Share

Bab 6 - Terseret Karma

Author: Pena Ilusi
last update Last Updated: 2024-08-23 16:44:43

"Argh! Sakit."                                    

Ujung hidung Kanaya menangkap aroma yang paling tidak dia sukai sepanjang hidup. Aroma pembersih ruangan yang bercampur obat, juga pendingin ruangan.

Saat dia berjuang untuk bangkit, sekujur tubuhnya terasa berat dan tidak bisa bergerak.

Dia baru tersadar kalau beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya.

"Bagaimana aku bisa berada di sini?" gumamnya sembari mencoba mengingat sesuatu yang tertinggal.

Tidak lama dari itu, kemunculan Arkana secara perlahan membantu menyegarkan proses memorinya.

"Syukurlah kau sudah sadar," ucap pria itu dengan tarikan napas lega.

Jika Arkana tampak mulai bisa mengontrol emosinya dengan baik, justru tidak dengan Kanaya.

Tubuh gadis itu terlihat sangat lemah, tetapi ekor matanya bisa terbaca dengan jelas bahwa dia merasa tidak nyaman saat mendapati kehadiran Arkana.

"K-kau di sini?" Baginya ini momen terburuk yang pernah ada. Dia tidak suka menjadi tidak berdaya di depan lelaki yang pernah menyakitinya. "B-bukannya kita sudah berpisah tadi?"

Arkana tersenyum miris. Mendengar kata 'tadi' yang diucapkan Kanaya, membuatnya tak tahan untuk tidak menjelaskan sesuatu kepadanya.

"Tadi? Bagaimana kau bisa berpikir kalau kejadian itu baru saja terjadi, padahal ragamu sudah terkapar di sini sejak dua mingguan?" sentil Arkana dengan nada kelakar, memicu rasa terkejut pada Kanaya.

“D-dua minggu?” Sontak, Kanaya terkejut bukan main. "Ah, memangnya aku kenapa dan bagaimana mungkin bisa tak sadarkan diri selama itu?"

"Kau bahkan tidak pernah tahu betapa susahnya aku berjuang membagi waktuku untuk menjagamu siang dan malam." Arkana kembali berbicara dengan nada sedikit lunak walau terkesan datar. "Semua ini karena keras kepalamu itu, padahal sudah kuperingatkan tentang karma Rosellie yang tidak main-main. Akan tetapi, kau masih saja melawan. Sekarang, lihatlah apa yang terjadi padamu."

Kanaya terdiam sambil mencoba mencerna setiap perkataan Arkana yang dirasa ada benarnya.

Satu yang membuatnya gagal paham, harusnya Arkana sudah menghubungi pihak keluarga Kanaya, daripada susah payah menunggu sendirian selama kurang lebih dua minggu.

"Oh, maafkan aku sudah membuatmu sulit." Kanaya berucap lirih sambil menarik napas berat. "T-tapi tidak perlu repot begitu. Harusnya kau kontak saja si Bani lewat ponselku," lanjutnya lemah, tetapi bernada sensitif.

Jujur, emosi Kanaya saat ini memang sedang labil. Jiwa itu kembali terpuruk saat mendapati raganya sedang tidak baik-baik saja.

Di balik itu, dia sangat berharap Arkana bisa segera pergi dari hadapannya. Namun, lelaki bertubuh jangkung tersebut memiliki alasan yang lebih kuat terhadap tindakannya.

"Kurasa otakmu bisa nalar, kan? Karma Rosellie itu bisa merenggut nyawa siapa pun yang membangkang. Jika kau saja mengalami hal begini, lalu bagaimana denganku yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu?"

Arkana sekali lagi melempar perkataan yang terkesan menyudutkan.

“….” Kanaya hanya bisa terdiam, berusaha mencerna perkataan panjang Arkana.

“Aku tidak ingin menjadi korban seperti dirimu, apalagi sampai membuang waktu berharga bersama putriku hanya untuk terkapar di rumah sakit," tekannya mengelak.

Kanaya meringis sambil melepas senyum getir. "Ya, memang ini salahku. Tapi kau bisa memanggil Bani untuk menemaniku di sini agar tidak mengganggu waktumu," sangkalnya menanggapi kalimat pedas Arkana.

Meski menyadari kecerobohan itu, dia tetap bersikukuh dalam ketidakberdayaannya. Mencari alasan agar tidak lagi terhubung dengan lelaki itu.

Namun, lelaki itu seolah tidak ingin memberinya kesempatan kedua untuk melakukan kecerobohan.

"Sudah, Naya. Jangan mengalihkan pembicaraan. Mulai sekarang menurutlah. Pulang bersamaku dan tinggal denganku."

Lagi, Arkana menekan setiap perkataannya membuat Kanaya menatap sendu ke arahnya.

"Lalu bagaimana dengan istrimu, dan apa kabar pula suamiku?" tanya Kanaya dengan rasa letih.

Dia tidak ingin terlibat dalam hubungan aneh yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya sebagai gadis suci yang bermartabat.

Kanaya masih melirik canggung kala pria itu melepas tawa ejekan.

"Hentikan omong kosongmu. Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Kau masih sama seperti dulu … Ratu Kanaya Rozana yang belum menikah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 35 - Flashback

    Flashback Sore hari sebelum memasuki malam Tahun Baru saat hujan lebat mengguyur kota Bougenville, Arkana terlihat sedang duduk di kursi ruang owner gedung kantor Atmaja Group. Di tengah kesibukan menyelesaikan beberapa pekerjaan, asisten Sena mendatanginya, lalu menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat. "Tuan, tim kami menemukan bukti, semalam Nyonya Bella tertangkap kamera pengawas. Dia sedang bermesra dengan seorang pria di kamar VIP hotel Maestro."Wajah Arkana terlihat membeku. Cukup lama dia berpikir lalu akhirnya berbicara."Semalam Rozana terbangun dan menangis sendirian karena memimpikannya, tapi dia justru pergi menikmati kesenangan bawah perutnya bersama bajingan di luar sana?"Dengan tegas dia menyambut amplop tersebut dari tangan Sena dan langsung melepas simpulnya. "Lalu apa maksud dia menggodaku di ruang kerja pagi tadi dengan berpakaian seksi dan warna make up berani?" gerutunya lagi dengan nada paling rendah, memancarkan aura dingin mencekam yang hanya direspons o

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 34 - Kaku Vs Ceria

    "Kau ada di sini?" Suara Kanaya jatuh begitu rendah, dingin dan cukup menegang. Dia tak tahu sejak kapan sosok kaku yang baru saja digosipkan kini berdiri menjulang, begitu dekat, membawa aroma malam dan hujan yang belum sepenuhnya menghilang. "Naya, kau teruskan saja dengan dia. Aku pulang duluan, ya." Fera yang berdiri di samping segera memeluk sahabatnya seraya memberi ucapan pamit dan Kanaya hanya mengangguk samar, tidak berdaya menahan langkah gadis itu mengingat dirinya saja sedang berada dalam ancaman Arkana Andromeda, suami sumpahan karma Rosellie-nya. "Kau hati-hati di jalan, Fera."Kanaya membuang napas kasar, mencoba menetralkan perasaan sendiri saat bapak satu anak itu menatapnya lama, cukup lama. Pandangannya tidak terbaca seperti dinding tak kasat mata."Menurutmu," ucap Arkana akhirnya, cukup datar sambil merogoh dua tangannya ke saku mantel yang dia kenakan, "malam tahun baru begini hanya kau sendiri yang punya kesenangan di luar?"Kanaya terkekeh hambar, mencoba m

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 33 - Sahabat Penghibur

    Aroma jajan kuliner khas Asia memenuhi warung kecil di sudut taman kota. Bercampur Denting sendok yang membentur garpu dan percakapan pelan para pengunjung termasuk Kanaya dan Fera. Dua sahabat itu kini duduk berjajar menghadap jalan raya. Mereka baru bertemu setelah beberapa bulan terpisah dari tempat kerja lama."Aku sangat merindukanmu, Fera." Kanaya berseru riang sambil menyuapkan potongan daging hangat ke mulutnya dan mengunyah cepat. "Kau tahu, aku bahkan tidak pernah makan sebebas ini," tambahnya lagi tanpa peduli pada suasana pengap para pengunjung yang membludak."Oh, Sayang, apa bedanya denganku. Aku hampir dipecat gara-gara tidak fokus melakukan pekerjaan," balas Fera dengan wajah memelas. Kanaya tertawa lantang, nada suaranya kedengaran sumbang di telinga Fera."Ya, aku mengerti, kita berdua memang sudah ditakdirkan untuk tidak berpisah selamanya." Kanaya kembali melancarkan guyonan, namun terdengar seperti dipaksakan. Pun tatapan mata yang redup membuat sahabatnya itu sep

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 32 - Pembicara Misterius

    "Keluar." Tiba-tiba Arkana memerintah dengan suara rendah. Tanpa menunggu lama, gadis itu bangkit dan berjalan cepat menuju pintu. Tangan gemetarnya baru saja meraih gagang pintu saat suara berat Arkana kembali terdengar, membuat dirinya terpaku di tempat."Dengar, Kanaya. Jika kau berpikir dengan merusak rumah tanggaku membuatmu menang maka kau salah besar. Justru aku yang akan membuat hidupmu menderita selamanya."Gadis itu terdiam, tidak ada perlawanan atau pun pembelaan. Hanya sisa isakan dalam sunyi dengan napas yang tertahan. Lekas dia membuka pintu dan keluar dari sana, membawa luka baru yang menoreh jiwa. Betapa tidak, pria itu menuduhnya dengan kejam atas apa yang tidak dia perbuat."Semua itu tindakan nenek Emily. Aku saja baru mengetahui kebenaran ini setelah dibawa nenek ke rumah besar." Pemilik wajah ayu itu terisak sambil berlari menuruni tangga menuju taman belakang. Dalam suasana hati yang kacau, dia terus melangkah tak tentu arah. Namun, suara berisik seperti benda j

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 31 - Tuduhan

    Kanaya terkejut mendengar suara pintu yang dibanting, terasa seperti tamparan keras mengenai wajahnya. Apa yang dia pikirkan? "Ya, ampun," batinnya lara. Dia sadar, wanita yang baru keluar dari ruangan ini adalah istri sah Arkana, Bella yang sudah dua tahun membina rumah tangga rukun harmonis. Berikut kehadiran Rozana kecil di tengahnya telah menambah lengkap kebahagiaan mereka. Sekarang dirinya pula tercatat sebagai istri dari sah pria yang sama dan diketahui baru saja bertengkar dengan istri pertama di hadapannya. "Lelucon apa ini?" Hati Kanaya berkeluh lagi. Hal yang membedakan dirinya dengan Bella, Kanaya bukan siapa-siapa, tak ada kebebasan penuh dalam alur hidupnya dengan Arkana. Dia juga tidak berhak menuntut kebahagiaan apalagi keinginan untuk bahagia bersamanya. Kanaya hanya korban, bulan-bulanan dari permainan dunia berkedok karma Rosellie. "A-aku istri kedua... astaga...." Kanaya menepuk jidat, "gelar mana lagi yang paling buruk di dunia ini selain pelakor?!" keluhnya

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 30 - Umpan Pagi Hari

    "Kanaya. Pagi-pagi kau sudah memancingku dengan penampilan seksimu ini, hmm?" tekannya, parau dengan napas berat yang memburu. Sekilas, wanita cantik bersanggul rapi itu tampak tersenyum. Namun, senyumnya seketika runtuh dan berganti menjadi wajah datar dengan sorot mata dingin mencekam."Sayang, nama siapa yang kau sebut?" tanyanya dingin.Arkana tersentak, sesaat kesadarannya memulih. Pikirannya yang belum tuntas tentang Kanaya kini disadarkan oleh aroma parfum yang entah mengapa paling ingin dia jauhi. "Bella." Arakana menyebutnya datar sambil melepas lengan wanita modis itu, membiarkan tubuhnya lolos hingga terhuyung."Ah, kau menyakitiku, Sayang!" protesnya kesal sambil menghambur ke tubuh Arkana, mengulur pelukan ke pinggangnya, menyandarkan kepala di dada bidang itu, lalu mendekapnya bertambah erat. "Jujur padaku, apa semalam kalian tidur berdua," serangnya gencar membuat sedikit Arkana terpancing."Jaga ucapanmu, Bella. Siapa yang kau maksud?"Wanita itu tertawa kecil, suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status