Masuk"Argh! Sakit."
Ujung hidung Kanaya menangkap aroma yang paling tidak dia sukai sepanjang hidup. Aroma pembersih ruangan yang bercampur obat, juga pendingin ruangan. Saat dia berjuang untuk bangkit, sekujur tubuhnya terasa berat dan tidak bisa bergerak. Dia baru tersadar kalau beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya. "Bagaimana aku bisa berada di sini?" gumamnya sembari mencoba mengingat sesuatu yang tertinggal. Tidak lama dari itu, kemunculan Arkana secara perlahan membantu menyegarkan proses memorinya. "Syukurlah kau sudah sadar," ucap pria itu dengan tarikan napas lega. Jika Arkana tampak mulai bisa mengontrol emosinya dengan baik, justru tidak dengan Kanaya. Tubuh gadis itu terlihat sangat lemah, tetapi ekor matanya bisa terbaca dengan jelas bahwa dia merasa tidak nyaman saat mendapati kehadiran Arkana. "K-kau di sini?" Baginya ini momen terburuk yang pernah ada. Dia tidak suka menjadi tidak berdaya di depan lelaki yang pernah menyakitinya. "B-bukannya kita sudah berpisah tadi?" Arkana tersenyum miris. Mendengar kata 'tadi' yang diucapkan Kanaya, membuatnya tak tahan untuk tidak menjelaskan sesuatu kepadanya. "Tadi? Bagaimana kau bisa berpikir kalau kejadian itu baru saja terjadi, padahal ragamu sudah terkapar di sini sejak dua mingguan?" sentil Arkana dengan nada kelakar, memicu rasa terkejut pada Kanaya. “D-dua minggu?” Sontak, Kanaya terkejut bukan main. "Ah, memangnya aku kenapa dan bagaimana mungkin bisa tak sadarkan diri selama itu?" "Kau bahkan tidak pernah tahu betapa susahnya aku berjuang membagi waktuku untuk menjagamu siang dan malam." Arkana kembali berbicara dengan nada sedikit lunak walau terkesan datar. "Semua ini karena keras kepalamu itu, padahal sudah kuperingatkan tentang karma Rosellie yang tidak main-main. Akan tetapi, kau masih saja melawan. Sekarang, lihatlah apa yang terjadi padamu." Kanaya terdiam sambil mencoba mencerna setiap perkataan Arkana yang dirasa ada benarnya. Satu yang membuatnya gagal paham, harusnya Arkana sudah menghubungi pihak keluarga Kanaya, daripada susah payah menunggu sendirian selama kurang lebih dua minggu. "Oh, maafkan aku sudah membuatmu sulit." Kanaya berucap lirih sambil menarik napas berat. "T-tapi tidak perlu repot begitu. Harusnya kau kontak saja si Bani lewat ponselku," lanjutnya lemah, tetapi bernada sensitif. Jujur, emosi Kanaya saat ini memang sedang labil. Jiwa itu kembali terpuruk saat mendapati raganya sedang tidak baik-baik saja. Di balik itu, dia sangat berharap Arkana bisa segera pergi dari hadapannya. Namun, lelaki bertubuh jangkung tersebut memiliki alasan yang lebih kuat terhadap tindakannya. "Kurasa otakmu bisa nalar, kan? Karma Rosellie itu bisa merenggut nyawa siapa pun yang membangkang. Jika kau saja mengalami hal begini, lalu bagaimana denganku yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu?" Arkana sekali lagi melempar perkataan yang terkesan menyudutkan. “….” Kanaya hanya bisa terdiam, berusaha mencerna perkataan panjang Arkana. “Aku tidak ingin menjadi korban seperti dirimu, apalagi sampai membuang waktu berharga bersama putriku hanya untuk terkapar di rumah sakit," tekannya mengelak. Kanaya meringis sambil melepas senyum getir. "Ya, memang ini salahku. Tapi kau bisa memanggil Bani untuk menemaniku di sini agar tidak mengganggu waktumu," sangkalnya menanggapi kalimat pedas Arkana. Meski menyadari kecerobohan itu, dia tetap bersikukuh dalam ketidakberdayaannya. Mencari alasan agar tidak lagi terhubung dengan lelaki itu. Namun, lelaki itu seolah tidak ingin memberinya kesempatan kedua untuk melakukan kecerobohan. "Sudah, Naya. Jangan mengalihkan pembicaraan. Mulai sekarang menurutlah. Pulang bersamaku dan tinggal denganku." Lagi, Arkana menekan setiap perkataannya membuat Kanaya menatap sendu ke arahnya. "Lalu bagaimana dengan istrimu, dan apa kabar pula suamiku?" tanya Kanaya dengan rasa letih. Dia tidak ingin terlibat dalam hubungan aneh yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya sebagai gadis suci yang bermartabat. Kanaya masih melirik canggung kala pria itu melepas tawa ejekan. "Hentikan omong kosongmu. Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Kau masih sama seperti dulu … Ratu Kanaya Rozana yang belum menikah."Pagi itu Kanaya kembali bergulat dengan keraguannya sendiri—tetap tinggal atau kembali ke Bougenville. Kebimbangan itu terlalu jelas terlihat hingga Bani dan Fera akhirnya mengajaknya berembuk. Tak lama, mereka sudah berada di studio kecil milik Fera.Kanaya melangkah masuk dengan masih memakai jas hitam berkelas yang tergantung di bahunya—jas milik Arkana yang sempat tertinggal di badannya saat terjadi debat panjang di kafe sudut kota. Jas yang kebesaran itu sengaja dia lepas untuk disampirkan ke sandaran kursi. Bersamaan dengan gerakan itu, sebuah kertas mencuat dari saku jas tersebut. Kanaya melirik singkat, lalu meraih cepat benda tersebut, tetapi belum menelitinya lebih jauh.Lampu gantung temaram menyinari meja panjang yang berfungsi sebagai papan analisis. Laptop terbuka, beberapa lembar kertas berserakan di atasnya.Satu nama dilingkari dengan tinta hitam tebal:Laurent Garnyx. Fera menggunakan kemampuan konsultan hukumnya untuk melacak data tentang Laurent dan Royal Group.
Malam belum selesai ketika semuanya berubah sunyi. Kanaya duduk di kursi taman dekat parkiran, gaunnya masih menyentuh aspal yang dingin. Fera berdiri di sampingnya, sementara Bani mondar-mandir dengan rahang mengeras.“Kak, aku nggak asal pukul,” ujar Bani akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.Kanaya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, tetapi kini lebih tenang.“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta penjelasan.”Bani berhenti berjalan. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kembali foto yang tadi sempat dia tunjukkan pada Fera—Arkana, Rozana dan senyum keluarga yang tampak sempurna.“Komunitas kami sudah dua minggu membaca pola ini,” ucap Bani. “Timeline kemunculan Rozana nggak presisi. Bahkan Bella tidak diikutsertakan dalam pertemuan media.""Lihat saja garis wajah anak itu, lebih mirip generasi Royal Group ketimbang Atmaja." Fera akhirnya ikut bicara, lebih tenang. “Secara administratif, Rozana tercatat sah sebagai bagian dari keluarga Atmaja. Tapi administrasi
Kanaya melempar nada protes ringan dan hanya ditanggapi Arkana dengan tarikan bibir tipis. "Kali ini saja... aku akan minta hal aneh," ucapnya pelan, namun ada ketegasan di suaranya.Aroma kopi hangat dari pintu masuk kafe sudah tercium jelas, menenangkan sejenak kepala Kanaya yang penuh hiruk-pikuk reuni. Arkana memilih meja paling sudut untuk mereka berdua, memantau setiap gerak-gerik sekitar dengan mata yang tajam. Kini mereka duduk saling berhadapan.Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di meja dengan telaten. Senyumnya sederhana, namun entah kenapa meninggalkan jeda kecil pada riuh pikirannya.Uap tipis mengepul pelan. Aromanya lembut, hangat, menenangkan. Andai pikirannya semudah itu untuk ditenangkan.Kanaya mengaduk isi cangkirnya perlahan. "Kamu mau bicara apa?""Ini soal Rozana," jawab Arkana, singkat, nadanya terdengar membawa beban.Kanaya antusias mendengar nama itu disebut. "Ah, sudah lama sekali," ucapnya lirih. "Apa kabar majikan balitaku ini?
Mobil meluncur perlahan meninggalkan Hotel Aurea. Kanaya duduk di sisi kemudi, jemarinya memainkan tali tas selempang. Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal di taman belakang tadi.Sementara Arkana fokus mengemudi. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali sorot matanya menyapu sekitar—instingnya selalu waspada.“Kamu aman?” Arkana meliriknya sekilas.Kanaya menoleh sebentar, menatap garis rahangnya yang tegas, lalu mengangguk pelan.“Aku baik-baik saja.”Hening mengisi kabin mobil.Dalam diam itu, Kanaya menangkap lagi kebiasaan lama Arkana—cara dia selalu sigap, datang bertanya seperlunya, dan cara dia hadir tanpa terlihat berlebihan. Ramah diingat, pun sulit untuk diabaikan dan semua itu bermula di kota Tulip—awal perkenalan mereka. Ya, Tulip...tiba-tiba suara Rani muncul di kepalanya seperti tamu tak diundang—tawa cerewetnya, cerita tentang malam mingguan, film laga di bioskop, dan kebiasaan Arkana yang konon tak pernah lupa membelikan camilan favoritnya.Semua b
Arkana menyadari hal lain di sekitarnya—pantulan cahaya yang bergerak cepat di balik kaca ballroom. Detik berikut, semuanya berubah.Satu lagi kilatan cahaya memecah temaramnya taman, terlalu fokus dan terarah.Arkana tidak langsung menoleh, hanya rahangnya yang mengeras tipis. Dalam sepersekian detik, dia sudah bisa menangkap pergerakan dari balik semak sisi kiri taman, tepat di sudut yang cukup rendah untuk bersembunyi, tetapi mampu menangkap sebuah ekspresi."Jadi ini tujuannya," batin Arkana, napasnya seketika ditahan.Namun bukan kilatan cahaya itu yang membuat amarahnya membuncah, melainkan ketika dia mendongak ke lantai dua Hotel Aurea, dan mendapati satu siluet berdiri diam di balik dinding kaca yang memantulkan cahaya kristal chandelier. Bayangan itu tidak bergerak, hanya siaga—seolah sedang mengamati dari jauh.Arkana mengenali gerak-gerik sosok misterius itu. Dari cara dia berdiri, dan cara melempar pandangan jauhnya—seperti sedang menunggu hasil dari rencana yang sudah ter
Pintu ballroom terbuka. Embusan udara hangat bercampur musik mengalun keluar, mengiringi langkah kaki yang perlahan berhenti di ambangnya—Kanaya. Sosok yang membuat waktu Arkana terasa melambat, dunia di sekitarnya seolah meredup. Fokus Arkana hanya tertuju pada cara wanita itu berdiri—tenang, namun di matanya menyimpan keraguan halus kala melihat keberadaan dirinya di taman. Bella melirik Arkana dari sudut mata. Dia sudah bisa membaca ekspresi pria itu tanpa perlu bertanya. Dalam benaknya, dia menautkan potongan-potongan momen; bagaimana Kanaya diterima baik di tengah keluarga Atmaja, pengakuan Arkana di panggung, gelagat Renard—semua seakan membuka simpul sendiri, membuat hati Bella seketika terbakar. “Sepertinya, konsekuensi mu sudah tiba, Kana," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Arkana tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras, sementara kakinya sudah maju lebih dulu, meninggalkan Bella di belakang. Setiap langkahnya terasa berat sekaligus pasti, sepertinya keputusan i







