MasukCalderon melempar jasnya secara asal kala mendapati rumahnya masih dipenuhi keramaian. Di tengah malam begini, orang-orang masih sibuk—entah membahas apa. Keluarga Camelia ada di rumahnya. Mereka berkumpul di ruang tamu, tampak membicarakan hal yang serius. Calderon memilih tidak ingin ikut campur dan memutuskan berjalan melewati mereka tanpa menyapa.
"Calderon!"Kontan Calderon menghela napas malas. Sudah dia duga Tuan Saka melihatnya. Tentu saja pria itu tidak membiarkan CHari-hari Calderon tampak berjalan seperti biasa. Berlalu begitu saja seolah kejadian di bandara bukanlah hal berarti yang bisa mengusik jalan kerja mereka. Tidak ada yang berubah sejak tragedi di bandara. Tuan Saka masih mencari cara untuk merebut Kaleo darinya. Bahkan meminta anak buah kepercayaannya menguntit setiap langkah Calderon. Sialan. Pria tua itu masih saja tidak mau mengalah.Calderon pergi ke kantor bersama Max. Kembali ke rumah untuk unjuk muka, menyatakan kalau dirinya tidak kabur. Lalu malamnya tidur di flat yang sama dengan tempat dikurungnya Kaleo. Beberapa hari berlalu dan tidak ada kemajuan dari rencananya. Soal Kaleo yang mau bersuara, soal Camelia yang sudah jarang dia temui dan soal Almora yang tak kunjung berhasil dia temui. Bersembunyi dimana perempuan yang sedang mengandung anaknya itu? Ingin Calderon melihatnya sekali lagi. Memastikan kalau hidupnya baik-baik saja.Siang ini, usai ikut rapat bersama klien di kantornya, Calderon memutuskan singgah di kedai ko
"Siapa sih orang tadi itu?" tanya Calvin melepas jaketnya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi.Almora meletakkan barang belanjaannya di meja. Dia melirik suaminya sekilas. "Temen.""Temen? Kok kalian gak keliatan kayak temen?" tanya Calvin. Max datang seperti seorang utusan. Teman macam apa yang kaku dan agak kejam begitu? Lalu, siapa tadi? Calderon. Mereka menyebut nama itu sekilas."Iya," jawab Almora. Dia mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong. Menyusunnya di meja seraya mengecek kembali kelengkapan barang yang dibelinya."Apa dia orang suruhan Calderon? Ayah dari anak kamu?" Calvin betulan penasaran dengan Max dan apa yang dia sampaikan. Pria itu meminta Calvin agar membawa Almora meninggalkan negara ini. Katanya Almora dan bayinya dalam bahaya. Apa maksud dari semua itu?Almora menghela tanpa sadar. Pikirnya semua telah berakhir saat Almora memutuskan pergi. Pikirnya dia akan hidup dengan baik meski kembali ke tanah ini. Pikirnya tidak ada lagi yang mengejarnya karena
Max tau bukan ranahnya untuk ikut campur soal hubungan Almora dan Calderon. Namun tidak ada salahnya dia berbincang sebentar dengan perempuan kecintaan tuannya itu. Perempuan yang Max lacak sekian lamanya dan Max sembunyikan keberadaannya dari Calderon agar pria itu melupakannya. Max tidak pernah menyangka akan melihat perempuan itu lagi. Pikirnya, Almora sudah lama mati. Titik terakhir yang dia temukan bisa saja tanah makam perempuan itu. Tapi rupanya dia kuat juga. Bahkan bisa hidup dengan baik bersama perutnya yang kian membesar. Bersama sosok pria yang dia perkenalkan sebagai suaminya."Apa mau kamu, Max? Mau melapor pada Calderon kalau aku kembali?" tanya Almora.Max menggeleng. "Saya hanya ingin melihat kamu. Memastikan kondisi kamu baik-baik saja.""Jangan bilang Calderon yang menyuruh kamu?" tebak Almora menatap sekitar was-was. Max menggeleng lagi. Dia rela membuang semua barangnya agar Calderon dan Tuan Saka tidak bisa melacak keberadaannya. Dia melakukannya bukan karena d
Calderon dihajar habis-habisan. Dipukul, ditendang dan ditampar. Kalau saja bisa, mungkin kepalanya sudah dilubangi oleh Tuan Saka. Sayang sekali, yang membuat ulah adalah putranya sendiri. Andai kata itu bukan Calderon, Tuan Saka tidak pikir panjang untuk melenyapkannya. Ini saja belum puas rasanya. Tuan Saka ingin menghajarnya lebih dari ini.Di lantai, Calderon terkapar bersimbah darah. Kemeja putihnya kotor dan lusuh. Sudut bibirnya membiru dan sobek. Hidungnya tak berhenti mengalirkan darah. Namun, dia masih bisa tertawa. Seolah pukulan dari Tuan Saka tidak memberikan rasa sakit.Tawanya kian keras beriringan dengan napas memburu Tuan Saka. Di tengah kekalutan itu, Calderon melirik ayahnya yang terlihat seperti cacing kepanasan."Puas kamu?!" teriak Tuan Saka. "Ini yang kamu inginkan?!"Calderon berusaha bangkit. Berdiri tak seimbang, berjalan sempoyong mendekati Tuan Saka. Naasnya, bangkitnya Calderon dianggap ancaman oleh Ros dan Rivaldo. Mereka langsung pasang badan, melindung
Pertemuan tak sengaja di optima membuat Kaleo merasa terancam. Firasatnya buruk usai berbincang sebentar dengan Calderon yang mengaku bekerja di perusahaan Saka. Entah kenapa, Kaleo merasa akan ada badai yang menghantamnya.Lantas, 3 hari setelahnya Kaleo mengirim pesan pada pelindungnya di Kroasia. Dia meminta agar dipesankan tiket penerbangan ke sana dan beberapa orang untuk menjaganya selama diperjalanan. Kaleo tau, ada banyak orang yang mengincarnya. Bos di tempatnya bekerja, orang-orang yang pernah dia tipu dan yang paling buruk, Tuan Dalas memburunya untuk dibunuh. Ayah mertuanya itu tidak ingin Kaleo muncul dan membawa kabur cucunya yang akan segera lahir. Padahal tujuan Kaleo memang untuk membawa Camelia dan anaknya pergi.Bandara pagi itu ramai oleh kedatangan domestik. Kaleo menatap sekitar sebelum melangkah menuju gerbang pemeriksaan. Dengan perasaan was-was Kaleo mengantri. Di beberapa titik, ada orang-orang berbadan tegap yang diperintahkan bosnya untuk menjaga Kaleo. Unt
Optima 434.Calderon berdiri di balkon, menatap hamparan kota di bawah kukungan langit biru. Kota tampak begitu jelas, seperti susunan rumah di game minecraft. Ini adalah bagian paling menyenangkan saat berkunjung ke Optima. Calderon bisa merasa tenang hanya dengan melihat bangunan-bangunan itu."Tumben mengajak saya ke sini," kata Max yang muncul dari balik punggung Calderon. Dia memang meminta pria itu untuk datang juga. Membosankan rasanya bila hanya sendirian di flat ini."Tidak suka?" Calderon menatap pria itu tajam. Selalu saja berkomentar. Nurut saja apa susahnya?"Suka, tapi kan aneh."Calderon mengabaikan. Dia memilih mengambil sebungkus rokok dari saku celananya. Dia tidak bisa leluasa merokok di rumah. Selain karena dilarang Nyonya besar, keberadaan Camelia yang sedang hamil juga menjadi alasannya. Calderon tentu tidak ingin anak itu meregang nyawa karena bapak tirinya hobi menghembuskan asap nikotin."Masih ngerokok?" heran Max.Calderon menyelipkan rokok itu di bibirnya l
Satu minggu.Dua minggu.Tiga minggu.Calderon kembali mendatangi kosan Almora setelah menghilang selama tiga minggu sejak pertemuan terakhir mereka. Calderon tau Almora tak mungkin mau menemuinya, tapi bukan Calderon namanya jika hanya diam saja. Mau sebenci apapun Almora padanya, Calderon akan terus
Rasanya belum lama Almora tinggal di kota ini. Belum banyak benar hal-hal menarik yang dia coba. Belum matang pemikirannya dalam dunia bisnis dan corporation. Belum ada kisah-kisah indah yang benar-benar terukir. Namun mau bagaimanapun, Almora harus tetap pergi. Terus-terusan menetap di tempat ini,
Almora seketika mengalihkan pandangan. Belum ada dua puluh empat jam, pria itu sudah melupakan aksi bejatnya? Semudah itu baginya melupakan apa yang telah dia lakukan. Perempuan selalu saja dianggap seperti ampas tebu. Habis manis, sepahnya dibuang. Calderon terus menatap Almora tajam. "Kenapa k
"Perl, tahu betul seperti apa tipeku." Seorang pria tua yang merupakan teman ibu tirinya, mencoba mencium leher Almora, penuh nafsu.Tak ia pedulikan Almora yang begitu ketakutan."Lepaskan aku!" teriak gadis itu. Sekuat tenaga, Almora berusaha menjauhkan diri.Dia sampai menyilangkan kedua tanga







