로그인Sinar matahari sore Surabaya menembus kaca depan minibus yang membelah kemacetan jalanan Genteng. Tiga hari sudah terlewati dan menandakan agenda audit resmi telah selesai. Masih ada delapan belas jam tersisa sebelum penerbangan pagi pertama membawa mereka kembali ke rutinitas di Medan.
Pusat oleh-oleh sore itu bising dan sesak. Beberapa dokter sudah ber
Napas Sena berembus memburu, tertahan di balik dada bidang Aldi yang mengurungnya rapat di balik pintu kamar yang terkunci. Aroma maskulin bercampur khas pria itu menguasai indra penciumannya, memabukkan sekaligus melumpuhkan seluruh pertahanan diri Sena yang tadi sempat meletup-letup di teras depan. Usapan lembut jemari tegap Aldi di lehernya bergerak kian intens, menyisakan desiran hangat yang membakar permukaan kulitnya. Namun, sebelum kehangatan itu tereskalasi lebih jauh, nada dering nyaring dari ponsel kerja Aldi di saku kemejanya memecah keheningan kamar. Aldi mendecak pelan, menghentikan pergerakannya walau matanya masih mengunci wajah Sena yang merona hebat. Pria itu merogoh ponselnya, menatap layar yang menampilkan panggilan darurat dari ruang bersalin dan
Dapur dan teras depan yang baru saja menjadi saksi kepergian Aldi masih menyisa hawa dingin yang menusuk. Bisikan tajam Sofia yang meremehkan statusnya masih menggantung di udara, menantang harga diri Sena hingga ke batas teratas. Namun, alih-alih menunduk pasrah seperti biasa, Sena menarik napas panjang, meluruskan pundaknya, dan menatap lurus wanita paruh baya di hadapannya tanpa kedipan."Maaf, Ma. Atau jika Anda tidak berkenan, saya bisa panggil Bu Sofia saja seperti sebelumnya," ucap Sena dengan suara rendah namun begitu tenang dan tertata. "Apa Ibu pikir saya begitu cinta dengan Mas Aldi? Tentu saja tidak." Langkah Sofia mendadak terhenti. Manik matanya membelalak tak percaya mendengar nada bicara menantunya yang mendadak berubah drastis."Maksud kamu?" Rahang Sofia mulai mengeras, menandakan amarah yang mulai membakar dadan
Setelah keheningan menekan di lorong samping menguap, Aldi melangkah kembali ke meja makan bersama Bian yang mengekor dengan wajah kaku. Ketegangan yang tersisa seketika teralihkan oleh suara klakson bus sekolah yang berbunyi nyaring di depan gerbang utama. Momen keberangkatan anak-anak seketika mencairkan hawa dingin di ruangan. Freya dan Zio bergantian menyalami Fahri dan Sofia yang menyambut mereka dengan senyum penuh kasih. Zio pun tak lupa mendekati Sena, menarik pelan ujung bajunya."Tante Sena, bekal waffle-nya sudah masuk tas, kan? Terima kasih ya, Tante," bisik Zio polos.Sena mengusap lembut pipi Zio sembari tersenyum hangat. "Sudah, Sayang. Belajar yang rajin ya di sekolah." Sebelum melangkah keluar menuju bus, Freya dan Zio menghampiri B
"Jaga bicara kamu, Sofi. Ada cucu-cucu kita di sini," tegur Fahri tegas namun rendah. Pria itu menatap istrinya dengan pendar peringatan yang tajam, meminta Sofia agar tak memancarkan aura permusuhan di hadapan anak-anak yang masih lugu. Sebelum Sofia sempat membalas, derap langkah teratur terdengar dari arah koridor. Aldi muncul dengan kemeja kerja yang sudah rapi, menyangga tubuh mungil Chika di dada bidangnya. Kini pandangan mata tajam Aldi seketika menyapu seluruh ruangan, membaca ketegangan yang menggantung pekat dalam sekali lirik. Tanpa berniat membuang energi meladeni raut keras ibunya, Aldi langsung mengambil kendali penuh. "Bik Nah, Bik Mirna, tolong siapkan sarapan di meja sekarang. Sebentar lagi bus sekolah Freya dan Zio sampai," perintahnya tenang namun sarat intimidasi yang tak terbantahkan.“Siap, Pak Dokter,&
Suasana di dalam kamar itu terasa makin panas. Aldi sama sekali tak berniat melepaskan Sena dari pangkuannya. Di atas dinginnya lantai, kehangatan tubuh mereka justru beradu intens."Mas... nanti ada yang dengar," bisik Sena terbata. Napasnya tersendat saat jemari tegap Aldi merengkuh pinggangnya makin erat, menyapu lembut bibirnya yang sedikit terbuka. Aldi merendahkan posisinya, menatap dalam sepasang mata Sena dengan pendar intim yang membara. "Biarkan saja. Ini rumah saya, dan kamu istri sah saya, Senara," bisiknya dengan suara serak nan berat. "Jangan coba-coba menghindar lagi." Tanpa memberi ruang untuk membantah, Aldi menyambar bibir Sena secara dominan dan penuh kepemilikan. Lenguhan halus lolos dari tenggorokan Sena saat ciuman itu makin menuntut. Sebelum
Aldi menggeleng ragu lalu mempercepat laju kemudinya hingga satpam yang berjaga buru-buru menghampiri. Pria berseragam safari itu lantas berkata, "Lapor, Pak Dokter. Nyonya Sofia dan Pak Fahri baru saja sampai. Diantar sama adiknya Pak Dokter." Aldi mengangguk tanpa bersuara. Dia membelokkan kemudi, memarkirkan mobil tepat di samping kendaraan tamu yang baru tiba. Sementara Sena hanya bisa terdiam, meremas jemarinya sembari menunggu arahan Aldi. Namun, suaminya itu tetap bungkam, membawa keheningan yang menyesakkan bahkan hingga langkah kaki mereka tiba di ambang pintu masuk utama."Nah, itu dia orangnya baru datang," sambut Sofia begitu menangkap sosok keduanya. Sena refleks mengangguk canggung. Dia buru-buru mengulurkan tangan, menyalami Fahri dengan sangat sopan







