تسجيل الدخول"Iya?" sahut Aishwa cepat, seolah ia memang sedang menunggu namanya dipanggil.Anisa menelan ludah, tangannya gemetar. "Aku... mau minta maaf. Atas semua sikapku dulu."Mata Aishwa berkedip cepat. Ia tertawa kecil yang terdengar gugup. "Lah... aku kira kamu mau memarahiku."Anisa tersenyum rapuh. "Terima kasih juga karena sudah ada di sini dan mau menemaniku."Mendengar itu, Aishwa terdiam sepenuhnya. Ia menggenggam tangan Anisa lebih erat. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana," katanya lirih. "Jadi, kamu juga jangan ke mana-mana ya."Kalimat sederhana itu menyayat dada Anisa. Kenangan pahit mulai bermunculan tanpa izin di kepalanya: wajah orang tuanya yang dingin dan tak peduli, serta mendiang kakeknya—satu-satunya orang yang pernah memeluknya dengan tulus. Ia teringat rumah yang dulu aman, kini direbut oleh keserakahan keluarga ayahnya, hingga paman kecil dan nenek mudanya terusir.Anisa sering merasa sendirian di dunia ini. Meski ia masih memiliki paman kecil, kebersamaan mereka pun
Sejak pagi, Anisa sudah dipindahkan ke ruang persiapan operasi. Lampu-lampu putih di langit-langit menyala terang, terasa terlalu terang untuk hatinya yang sedang rapuh. Perawat datang silih berganti, menjelaskan prosedur dengan suara lembut namun profesional—seolah-olah hidup dan mati seseorang hanyalah rutinitas harian bagi mereka.Di ruangan ini, hanya Aishwa yang mendampinginya. Sedangkan Noah menunggu di luar. Alasannya sederhana, begitu banyak tindakan medis yang dilakukan. Mengganti pakaian pasien, memasang kateter dan masih banyak tindakan lainnya. Karena itu Noah memilih untuk di luar."Mulai sekarang, kamu harus puasa ya," ujar seorang perawat sambil tersenyum simpul. "Tidak makan, tidak minum."Anisa hanya mengangguk pelan. Bukan hanya perutnya yang kosong; dadanya pun terasa hampa.Prosedur dimulai. Darah diambil dari lengannya—satu tabung, dua tabung, hingga tak terhitung lagi. Jarum infus ditancapkan, mengalirkan cairan dingin yang merayap perlahan di pembuluh darahnya.
Leo tidak langsung memulai operasi. Ia melangkah keluar sejenak dari ruang bedah untuk menenangkan diri. Kejadian ini sungguh langka, namun ia sadar tidak ada yang mustahil dalam dunia medis. Meski begitu, tetap saja sulit dipercaya ada seorang pendonor yang memiliki tingkat narsisme setinggi itu hingga meminta sesi foto dan video di tengah situasi genting.Lorong steril itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bau disinfektan yang menusuk berpadu dengan suhu dingin yang merayap hingga ke tulang. Leo berdiri mematung di depan pintu otomatis yang tertutup rapat. Ia merogoh saku jas medisnya, mengambil ponsel yang nyaris tak tersentuh selama beberapa hari terakhir.Ia menekan sebuah nama: Noah.Nada sambung terdengar sekali, lalu dua kali."Halo?" Suara Noah terdengar di seberang sana, terselip nada terkejut. "Leo?"Leo memejamkan mata sesaat sebelum menjawab. "Aku tidak punya banyak waktu," ucapnya tenang—terlalu tenang bagi seseorang yang akan memimpin operasi besar yang mempertaruhkan
Ruang operasi mendadak riuh.Bukan karena kesalahan prosedur, bukan pula karena alat yang gagal—melainkan karena sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.Saat brankar pendonor didorong masuk ke ruang operasi, monitor tiba-tiba menunjukkan perubahan ritme. Kelopak mata gadis itu bergerak. Lalu—perlahan—terbuka.Semua tangan terhenti.Semua suara tercekat.“Itu… mustahil,” bisik salah satu perawat.Pasien itu sudah melewati fase di mana kesadaran seharusnya tak mungkin kembali. Obat bius telah diberikan. Tubuhnya berada di ambang batas kegagalan total. Dalam dunia medis, ini tidak pernah masuk daftar kemungkinan.Namun kenyataan berdiri tepat di depan mereka.Gadis itu menarik napas dalam-dalam—dan dengan gerakan lemah namun sadar, ia melepas masker oksigen dari wajahnya.“Kau… bangun?” suara Leo terdengar asing di telinganya sendiri. Bingung. Terpukul.Apalagi ia tahu pasti: dosis anestesi yang diberikan seharusnya membuat pasien tertidur permanen.Gadis itu menoleh perlahan. Wajahnya pu
Detik-Detik yang Hampir TerlambatLeo tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur.Ia hanya ingat duduk bersandar, mata terpejam, dan rasa berat yang menekan seluruh tubuhnya seperti beban berton-ton. Tidak ada mimpi. Tidak ada jeda yang layak disebut istirahat. Hanya kesunyian singkat sebelum kesadarannya ditarik kembali secara paksa.Bukan oleh alarm.Melainkan oleh keheningan yang terasa salah.Leo membuka mata perlahan. Monitor masih menyala. Garis-garis masih bergerak. Namun ada sesuatu yang berubah—terlalu halus untuk disebut darurat, terlalu sunyi untuk diabaikan.Angka tekanan darah tidak jatuh drastis. Ia merosot.Sedikit. Lalu sedikit lagi.Perfusi jaringan menurun nyaris tak terasa, seperti jam pasir yang bocor tanpa suara.Leo langsung berdiri.“Berapa lama ini terjadi?” tanyanya rendah.“Sejak sepuluh menit lalu,” jawab perawat ICU. “Kami sudah koreksi cairan. Responsnya lambat.”Itu yang berbahaya.Jika tubuh tidak lagi merespons cepat, artinya cadangan terakhir mulai habis.L
Dua hari.Bukan waktu yang lama bagi dunia, tapi cukup panjang bagi Anisa yang terbiasa mendengar suara Leo. Jika pria itu berada diluar, apakah itu sedang praktek atau ada urusan lain, maka setiap saat memberitahu kabarnya dan bertanya kamu sedang apa. Meskipun sekadar pesan singkat, satu panggilan, atau emoji menggambarkan suasana hatinya. Kali ini tidak ada sama sekali.Tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Nomor Leo tidak aktif.Anisa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Leo pasti sibuk. Sangat sibuk. Jadi wajar jika tidak menghubunginya. Namun entah mengapa, kali ini rasa gelisah itu tidak mau pergi. Seolah ada ruang kosong yang tidak bisa diisi dengan logika.Ia mencoba lagi.Nada sambung, lalu terputus.Hatinya mencelos.Pada akhirnya, Anisa menghubungi Noah.Telepon itu terangkat cepat. Namun suara di seberang bukan Noah.“Hallo?” suara perempuan itu lembut.“Aishwa?” Anisa mengenalinya.“Iya, Kak Anisa. Mas Noah lagi mandi,” jawab Aishwa ringan. “Ada apa, nanti aku sampaikan






