Se connecterAlexa bersiap untuk mandi, setelah urusan kontrak dengan Caspian selesai. Saat ini pria itu tengah sibuk dengan ponselnya, entah sedang apa Alexa tak ingin memikirkannya. Tapi tanpa sadar, ia justru memerhatikan Caspian yang terlihat tampan.
Wajahnya tegas, sorot matanya tajam. Hidung yang sempurna dan bibir yang menggoda Alexa untuk menyentuhnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, apa yang baru saja ia pikirkan? “Apa kau memikirkan sesuatu yang liar, hmm?” Alexa terkesiap, ia merasa salah tingkah sendiri. Caspian bangkit dari duduknya, melangkah perlahan dengan tatapan aneh. Langkahnya semakin dekat, membuat Alexa refleks untuk mundur. “K-kau mau apa? Berhenti disana, Caspian!” Tak ada gunanya, Caspian tak menghiraukan ucapan Alexa. Ia tetap berjalan, memaksa Alexa untuk terus mundur hingga akhirnya punggung gadis itu menyentuh dinding. “Bukan aku, tapi kau yang mau.” bisiknya tepat di telinga Alexa, membuat tubuhnya seketika merinding. “A-aku, akh-” Caspian menempelkan bibirnya pada bibir Alexa, sejenak Alexa merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia mendorong tubuh Caspian, membuat pria itu terkekeh. “Ada apa? Kau terus memandangku seolah meminta aku untuk melakukannya,” godanya. “Tidak! Aku tidak memandangmu! Aku, aku hanya–” Kalimat Alexa terpotong begitu Caspian menciumnya sekali lagi. Itu cukup untuk membuat Alexa berhenti bicara. Napas Alexa tersenggal pendek-pendek, jantungnya berdegup kencang seperti mau melompat dari dada. Ia tak berani menatap pria di depannya, perasaan tegang dan takut melingkupi dirinya. Ia harus mencari cara untuk lari dan bersembunyi, sebelum ini berjalan terlalu jauh. “Oh tidak! Ada yang mengintip di jendela.” ucap Alexa tiba-tiba, membuat Caspian sontak menoleh ke belakang. Dan kesempatan itu ia gunakan untuk lari dan masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintunya. “Sial! Pandai sekali kau rupanya, kau pikir bisa lepas dariku?” teriak Caspian, merasa ditipu. Alexa tertawa kecil, ia tak menyangka Caspian begitu mudah dikelabui. *** Alexa mengintip sebelum keluar dari kamar mandi, setelah dipikir aman, ia kemudian berjalan mengendap-ngendap menuju lemari. Kenapa ia bisa lupa tak membawa baju, dan sialnya handuk yang Caspian taruh di atas meja tadi lupa juga ia bawa. Alhasil, ia hanya menutupi tubuhnya dengan melilitkan gaun yang tadi ia pakai. Beruntung Caspian tak ada, entah kemana pria itu pergi. Alexa mencoba membuka lemari, tapi kuncinya macet. Bagaimana ini? Apa yang harus ia pakai? Tak mungkin ia memakai kembali gaunnya. “Apa? Kau tak bisa membukanya?” Alexa terlonjak kaget, lilitan yang menutupi tubuhnya terlepas. Dengan cepat ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya, berharap Caspian belum sempat melihatnya. Lagi-lagi pria itu mengintimidasi, berjalan mendekat dengan tatapan yang menurut Alexa buas. Alexa mundur, sayang kakinya tersandung hingga membuatnya terjatuh ke atas ranjang. Caspian tersenyum, seolah senang dengan pemandangan di depannya. Alexa panik, ia hendak bangkit tapi Caspian lebih duluh menindih tubuhnya. “Kau sangat seksi, membuatku gila. Tapi aku tak akan melakukannya sebelum kita menikah, pakailah ini.” bisik Caspian pelan, sambil menyesap bau tubuh Alexa. Setelah itu, ia bangkit dan berjalan menuju dapur. Alexa mengelus dadanya, perasaannya campur aduk. Ia kemudian mengambil paper bag yang diletakkan Caspian di sampingnya. Sebuah piyama dan sepasang pakaian untuk ia kenakan besok. Alexa terdiam, hatinya menangis. Caspian bahkan membelikannya pakaian, padahal ia bisa saja tak peduli. Ia menatap ke arah dapur, melihat Caspian yang tengah bersiap untuk memasak. Gadis itu kemudian memakai piyama-nya cepat, lalu menyusul Caspian ke dapur. “Kenapa kau memasak? Kau ‘kan bisa beli, uangmu banyak.” ucap Alexa, mengintip apa yang sedang dimasak Caspian. “Tentu, tapi ini spesial untukmu. Lagipula, sejak kecil aku terbiasa memasak sendiri. Sejak ibuku pergi, ayah sibuk dengan urusannya sendiri. Dan aku, aku harus mengurus diriku sendiri.” ucapnya. Alexa menatap Caspian ia, ternyata apa yang selama ini terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataannya. “Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu.” Caspian menoleh, menatap Alexa yang terlihat bersemangat. Ada perasaan aneh yang menyeruak dari dalam dadanya, seperti desiran hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya. “Alexa,” panggilnya. Alexa menoleh, senyum halus melengkung di wajahnya. “Ya?” “Jangan berhenti untuk hidup, agar kau tak menyesal.” Bersambung...Caspian menyeret Alexa masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexa, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup kuat untuk menyampaikan satu hal: ia sedang tidak ingin dibantah.Alexa duduk kaku di kursi penumpang. Dadanya naik turun cepat, bukan karena lelah, melainkan karena kata-kata yang menumpuk di tenggorokannya sejak siang tadi. Sejak Caspian terlalu sibuk. Sejak ia merasa menjadi istri yang hanya hadir di sela jadwal pria itu.Mobil melaju cepat, terlalu cepat.Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya gerbang rumah besar itu terbuka dan mobil berhenti di pelataran. Begitu pintu tertutup, Alexa menarik tangannya dari Caspian dan melangkah lebih dulu masuk.Langkahnya tegas. Tidak ragu.Begitu pintu utama tertutup, Alexa berbalik.“Berapa lama lagi aku harus seperti ini, Caspian?” suaranya bergetar, tapi bukan lemah. “Aku istrimu. Bukan dekorasi rumah yang kau tinggalkan setiap hari.”Caspian menutup pintu perlahan. Napasnya ditaha
Hari-hari setelah pernikahan berjalan terlalu… normal.Bukan normal yang menenangkan, melainkan normal yang terasa asing bagi Alexa. Tidak ada lagi sorot kamera, gaun-gaun mewah, atau bunga-bunga putih yang memenuhi setiap sudut hidupnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas dan kesibukan Caspian yang semakin hari semakin menyita seluruh waktunya.Pagi-pagi buta, Caspian sudah meninggalkan rumah. Malam hari, ia pulang dengan wajah letih, jas yang belum sempat dilepas, dan ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Alexa sering menunggunya di ruang makan, duduk rapi dengan makan malam yang mulai mendingin, hanya untuk akhirnya mendengar suara langkah kaki Caspian yang langsung menuju ruang kerja.Alexa berusaha memahami.Ia tahu, menikahi Caspian Maverick berarti menikahi dunia yang penuh tekanan, keputusan besar, dan tanggung jawab yang tidak main-main. Tapi tetap saja, hatinya bukan mesin. Ia butuh waktu, butuh kehadiran, butuh diyakinkan bahwa ia bukan hanya sekadar simbol di samping nama b
Dua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Hujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Udara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak siap.” ujar Caspian, mematikan mesin mobilnya sambil melirik Alexa. Alexa menatap gerbang itu beberapa detik, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menghela napas dalam, “Aku harus menghadapinya.” Caspian mengangguk pelan. “Oke. Aku tunggu disini, panggil saja aku kapanpun kau butuh.” Alexa tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Cahaya lampu teras menyambutnya, terang, dingin dan palsu. Caspian masih memperhatikan Alexa hingga punggung gadis itu hilang dibalik pintu besar rumah itu. Entah kenapa rahangnya mengeras, tempat ini layaknya jeruji emas untuk Alexa. Dan Caspian benci akan hal itu. Begitu masuk, Alexa langsung disambut dua orang yang tersenyum
“Brengsek!” Caspian melepaskan cekalannya, berjalan mundur untuk memberikan Alexa ruang bernapas. “Dia mau apa?” tanya-nya kemudian. Alexa menggigit bibir bawahnya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tak tahu, dia mengirimiku pesan semalam, katanya ingin bertemu.” Caspian terdiam, ia tahu hubungan Alexa dengan ayahnya tidak baik. Sejak Alexa pindah ke rumah ini, tidak sekalipun ia menyebut nama ayahnya dengan nada hangat. Dan ia tahu—lebih dari apapun, bahwa Alexa pernah ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Hari ketika Alexa pulang membawa kabar bahwa ia ingin mandiri, pria itu menatapnya seolah ia tidak layak dicintai. Caspian tidak pernah melupakan bagaimana Alexa menceritakannya sambil menahan napas agar suaranya tidak pecah. “Kenapa tiba-tiba?” Caspian bergumam. “Entah, aku takut. Ketakutan yang tak tahu karena alasan apa.” balas Alexa. Ia menatap Caspian, tatapan yang terlihat sangat rapuh. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. “Em, apa kau bisa me-menganta







