INICIAR SESIÓNJarren melangkah lebih dekat, menyusupkan telapak tangannya yang hangat untuk menangkup lembut kedua bahu Puspa. Tatapan matanya terkunci lurus pada paras pucat istrinya.
“Kita nggak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba, Mpus,” bisik Jarren mantap.Puspa menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala seraya mengangguk pelan. Dia menyerahkan sepenuhnya proses hukum dan administrasi ekskavasi itu ke dalam genggaman Jarren.Hari-hari berikutnya berjalan cepat.<Genggaman jemari Jarren pada lengan Puspa merapat kuat. Ujung payung hitam yang dipegangnya miring, membiarkan beberapa bulir air hujan menyentuh bahunya sendiri demi memastikan Puspa terlindung sepenuhnya.“Kalau kamu marah sama pamanmu, jangan bawa-bawa pernikahan kita, Puspa!” tegur Jarren dengan nada suara rendah yang sarat akan keputusasaan dan emosi yang menahan diri.Puspa menatap Jarren tajam, tatapannya menghujam lurus ke dalam manik mata suaminya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya.Ucapan Jarren barusan seketika menyentak dada Puspa, menyadarkannya betapa amarah kepada Rusdi telah membakar habis akal sehatnya.Puspa teramat murka, begitu membenci kebohongan yang ditinggalkan paman dan bibinya hingga Puspa bingung bagaimana cara menata kembali serpihan hidupnya yang hancur.Jarren melangkah semakin merapat, merengkuh tubuh Puspa ke dalam dekapannya.“Tenang dulu, ya?” bisik Jarren tepat di dekat telinga istrinya, mengusap punggung Puspa dengan irama ter
Jarren melangkah lebih dekat, menyusupkan telapak tangannya yang hangat untuk menangkup lembut kedua bahu Puspa. Tatapan matanya terkunci lurus pada paras pucat istrinya.“Kita nggak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba, Mpus,” bisik Jarren mantap.Puspa menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala seraya mengangguk pelan. Dia menyerahkan sepenuhnya proses hukum dan administrasi ekskavasi itu ke dalam genggaman Jarren.Hari-hari berikutnya berjalan cepat.Sementara Jarren sibuk mengurus birokrasi dan membongkar dokumen pemakaman lama, Puspa memilih memfokuskan sisa energinya untuk merenovasi rumah peninggalan neneknya.Secara perlahan, menggunakan sisa tabungan dan bujet yang dimilikinya, Puspa memperbaiki dinding-dinding yang retak, mengganti atap yang bocor, serta mengecat ulang ruangan-ruangan kosong itu.Sesekali, Anisa dan Dimas datang berkunjung ke lokasi. Mereka membantu Puspa menengok para tukang bangunan, memba
Puspa menajamkan indra pendengarannya. Jantungnya berdentum kencang.Puspa menggegam erat ujung gaun hamilnya, menanti jawaban dari pria itu. Dia ingin mendengar apa yang akan keluar dari bibir Jarren sewaktu pria itu merasa tidak ada siapapun yang mengawasi, apakah pengakuan jujur, atau sekadar retorika manis tanpa makna.“Kalau kamu memang mencintainya, kamu seharusnya perjuangkan Puspa,” cecar Dimas lagi, memotong hening dengan nada menuntut yang tak sabaran. “Dia sedang hamil besar. Hormon dan emosinya pasti berantakan akibat beban bertubi-tubi. Bisa jadi perceraian itu bukan hal yang benar-benar Puspa inginkan dari dasar hatinya.”Puspa tanpa sadar meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.Keheningan yang menyiksa kembali merayap di antara kedua pria itu.Jarren bergeming, berdiri tegap bagai patung pualam tanpa menampilkan riak ekspresi apa pun di wajah tegapnya.Pria itu hanya menatap lurus ke arah Dimas dengan i
Cahaya merah-biru dari rotator mobil kepolisian menerobos masuk membelah kegelapan gang. Langkah-langkah sepatu lars berderap mantap, mengepung petak kos sempit itu.Rusdi, Liza, dan Marsya menyeret kaki mereka saat dikawal ketat oleh beberapa personel polisi berseragam lengkap. Ketiganya berontak hebat di sepanjang lorong, meliukkan tubuh dan mencengkeram engsel pintu demi mengulur waktu.“Anak durhaka! Kamu bakal kualat, Puspa! Kamu bakal kena azab!” jerit Liza dengan suara parau yang melengking, matanya melotot liar menghujat ke arah Puspa.“Kami yang kasih kamu makan! Kamu bakal busuk di neraka, Puspa! Dasar manusia nggak tahu diri!” Marsya meludah ke tanah, raungnya bersanding dengan umpatan kasar Rusdi yang sibuk menyumpah-serapahi Jarren.Suara caci maki itu merayap memecah heningnya malam. Namun Jarren sama sekali tak mengindahkan riuh kehancuran di belakang punggungnya.Pria itu merogoh saku jasnya seraya mengulurkan selembar sap
Marsya, dengan wajah pucat dan napas memburu, merangkak sedikit mendekat ke arah Puspa. “Puspa ... kamu nggak bisa giniin Ayah sama Ibu,” tutur Marsya dengan intonasi memohon yang dipaksakan. “Walaupun mereka bukan orang tua kandung kamu, mereka yang membesarkan kamu selama 25 tahun ini, Puspa ….” Liza mengangguk-angguk cepat di tengah isak tangisnya yang membuncah. “Benar, Puspa, kami yang merawat kamu dari bayi. Kami yang kasih kamu makan, minum, dan tempat tinggal. Kami juga yang menyekolahkan kamu sampai dewasa,” Sebuah kekehan sumbang yang teramat dingin lolos dari bibir Puspa. Sorot matanya menghujat lurus ke arah wanita yang dulu dipanggilnya ibu itu. “Makanan sisaan Marsya, kan?” cecar Puspa tajam. “Minuman sisa dari gelas-gelas kalian yang saya kumpulkan jadi satu? Dan kamar dengan atap bocor yang sampai detik ini nggak pernah kalian perbaiki?” Liza dan Rusdi membeku. “S
Isak tangis Liza mendadak terhenti. Jemari keriput wanita paruh baya itu gemetar hebat sewaktu melepas lembaran dokumen berstempel resmi di tangannya, membiarkan kertas itu meluncur jatuh. “Nggak mungkin, Puspa!” jerit Liza histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut pias. “Nggak mungkin! Bukti ini pasti palsu! Kamu dibohongi orang!” Puspa mengulas senyum tipis yang sarat keputusasaan, mengamati kehancuran wanita yang pernah diagungkannya. Dia mengangkat salah satu alisnya tanpa riak emosi. “Ini asli, Bu Liza,” balas Puspa dengan datar. “Kalau Ibu meragukan keabsahan lembaran hukum itu, berarti Ibu sama saja melecehkan dan nggak percaya pada institusi terkait yang mengeluarkannya.” Liza mendadak kehilangan kata-katanya. Tenggorokan wanita paruh baya itu terkunci rapat, lidahnya kelu tak sanggup lagi menyusun pembelaan. Tanpa membuang waktu, Puspa memalingkan pandangannya pada Rusdi. Jemari lentik wanita hamil itu mengambil berkas tebal berikutnya dari dalam map, lalu







