Share

166. Sanggup

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-10-22 18:06:35

Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.

Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.

“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.

Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari int
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   166. Sanggup

    Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari intonasinya. “Mungkin Puspa malu, Bu, punya keluarga melarat kayak kita! Sekarang dia sudah jadi orang kaya, hidup bergelimang harta, sementara kita makin miskin dan terlunta-lunta!”“Puspa memang seharusnya malu,” timpal Rusdi, mengangkat dagunya angkuh seolah memegang kendali. “Keadaan kita yang mengenaskan begini cuma makin membuktikan ke sekeliling kalau dia anak durhaka yang sama sekali nggak peduli sama keluarganya sendiri!”Jarren yang duduk di samping Puspa bergulir menata

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   165. Segumpal Darah

    Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   164. Kenangan Palsu

    Puspa menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.Ucapan Jarren mengenai riwayat genetik itu mengalun samar di benak Puspa, tetapi pertahanan dirinya buru-buru menolak gagasan tersebut.“Jangan mengada-ada, Mas,” bisik Puspa parau, mengalihkan wajahnya ke arah jendela. “Asma itu penyakit umum. Banyak orang mengidap hal yang sama tanpa harus punya hubungan darah.”Jarren tak membalas perdebatan itu dengan kata-kata. Pria itu menekan tombol panggil di sisi ranjang.Tak berselang lama, dokter spesialis paru masuk bersama dua perawat.Dengan tenang, sang dokter menjelaskan detail medis secara gamblang bahwa asma alergi atau atopi memiliki tingkat keterikatan genetik yang sangat tinggi, kerap diturunkan langsung dari orang tua kandung ke anaknya.Puspa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa perih merayap di lidahnya. Tangan kanannya mengepal erat, meremas sprei rumah sakit hingga kusut.“Apa ada cara lain buat

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   163. Cuma Aku

    Detak jarum jam dinding seolah terhenti sewaktu iris mata Jarren terpaku pada deretan huruf di layar ponselnya. Jemarinya membeku, tak sanggup menggeser tampilan dokumen hukum yang kian menelanjangi kenyataan.“Puspa Manora,” gumam Jarren lirih. “Ada berapa banyak orang di dunia ini yang bernama Puspa Manora?”“Cuma aku,” sahut sebuah suara tenang dari arah belakang.Jarren memutar kepala secara refleks.Di ambang pintu kamar mandi, Puspa berdiri seraya mengeringkan helai-helai rambut basahnya menggunakan selembar handuk kecil.Piyama longgar pinjaman dari Tantri melambai pelan seiring helaan napasnya yang teratur.“Kamu tahu dari mana?” tanya Jarren cepat, menatap istrinya lekat-lekat.Puspa menghentikan usapan handuknya, menatap balik tanpa berniat mengikis jarak. “Aku pernah iseng riset kecil-kecilan di internet sama media sosial. Nggak ada satu pun akun atau artikel yang mencatat nama lengkap Puspa Manora selain mili

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   162. Sangat Rahasia

    Guncangan di dada Tantri merambat cepat melintasi getaran suaranya yang parau.Usapan jemarinya pada lembaran tisu dapur kian kasar, memburu sisa air mata yang tak henti merembes di pelupuk mata Tantri.“Menurut cerita teman Bude, secara sah, bayi perempuan itu seharusnya diasuh oleh nenek dari pihak ayahnya,” tutur Tantri dengan raut pias yang amat kentara. “Tapi ... nggak lama setelah tragedi itu, neneknya juga dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari sana, jejaknya putus total. Nggak ada satu pun teman alumni yang tahu siapa yang akhirnya membawa dan merawat bayi itu.”Puspa membisu di tempatnya. Helaan napasnya terasa kian berat dan menyiksa, bagai ada beban tak kasat mata yang dihantamkan tepat di atas ulu hatinya. Rasa perih asing melingkupi dada Puspa.Jarren yang duduk di samping Puspa mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak.“Bude, aku minta kontak teman Bude yang di kepolisian itu. Kasus penelusuran dokumen lama sepert

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   161. Bawaan Hamil

    Sebuah gejolak cemas mendadak merayap naik, membelenggu rongga dada Puspa tatkala matanya menangkap guratan pucat di paras anggun milik Tantri.Tantri melipat bibirnya rapat, jemarinya bergetar pelan saat kembali melayangkan pertanyaan dengan nada teramat hati-hati. “Puspa, ini bukan cuma sekadar kebiasaan bawaan hamil kamu, kan?”Dahi Puspa mengernyit halus. Dia mengusap perutnya yang kian membesar seraya menguraikan jawaban jujur.“Bukan, Bude. Dari sebelum aku kenal Mas Jarren, bahkan dari aku kecil, kalau makan semangka, aku memang selalu telaten misahin bijinya kayak gini.”Jarren yang duduk bersisian di samping Puspa tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya.“Ada apa sebenarnya, Bude? Kok Bude kelihatan gelisah dan tegang banget?” Manik mata legam pria itu menatap lekat pada sang bude.Hening menyelimuti ruang makan sejenak.Tantri menghela napas panjang yang terdengar amat berat, mencoba menata emosi yang men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status