LOGINVictoria Resort.Gerbang utamanya terdiri dari pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dengan ukiran sulur kayu ulin yang indah. Lantai lobinya dari granit hitam mengkilap memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai dari langit-langit setinggi tiga lantai.Desain Resort mewah itu, perpaduan sempurna antara kemewahan Eropa dan kehangatan nusantara.Dua mobil sedan mewah berhenti di depan pintu utama. Disambut oleh para jajaran eksekutif Resort. Pintu dibuka para oleh penjaga Resort. "Selamat datang, Pak Reyvan dan semuanya ...." Langsung disambut serentak sembari mengangguk hormat.Tak ada simulasi, tapi gerakan kaki Reyvan dan David serentak. Kaki jenjang nan tegas mereka serentak menjulur keluar.Mereka itu turun dari mobil mewah. "Ehhem!" Reyvan dan David juga sama-sama merapikan kemejanya dengan gaya CEO cool, wajah datar dan tatapan tajam. Sebentar mereka saling lirik.Disusul dua ratu hati di hati raja mereka. Dan ... si bocah demit biang kekacauan."Ma,
Ruang sidang terasa menyesakkan bagi Marta. Bagaimana tidak? Dia duduk di kursi terdakwa sendirian, tanpa pengacara di sisinya karena Henry telah menarik seluruh dukungan hukum untuknya. "Ha--- ahhahaha-- .... Ha ha ha ha ha ...." Wanita itu tertawa lirih sendirian dengan bahu bergetar dan mata merah sembab. Marta tampak seperti kehilangan kewarasan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusam, dan tatapannya kosong menyisir setiap sudut ruangan seolah mencari sosok yang akan menyelamatkannya. Matanya berkaca-kaca, tapi di saat yang sama dia tertawa sendiri mengerikan. Nihil. Tak ada satu pun yang bisa digunakan untuk penyelamatan diri. Pintu ruang sidang terbuka. David masuk dengan langkah tenang elegan didampingi oleh Boy. Marta sontak berdiri dari kursinya. "TANGKAP DIA! POLISI, KENAPA DIAM SAJA?! TANGKAP DIA! DIA DAVID! DIA YANG MAU MEMBUNUHKU!" teriak Marta histeris sambil menunjuk-nunjuk David dengan jari gemetar. Seketika gaduh. David menghentikan langkahnya dan mena
"Sudah sejauh mana tabungan kecebong di perutmu? Sudah sampai tahap ada dua mata, hidung, tangan, atau baru sebatas niat? Berandalan ini sebenarnya paham nggak sih cara buat adonan anak?"DUK! David menendang kaki Reyvan dan melotot tajam.Sedang Irish tersipu, tangannya refleks mengusap perutnya yang masih rata. Mulutnya sudah berbuka mau menjawab,Tapi David lebih dulu menyambar. "Tidak ada urusannya denganmu, Rey! Urusi saja anakmu yang mirip demit itu, jangan mengurusi produksi di dalam perut istriku!" Suaranya meninggi."Lho, aku ini peduli! Aku butuh teman main untuk Galaxy supaya dia tidak terus-terusan menginterogasi orang dewasa! Teman tapi mesra yang berujung pelaminan." Reyvan tak kalah sengit.Keduanya kembali terlibat dalam perdebatan tegang dengan kata-kata sarkas yang begitu manis penuh kasih sayang. Wkwkwkw ....Amber dan Irish hanya bisa saling tatap, lalu mereka kompak menggelengkan kepala melihat tingkah suami masing-masing.Tanpa mengeluarkan suara, Amber memberi k
"Operasi otak? Amnesia? Tidak ... Edwin harus bangun! Dia harus bangun untuk membalaskan dendamku!" Marta meracau, kini sambil memeluk lututnya, bergoyang maju-mundur di lantai. "Kalian semua bersekongkol menjauhkanku dari anakku! Henry, kamu pria iblis! Kamu membiarkan anakmu hancur hanya untuk membela anak sialan itu!" Pengacara Henry menatap muak, lalu merapikan jasnya. "Teriakan Anda tidak akan mengubah diagnosis dokter, Nyonya. Dan juga tidak akan mengubah keputusan cerai ini." "PERGI! KELUAR KALIAN!" teriak Marta sambil melemparkan pecahan tablet ke arah mereka. "Aku tidak butuh kalian! Aku akan keluar dari sini dan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!" "Penyobekan kertas gugatan cerai tadi tidak akan mengubah apa pun, sidang tetap berjalan. Dan mengenai klausa gono-gini, Tuan Henry sudah berpesan dengan sangat tegas. Anda akan keluar dari rumah Danendra dalam keadaan yang sama persis seperti saat Anda datang pertama kali." Mata Marta melotot, raungannya terhenti s
"Nyonya Marta, harap jangan gaduh. Ada yang ingin bertemu dan menyelesaikan urusan Anda," ucap polisi itu.Marta seketika terdiam. Amarahnya yang meluap-luap berubah menjadi senyuman lebar yang terlihat mengerikan di wajahnya yang berantakan. Dia tertawa kecil sambil merapikan rambutnya yang semrawut dengan jari-jarinya yang gemetar."Aku tahu ... aku tahu kalian akan datang," bisik Marta dengan suara serak. Matanya binar seperti orang frustasi yang baru saja melihat cahaya di ujung terowongan.Lalu, Marta mendekat ke arah meja sambil menatap tangan kanan Henry dan pengacara itu. "Pasti suamiku yang menyuruh kalian, kan? Dia pasti sudah membereskan semuanya. Katakan padaku, kapan aku bisa keluar? Sekarang? Apa mobil jemputanku sudah ada di depan?"Dia tidak menyadari kalau tatapan kedua pria di depannya sangat dingin dan datar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan kebebasan yang dia bayangkan.Tangan kanan Henry dan pengacara itu duduk tegak dengan wajah datar, me
BRAKKK! Marta menggebrak meja dengan mata nyalang dan deru napas berat.Mereka ada di ruang pertemuan khususLalu, Marta berdiri dengan mata melotot yang hampir keluar, menatap asistennya seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup."APA KATAMU?! ULANGI SEKALI LAGI!" teriak Marta.Asisten itu menelan ludahnya kasar dan mengendurkan dasinya dengan wajah menahan jengkel."Ke mana perginya bocah itu?! Aku sudah mengeluarkan ratusan juta untuk menyewa preman-preman itu, dan kamu bilang dia hilang begitu saja?!" bentak Marta sambil menunjuk wajah asisten itu.Asisten Marta yang duduk di depannya masih sedikit menunduk, tapi jemarinya mengepal kuat di atas pangkuan. Di dalam dadanya, lahar kemarahan sudah mencapai tenggorokan. Dia sudah muak menjadi pelampiasan setiap kali rencana wanita gila ini berantakan."Jawab, Bodoh! Kenapa kamu diam seperti patung?!" Marta kembali membentak.Asisten itu menarik napas berat dan mulai membuka mulutnya, tapi--"Kamu ini benar-benar tidak becus! Memilih







