ANMELDEN"Siapa sih orang tadi itu?" tanya Calvin melepas jaketnya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi.Almora meletakkan barang belanjaannya di meja. Dia melirik suaminya sekilas. "Temen.""Temen? Kok kalian gak keliatan kayak temen?" tanya Calvin. Max datang seperti seorang utusan. Teman macam apa yang kaku dan agak kejam begitu? Lalu, siapa tadi? Calderon. Mereka menyebut nama itu sekilas."Iya," jawab Almora. Dia mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong. Menyusunnya di meja seraya mengecek kembali kelengkapan barang yang dibelinya."Apa dia orang suruhan Calderon? Ayah dari anak kamu?" Calvin betulan penasaran dengan Max dan apa yang dia sampaikan. Pria itu meminta Calvin agar membawa Almora meninggalkan negara ini. Katanya Almora dan bayinya dalam bahaya. Apa maksud dari semua itu?Almora menghela tanpa sadar. Pikirnya semua telah berakhir saat Almora memutuskan pergi. Pikirnya dia akan hidup dengan baik meski kembali ke tanah ini. Pikirnya tidak ada lagi yang mengejarnya karena
Max tau bukan ranahnya untuk ikut campur soal hubungan Almora dan Calderon. Namun tidak ada salahnya dia berbincang sebentar dengan perempuan kecintaan tuannya itu. Perempuan yang Max lacak sekian lamanya dan Max sembunyikan keberadaannya dari Calderon agar pria itu melupakannya. Max tidak pernah menyangka akan melihat perempuan itu lagi. Pikirnya, Almora sudah lama mati. Titik terakhir yang dia temukan bisa saja tanah makam perempuan itu. Tapi rupanya dia kuat juga. Bahkan bisa hidup dengan baik bersama perutnya yang kian membesar. Bersama sosok pria yang dia perkenalkan sebagai suaminya."Apa mau kamu, Max? Mau melapor pada Calderon kalau aku kembali?" tanya Almora.Max menggeleng. "Saya hanya ingin melihat kamu. Memastikan kondisi kamu baik-baik saja.""Jangan bilang Calderon yang menyuruh kamu?" tebak Almora menatap sekitar was-was. Max menggeleng lagi. Dia rela membuang semua barangnya agar Calderon dan Tuan Saka tidak bisa melacak keberadaannya. Dia melakukannya bukan karena d
Calderon dihajar habis-habisan. Dipukul, ditendang dan ditampar. Kalau saja bisa, mungkin kepalanya sudah dilubangi oleh Tuan Saka. Sayang sekali, yang membuat ulah adalah putranya sendiri. Andai kata itu bukan Calderon, Tuan Saka tidak pikir panjang untuk melenyapkannya. Ini saja belum puas rasanya. Tuan Saka ingin menghajarnya lebih dari ini.Di lantai, Calderon terkapar bersimbah darah. Kemeja putihnya kotor dan lusuh. Sudut bibirnya membiru dan sobek. Hidungnya tak berhenti mengalirkan darah. Namun, dia masih bisa tertawa. Seolah pukulan dari Tuan Saka tidak memberikan rasa sakit.Tawanya kian keras beriringan dengan napas memburu Tuan Saka. Di tengah kekalutan itu, Calderon melirik ayahnya yang terlihat seperti cacing kepanasan."Puas kamu?!" teriak Tuan Saka. "Ini yang kamu inginkan?!"Calderon berusaha bangkit. Berdiri tak seimbang, berjalan sempoyong mendekati Tuan Saka. Naasnya, bangkitnya Calderon dianggap ancaman oleh Ros dan Rivaldo. Mereka langsung pasang badan, melindung
Pertemuan tak sengaja di optima membuat Kaleo merasa terancam. Firasatnya buruk usai berbincang sebentar dengan Calderon yang mengaku bekerja di perusahaan Saka. Entah kenapa, Kaleo merasa akan ada badai yang menghantamnya.Lantas, 3 hari setelahnya Kaleo mengirim pesan pada pelindungnya di Kroasia. Dia meminta agar dipesankan tiket penerbangan ke sana dan beberapa orang untuk menjaganya selama diperjalanan. Kaleo tau, ada banyak orang yang mengincarnya. Bos di tempatnya bekerja, orang-orang yang pernah dia tipu dan yang paling buruk, Tuan Dalas memburunya untuk dibunuh. Ayah mertuanya itu tidak ingin Kaleo muncul dan membawa kabur cucunya yang akan segera lahir. Padahal tujuan Kaleo memang untuk membawa Camelia dan anaknya pergi.Bandara pagi itu ramai oleh kedatangan domestik. Kaleo menatap sekitar sebelum melangkah menuju gerbang pemeriksaan. Dengan perasaan was-was Kaleo mengantri. Di beberapa titik, ada orang-orang berbadan tegap yang diperintahkan bosnya untuk menjaga Kaleo. Unt
Optima 434.Calderon berdiri di balkon, menatap hamparan kota di bawah kukungan langit biru. Kota tampak begitu jelas, seperti susunan rumah di game minecraft. Ini adalah bagian paling menyenangkan saat berkunjung ke Optima. Calderon bisa merasa tenang hanya dengan melihat bangunan-bangunan itu."Tumben mengajak saya ke sini," kata Max yang muncul dari balik punggung Calderon. Dia memang meminta pria itu untuk datang juga. Membosankan rasanya bila hanya sendirian di flat ini."Tidak suka?" Calderon menatap pria itu tajam. Selalu saja berkomentar. Nurut saja apa susahnya?"Suka, tapi kan aneh."Calderon mengabaikan. Dia memilih mengambil sebungkus rokok dari saku celananya. Dia tidak bisa leluasa merokok di rumah. Selain karena dilarang Nyonya besar, keberadaan Camelia yang sedang hamil juga menjadi alasannya. Calderon tentu tidak ingin anak itu meregang nyawa karena bapak tirinya hobi menghembuskan asap nikotin."Masih ngerokok?" heran Max.Calderon menyelipkan rokok itu di bibirnya l
Camelia rasa tubuhnya sudah agak mendingan. Tadi pagi hanya sedikit pusing karena tidur terlalu lama, tapi Calderon dan seluruh manusia di rumah itu menganggap dirinya sedang demam tinggi. Padahal hanya butuh berbaring sebentar, Camelia bisa pulih.Usai makan siang, Camelia berencana untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Sudah lama Camelia tidak berkunjung ke rumah. Kedua orang tuanya juga jarang memberi kabar seolah lupa dengan anaknya yang satu ini."Mau kemana?"Langkahnya dihadang oleh Calderon yang tiba-tiba muncul. Berdiri di depan pintu utama seraya melipat kedua tangan di depan dada. Ah, magic. Pria itu penyihir. Sekejap di kamar, sekejap di ruang kerjanya dan sekejap lagi ada di depan mata."Ke rumah orang tuaku." Camelia menatap Calderon.Salah satu alis pria itu terangkat. "Sendiri?""Memangnya kamu mau ikut?" tanya Camelia, sangsi. Calderon benci sekali dengan ayahnya. Mana mungkin pria itu mau ikut dengannya bertemu mama dan papa.Sesuai dugaan, Calderon menggelengkan
Satu minggu.Dua minggu.Tiga minggu.Calderon kembali mendatangi kosan Almora setelah menghilang selama tiga minggu sejak pertemuan terakhir mereka. Calderon tau Almora tak mungkin mau menemuinya, tapi bukan Calderon namanya jika hanya diam saja. Mau sebenci apapun Almora padanya, Calderon akan terus
Rasanya belum lama Almora tinggal di kota ini. Belum banyak benar hal-hal menarik yang dia coba. Belum matang pemikirannya dalam dunia bisnis dan corporation. Belum ada kisah-kisah indah yang benar-benar terukir. Namun mau bagaimanapun, Almora harus tetap pergi. Terus-terusan menetap di tempat ini,
"Beristirahatlah," ucap Calderon pada Camelia. Dia membantu perempuan itu berbaring di atas tempat tidur. "Kamu sendiri mau kemana?" Calderon menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya masih ada urusan.""Malam-malam begini?"
Tidak ada semangat dalam diri Almora saat tahu pesannya diabaikan begitu saja. Calderon sudah membacanya, tapi tak memberikan balasan. Turun dari bus, Almora melangkah lesu menuju kosannya. Almora sudah tak punya tenaga barang untuk melangkah. Rasanya begitu hancur saat sadar dirinya telah dicampakk







