LOGINSaat Moira membuka matanya, dia sudah berada di rumah sakit. Orang yang pertama Moira lihat adalah Christopher.“Kamu sudah bangun.”“Chris, klub malam—“ Moira berusaha bangun, tetapi di tahan oleh Christopher.“Tetap berbaring. Aku sudah tahu masalahnya dari Belinda, aku akan mencari cara agar klub malam bisa kembali beroperasional.”Air mata Moira kembali menetes. Kenapa di saat ia mendapati masalah, masalah baru kembali datang secara tiba-tiba. Christopher menyeka air mata Moira penuh kehati-hatian.“Jangan sedih. Aku pasti mengusahakan agar klub malam bisa kembali. Namun, kasus ini cukup berat. Jadi, kemungkinan akan memakan waktu cukup lama.”Moira diam, menurunkan pandangannya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia menatap Chris, suaranya tercekat.“Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Chris terdengar lembut.Moira mengatupkan bibirnya. Ingin sekali rasanya meminjam uang pada Christopher, tetapi Moira malu. Chris sudah banyak membantunya. Apalagi uang 2 miliar, bukanlah uang
Saat masuk ke dalam lift, air matanya menetes. Namun, di satu sisi, dia cemas Belinda akan memotong gajinya. Setelah tahu kalau ia meninggalkan Sebastian sendirian di hotel.Moira kini berada di dalam taxi, ia mencoba menghubungi ibunya. Tapi, panggilannya sama sekali tidak dijawab. Moira cemas, dan berdoa dalam hati agar mereka baik-baik saja.Moira kembali ke apartemen, mandi dan makan. Setelah satu jam berlalu, ponselnya berdering. Moira langsung mengangkat panggilan dari ibunya.“Ibu, Ibu baik-baik saja bukan? Kenapa, Ibu baru menjawab panggilanku?” tanya Moira, suaranya terdengar cemas.Terdengar suara isak tangis di seberang sana, membuat Moira cemas. “Ibu, ada apa?” tanya Moira suaranya gemetar.“Alena, adik mu ... dia baru saja dilarikan kembali ke rumah sakit. Kita sudah tidak punya uang untuk pengobatan adikmu.”Dada Moira terasa sesak, air matanya jatuh. Mendengar tangisan ibunya, membuat hati Moira sakit.“Bagaimana kondisinya sekarang?”“Alena, tidak sadarkan diri. Dokter
“Apa?” Moira membelalak. “Kau gila?”“Aku sudah mentransfer uangnya pada Belinda. Jika kamu ingin menolak, sebaiknya kamu bicarakan kembali dengan Belinda.”Sebastian mundur dan duduk di tepi tempat tidur. Moira tidak sanggup melihat tubuh Sebastian yang hanya mengenakan celana dalam.“Aku akan mengembalikan uangnya. Aku akan menghubungi Mami,” kata Moira mengambil ponsel di dalam tas yang tergeletak di sofa.Sebastian hanya mengerutkan keningnya memberikan isyarat agar Moira menghubungi Belinda. Moira mencoba menghubungi Belinda, sayangnya nomornya tidak aktif. Moira kembali mencoba menghubunginya, tetap sama.“Bagaimana?” tanya Sebastian.Moira masih tidak menghiraukannya, dan mencoba menghubungi bawahan Belinda. Namun, sama sekali tidak dijawab. Setelah berulang kali mencobanya. Hasilnya tetap sama.“Jadi?” tanya Sebastian.Moira mengepal ponselnya dan menatap Sebastian. “Kenapa kamu ingin menghabiskan akhir pekan denganku? Padahal kamu bisa meminta tunanganmu untuk menemanimu.”“S
Sebastian berniat mencium Moira lagi, tetapi Moira sudah lebih dulu menutupinya dengan telapak tangannya.“Aku mengingatnya. Aku sangat mengingatnya,” kata Moira menatap Sebastian lekat.Sebastian tersenyum kecil.“Apa sekarang kamu sudah puas?”Moira sedikit kesal, karena Sebastian sengaja membuatnya mengaku. Namun, Moira mengakui kalau tadi malam ia lepas kendali dan tidak dapat menahannya. Di satu sisi ia merasa lega, karena orang itu Sebastian.“Kenapa kamu pura-pura tidak mengingatnya?” tanya Sebastian. “Atau kamu sengaja. Agar aku menciummu lagi?”“Aku malu, apa kau sudah puas terus menggodaku.” Moira menghela napas. “Sekarang, bisakah kamu melepaskan aku?”Sebastian akhirnya membiarkan Moira turun dari tempat tidur, dan memunguti pakaian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.Saat keluar dari kamar mandi, Moira dikejutkan dengan Sebastian yang berdiri di pintu kamar mandi. Moira melotot, melihat Sebastian yang kini hanya memakai celana dalam saja.“Kau ...”Sebastian tidak bere
Sebastian membelalak. Seperti tak percaya seorang Moira bisa menciumnya. Namun, Sebastian tidak diam saja. Ia membalas ciuman itu, dan memeluk tubuh Moira. Dan menjatuhkan tubuh Moira di atas tempat tidur, ciuman itu terlepas. Mata mereka saling bertemu.Sebastian menyentuh wajah Moira. Moira menikmati sentuhan itu, matanya terpejam sesaat, menatap teduh Sebastian. Darahnya terasa mendidih. Panas sekali, tidak tahan.“Tolong aku,” ucapnya nyaris tidak terdengar.“Aku akan menolongmu,” jawab Sebastian yang perlahan melepaskan satu persatu pakaian di tubuh Moira.Dalam waktu singkat, mereka sudah tidak memakai apapun. Sebastian menatap lembut Moira, menyentuh pahanya dan menekan jemari tangannya di sebuah lembah. Lalu menyesap pucuk bunga yang sedang mekar.“Aaaah! Uh!!” desah Moira meremas seprei.Kecupan hangat itu naik ke atas, dan menyapu bibir Moira. Mengulumnya dengan begitu lembut. Suara desahan yang tertahan terdengar dari bibir Moira. Saat yang sama, Sebastian menggigitnya, mer
Moira terbelalak karena terkejut. Ia kecewa, karena merasa dibohongi oleh Lisa. Moira tidak pernah membayangkan harus melayani beberapa pria.“Kamu membohongiku? Kamu sedang menjebakku, Lisa.”Tawa teman-temannya pecah malam itu.“Belle, kamu tidak perlu terkejut. Bukannya setiap hari kamu menjual tubuhmu ini kepada para pelanggan. Jadi, tidak ada ruginya membiarkan teman-temanku mencicipi tubuhmu.”Moira menggeleng. Ia tidak ingin melakukan itu. Tidak hanya merasa kecewa, Moira juga merasa direndahkan oleh teman-temannya. Lisa menepuk tangannya, dan beberapa teman laki-laki masuk. Tatapan lima orang pria menatapnya buas dan cabul.Para laki-laki itu, seperti predator yang sangat berbahaya. Moira yang ketakutan, berusaha mundur di saat tubuhnya terasa lemah dan panas. Moira sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan mereka.Salah satu pria dari kelima pria itu mendekat, Moira mundur.“Ternyata temanmu sangat cantik. Aku semakin tidak sabar bermain dengannya.”“Jangan dekat aku,”







