Share

175. Dua Minggu Lagi

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-10-29 15:09:53

Puspa terdiam. Tangan kirinya bergerak pelan mengusap sisi bibir dengan lembaran tisu, menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di ulu hati.

Saras menarik napas pendek yang terdengar amat berat. Manik matanya merebakkan pendar penyesalan.

“Ucapan Mama waktu itu terlampau kejam, Puspa. Jarren benar, seharusnya Mama jadi orang yang paling mengerti kondisimu dibanding siapa pun di rumah itu. Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Nggak akan ada sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
mana Jarren nih, nyebelin banget nih laki..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   176. Ke Mana Jarren?

    Setetes keringat dingin meluncur melintasi pelipis Puspa, menyatu dengan ringisan pelan tatkala gelombang cinta dari sang buah hati kembali menghantam ulu hatinya.“Mas Jarren ke mana, Ma?” bisik Puspa di sela-sela usahanya mengatur napas, menatap Saras dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.Saras menoleh, raut wajahnya memancarkan tingkat frustrasi yang tak kalah pekat. Jemarinya masih menempelkan ponsel di telinga sebelum akhirnya menurunkan benda pipih itu dengan helaan napas berat.“Harusnya dia di kantor, Sayang,” jawab Saras jujur, menyembunyikan getaran panik di suaranya. “Tapi Jarren, bahkan Dimas pun sama-sama sulit dihubungi dari tadi.”Puspa menggigit bagian dalam bibirnya erat-erat, memejamkan mata tatkala kekecewaan halus mulai merayap di celah-celah rasa sakitnya.Melihat kondisi menantunya yang semakin kepayahan, Saras membalikkan badan, menatap lurus ke dalam iris mata sang dokter. “Biar saya

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   175. Dua Minggu Lagi

    Puspa terdiam. Tangan kirinya bergerak pelan mengusap sisi bibir dengan lembaran tisu, menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di ulu hati. Saras menarik napas pendek yang terdengar amat berat. Manik matanya merebakkan pendar penyesalan. “Ucapan Mama waktu itu terlampau kejam, Puspa. Jarren benar, seharusnya Mama jadi orang yang paling mengerti kondisimu dibanding siapa pun di rumah itu. Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Nggak akan ada satu pun ibu di dunia ini yang rela dipisahkan dari anak-anaknya.” Hati Puspa bergetar hebat. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan sudut matanya yang mendadak basah oleh lelehan bening. “Mama benar-benar minta maaf ya, Sayang.” Saras mempererat usapan tangannya di punggung jemari Puspa. Sebuah senyum penuh haru perlahan terukir di belah bibir Puspa. Dia mendongak, menatap paras paruh baya yang kini tak lagi memancarkan keangkuhan.

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   174. Utang yang Tersisa

    “Saya,” sahut Jarren cepat tanpa ragu.Puspa menoleh pelan, menatap suaminya dengan mata mendingin. “Aku belum bilang kamu harus mendampingiku, Mas.”Jarren mengatupkan bibirnya rapat. Rasa ingin menegaskan statusnya sebagai suami dan ayah dari anak-anak itu bergolak di dada, tetapi dia menahannya kuat-kuat. Jarren menarik napas pendek seraya menatap Puspa dengan binar memohon. “Aku tahu, tapi aku cuma berharap kamu mengizinkanku ada di sana.”Puspa memalingkan wajah kembali ke arah dokter tanpa memberikan persetujuan.Di pelataran rumah sakit, angin sore berembus dingin membawa aroma tanah basah. Dokter telah menetapkan tanggal persalinan yang tinggal menghitung hari.Jarren membantu Puspa duduk di kursi roda, lalu mendorongnya perlahan menuju mobil.Kali ini, Puspa tidak menolak bantuan itu karena stamina fisiknya memang telah terkuras habis.Saat tiba di samping pintu mobil, Jarren membungkukkan tubuhnya sed

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   173. Dari Jauh

    Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar menangkap siluet Puspa yang tengah terduduk di tepi ranjang. Dia perlahan mengelus perut, keempat janinnya semakin aktif hingga terkadang sering membuat Puspa meringis.Dua bulan menjelang persalinan, Puspa tidak lagi selincah dulu. Berjalan beberapa langkah saja sudah membuat napasnya mengayun pendek. Namun, wanita itu menolak menyerah pada keadaan.Di atas meja belajar yang tertata rapi, lembaran lembar kerja siswa bersandingan dengan tumpukan buku latihan ujian.Puspa membagi waktunya dengan cermat untuk memeriksa tugas murid, merapikan administrasi sekolah, lalu beralih mempelajari materi tes CASN.Di sela-sela waktu istirahatnya, Puspa mempraktikkan latihan pernapasan dan gerakan relaksasi ringan khusus kehamilan kembar empat.Puspa mengulurkan tangan, meraih sebuah buku catatan kecil berpita. Ketika membalik lembarnya, terhampar deretan nama indah yang disiapkannya untuk keempat b

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   172. Terus Memohon

    Genggaman jemari Jarren pada lengan Puspa merapat kuat. Ujung payung hitam yang dipegangnya miring, membiarkan beberapa bulir air hujan menyentuh bahunya sendiri demi memastikan Puspa terlindung sepenuhnya.“Kalau kamu marah sama pamanmu, jangan bawa-bawa pernikahan kita, Puspa!” tegur Jarren dengan nada suara rendah yang sarat akan keputusasaan dan emosi yang menahan diri.Puspa menatap Jarren tajam, tatapannya menghujam lurus ke dalam manik mata suaminya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya.Ucapan Jarren barusan seketika menyentak dada Puspa, menyadarkannya betapa amarah kepada Rusdi telah membakar habis akal sehatnya.Puspa teramat murka, begitu membenci kebohongan yang ditinggalkan paman dan bibinya hingga Puspa bingung bagaimana cara menata kembali serpihan hidupnya yang hancur.Jarren melangkah semakin merapat, merengkuh tubuh Puspa ke dalam dekapannya.“Tenang dulu, ya?” bisik Jarren tepat di dekat telinga istrinya, mengusap punggung Puspa dengan irama ter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   171. Kandas

    Jarren melangkah lebih dekat, menyusupkan telapak tangannya yang hangat untuk menangkup lembut kedua bahu Puspa. Tatapan matanya terkunci lurus pada paras pucat istrinya.“Kita nggak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba, Mpus,” bisik Jarren mantap.Puspa menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala seraya mengangguk pelan. Dia menyerahkan sepenuhnya proses hukum dan administrasi ekskavasi itu ke dalam genggaman Jarren.Hari-hari berikutnya berjalan cepat.Sementara Jarren sibuk mengurus birokrasi dan membongkar dokumen pemakaman lama, Puspa memilih memfokuskan sisa energinya untuk merenovasi rumah peninggalan neneknya.Secara perlahan, menggunakan sisa tabungan dan bujet yang dimilikinya, Puspa memperbaiki dinding-dinding yang retak, mengganti atap yang bocor, serta mengecat ulang ruangan-ruangan kosong itu.Sesekali, Anisa dan Dimas datang berkunjung ke lokasi. Mereka membantu Puspa menengok para tukang bangunan, memba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status