Masuk"Hentikan omong kosongmu. Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Kau masih sama seperti dulu … Ratu Kanaya Rozana yang belum menikah."
Mata Kanaya terbelalak dan merasa benar-benar diperdaya. "T-tapi, Arkana. I-ini —" Ucapannya tercekat di tenggorokan. Bukannya Kanaya tidak peka, melainkan hanya berupaya menghindari apa yang menjadi penyesalannya selama ini. Jika bisa memilih, dia akan memilih tidak ada dalam peristiwa maut itu ketimbang kembali pada Arkana. "Sudah, ya! Stop berdebat. Sewaktu-waktu nyawa kita bisa terancam oleh karma Rosellie, jadi lebih baik menurut saja. Daripada mempertaruhkan hidup, ada baiknya kita jalani peran suami istri ini, oke." Kanaya terdiam. Baginya ini sebuah petaka besar. Hidupnya sedang diambang kehancuran. Kenapa harus menikah dengan lelaki ini setelah dia melewati begitu banyak masalah yang merenggut semua kebahagiaannya? Sungguh perbuatan Arkana di masa lalu telah menghancurkan hidup dan kepercayaan dirinya. "Bagaimana kalau aku menolak?" "Aku akan tetap menikahimu lewat jalur hukum dan agama biar semuanya jelas," tegasnya membuat Kanaya seketika tertegun dengan wajah melongo. Sebulan berlalu, operasi pada keretakan tulang kaki dan tangan Kanaya yang sukses, kini sudah memasuki tahap penyembuhan. Kanaya dinyatakan bisa pulang setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit. "Terima kasih atas kedermawananmu," ucap Kanaya pelan saat mereka baru tiba di sebuah rumah minimalis milik Arkana. Kanaya sudah cukup paham kalau semua biaya administrasi, perawatan dan penyembuhan selama di rumah sakit ditanggung penuh oleh lelaki yang kini berstatus suaminya. "Tapi itu tidak gratis, Naya. Kau harus membayarnya dengan bekerja keras di rumahku." "Baiklah. Asal kau senang, aku tidak keberatan." Matanya serentak menoleh ke arah ruang keluarga saat sebuah pergerakan kecil seorang balita sedang mendekati Arkana. "Papa!" panggil suara mungil yang dalam perkiraan Naya, berusia kurang lebih dua tahunan, terdengar begitu menggemaskan dan membuat penasaran. Belum reda perasaan itu, dia kembali melihat kedekatan makhluk beda fase yang begitu akrab. Arkana tampak sigap merentangkan kedua tangan demi menyambut sang balita yang sudah menghambur ke dada bidangnya. "Ya, Sayang." Bocah mungil tadi tampak melirik dan tertawa imut ke arahnya, sementara Kanaya membalas itu dengan perasaan canggung. Sejenak dia tampak berpikir lalu mulai bertanya dengan nada penasaran. "Oh, ya. Kalau boleh tahu pekerjaan apa yang ingin kau berikan padaku?" Arkana tidak langsung menjawab melainkan sibuk membawa sosok kecil itu duduk ke pangkuannya. Tak lama kemudian dia angkat bicara. "Menjadi baby sitter untuknya," tunjuk Arkana pada sang batita. Lalu dengan hati-hati merangkul erat tubuh mungil itu dan mencium pipinya. "Emm, Putri Cantik Papa. Ayo, sana. Dekati Bunda." Dalam sekejap, batita gembul tadi bergerak turun dari pangkuan sang ayah lalu berlari kecil menuju Kanaya. Serentak membuat gadis itu menelan ludah kasar. Arkana benar-benar menepati janjinya. Setelah menikahi Kanaya secara resmi—tercatat di catatan sipil, pria itu bahkan memberikan panggilan ‘bunda’ pada Kanaya. "Bundaa!" Si kecil memanggil dengan penuh semangat sambil melempar tawa menggemaskan. Kanaya semakin terkesiap melihat keramahan sang bocah. "H-hai, Sayang," balasnya kikuk. Namun, meski kini dia resmi menjadi istri lelaki itu, tetapi hal itu tidak mengubah sikap dingin dan angkuh pria itu terhadapnya. "Ingat, tugas utamamu merawat anakku. Jaga kebersihan dan kesehatan Rozana setiap saat.” Sesaat, Kanaya mengerjap. “Rozana?” ulangnya dalam hati. “Arkana menamai anaknya dengan namaku?” Namun, rasa keterkejutannya itu dia tahan karena dia tidak ingin lagi terikat terlalu dalam pada Arkana. Terserah pria itu saja, mau menamai anaknya siapa. Kanaya hanya akan berupaya menjadi patuh, sebab hutang budinya pada pria itu. Arkana kemudian melanjutkan merinci pekerjaan Kanaya. “Atur juga pola makan dan waktu tidurnya. Jika terjadi apa-apa padanya maka kau yang bertanggung jawab di sini." Kanaya mengangguk, setuju. "Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik agar Rozana merasa nyaman selama kau tidak berada di rumah." Arkana mengangguk kecil dengan melempar tatapan yang kurang bersahabat. "Satu lagi, jangan lupa laksanakan tugasmu dengan benar atau hutangmu itu tidak akan terpotong setiap bulannya." "Oke, aku akan mengerjakan semuanya dengan baik, Tuan Arkana." "Bagus." Sepeninggalan Arkana, Kanaya segera memberikan sarapan kepada Rozana, tetapi bocah itu sepertinya sedang tidak berselera makan hingga berulang kali dia menolak dengan suara paling menggemaskan. "Gak ma-u." Kanaya memutar otak. Dia pernah melihat tetangganya dulu di kampung yang suka membujuk makan anaknya ke taman. Tanpa menunggu lama, Kanaya langsung mengajak Rozana bersarapan sambil bermain di taman rumah minimalis mereka. "Rozana, Sayang! Ayo buka mulutnya, aaa ...," panggilnya dengan suara manja dan Rozana langsung memeragakan contoh yang diberikan Kanaya dengan benar membuatnya tergelak kecil. "Nah, gitu, dong. Pintar anak Bunda." "Bundaa," celoteh riang bocah cantik itu sambil melompat girang di bangku taman tempat Kanaya duduk. "Kau cantik sekali, Nak. Bunda sampai iri melihat kecantikanmu ini," balas Kanaya lagi diiringi tawa renyah di sepanjang celotehannya. Keduanya terlihat begitu akrab dalam canda tawa seolah mereka memiliki kedekatan sejak lama. Teringat akan satu hal yang mengganggu pikirannya tadi, memanfaatkan kepolosan Rozana, Kanaya pun memberanikan diri bertanya, "Katakan, kenapa namamu bisa mirip dengan namaku, hmm?"Pagi itu Kanaya kembali bergulat dengan keraguannya sendiri—tetap tinggal atau kembali ke Bougenville. Kebimbangan itu terlalu jelas terlihat hingga Bani dan Fera akhirnya mengajaknya berembuk. Tak lama, mereka sudah berada di studio kecil milik Fera.Kanaya melangkah masuk dengan masih memakai jas hitam berkelas yang tergantung di bahunya—jas milik Arkana yang sempat tertinggal di badannya saat terjadi debat panjang di kafe sudut kota. Jas yang kebesaran itu sengaja dia lepas untuk disampirkan ke sandaran kursi. Bersamaan dengan gerakan itu, sebuah kertas mencuat dari saku jas tersebut. Kanaya melirik singkat, lalu meraih cepat benda tersebut, tetapi belum menelitinya lebih jauh.Lampu gantung temaram menyinari meja panjang yang berfungsi sebagai papan analisis. Laptop terbuka, beberapa lembar kertas berserakan di atasnya.Satu nama dilingkari dengan tinta hitam tebal:Laurent Garnyx. Fera menggunakan kemampuan konsultan hukumnya untuk melacak data tentang Laurent dan Royal Group.
Malam belum selesai ketika semuanya berubah sunyi. Kanaya duduk di kursi taman dekat parkiran, gaunnya masih menyentuh aspal yang dingin. Fera berdiri di sampingnya, sementara Bani mondar-mandir dengan rahang mengeras.“Kak, aku nggak asal pukul,” ujar Bani akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.Kanaya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, tetapi kini lebih tenang.“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta penjelasan.”Bani berhenti berjalan. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kembali foto yang tadi sempat dia tunjukkan pada Fera—Arkana, Rozana dan senyum keluarga yang tampak sempurna.“Komunitas kami sudah dua minggu membaca pola ini,” ucap Bani. “Timeline kemunculan Rozana nggak presisi. Bahkan Bella tidak diikutsertakan dalam pertemuan media.""Lihat saja garis wajah anak itu, lebih mirip generasi Royal Group ketimbang Atmaja." Fera akhirnya ikut bicara, lebih tenang. “Secara administratif, Rozana tercatat sah sebagai bagian dari keluarga Atmaja. Tapi administrasi
Kanaya melempar nada protes ringan dan hanya ditanggapi Arkana dengan tarikan bibir tipis. "Kali ini saja... aku akan minta hal aneh," ucapnya pelan, namun ada ketegasan di suaranya.Aroma kopi hangat dari pintu masuk kafe sudah tercium jelas, menenangkan sejenak kepala Kanaya yang penuh hiruk-pikuk reuni. Arkana memilih meja paling sudut untuk mereka berdua, memantau setiap gerak-gerik sekitar dengan mata yang tajam. Kini mereka duduk saling berhadapan.Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di meja dengan telaten. Senyumnya sederhana, namun entah kenapa meninggalkan jeda kecil pada riuh pikirannya.Uap tipis mengepul pelan. Aromanya lembut, hangat, menenangkan. Andai pikirannya semudah itu untuk ditenangkan.Kanaya mengaduk isi cangkirnya perlahan. "Kamu mau bicara apa?""Ini soal Rozana," jawab Arkana, singkat, nadanya terdengar membawa beban.Kanaya antusias mendengar nama itu disebut. "Ah, sudah lama sekali," ucapnya lirih. "Apa kabar majikan balitaku ini?
Mobil meluncur perlahan meninggalkan Hotel Aurea. Kanaya duduk di sisi kemudi, jemarinya memainkan tali tas selempang. Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal di taman belakang tadi.Sementara Arkana fokus mengemudi. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali sorot matanya menyapu sekitar—instingnya selalu waspada.“Kamu aman?” Arkana meliriknya sekilas.Kanaya menoleh sebentar, menatap garis rahangnya yang tegas, lalu mengangguk pelan.“Aku baik-baik saja.”Hening mengisi kabin mobil.Dalam diam itu, Kanaya menangkap lagi kebiasaan lama Arkana—cara dia selalu sigap, datang bertanya seperlunya, dan cara dia hadir tanpa terlihat berlebihan. Ramah diingat, pun sulit untuk diabaikan dan semua itu bermula di kota Tulip—awal perkenalan mereka. Ya, Tulip...tiba-tiba suara Rani muncul di kepalanya seperti tamu tak diundang—tawa cerewetnya, cerita tentang malam mingguan, film laga di bioskop, dan kebiasaan Arkana yang konon tak pernah lupa membelikan camilan favoritnya.Semua b
Arkana menyadari hal lain di sekitarnya—pantulan cahaya yang bergerak cepat di balik kaca ballroom. Detik berikut, semuanya berubah.Satu lagi kilatan cahaya memecah temaramnya taman, terlalu fokus dan terarah.Arkana tidak langsung menoleh, hanya rahangnya yang mengeras tipis. Dalam sepersekian detik, dia sudah bisa menangkap pergerakan dari balik semak sisi kiri taman, tepat di sudut yang cukup rendah untuk bersembunyi, tetapi mampu menangkap sebuah ekspresi."Jadi ini tujuannya," batin Arkana, napasnya seketika ditahan.Namun bukan kilatan cahaya itu yang membuat amarahnya membuncah, melainkan ketika dia mendongak ke lantai dua Hotel Aurea, dan mendapati satu siluet berdiri diam di balik dinding kaca yang memantulkan cahaya kristal chandelier. Bayangan itu tidak bergerak, hanya siaga—seolah sedang mengamati dari jauh.Arkana mengenali gerak-gerik sosok misterius itu. Dari cara dia berdiri, dan cara melempar pandangan jauhnya—seperti sedang menunggu hasil dari rencana yang sudah ter
Pintu ballroom terbuka. Embusan udara hangat bercampur musik mengalun keluar, mengiringi langkah kaki yang perlahan berhenti di ambangnya—Kanaya. Sosok yang membuat waktu Arkana terasa melambat, dunia di sekitarnya seolah meredup. Fokus Arkana hanya tertuju pada cara wanita itu berdiri—tenang, namun di matanya menyimpan keraguan halus kala melihat keberadaan dirinya di taman. Bella melirik Arkana dari sudut mata. Dia sudah bisa membaca ekspresi pria itu tanpa perlu bertanya. Dalam benaknya, dia menautkan potongan-potongan momen; bagaimana Kanaya diterima baik di tengah keluarga Atmaja, pengakuan Arkana di panggung, gelagat Renard—semua seakan membuka simpul sendiri, membuat hati Bella seketika terbakar. “Sepertinya, konsekuensi mu sudah tiba, Kana," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Arkana tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras, sementara kakinya sudah maju lebih dulu, meninggalkan Bella di belakang. Setiap langkahnya terasa berat sekaligus pasti, sepertinya keputusan i







