LOGINSuara dokter dari Indonesia terdengar jelas di seberang sambungan internasional itu. Nada profesional, tenang—namun setiap kata yang keluar seperti menghitung harga sebuah nyawa.“Pak Leo,” dokter itu memulai, “saya akan jelaskan secara rinci, supaya tidak ada yang Bapak setujui tanpa memahami seluruh risikonya.”Leo mengangguk pelan meski dokter tak bisa melihatnya. Tenggorokannya terasa kering.“Pertama, biaya perawatan pasien selama di rumah sakit,” lanjut dokter itu.“Karena ini pasien kritis, sejak masuk ICU hingga hari ini, seluruhnya menggunakan fasilitas intensif—ventilator, obat-obatan penunjang hidup, transfusi darah, dan monitoring organ penuh dua puluh empat jam.”Dokter berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar angka itu benar-benar diserap.“Total sementara, untuk perawatan medis saja… sudah menyentuh angka dua koma tiga miliar rupiah.”Jemari Leo mengencang di tepi meja. Ia tidak terkejut—namun tetap terasa berat.“Belum termasuk,” suara dokter kembali masuk, “biaya t
“Capek kenapa?” tanya Aishwa, kini nadanya lebih lembut.“Capek berharap,” jawab Anisa sederhana. “Dan capek marah sama diri sendiri.”Aishwa mengangguk pelan, lalu menopang dagunya. “Aku dulu juga capek,” katanya tiba-tiba. “Capek pura-pura nggak takut sama pernikahan. Padahal pas hari pertama aja, pinggangku langsung protes.”Noah mendesah. “Kenapa itu diceritakan ke semua orang?”“Itu fakta,” balas Aishwa cepat.Anisa tertawa lagi, kali ini lebih lama. Meskipun dia sebenarnya tidak paham. “Kamu memang nggak berubah.”“Syukurlah,” jawab Aishwa bangga. “Kalau aku berubah jadi kalem, Mas Noah bisa stres.”Noah mengangkat tangan. “Aku tersinggung tapi pasrah.”Leo ikut tersenyum, lalu menyeruput kopinya. “Aku baru tahu Paris punya efek samping begini,” katanya santai. “Menyatukan orang-orang yang dulu kaku.”Anisa menoleh ke Aishwa. “Terima kasih ya.”Aishwa berkedip. “Untuk apa?”“Karena kamu bahagia,” jawab Anisa jujur. “Dulu aku kira, melihat itu bakal menyakitkan.”Aishwa terdiam
Beberapa hari di Prancis terasa seperti potongan mimpi yang dipinjamkan Tuhan kepada Anisa. Leo membawanya menjelajahi tempat-tempat indah—bukan dengan tergesa-gesa, bukan dengan rasa iba—melainkan dengan kesabaran yang tenang. Ia tidak pernah membuat Anisa merasa “dibantu”, melainkan benar-benar ditemani.Kini koper terbuka di tengah kamar hotel, pakaian-pakaian tersusun rapi di atas ranjang. “Leo, tidak perlu menolongku. Aku bisa membereskan semuanya sendiri,” ujar Anisa ketika melihat Leo hendak meraih salah satu gaunnya.Leo berhenti. Tidak membantah, tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah mundur setengah langkah. Tangannya masuk ke saku celana, matanya mengamati—bukan mengawasi.Anisa melipat pakaian dengan cekatan. Gerakannya teratur, tenang, seolah sudah sangat terbiasa mengurus dirinya sendiri. Kaos, gaun, syal—semuanya tersusun rapi ke dalam koper.Leo tersenyum kecil. Bukan karena kagum pada kerapian Anisa, melainkan karena ia melihat sesuatu yang jauh lebi
Begitu pintu utama mansion Albert terbuka, semua mata langsung tertuju pada satu titik: Noah… dan Aishwa.Bukan karena mereka datang terakhir. Bukan juga karena status pengantin barunya. Tapi karena cara jalan Aishwa yang—jujur saja—lebih cocok untuk antre obat rematik daripada makan malam keluarga. Langkahnya pelan, terbuka sedikit. Tangannya mencengkeram lengan Noah seperti pegangan darurat.Ruangan mendadak hening. Samuel yang sedang duduk santai di kursi makan langsung menyipitkan mata. Violet menutup mulutnya, matanya membulat. Michael dan Rizky saling pandang. Nathan sudah lebih dulu senyum-senyum curiga.“Aishwa…” Eliza berdiri setengah panik. “Kamu kenapa, Nak?”Aishwa tersenyum kaku. “Nggak kenapa-kenapa, Mommy mertua.”Hermawan mengangguk pelan. “Kalau nggak kenapa-kenapa, biasanya jalannya nggak begitu.”Kakek Hermawan sudah lama hidup dan terlalu banyak pengalaman. Sehingga tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun tetap saja, ia berbicara seperti ini, hanya sekedar menggoda
"Wah Kakak ipar sangat cerdas," goda Olivia. "Tentu," jawab Violet tersenyum lebar. Samuel menurunkan satu tangannya dan kemudian menggenggam tangan istrinya. Kemudian pria itu berbisik. Begitu mendengar bisikan dari suaminya, wajah violet langsung memerah Bahkan dia sampai menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Lagi-lagi tingkah violet yang sangat polos membuat mereka semua tertawa. "Kenapa Noah lama sekali. Padahal Samuel dan juga Violet sudah pulang sejak semalam." Dengan sengaja Eliza mengalihkan topik obrolan. Karena dia takut Violet akan semakin malu.Yuna menimpali sambil tersenyum geli. “Yang satu kelihatan habis baca buku parenting, yang satu lagi mungkin masih cari tenaga buat jalan.”Violet langsung menunduk, pipinya memerah. “Aunty Yuna…”Aruna yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara, nada suaranya santai tapi penuh arti. “Samuel ini dari dulu memang rapi. Dari awal mendekati sampai nikah, konsisten.”Albert mengangguk setuju. “Iya. Terlalu konsisten malah.”Sa
Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka, menjulang tinggi dan berkilau diterpa cahaya sore Paris. Turis berlalu-lalang, suara kamera berbunyi di mana-mana. Dan di tengah suasana romantis itu—Jasmine melipat tangan di dada. “Aku mau foto di situ,” katanya sambil menunjuk spot yang jelas-jelas ramai.Attar melirik. “Di situ penuh orang. Kita geser sedikit ke kiri, cahayanya lebih bagus.”“Nggak. Aku maunya di situ.”“Jasmine, di situ bayangannya nutup setengah wajah kamu.”“Itu sudut artistik.”“Itu namanya ketutup tiang, bukan artistik.” Attar berkata sambil menghembuskan napasnya.Jasmine menoleh tajam. “Kamu ngajarin aku foto?”Attar mengangkat tangan menyerah setengah. “Aku cuma mau menyelamatkan hasil fotonya.”“Berarti kamu meragukan selera estetikaku.” Jasmine sangat yakin, hasil fotonya pasti sangat bagus.“Berarti kamu menyimpulkan sendiri.”Jasmine mendengus. “Ya sudah. Kamu foto aja. Jika hasilnya jelek, itu salah kamu.”Attar mengambil ponsel, mundur beberapa langkah.







