Share

Hampir Saja

Author: Stefani
last update Last Updated: 2024-04-20 16:49:13

"Sial!" umpat Alice.

Dia dengan gesit segera berlari dan memanjat melewati bagian lain dari rumah itu.

Gavin berusaha mengejar Alice, namun sayangnya dia kalah cepat dengan sosok itu.

Sosok itu telah menghilang, tepat di arah kamar yang ditempati Alice.

"Kemana perginya? Apa dia masuk ke kamar Alice?" gumam Gavin.

Gavin segera menuju ke kamar Alice.

Duk duk duk

"Alice, buka pintunya!" perintah Gavin.

Setelah beberapa saat, pintu kamar tidak juga kunjung dibuka.

Gavin mulai kehilangan kesabarannya.

Duk duk duk

"Hei, Alice jika kamu tidak membuka pintunya, maka aku akan...."

Ceklek

"Ada apa sih? Malam-malam begini."

Alice terlihat keluar dengan menggunakan piyama mandi dan rambut basahnya tergerai.

Dia tampaknya sehabis berendam di air panas, wajahnya tampak kemerahan.

Dia terlihat sangat seksi dan cantik dengan penampilan seperti itu.

Gavin sempat terpana dan terdiam beberapa saat melihat penampilan Alice.

"Emm, aku..bolehkah aku masuk ke kamarmu? Aku harus memeriksa sesuatu!" ujar Gavin.

"Apa? Tidak boleh! Seperti halnya kamu melarangku untuk masuk ke dalam kamarmu, ini juga merupakan daerah terlarang untukmu. Lagipula ini sudah larut malam. Siapa yang menjamin bahwa kamu tidak akan bertindak tidak senonoh terhadapku."

"APA?!"

Gavin merasa kesal dengan kata-kata yang dilontarkan Alice, dia kemudian segera melangkahkan kakinya pergi.

"Huff, hampir saja ketahuan." seru Alice setelah menutup pintu kamarnya.

Untung saja setelah sampai dirumah dari pesta tadi, Alice mengisi bak rendam dengan air panas hingga penuh. Barulah dia kemudian pergi diam-diam ke rumah Laura untuk menguping pembicaraan mereka.

Setelah ketahuan mengendap-endap masuk ke kamarnya oleh Gavin, Alice segera berlari ke kamarnya. Dia melepas seluruh pakaiannya dengan sangat cepat dan berendam selama beberapa menit di kamar mandi. Setelah dia merasa wajahnya cukup merah, dia kemudian membukakan pintu yang diketuk oleh Gavin.

"Memalukan sekali, kenapa aku bertingkah seperti wanita yang menggoda suaminya agar ditiduri," ujarnya sambil menatap ke arah cermin.

"Elisa, aku harus tetap berada di sini sampai semua teka teki ini terungkap. Apa dan mengapa kamu sampai bisa masuk ke dalam keluarga ini. Segel keluarga Rayes? Mengapa mereka mencari itu. Seberapa besar saham ayah di perusahaan Welbert?"

Alice merasa bingung, karena dia merasa bahwa sedari kecil hidupnya sekeluarga sangat sederhana, jauh dari kesan mewah. Lagipula, ayahnya tidak pernah mengungkit perihal kepemilikan sahamnya di perusahaan Welbert. Apalagi soal segel kepala keluarga Rayes.

Roland Rayes dan keluarganya hidup di sebuah pedesaan dekat kaki gunung.

Ayahnya merupakan pemilik peternakan sapi dan ladang yang cukup besar di desanya. Ibunya setiap hari akan mengurusi mereka dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada umumnya. Mereka hidup dengan bahagia dan berkecukupan.

Dia ingat hari itu, ketika dia berusia 15 tahun, seseorang bernama 'Josh Welbert' mendatangi rumah mereka dan bercakap dengan ayahnya. Tidak lama setelahnya, ayahnya mengatakan bahwa dia telah dijodohkan dengan seorang dari keluarga 'Welbert'.

"Alice, setelah kamu cukup umur nanti, kamu akan menikah dengan anak Paman ini," ujar Roland Hayes padanya ketika itu, sambil menunjuk ke arah Josh Welbert.

"Halo Alice, kamu sangat cantik, serasi dengan putra Paman. Namanya adalah Gavin Welbert," ujarnya menyapa Alice dengan ramah.

Alice merasa marah dan menolaknya. Dia berkata ingin menjadi seorang tentara di kemudian hari, tidak ingin menikah cepat.

Keesokkan harinya, kejadian tidak terduga terjadi. Ketika Roland Rayes dan istrinya pergi ke kota untuk mengantarkan hasil peternakan dan ladangnya, mereka malah mengalami kecelakaan.

Naas, ayahnya meninggal pada kecelakaan itu dan ibunya mengalami kelumpuhan setelahnya.

"Benar, kecelakaan yang menimpa ayah dan ibu dulu juga terjadi setelah orang dari keluarga Welbert datang. Apa jangan-jangan, mereka juga yang merencanakan kecelakaan yang terjadi ketika itu?"

Ketika itu Alice hanya berpikir selayaknya seorang gadis lugu, di usianya yang masih belasan tahun, dia belum memahami kekejaman dunia.

Setelah 10 tahun bergelut dan hidup di medan pertempuran, dia memahami banyak hal.

Alice berpikir dan berandai-andai. Bagaimana jika dia dulu tidak nekat pergi dan meninggalkan Elisa dan Ibunya ke luar negeri. Mungkinkah yang terbaring di rumah sakit sekarang adalah dia dan bukan Elisa.

"Sudahlah, lebih baik aku sekarang mengeringkan rambutku dan segera pergi tidur. Aku perlu energi ekstra pada hari esok."

Di lain tempat, di rumah yang sama. Gavin masuk kedalam kamarnya dengan kesal dan membanting pintu kamar dengan kencang.

"Wanita itu, ini adalah rumahku. Aku berhak masuk ke mana saja. Aku hanya mau memastikan hal yang kulihat tadi."

Sekarang sudah terlambat bagi Gavin jika ingin berkeliling rumah dan mengejar orang yang mengendap-endap itu.

Orang itu terlihat sangat profesional dalam menghindari seluruh kamera pengawas yang ada di rumah itu. Dia mahir untuk berlari di titik-titik yang tidak tertangkap oleh kamera.

Percuma saja jika sekarang dia melihat seluruh rekaman kamera pengawas di rumah ini, tidak akan ada hasilnya.

"Wanita itu belakangan menjadi semakin berani beradu mulut," gumam Gavin.

"Apa jangan-jangan, benar dia yang mendorong para gadis tadi ke dalam danau? Tapi untuk apa dia melakukannya? Dia bahkan tidak mengenal gadis-gadis itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Cerita Tambahan

    "AYO, KERAHKAN TENAGA KALIAN!" Alice berteriak kencang memerintahkan para tentara pasukan elit Albain untuk melalui halang rintang yang dibuatnya di tengah-tengah hutan lebat pegunungan Albain. Ratusan tentara elit Albain itu telah melalui pelatihan Alice selama hampir 1 bulan ini. Pelatihan yang diberikan Alice benar-benar mengerikan. Sang Alpha, menciptakan neraka untuk membentuk tentara-tentara terlatih dan profesional. Ketika pelatihannya berakhir, Alice melihat kembali seluruh catatan skor dari setiap orang. "Bagus, bagus. Kalian mengalami peningkatan, meskipun hanya sedikit." Alice memuji para peserta pelatihannya. Seluruh peserta bukannya senang, mereka malah merasa merinding. Jika Alice mengucapkan kata 'peningkatan sedikit' itu artinya, besok harinya akan dibuat sebuah rintangan pelatihan yang baru dan lebih sulit. "Ada apa dengan wajah kalian? Mengapa di wajah kalian aku melihat ada 'keluhan'?" Alice menatap barisan tentara itu satu persatu. "TIDAK, YANG MULIA RATU!

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Pemakaman

    Alice melangkah perlahan di komplek pemakaman dengan memegang seikat karangan bunga Krisan Putih di tangannya. Langkahnya terhenti di sebuah makam keluarga yang terlihat masih baru. Tanahnya masih basah, belum ditumbuhi subur oleh rumput hias yang cantik seperti makam di sekitarnya. Dia berjongkok dan meletakkan bunga Krisan Putih yang dipegangnya. Dipegangnya pusara dengan hati-hati. Perutnya kini agak membuncit, jadi Alice tidak tahan berjongkok lama-lama. Ketika Alice akan bangkit berdiri, sepasang tangan merangkul bahunya dari belakang untuk membantunya. Lalu pada bahunya disampirkan sebuah mantel hangat. "Mengapa kau tidak menggunakan pakaian yang agak tebal? Sekarang sudah hampir musim dingin. Bagaimana nanti jika sakit?" Suara hangat pria mengalun di telinga Alice. Alice menatap pria itu kemudian tersenyum, "Ada kau di sisiku, aku tidak akan sakit." Alice melingkarkan tangannya di pinggang Gavin, dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Gavin mengecup pelan dahi istrinya

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Gavin Belum Sadar

    Berjam-jam waktu telah berlalu, Alice masih duduk di kursinya tanpa beranjak sedikitpun. Wajahnya terlihat lelah dan juga pucat. "Alice, sebaiknya kamu dan Ibu pulang dan beristirahat. Aku dan Jake akan menunggu di sini. Kami akan mengabari kamu jika Gavin telah sadar." Elisa merangkul bahu Alice yang duduk di sisinya. Semalaman Alice tidak tidur. Kini hari sudah berganti pagi. Waktu menunjukan pukul 09.00 pagi. Namun Gavin belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Mereka juga hanya bisa duduk dan menunggu di luar, karena Gavin saat ini masih berada di ruang observasi. "Ya, aku juga akan tetap di sini." Mario juga sejak semalam masih berada di sana. "Kami akan mengantarkan kamu, Bos!" Wella berkata kepada Alice sambil menunjuk dirinya dan Henry. "Benar Alice, setidaknya kau harus menjaga kondisimu juga. Beristirahatlah sejenak!" Ujar Jake pada Alice. Alice sebenarnya merasa tidak tenang jika harus pergi meninggalkan Gavin di rumah sakit. Tapi memang benar, dia harus menjaga k

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Gavin Dioperasi

    Tuuuuuuuutttt Dokter melakukan teknik Resusitasi Jantung Paru kepada Gavin, namun tidak juga ada tanda-tanda detak jantungnya kembali. Mesin masih terus berbunyi, tanda detak jantung Gavin tidak terdeteksi. "Siapkan defibrillator!" Dokter meminta perawat memberikan alat kejut jantung. "50 Joule!" Perintah dokter pada perawat yang memegang alat defibrillator. "Everybody clear!" Dokter memberikan kejut jantung pertama kepada Gavin. Namun tidak ada reaksi apapun. "100 Joule!" Perintah dokter lagi pada perawat. "Everybody clear!" Tetap tidak ada reaksi apapun pada Gavin. "150 Joule!" Perintah dokter lagi pada perawat. "Everybody clear!" Tut...Tut...Tut... "Oke, jantung mulai berfungsi. Siapkan ruang operasi. Aku akan mensterilkan diri." Dokter kemudian keluar dari ruang gawat darurat. "Nyonya, sebaiknya Anda menunggu di luar. Kami akan mempersiapkan pasien untuk dioperasi." Alice mengangguk, namun sebelumnya ia memegang tangan Gavin sebelum keluar, "Sayangku

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Akhir Dari Firlo dan Logan

    "Ya, aku bersedia bersaksi untuk kerajaan." Louis bersuara. Entah sejak kapan dia masuk ke dalam ruang rapat Parlemen. "Louis?" Isabela menatap tajam kepada pembunuh putrinya itu. Sebenarnya Isabela tahu bahwa yang meracuni Ansara adalah Louis dan Logan. Hanya saja, dia tidak punya cara untuk membuktikannya. Mereka berdua telah bersekongkol dengan sangat rapi. Seluruh rekaman kamera pengawas telah dihapus pada bagian dimana mereka memasukkan racun ke dalam makanan dan minuman Ansara. Setiap kali mereka secara bergantian meracuni Sara. "Aku akan menyerahkan diri dan mengakui perbuatanku. Aku juga akan menjadi saksi kejahatan Logan. Aku menyimpan beberapa bekas botol racun yang telah kosong. Aku rasa itu cukup kuat untuk dijadikan alat bukti." Louis berkata sambil menunjuk Logan. "Pria bajingan ini memaksa aku dan putraku untuk menjadi kaki tangannya. Namun, ketika kami sudah tidak dibutuhkan lagi, dia memerintahkan orang untuk membunuhku. Beruntung bagiku, Matheo tiba di rumah ber

  • Menjadi Istri Pengganti Suami Kembaranku   Lebih Baik Membangun Kembali dari Awal

    "Rekam baik-baik semua bukti yang akan aku tunjukkan kepada kalian hari ini!" Lalu proyektor menampilkan seluruh bukti transfer uang senilai 1 milyar kepada seluruh anggota Dewan Parlemen yang berasal dari rekening Firlo More. Setelahnya, menampilkan seluruh percakapan Ketua, Wakil, dan beberapa anggota Dewan Parlemen sebelum rapat hari ini dimulai. 'Apakah kalian telah menerima uang senilai 1 milyar yang dikirimkan Firlo?' Terdengar suara Ketua Dewan Parlemen. 'Hahaha, kami telah menerimanya. Pokoknya, apapun yang tuan Firlo minta, akan kita lakukan. Jika mengikutinya, kita akan semakin kaya raya.' Seorang anggota merasa sangat senang. 'Ya, yaa.. Nominal 1 milyar setiap bulan, sangat besar. Tuan Firlo memang sangat murah hati.' Wakil Ketua Dewan Parlemen terdengar sangat bersemangat. 'Hei, sudah. Itu, Perdana Menteri telah datang!' Seseorang dari mereka meminta untuk menghentikan obrolan. 'Tuan Firlo, terima kasih atas hadiahnya. Hahaha.' Ketua Dewan Parlemen bersuara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status