Share

78. Calon Pacar?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-09-09 18:05:01

            Sena mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja kaca area lounge lantai lima. Mangkuk sup di depannya sudah bersih. Di seberangnya, Mery masih terkekeh mendengar lelucon Rendy yang membahas kejadian di toilet bandara,

            Sena ikut tersenyum tipis. Pandangannya bergulir ke sudut lorong dekat lift. Cahaya lampu dinding yang remang menangkap bayangan pria

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   120. Kamu Cinta Sama Saya?

    "Siapa yang merajuk? Saya?" tunjuk Sena pada dirinya sendiri dengan mata melotot.Aldi pun mengangguk cepat. "Kalau tidak, kenapa kamu terkesan menghindari saya?""Enggak kok," bantah Sena cepat. Memanfaatkan celah dari gerakan Aldi yang sedikit melonggar, gadis itu berhasil kabur dari kungkungan pria itu dan bersiap kabur menuju pintu.Hingga kemudian..."Maafin saya," ucap Aldi pelan, menghentikan langkah Sena yang baru berjalan dua tapak. "Saya tidak ada maksud untuk mempermalukan kamu tadi." Sena menghentikan langkahnya, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Ia berbalik setengah badan, memandang pria berdada bidang itu dengan sisa kejengkelan yang masih menumpuk."Iya iya," sahut Sena yang masih kesal. "Lain kali gak usah ajakin saya tidur bareng." Sena langsung mengatupkan

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   119. Ada Yang Merajuk

    "Kenapa, hah? Saya 'kan udah ingatin dari awal kalau tidur saya... gak normal." Suara Sena memelan di akhir kalimat. Mendengar itu, Freya langsung memasang wajah waspada, sedangkan Aldi memudarkan senyumnya. Alhasil Sena lekas pamit ke kamarnya pada Freya dan pergi begitu saja dengan langkah cepat yang kentara sekali dipaksakan."Aduh, Pak Dokter sih," keluh Bik Mirna sambil geleng-geleng kepala melihat drama pagi itu. Aldi hanya meringis mengusap tengkuknya, sedangkan Freya menutup mulutnya menahan tawa lalu menyambar handuk untuk mandi. Rasa malu yang membakar dada membuat Sena memutar otak mencari jalan keluar secepatnya dari rumah itu. Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung mandi dan berganti pakaian, menyambar tas, lalu melangkah lebar-lebar menuru

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   118. Ide Absurd Aldi

    "Aku udah gede, Pa." Freya bahkan menambahkan gelengan kepala untuk menolak ide absurd papanya barusan. Sementara Sena hanya meringis, bingung harus merespons bagaimana. Namun, Aldi malah tampak begitu santai."Loh kenapa memangnya? Kita 'kan tidurnya bertiga.""Mas," protes Sena dengan suara setengah berbisik yang tentu saja bisa didengar oleh Freya. "Saya itu tidurnya banyak makan tempat, loh. Yang ada kalian bakalan keganggu nantinya.""Please, Senara. Semua demi Freya," Aldi malah memelas tanpa beban, mengabaikan tatapan tak percaya dari istri dan anak sulungnya. "Atau kita tidurnya di bawah saja? Pakai kasur lipat maybe?"Mau tak mau akhirnya Sena pasrah. Di sinilah mereka sekarang. Ketiganya berbaring berjejer di kasur lipat tebal yang digelar di lantai kamar Freya. Susunannya dari kiri ke kanan

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   117. Hasilnya Sudah Keluar

    Tubuh Sena membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan, tersapu oleh gelombang terkejut saat lengan kekar Aldi merengkuh tubuhnya tanpa peringatan. Aroma maskulin yang bercampur dengan hawa dingin malam merangsak masuk ke indra penciumannya, terasa begitu pekat dan intim. Selama beberapa detik, ia hanya bisa berdiri kaku di balik pintu kamar yang terbuka separuh. Sena mencoba memegang kedua lengan Aldi, berniat menolak dan mendorong pria itu pelan untuk melepaskan diri. Namun, sebelum sempat menyuarakan protesnya, Aldi mulai bersuara."Hasilnya sudah keluar," bisik Aldi dengan suara yang hampir tak terdengar, bergetar tipis di dekat telinga Sena. "Freya... Dia memang anak kandung saya."Kata-kata itu meluncur bersama helaan napas lega yang begitu berat dari d

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   116. Sampai Kapan Pun

    "Tante buatin waffle cokelat keju untuk bekal Zio dan Chika," kata Sena begitu melihat Freya masuk ke ruang makan. Mumpung pagi itu yang muncul hanya mereka berdua, Sena memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan anak sulung Aldi tersebut."Kata Bik Mirna kamu kurang suka cokelat. Yang ini... cuma keju aja. Mau dibawa gak?" Kali ini suara Sena sedikit terbata, gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya usai berucap demikian.Freya tidak menjawab, tetapi dia mengulurkan tangan untuk menerima kotak bekal berwarna lilac dari tangan Sena. "Thanks.""Very welcome, Fre." Sena mengulum senyum ramah saat tangan Freya memasukkan kotak tadi ke dalam tasnya. Tak lama kemudian, keriuhan kecil memecah kecanggungan saat Chika dan Zio masuk ke ruang makan. Suara celoteh riang kedua anak itu mendadak menghidupk

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   115. Tahu Apa Kamu??

    "Mas Aldi tadi ketemu sama Kak Bian ya di depan tadi?" Sena malah balik bertanya, nada suaranya terdengar sangat tenang. Aldi tak menjawab. Alisnya berkerut tipis, tertegun sejenak karena Sena menolak untuk dipojokkan begitu saja."Kenapa kamu kelihatan benci banget sama Kak Bian, Mas?" tanya Sena lagi, santai namun menusuk. "Dia itu adik Mas sendiri, walaupun kalian beda ibu.""Jangan sok tahu kamu," sahut Aldi dengan suara rendah yang amat dingin, matanya mengeras. "Ibunya datang merebut posisi mama saya. Dan kamu minta saya bersikap biasa saja pada anak dari wanita itu?" Sena terdiam sejenak mencerna kalimat sinis yang sarat akan luka masa lalu itu. Namun, bukannya mundur, Sena justru mengulum senyum tipis, senyuman hambar yang dibalut keberanian."Saya kenal Kak Bian sejak masuk SMA. Gimana bisa saya percaya sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status