Mag-log inLangit pagi itu cerah, biru tanpa cela.Seolah dunia memilih untuk menampilkan sisi terbaiknya—tepat saat keluarga besar itu bersiap meninggalkan segala kerumitan hidup untuk sementara waktu.Kunjungan keluarga besar dari Prancis bukan hanya sekadar temu rindu dan menghadiri undangan pernikahan Leo dan Anisa saja.Bagi Nathan—itu adalah kesempatan.Kesempatan untuk mengumpulkan semua orang.Mengembalikan tawa yang sempat hilang.Dan menciptakan kenangan baru.“Semua sudah siap?” tanya Nathan, suaranya penuh semangat. Tatapannya menyapu satu per satu anggota keluarga yang sudah berkumpul.“Sudaaah, Opa!” jawab beberapa suara hampir bersamaan.Entah sudah berapa kali Nathan dan Eliza merupah nama panggilannya untuk cucu-cucunya. Pada akhirnya menjadi opa.dan Oma. Mengingat nama ini yang penting mudah diucapkan oleh anak kecil.Eliza tersenyum lembut. Pandangannya tertuju pada bayi mungil dalam gendongannya. Ia mengayun perlahan, penuh kasih.“Sudah, opa,” ucapnya hangat. “Dari tadi ada
Suara sirene belum terdengar.Waktu terasa membeku di tempat.Namun rasa sakit—tidak pernah ikut berhenti.Mirna masih terjebak di dalam mobil yang hancur.Napasnya tersengal.Tubuhnya gemetar hebat.Kedua kakinya masih terjepit di antara rangka logam yang remuk, semakin lama semakin terasa seperti dihancurkan perlahan tanpa ampun.“Ahh… tolong… tolong…” suaranya pecah.Tangannya meraih ke depan.Berusaha menyentuh Sandy.Namun jaraknya terasa begitu jauh—padahal hanya sejengkal.“Sandy… bangun… tolong…”Tidak ada jawaban.Wajah pria itu pucat.Darah terus mengalir dari pelipisnya.Tidak ada gerakan.Tidak ada respons.Orang-orang mulai berdatangan.Beberapa pria mencoba membuka pintu.Sebagian lagi berusaha menarik rangka mobil yang penyok.Namun semuanya sia-sia.Logam itu terlalu kuat—terlalu menjepit.“Tidak bisa…!” teriak salah satu dari mereka. “Kakinya terjepit parah!”Mirna menangis semakin keras.“Tarik saja! Tolong tarik!”“Tidak bisa, Bu!” pria itu membalas dengan napas
Kalimat itu—menusuk.Dalam.Sandy menginjak rem sedikit lebih keras.Mobil sedikit tersentak. Namun mobil kembali melaju tanpa menghentikannya.“Cukup, Mirna.”Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.“Aku sudah diam terlalu lama.”Mirna menatapnya tajam.Matanya penuh amarah.“Diam? Kamu bilang itu diam? Itu pengecut, Sandy."Dan kalimat itu—memecahkan segalanya.“AKU PENGECUT?!” Sandy membentak.“Aku yang kerja! Aku yang tanggung semuanya! Dan kamu—”“Aku apa?!” Mirna memotong.“Kamu hanya bisa menyalahkan orang lain!”“Karena kamu MEMANG SALAH!”Suasana meledak.Tidak terkendali.Tidak ada lagi logika.Hanya emosi.Dan dalam kemarahan itu—Mirna tiba-tiba bergerak.Tangannya—meraih setir.“Kamu tidak layak pegang kendali!"“Mirna! Lepas!” Sandy kaget.Namun terlambat.Setir tertarik.Mobil oleng.Kiri.Kanan.Tidak stabil.“LEPAS, MIRNA!!” teriak Sandy.Namun wanita itu seolah kehilangan kewarasannya.“Semua ini karena kamu!!”Di depan sebuah truk Fuso melaju.Dekat.Terlalu dekat.
Napasnya memburu.Tidak stabil.Matanya mulai memerah.“Anak pertamaku… meninggal.”Kalimat itu keluar pelan.Namun terasa seperti beban yang runtuh.“Anak keduaku… lahir dalam kondisi cacat.”Tangannya bergetar.Namun ia tetap berbicara.“Dan anak ketigaku…” suaranya hampir hilang, “…Mama yang membuangnya.”Hening.Sesaat.Namun justru terasa menghancurkan.“Bahkan… ibunya pun meninggal… dan Mama tidak pernah memberitahuku.”Sandy menutup matanya rapat.Rahangnya mengeras.Menahan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi ditahan.Ia terdiam cukup lama.Lalu perlahan membuka mata.“Bertahun-tahun… bahkan puluhan tahun…” suaranya kembali terdengar, berat dan penuh luka, “aku hidup dalam rasa sakit ini.”Tangannya kembali terangkat.Dan—bugh!Ia memukul dadanya lagi.Lebih keras.“Semakin aku mencoba melupakan…”bugh!“…semakin sakit itu menekan di sini.”Tangannya berhenti.Namun dadanya masih naik turun dengan kasar.“Anisa… sudah pergi.”Suaranya melemah.Hampir tidak terdengar.“Dia suda
“Memangnya cuma kamu yang punya badan?” Tia menyindir tajam. “Aku juga bisa sakit!”“Ya sudah kamu saja kalau begitu!”“Kamu saja!”“Kamu!”“Kamu!”Suara mereka saling tumpang tindih.Saling dorong tanggung jawab.Saling melempar beban—tanpa satu pun yang benar-benar mau menerima.Mirna memijat pelipisnya lagi, kesal.“Cukup!” bentaknya tiba-tiba.Kedua wanita itu terdiam, meski masih saling menatap dengan emosi.Mirna menghembuskan napas kasar, lalu berkata dengan dingin, “Kita tidak mungkin semua tinggal di sini. Harus ada yang jaga. Tapi bukan aku.”Tia langsung mengangguk. “Aku juga tidak.”Tina menyusul cepat, “Aku juga tidak mau.”Keputusan itu terasa begitu mudah diucapkan.Tanpa rasa bersalah.Tanpa beban.Di sudut ruangan—Sandy masih berdiri.Diam.Sejak awal ia tidak ikut dalam perdebatan itu.Tidak menyela.Tidak membela diri.Tidak juga menawarkan solusi.Ia hanya berdiri, dengan wajah yang semakin kosong.Seolah sudah terlalu lelah untuk melawan.Mirna melirik ke arahny
Ruang rawat itu terasa dingin dan sunyi, seolah waktu berjalan lebih lambatDan terasa… asing.Mesin monitor berbunyi pelan.Teratur.Namun justru membuat suasana semakin mencekam.Di atas tempat tidur—Wati terbaring kaku.Setengah tubuhnya tidak bisa digerakkan.Mulutnya miring.Matanya terbuka…"Mengapa mama harus sakit menjijikan seperti ini disaat kondisi kita sulit. Jika ekonomi masih stabil, bagiku tak masalah. Kita bisa membayar perawat lansia." Wati diam sambil merasakan sakit yang luar biasa ketika mendengar perkataan anak-anaknya. Ia ingin memandang putri sulungnya itu. Ia ingin melihat ekspresi wajah anaknya itu ketika berbicara dengan sangat kejam. Namun kepalanya tidak bisa bergerak. Hanya bisa memandangi dinding putih yang bersih. Namun justru memantulkan kesan asing, jauh dari kehangatan. "Menyusahkan saja," kata Tina."Aku paling tidak suka mendengar suara mesin monitor seperti ini." Tia berkata sambil memandang alat monitor yang menunjukkan frekuensi garis naik tur
Ruang rapat di mansion keluarga Michael terasa berbeda sore itu.Meja panjang dari kayu gelap memantulkan cahaya lampu kristal, membuat suasana semakin tegang.Di kursi-kursi itu duduk:Rizky & KiaraNathan & ElizaMichael & YuraAlbert & ArunaMawar & HermawanSepuluh orang, sepuluh ekspresi berbe
“Bukankah kamu sudah terbiasa keluar masuk kamarku?”Kalimat Noah terdengar sederhana.Tidak bernada menggoda.Tidak bernada marah.Hanya… sebuah kenyataan.Dan itu justru membuat Aishwa sulit menjawab.“I–iya, Mas… tapi di Zurich tidak ada orang,” gumamnya gugup.“Hanya kita berdua. Sekarang semua
Anisa duduk di kursi tamu, sedikit menyendiri dari riuh kebahagiaan yang memenuhi setiap sudut ruangan. Gaun putih muda yang ia kenakan tampak lembut, seolah mencerminkan ketenangan yang berusaha ia tampilkan. Rambutnya tertata rapi dengan bunga kecil terselip di sisi kepala, dan senyumnya terlukis
Pintu ruang rapat menutup dengan suara klik pelan.Noah melangkah keluar dengan ekspresi paling santai sedunia, seolah dia baru selesai minum teh, bukan baru saja menjatuhkan bom lamaran di depan empat keluarga dan hampir membuat dua pria dewasa kena serangan jantung. Bahkan nenek dan kakeknya juga







