MasukDi sisi lain. Amber dan Irish mulai kehilangan kesabaran melihat suami mereka disentuh-sentuh. Antara jengkel dan cemburu. Ego mereka terlalu tinggi untuk menyerah sekarang. Mereka sengaja mengeraskan suara untuk membalas dendam."Oh, Jack! Kamu bilang mau mengajakku ke Paris?" teriak Amber sambil menyentuh bahu pria mancanegara di sampingnya, matanya melirik tajam ke arah Reyvan yang sedang dipegang paksa oleh wanita berbikini. "Yes. Kamu mau?" ujar pria itu."Tentu saja aku mau! Aku butuh udara segar setelah terjebak dengan pria narsis yang seleranya ternyata murahan!" teriak Amber dengan tawa renyah.Irish tidak mau kalah, dia memegang tangan pria Italia di dekatnya dan menatapnya dalam-dalam."Lucas, ceritakan lagi soal vila itu. Sepertinya menginap di sana jauh lebih terhormat daripada berada di resort sama pria yang hobi mengumpulkan wanita. Aku benci pria yang tidak punya harga diri!" Irish menutup mulutnya dengan tawa kecil.David yang mendengar itu benar-benar ingin mengam
Galaxy menunjuk. "Pria kurang tampan itu, Papaku. Dan yang sedikit tampan itu, Om-ku. Mereka sedang melakukan challenge untuk membuat istri-istri mereka cemburu dengan merayu wanita lain."Irish dan Amber serentak melipat tangan di dada sambil melempar senyum sangat lebar ke arah suami mereka. Tapi tatapan matanya tajam seperti hendak menguliti.Lalu, Amber bahkan memberikan jempol pada anaknya. Sementara Irish menikmati wajah David yang mulai berubah pucat pasi.Dua pria itu jadi mematung gelisah. Otaknya berhenti bekerja saat mendapati tatapan seperti itu. Mereka jadi tak tahu harus bagaimana."Sejak tadi usaha mereka terlihat sangat menyedihkan dan tidak ada yang berhasil," lanjut Galaxy menggantung.David dan Reyvan menarik napasnya dalam-dalam, untuk mencari kekuatan menghadapi istrinya. Oh bukan, juga menghadapi bocil biang kekacauan."Maka di sini aku akan membuka challenge ini untuk umum! Siapa saja Tante Tante di sini yang sanggup merayu dua suami kurang tampan itu dan benar-
"Lihat lihat! Tanduk mereka udah keluar. Sok mau terbar pesona booking wanita. Kita juga bisa," bisik Amber."Kalau istri sudah turun gunung, habislah mereka. Siapkan mental buat lihat istri dikerumuni banyak pria tampan," balas bisik Irish.Amber dan Irish duduk anggun di tengah kepungan lima pria mancanegara yang tampak seperti model majalah kebugaran, dan aktor.Amber menyandarkan punggungnya sambil memainkan ujung rambutnya dan melempar tawa renyah yang sengaja dikeraskan. "Oh ya? Menarik sekali. Aku jadi mau lihat tempat itu. Kapan-kapan gimana kalau kita semua pergi bersama?"Sementara Irish menopang dagu, memberikan tatapan paling intens kepada seorang pria Italia di depannya. "Aku jadi malas pergi karena kalian."Di sana, David dan Reyvan berdiri dengan tubuh kaku, rahang mengeras dan tangan mengepal sampai gemetar kuat. Emosi mereka benar-benar mendidih, tanduknya sudah ON. Entah keluar tanduk berapa. Dadanya kembang kempis naik turun, bergemuruh tak karuan."Lihat itu, Vid.
Sedang Reyvan. Pria itu mengibas kerah kemejanya karena gerah campur risih. Ide gila demi citra, tapi resikonya tinggi. Dia yang sudah pensiun jadi playboy, kini malah harus menebar pesonanya. "Resort ini, bangunan apartemen mewah di pusat kota, dan hotel bintang lima. Kamu benar-benar pria idaman. Aku jadi selingan saja sudah beruntung." Satu wanita mengerling. "Heyy, antri. Aku duluan yang duduk di sini. Pak Rey ini sangat profesional, bahkan dalam bermain wanita pun dia pakai jadwal. Iya, kan, Bos ...." Tangan wanita itu menyambar dada Reyvan. Tapi, Reyvan cepat menghindar. "Ehem! Sorry!" Tangannya menepis pelan. Di sana, Amber mengutuk suaminya. "Lihat, Irish. Dia memegang dada suamiku dan anehnya, Reyvan malah tersenyum dan memegang tangan wanita itu. Dia harus direndam pakai air mawar semalam, biar aura jahat wanita itu hilang dari tubuh suamiku nanti. Awas, kamu, Rey! Bisa-bisanya cari selingan!" Kini Reyvan sedang tertawa kecil, berusaha bertahan. Dia juga melirik ke semb
Irish mengenakan dress berwarna merah maroon yang memeluk lekuk tubuh seksinya.Sementara Amber tampil memukau dengan dress putih berkelas di atas lutut.Riasan wajah mereka tajam, dengan lipstik merah merona."Apa aku sudah cantik? Kalau dibanding sama wanita-wanita itu, sudah cantikan aku, kan?" Irish memajukan bibirnya sensual, menatap pantulan wajahnya pada cermin. Lalu dia bergerak ke sisi kanan kiri, mencari gaya seksi tapi elegan. Sedikit menaikkan dagunya sambil tersenyum manis.Amber juga melihat penampilannya. "Sepertinya sudah cukup. Cukup untuk membuat mereka salah tingkah. Memangnya istrinya masih kurang cantik, sampai booking wanita dan menggoda secara terang-terangan.""Kita tunjukkan siapa yang lebih menggoda. Kita atau mereka berdua. Ehmmm, Amber. Berapa wanita yang ada di samping suamiku tadi?" Irish mencoba mengingat. Dia menyipitkan matanya.Amber sedikit mendongak, seperti mengingat juga. "Ehmm ... Dua ... tiga ... empat ... Kurasa ada banyak sekali. Karena dalam
Reyvan mencondongkan tubuhnya ke arah David. "Kita harus bertindak. Aku nggak mau citraku hancur berantakan karena dibilang punya hubungan spesial dengan dokter galak sepertimu!" David mendorong bahu Reyvan dengan kasar. "Heh! Kamu pikir aku mau?! Aku yang paling dirugikan di sini! Nama baikku sebagai dokter teladan bisa hancur kalau sampai pasien-pasienku tahu, aku dibilang pasangan kekasih pria narsis sepertimu!" Reyvan memutar otaknya cepat, matanya menyisir cafe yang dipenuhi wanita-wanita sosialita dan tamu cantik yang sedang memperhatikan mereka. Sebuah ide licik namun brilian muncul. "Oke, dengar. Kita harus mematahkan rumor ini sekarang juga," bisik Reyvan serius. "Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?!" geram David. "Kita duduk terpisah. Lalu, buat wanita-wanita di cafe ini terpesona. Kita harus terlihat seperti pria tulen, sangat maskulin, dan sangat ... menggoda. Tunjukkan pada mereka kalau kita tertarik pada lawan jenis, bukan pada satu sama lain." David terdiam sejenak,







