MasukNathan kemudian memandang Arbi dengan binar bangga. "Aku senang melihat kesuksesan mu." "Semua ini karena bimbingan mas Nathan." Bagi Arbi, Nathan bukan sekadar abang angkat atau kerabat. Nathan adalah mentor, guru, dan pelindung.Setiap kali Arbi melakukan kesalahan bodoh dalam hidup, Nathan adalah orang pertama yang turun tangan menyelamatkannya tanpa banyak menghakimi. Pria itu pula yang membimbingnya di dunia bisnis, mengajarkan Arbi dengan keras bahwa dunia korporasi tidak seindah yang tampak di permukaan. “Di dunia bisnis, Arbi, kamu harus belajar membedakan mana kawan dan mana musuh yang memakai topeng persahabatan,” kalimat Nathan itu yang selalu Arbi pegang hingga perusahaannya bisa berdiri tegak seperti sekarang."Duduk, Arbi. Jangan berdiri terus seperti terdakwa," kelakar Nathan, suaranya berat namun bersahabat.Setelah semua duduk bersila dengan cangkir teh di tangan masing-masing, Lusi membuka suara, menyampaikan maksud kedatangan mereka. Suasana seketika berubah serius
Mansion megah keluarga Hermawan berdiri kokoh di bawah langit malam Jakarta. Bagi Arbi, tempat ini bukan sekadar simbol kekayaan, melainkan sebuah rumah aman. Begitu mobil yang dikendarainya berhenti di pelataran, debar dada Arbi semakin tak karuan. Malam ini, di dalam bangunan itu, masa depannya akan ditentukan.Lusi menepuk lembut tangan putranya sebelum turun. "Tenang. Mereka keluarga kita."Di ruang keluarga yang hangat, Nathan dan Eliza ternyata sudah menunggu. Begitu melihat langkah Arbi dan Lusi, Eliza langsung berdiri dengan senyum lebar yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Arbi.Sejak Marwan—papi Arbi—meninggal dunia, Elizalah sosok yang selalu berdiri di garda terdepan untuknya. Hubungan mereka sebenarnya rumit jika dirunut dari masa lalu. Elizabeth sempat bercerai dengan Sandy, yang merupakan saudara satu ayah dengan Arbi. Secara hukum, status Eliza sebagai kakak ipar sudah lama tanggal. Namun bagi Arbi, sekat-sekat masa lalu itu tidak pernah ada. Eliza jauh leb
Arbi mengembuskan napas berat. "Sebenarnya... dari dulu aku takut jadi orang kaya, Mi. Hanya saja, takdir sepertinya punya rencana lain." Arbi mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah mewah mereka. "Rumah kita sekarang jauh lebih besar dari yang dulu. Kehidupan kita berubah total. Aku senang bisa menjadikan Mami seperti ratu di sini. Dan semua ini... hasil kerja kerasku, doa mami , dan mas Nathan, yang selalu menjadi dewa dan Dewi penyelamat untuk ku."Arbi memang bisa saja sukses secara instan jika dia mau memanfaatkan koneksi keluarga Hermawan. Namun, harga dirinya terlalu tinggi. Dia memilih jalur keras; bekerja di tempat yang mengutamakan otak dan tenaga, bukan menjual kedekatan.Lusi menatap putranya dengan dahi berkerut, heran. "Semua orang bermimpi jadi orang kaya, Arbi. Kenapa kamu malah takut?""Aku takut sombong, Mi. Aku takut uang mengubahku menjadi orang lain. Menjadi anak yang durhaka karena terlalu sombong dan angkuh."Mata Lusi melembut. Dia menggeser duduknya, lalu
Arbi menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lurus ke langit-langit ruang tamu yang tinggi. Di luar, matahari senja mulai tenggelam, memantulkan semburat jingga di dinding rumah baru mereka. Rumah yang megah, jauh berbeda dari rumah yang dulu. Rumah yang ia beli dari hasil gajinya di sebuah perusahaan. Namun, di balik kemewahan ini, ada gemuruh di dada Arbi yang tidak bisa diredam oleh dinding beton seharga miliaran rupiah."Sepertinya anak Mami sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat?"Suara lembut itu memecah keheningan. Lusi berjalan mendekat, membawa secangkir teh hangat sebelum duduk di kursi tepat di hadapan putranya. Wajah wanita paruh baya itu memancarkan ketulusan yang murni, tatapannya selalu berhasil membuat Arbi merasa aman, seberapa pun kerasnya dunia luar menghantamnya.Arbi menegakkan duduknya, memandang ibunya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Rasa ragu itu kembali merayap, mencengkeram hatinya."Menurut Mami... apakah sudah waktunya aku pergi ke Paris?" Arbi
Paris tetap sibuk seperti biasanya.Kota itu dipenuhi langkah-langkah manusia yang sedang mengejar mimpi. Lampu-lampu jalan yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan musim dingin yang terasa lebih tenang dibanding empat tahun lalu.Di salah satu universitas ternama di —Alicia berjalan keluar dari ruang kelas sambil membawa laptop dan beberapa buku ekonomi tebal di pelukannya.Penampilannya jauh lebih dewasa sekarang.Rambut panjangnya tergerai rapi. Tatapannya tenang. Dan cara bicaranya tidak lagi seceroboh gadis manja yang dulu selalu mengikuti Arbi ke mana-mana.Kini— Alicia sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya.Dan sekarang ia sedang melanjutkan program magister di bidang ekonomi dan bisnis internasional.Bukan tanpa alasan.Karena sejak dulu— ia sudah memiliki satu tujuan yang tidak pernah berubah.Membantu Arbi.Membantu pria itu membangun perusahaan yang lebih besar lagi di masa depan.“Alicia!”Seorang dosen memanggilnya dari belakang.Gadis itu langsung menoleh sopan.“Ye
Ruang kerja itu mendadak terasa berbeda.Dingin dan formal beberapa detik lalu— kini berubah hangat hanya karena satu panggilan video.Riri yang masih berdiri di dekat meja kerja Arbi sebenarnya sadar dirinya harus pergi.Namun entah kenapa— kakinya terasa berat melangkah.Mungkin karena penasaran.Atau mungkin… karena baru pertama kali melihat ekspresi seperti itu muncul di wajah Arbi.Pria yang selama ini terkenal dingin dan sulit didekati itu— sekarang justru tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya.Lembut sekali.“Mas kangen nggak?” suara gadis di balik video call terdengar ceria.Dan hanya dari suaranya saja— Riri bisa membayangkan gadis itu pasti sangat cantik.Suaranya ringan. Manja. Penuh kehidupan.Jenis suara yang mudah membuat orang ikut tersenyum tanpa sadar.Arbi menyandarkan tubuh ke kursinya pelan.“Kamu baru nelpon lima detik udah nanya begitu.”“Karena aku pengen dengar jawabannya.”“Kalau nggak kangen ngapain aku angkat video call?”Terdengar suara tawa kecil
Albert terkekeh pelan. Ia menunjuk salah satu bayi yang menatapnya tajam, dengan dahi mengerut dan bibir mengerucut seolah hendak marah. “Anakmu yang sangat macho,” gumam Albert kagum. Pria itu menekukan tangannya sambil menunjuk ke lengannya. Seolah-olah ia sedang memamerkan otot tangannya. “Tat
Aruna duduk di atas tempat tidur, jantungnya masih berdebar hebat.Tragedi kecil di kamar mandi barusan, saat Albert menarik tangannya, masih begitu jelas dalam ingatannya. Pipinya memanas hanya dengan mengingat wajah nakal suaminya yang begitu dekat.Ia menunduk, mencoba menenangkan diri. Ya ampun
Langit Jakarta terlihat cerah pagi itu. Matahari belum tinggi, namun sinarnya sudah hangat membelai setiap sudut halaman rumah keluarga Hermawan. Udara mengalir pelan, membawa semilir harum bunga kamboja yang bermekaran di sisi taman.Dan di tengah keheningan itu, terlihat seorang pemuda berdiri di
Sherly terbangun dengan tubuh kaku dan rasa nyeri yang menjalar dari punggung hingga leher. Napasnya berat, seperti paru-parunya menolak bekerja sama. Cahaya lampu redup di sudut ruangan menusuk matanya, membuat pandangannya buram sejenak.Butuh beberapa detik sebelum benar-benar menyadari bahwa di







