Se connecterAnisa berusaha menenangkan dirinya. Berkali-kali ia mengatakan pada hati sendiri bahwa semua ini hanya kebetulan. Namun setiap kali layar ponsel menampilkan wajah Yulia dalam rekaman video, dadanya terasa semakin sesak.Ada sesuatu yang mengganggunya.Bukan suara. Bukan kata-kata.Melainkan wajah itu.Anisa sangat mengenali garis rahang itu. Tatapan mata yang tenang namun dingin. Bahkan cara Yulia tersenyum samar—semuanya mengingatkannya pada satu sosok yang selama ini berusaha ia singkirkan dari pikirannya.Papinya. Sandy.Kesadaran itu membuat tangannya bergetar.Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Leo.“Leo… jujur saja, aku tidak tenang,” ucapnya lirih. “Setiap kali melihat wajah Yulia, aku merasa seperti melihat… seseorang yang kukenal.”Leo tidak langsung menjawab. Ia sudah menduga arah pembicaraan itu.“Untuk kasus transplantasi seperti ini,” Leo akhirnya berkata pelan, berhati-hati, “kecocokan setinggi itu memang paling sering ditemukan pada saudara kandung. Apal
“Leo, apa ada hal yang kau sembunyikan?” Anisa ingin mendengar semuanya. Meskipun tahu apa yang didengar pasti sangat menyakitkan. Membayangkan Leo menerima uang dari orang tuanya, tanpa memberi tahu, jelas sangat menyakitkan. Padahal momen seperti ini sangat berharga untuknya.Leo diam.Ia ragu sejenak, lalu bertanya dengan suara gemetar, seolah takut pada jawabannya sendiri.“Leo… sebelum operasi ini… apa pernah ada pembicaraan soal kaki palsu?” Anisa kembali mengulang pertanyaannya. Karena melihat Leo diam. Leo membeku.Bukan lama.Hanya sepersekian detik.Ia menarik napas dalam, lalu menjawab dengan jujur.“Pernah,” katanya akhirnya.Satu kata.Berat.Jatuh seperti batu ke dalam air tenang.Dunia Anisa seakan berhenti berputar.“Pernah… bagaimana?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar."Mami memberikan kamu uang untuk kaki palsu" Leo menoleh, menatap Anisa langsung. Tatapan itu tidak dingin—melainkan penuh tekanan dan sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.“Bukan dari m
Anisa tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar sudah diredupkan, dan Leo tertidur di kasur yang terletak di lantai.Sebenarnya Anisa meminta agar Leo tidur di atas tempat tidur yang sama dengannya. Namun pria itu menolak. Dengan alasan mereka belum menikah. Di apartemen ini ada dua kamar, yang satu lagi kamar yang biasa ditempati oleh Anisa. Namun tetap saja Leo tidak mau tidur di kamar yang berbeda dengan wanita tersebut. Baginya Annisa adalah prioritas utama dan karena itu dia akan selalu menjaga dan mengawasi wanita tersebut. Anisa justru semakin gaduh.Uang kuliah.Kaki palsu.Menghabiskan uang papinya.Kata-kata Wati terus berputar di kepalanya, seperti rekaman rusak yang tak mau berhenti.Uang habis buat kuliahmu. Apa maksudnya?Sejak kapan Sandy dan Mirna memberikan ia uang?Anisa mengernyit. Dadanya terasa sesak.“Itu tidak benar…” gumamnya pelan.Ia melanjutkan studi di Swiss tanpa meminta sepeser pun dari Sandy maupun Mirna. Semua biaya hidup dan kuliah ia tanggung sendiri
Pagi itu terasa tenang.Anisa duduk di tepi tempat tidur, kakinya sudah menyentuh lantai. Tidak lama—hanya beberapa detik—tapi cukup untuk membuat dadanya hangat oleh rasa syukur.Melihat kedua kaki yang sangat sempurna ini, membuat air matanya menetes dengan sendirinya. Sepasang kaki ini akan selalu membuat ia teringat Yulia. Leo berdiri tak jauh darinya, waspada, namun tidak lagi terlalu tegang. Mereka sama-sama belajar menikmati proses.“Pelan-pelan,” kata Leo lembut.Anisa tersenyum. “Aku tahu.”Ia menapakkan kakinya lagi, dibantu alat bantu jalan. Ada rasa ngilu, ada gemetar, tapi juga ada kebanggaan kecil yang tak bisa disembunyikan dari matanya. Untuk pertama kalinya, ia tidak membenci tubuhnya sendiri.Ponselnya tiba-tiba bergetar.Anisa menoleh, awalnya tak terlalu peduli. Namun ketika melihat nama yang muncul di layar, senyumnya langsung memudar.Oma Wati.Nama itu seperti duri yang tiba-tiba menekan luka lama.Leo melihat perubahan di wajah Anisa. “Siapa?”Anisa menelan lu
Samuel tidak langsung menjawab.Ia mengangkat tangan Violet, menggenggamnya dengan kedua tangannya sendiri—hangat, pasti.“Karena Lauren membuat orang melihat ke arah yang salah,” katanya pelan.“Nama itu membuat mereka membayangkan sosok yang berbeda. Bukan aku.”Violet mengernyit ringan. “Dan kamu membiarkannya?”“Aku memilihnya,” Samuel membenarkan.Ia tersenyum tipis, lalu menatap Violet lebih dalam. “Di dunia yang terlalu suka menilai dari luar, kadang cara paling aman adalah tidak terlihat seperti diri sendiri.”Violet terdiam. “Kedengarannya… sepi.”Samuel menggeleng perlahan.“Tidak lagi.”Ia meremas tangan Violet lembut. “Sejak aku punya kamu, nama itu cuma tinggal nama. Topeng yang kupakai di luar.”Nada suaranya menghangat. “Tapi di hadapanmu, aku selalu Samuel. Sepenuhnya.”Jantung Violet berdegup pelan. “Jadi… Lauren bukan bagian darimu?”“Lauren adalah caraku bersembunyi,” jawab Samuel jujur.Samuel pernah mengalami hampir kehilangan nyawanya karena menjadi sasaran mafia
Paris pagi itu cerah.Langit biru bersih, angin musim semi menyapa lembut, dan kampus tempat Violet belajar terlihat lebih hidup dari biasanya. Namun ada satu hal yang terasa… janggal.Tidak ada Samuel versi “misterius”.Tidak ada topi yang ditarik rendah.Tidak ada masker.Tidak ada kacamata hitam yang menutupi wajah tampannya.Dan yang paling mengejutkan—tidak ada jarak.Samuel berdiri di samping Violet dengan setelan rapi, kemeja mahal yang pas di tubuhnya, rambut tersisir rapi, dan ekspresi tenang seperti dosen pada umumnya. Tangannya menggenggam tangan Violet dengan santai, seolah itu hal paling normal di dunia.Violet menoleh berkali-kali, memastikan apa yang dilihatnya nyata.“Mas…” panggilnya pelan.Samuel menoleh. “Ada apa sayang?”“Kamu… nggak lupa sesuatu?”Samuel berhenti melangkah. “Apa?”“Masker. Topi. Kacamata,” jawab Violet sambil menunjuk wajah suaminya.Samuel tersenyum kecil. Senyum yang jarang, tapi selalu membuat Violet melemah.“Tidak perlu. Hari ini adalah hari







