LOGINSudah 3 bab ya hari ini. 🥰🥰🥰🥰 Love you all
"Kenapa kamu cepat sekali menggerakkannya!" bentak David geram.Dokter itu gemetar dan mulai mengatur lebih lambat probe (transduser)."Tunggu! Aku mau lihat lagi. Putar bagian itu! Iya ... Iya yang itu." David tersenyum lebar dengan rahang gemetar saat melihat layar monitor. Dadanya terus berdenyut, rasanya tak sabar ingin melihat kecebong itu lahir.Mata Irish berkaca-kaca dan saat melihat layar monitor yang menampilkan kantung kehamilan. "Vid, aku beneran hamil .... Lihat, lihat itu dia ...." Dia bahkan enggan berkedip.Meski masih tampak sebiji kacang polong, tapi bagi pasangan itu sudah membuat jantung berdetak cepat, melebihi saat dulu David mengutarakan perasaannya.Dokter mengatakan kalau usia kehamilannya sekitar 6 Minggu. Tangan David gemetar memegang lembut tangan istrinya. "Sayang, lihat. Anak kita. Anak kita ....""Aku lihat, Vid. Aku melihatnya. Dia akan tampan atau cantik?" Irish meremas tangan suaminya."Tampan sepertiku atau cantik sepertimu, yang penting dia lahir s
"Vid, jangan menakutiku. Kenapa kamu malah nangis?" Air mata Irish mulai luruh. David menatap kertas di tangannya dengan tangan bergetar hebat. Napasnya tercekat.Lalu, pelan dia menatap Irish yang sudah menangis ketakutan.Mulut David sudah terbuka, ingin mengeluarkan kata-kata, tapi suaranya seolah terkunci oleh rasa haru yang meluap-luap. Dia belum pernah merasa tidak berdaya seperti ini sebelumnya. Bahkan saat menemui pasien hampir mati sekali pun.Irish semakin gelisah, tubuhnya yang lemas mencoba bangkit. "Vid, bicaralah. Ada apa sama hasilnya? Aku sakit apa?"David menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan rasa. "A-aku ... aku akan jadi ayah, Irish. Kamu hamil."Seketika Irish terdiam. Matanya yang sembab kini melebar, menatap David dan mencari kebenaran di balik mata pria itu. "A-aku ... hamil?" Irish mengangguk kecil, memastikan.David mengedip mata dengan senyum haru."Kamu hamil, Sayang. Ada anak kita di perutmu ...." David langsung mendekap tubuh istrinya erat.Seda
"Sebenarnya siapa yang salah? Kalian merasa benar, tapi kami juga nggak salah. Komunikasi itu bukan cuma soal bicara, tapi biar nggak salah asumsi. Masalah ini dimulai dari salah paham karena kalian malas buat jelasin. Jangan pernah ngerasa pasanganmu sudah tahu apa yang kamu pikirkan. Kita itu pasangan suami istri, bukan lagi main game tebak-tebak perasaan dan pikiran," ucap Irish. Membuat David menoleh dan tersenyum kaku pada Irish. "Andai kalian bicara sama kamu sejak awal, semua nggak akan kacau seperti ini," ucap Amber menatap dua pria itu. Reyvan diam menatap wajah istrinya. "Komunikasi itu jembatan agar dua hati terus saling memahami, tapi kalau nggak ada ada omongan, hal kecil saja bisa jadi masalah besar karena gagal paham." Irish menajamkan tatapannya pada suami. Amber menaikkan sedikit dagunya. "Benar. Memangnya kami ini cenayang, bisa langsung paham dengan apa yang kalian lakukan?" Reyvan dan David saling lirik. "Setelah aku simak dari tadi, sepertinya kalian memang
Reyvan dan David berdiri di depan anak yang sedang duduk di sofa itu. Dua suami tampan itu sengaja pakai kemeja digulung pakai siku dengan dua kancing atas dibuka. Gaya mereka cool berkelas. Karena apa? Karena saat di podium mereka dikatakan kurang tampan.Sedang Amber dan Irish duduk di dua kursi samping Galaxy. Dua wanita itu sedikit menahan senyum, tapi masih kesal."Sudah paham sekarang?" Reyvan menatap anaknya tajam. Dia berdiri dengan dua tangan masuk saku.Galaxy tak mau mengangguk. Wajahnya dibuat menyamping, menahan kesal."Kenapa baru tanya sekarang? Aku sudah sangat paham sejak kekacauan di cafe. Tapi karena aku kurang hiburan, dan juga karena ditelantarkan, ya aku buat saja semakin kacau." Sedikit menaikkan dagunya. "Apa kamu bilang? Sengaja buat kacau? Kamu lupa ini Resort punya siapa? Punya papamu. Kamu itu harusnya bagaimana caranya Resort punya nama baik, bukan malah sebaliknya. Ini bukan tempat bermain-main, Laxy!" Reyvan menahan geregetan.Semua dibuat tercengang d
Di sisi David. Adegan dimulai saat pria itu membawa istrinya bak karung beras ke kamar. "Turunin!" teriak Irish, dua kakinya bergerak berontak. David yang wajahnya merah padam. Dia menurunkan istrinya di sofa. Irish gegas duduk kasar. "Sejak kapan kamu main wanita?" Sedikit menyentak dengan mata merah tajam. "Sejak kapan? Kenapa kamu tanya padaku? Aku nggak suka main wanita. Kalau dekat sama wanita, pasti serius." David membuang napasnya yang berat. Mata Irish berkaca-kaca. Jadi yang dia lihat di kafe itu, semua serius? Bukan cuma main-main cari selingan? Apa mungkin lagi nyari yang sesuai selera buat dipilih? Dia meremas dadanya. Rasanya hancur lebur hatinya saat ini. Tak sadar ada rintik air mata yang lolos dari ujung kelopak matanya. "Ternyata seperti ini rasanya jadi istri orang kaya? Manis di depan, manis juga di belakang." Irish membekap mulutnya. David membuang napasnya dan mengusap wajah kasar. "Kapan aku manis di belakang? Ya, aku tetap tersenyum manis meski wanitaku
"Dokter, tenangkan dirimu. Di negaraku, kami menghargai wanita cantik. Jika kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, jangan salahkan orang lain yang ingin melakukannya."Tak sadar mereka menyiram minyak di bara emosi David. Dan tak tahu kalau pria itu jika sudah kumat jiwa gangster-nya, maka akan habis dilempar ke laut."Apa kamu bilang?!" Pekik David denga suara rendah menekan.David maju selangkah demi selangkah, sorot matanya makin menakutkan. "Dengar!! Aku tahu persis di mana titik syaraf yang bisa membuatmu tidak bisa berjalan lagi hanya dengan satu tekanan jari. Mau coba?" Dia tidak teriak, tapi justru membuat merinding."David! Cukup!" Irish berteriak, mencoba mendorong dada David agar menjauh dari Luca. "Kamu tidak berhak mengancamnya! Tadi kamu sendiri yang asyik dirayu wanita-wanita itu, kenapa sekarang jadi pahlawan kesiangan?!"Mata David melotot tak percaya. Istrinya membela pria lain? Emosinya jadi berasap."Aku tidak menikmatinya, Irish! Mereka yang mengerumuniku. Dan bo







