan itu tersenyum dan pamit undur diri. Kepergiannya diganti dengan kedatangan Xiao Mi di ikuti dua dayang lain. Salah satu dayang menurunkan meja makan berukuran sedang, rekan lainnya kemudian menata hidangan simple dibantu Xiao Mi. Lalu mundur bersama. “Wanita suci—” “Panggil saja aku seperti kamu memanggilku dulu,” sela Mei Anqi saat itu juga. “Panggilan wanita suci terkesan formal, aku tidak suka.” “Tapi aku belum pernah memangilmu secara informal. Apa maksudmu dengan panggilan seperti dulu?” Gawat. Mei Anqi salah mengingat Cai Lun tadi, anak itu dulu biasa memanggilnya saudari. Sedangkan Lian Fengjue 3 tahun lebih tua darinya. “Maaf, aku salah
Markas Klan Su. “Paman Su,” seorang pemuda muncul dari halaman samping dan mencegat langkahnya. “Aku dengar kau bekerja sama dengan pangeran campuran itu? Mengapa? Bukankah kau membencinya?” Paman Su menatap keponakannya yang tidak sopan. Ia memukul kepala belakang anak itu geram. “Dasar bodoh, aku berpura-pura!” “Ah? Jadi Paman menipu si campuran?” “Ya. Dari pada menjadikan keturunan campuran sepertinya sebagai Kaisar, lebih baik kita menempatkan keturunan Klan Su menjadi Kaisar berikutnya dan membangun Dinasti baru! Dinasti Su!” Dinasti Han berdiri setelah menghancurkan Dinasti Qin melalui pemberontakan. Pada masa itu, bangsawan tinggi maupun rendah tumbang satu-persatu. Beberapa memilih tunduk, beberapa melawan, dan sisanya melarikan diri ke negara lain. Salah satu bangsawan tinggi yang memutuskan tunduk di bawah Dinasti Han adalah Klan Zhan-- keluarga dari Permaisuri Wei. Kesetiaan mereka pada Dinasti Han di masa awal reformasi pemerintahan membuat Kaisar Pertama







