“Saya akan membawanya ke kota,” ucap Abyan pelan namun tegas, segera setelah akad selesai.
Tak ada senyum. Tak ada ucapan selamat. Hanya tatapan-tatapan simpati dari warga desa dan suara azan magrib yang mulai menggema dari musala kecil di ujung jalan. Abyan menoleh pada kepala desa. “Saya tidak punya banyak waktu untuk tinggal di sini. Jalanan sulit, sinyal hilang, dan saya harus menyampaikan laporan penting ke kantor pusat.” Belum sempat kepala desa menjawab, suara nyaring yang familiar menyela dengan nada tinggi. “Sebelum kamu bawa dia, bayar dulu uang yang saya minta!” seru Bude Marni, berdiri dengan tangan di pinggang dan wajah menyeringai kesal. “Jangan pikir saya ikhlas kamu ambil keponakan saya begitu saja!” Abyan menghela napas kasar, memijit keningnya. “Saya tidak membawa uang tunai sebanyak itu. Nanti saya transfer.” “Transfer?” Bude Marni menyipitkan mata. “Apa itu? Saya nggak tahu begituan. Uang harus kelihatan! Harus bisa saya pegang!” “Marni, jangan mempersulit Nak Abyan,” tegur Kepala Desa dengan nada geram. “Saya ke sini karena tersesat,” sambung Abyan, mencoba menahan emosinya. “Saya pun tidak tahu akan berakhir seperti ini. Tapi saya sudah bertanggung jawab. Dan sekarang saya harus kembali bekerja.” “Apa tidak bisa ditunda, Nak?” tanya kepala desa, nada suaranya mulai lebih hati-hati. “Memang benar Nisa tahu jalanan sini, tapi untuk sampai ke jalan besar… harus melewati hutan kecil. Dan sekarang sudah hampir malam. Saya hanya khawatir…” Abyan mengacak rambutnya dengan frustrasi. Wajahnya lelah, matanya gelap karena tekanan dari segala arah. Ia tak pernah menyangka niat baik akan membawa begitu banyak kerumitan. Di sebelahnya, Nisa berdiri kikuk, jemari tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap lantai. Lalu dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, “M-Maafkan saya…” Abyan menoleh perlahan. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk sekali. Tanpa ekspresi. Bude Marni masih berdiri dengan tampang tak terima. Tapi kini, warga desa mulai terlihat jengah. Beberapa dari mereka saling melempar pandangan, menggeleng pelan. Seseorang bahkan terdengar berbisik, “Sudah cukup, Marni. Malu…” Kepala desa akhirnya bersuara. “Nak Abyan,” ucapnya, “Saya tahu kamu ingin cepat sampai ke kota. Tapi sebagai sesama orang tua, izinkan saya mengantar kalian sampai batas hutan.” Kepala desa hanya mengkhawatirkan sesuatu terjadi karena Abyan membawa mobil. Di sana belum masuk kendaraan roda empat, hanya ada roda dua. Itu pun bagi yang mampu karena keadaan ekonomi di sana memprihatinkan. Bantuan pemerintah pun sulit turun. Abyan mengangguk pelan. “Baik. Saya hargai itu.” Kepala desa menoleh pada Nisa. “Kamu bersiaplah, Nduk. Bawa pakaianmu secukupnya. Jangan lupa pamit dengan warga sini yang sudah membantumu.” Nisa hanya mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu seperti apa hidup yang menunggunya di kota. Tapi ia tahu, tidak ada lagi tempat untuk kembali. *** Suara jangkrik mulai mendominasi ketika Abyan dan Nisa keluar dari rumah kepala desa. Langit mulai gelap. Udara terasa lebih dingin, menusuk kulit dan menggetarkan nyali. Abyan berjalan cepat ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan tanah. Kepala desa dan seorang pemuda desa menaiki sepeda motor bebek tua, mengawal mereka sampai ke batas hutan menuju jalan besar. Langkah Nisa pelan, tapi teratur. Ia tidak bicara sepatah kata pun. Di tangannya hanya tergenggam sebuah tas kecil berisi baju seadanya. Wajahnya datar, tetapi dalam hati, perasaannya campur aduk. Bahagia karena lolos dari paksaan sang bude. Tapi juga cemas, karena kini hidupnya berada di tangan laki-laki asing yang baru saja menjadi suaminya. Sementara Abyan, hanya menatap lurus ke depan. Bahkan sejak keluar dari rumah kepala desa, ia belum sempat benar-benar menatap wajah Nisa. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ia menikah dalam keadaan terdesak. Dan sekarang, ia harus membawa perempuan itu ke kota. Entah untuk apa ke depannya. “Jalannya agak sempit, tapi bisa dilalui mobil, Nak,” ujar kepala desa sambil menunjuk arah. Abyan hanya mengangguk. “Terima kasih, Pak.” Mereka mulai menyusuri jalanan tanah yang menanjak dan licin. Lampu mobil menerobos kegelapan, sementara motor kepala desa berada di depan sebagai penunjuk jalan. Beberapa kali mereka harus memperlambat laju karena pohon tumbang dan jalan yang berliku tajam. Abyan menggenggam kemudi erat. Sorot matanya tajam, tetapi gerakannya ragu-ragu. Sesekali ia melirik ke arah Nisa yang duduk diam di sampingnya sambil, memeluk tasnya seperti pelampung di tengah laut. “Kamu pakai sabuk pengaman,” ucap Abyan akhirnya. Nisa buru-buru menarik sabuk itu. Tangannya gemetar. “Maaf,” ucapnya lirih. "I-ini bagaimana?" Selama ini Nisa belum pernah naik mobil, dia gak tahu bagaimana caranya memakai sabuk pengaman. Abyan tak menjawab. Kemudian ia memakaikan sabuk itu tanpa menoleh pada Nisa. Pandangannya hanya fokus pada jalan. Setelah hampir satu jam, cahaya lampu jalan mulai terlihat samar di kejauhan. Jalan besar itu akhirnya muncul, membelah gelapnya hutan dan sunyinya desa. Motor kepala desa berhenti. Ia turun dan berjalan menghampiri sisi jendela mobil Abyan. “Sampai di sini saja kami mengantar, Nak. Hati-hati di jalan.” “Terima kasih banyak, Pak,” jawab Abyan tulus. “Maaf sudah merepotkan.” Kepala desa tersenyum. “Semoga rumah tanggamu membawa keberkahan, Nak Abyan, Neng Nisa…” Abyan hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Setelah kepala desa berlalu dengan motor tuanya, Abyan menghela napas panjang. Suasana dalam mobil kembali senyap. Mesin kembali menyala. Mobil melaju perlahan. Beberapa menit kemudian, Nisa mencoba bicara. “Terima kasih… sudah menolong saya.” Abyan menoleh sedikit, lalu berkata datar, “Saya tidak menolong. Saya hanya bertanggung jawab.” Jawaban itu membuat hati Nisa terasa tenggelam. Tapi ia mengangguk kecil, mencoba mengerti. Mungkin laki-laki itu memang tidak ingin menikahinya. Mungkin Abyan hanya ingin menyelamatkan nama baik. Dan kini, Nisa duduk di sebelah laki-laki yang belum ia kenal—yang bahkan tak tahu hari ulang tahunnya, warna kesukaannya, atau apa pun tentang dirinya. Tetapi takdir sudah menyatukan mereka. *** Malam telah larut saat mobil Abyan keluar dari jalanan besar menuju daerah pegunungan yang sepi. Udara mulai dingin, kabut turun perlahan. Di kejauhan, lampu-lampu villa mulai terlihat samar seperti kunang-kunang yang berpendar di tengah kabut. Abyan melirik jam tangan. Hampir pukul sebelas malam. Nisa yang duduk di sampingnya mulai terkantuk, namun dia menahan diri untuk tetap terjaga. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia kini benar-benar berada dalam dunia yang berbeda. Dari rumah reyot di desa terpencil, kini ia duduk di dalam mobil mewah dan akan tinggal di villa milik seorang lelaki yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya. Tak lama, mobil berhenti di depan gerbang besi besar yang terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah villa dua lantai bergaya klasik-modern, disinari cahaya hangat dari lampu temaram di beranda. Di depan pintu sudah berdiri dua sosok: pasangan suami istri paruh baya yang wajahnya memancarkan kehangatan dan keteraturan. Begitu mobil berhenti, Abyan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Nisa. “Selamat malam, Tuan Abyan,” sapa Pak Sastro, penjaga villa, sambil membungkukkan tubuhnya. “Iya, terima kasih sudah menunggu,” jawab Abyan singkat. “Ini istri saya. Tolong bantu siapkan kamar di atas untuknya.” Mata Bi Rini, istri Pak Sastro, sempat melebar, tetapi ia cepat menunduk dan tersenyum sopan. “Iya, Tuan. Ayo, Neng… saya bantu naik.” Nisa hanya mengangguk kecil, masih terlalu bingung untuk merespons lebih dari itu. Ia mengikuti langkah Bi Rini menaiki tangga kayu yang mengarah ke lantai atas. Dibelakangnya Abyan mengikuti mereka. Villa itu tak terlalu besar, tapi hangat dan nyaman. Interiornya didominasi kayu dan warna-warna netral yang menenangkan. Di lantai atas, ada satu kamar utama dan dua kamar tamu. Bu Rini membukakan salah satu kamar tamu untuk Nisa. “Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil saya, ya, Neng,” ucap Bu Rini lembut sebelum menutup pintu dan membiarkan Nisa sendiri. Sementara itu, Abyan turun ke lantai bawah dan berbicara singkat dengan Pak Sastro. “Dia tidak bisa diganggu dulu. Tolong pastikan villa ini aman, jangan sampai ada orang asing masuk. Kalau ada yang mencurigakan, langsung hubungi saya.” “Baik, Tuan.” Abyan menghela napas panjang dan berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas air putih, meneguknya cepat, lalu menatap kosong ke jendela. Udara dingin masuk melalui celah kecil, menyapu wajahnya yang lelah. Ia tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Menikah. Dengan perempuan yang bahkan tak ia kenal namanya kemarin pagi. Tapi semuanya sudah terjadi. Dan sekarang, tugasnya adalah memastikan perempuan itu aman. Ia tidak berniat membawa Nisa ke rumah orang tuanya—setidaknya belum. Bukan karena malu. Tapi ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Keluarga besar terutama sang kakek yang sedang menanti kelulusan calon cucu mantunya sekitar dua bulan lagi ditambah. kedatangan seorang istri baru, dari desa terpencil pula, hanya akan menambah percikan api di rumah besar itu. Siapa yang ingin dijodohkan? Abyan sendiri merasa tersiksa dengan perjodohan ini. Baru sajalulus kuliah dia harus belajar memegang perusahaan yang akan menjadi miliknya. di tambah dia harus menerima perjodohan dengan seorang mahasiswi yang tak lain anak dari rekan bisnis kakeknya. Untuk memperpanjang silaturahmi, itu yang selalu kakeknya katakan. Satu tahun sampai Dua tahun dia belum bisa menerima perjodohan itu, apalagi melihat sikap perempuan yang akan dijodohkan kepadanya. Dia selalu merasa ilfil. Tahun berikutnya Abyan mulai menerima karena mereka berjauhan. Tiara melanjutkan kuliahnya ke luar negeri dan perkiraan lulus sekitar dua bulan lagi. Setelah duduk sejenak, Abyan pun naik ke lantai atas. Ia melewati kamar Nisa yang sudah tertutup rapat, lalu masuk ke kamar utama. Sementara Nisa duduk di sisi ranjang, Ia merasa sepi. Tapi entah kenapa, malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa… aman. Bukan karena villa mewah ini. Bukan karena kasur empuk yang mengingatkannya pada hotel di televisi. Tapi karena kini, tidak ada lagi suara Bude Marni yang meneriakinya untuk bangun pagi. Tidak ada lagi tatapan laki-laki tua bernama Juragan Komar yang memerhatikannya seperti barang dagangan. Nisa menarik selimut pelan. Matanya mulai basah. Air mata mengalir pelan tanpa suara. Bukan karena sedih… tapi karena campuran emosi yang sulit ia jabarkan. Bingung. Takut. Syukur. Dan sejumput harapan. Ia tak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi untuk malam ini, ia bisa tidur… tanpa dikejar. Tanpa dijual. Tanpa rasa takut. *** "Tolong! Jangan! Tolong jangan pukul aku!" TBCDua bodyguard menyeret Abyan melewati lorong panjang yang dingin. Lampu-lampu kristal yang biasa terasa mewah kini tampak seperti saksi bisu penderitaan. Abyan meronta, tapi pegangan mereka terlalu kuat. Mereka membawanya ke ujung rumah besar itu, ke sebuah pintu baja tua yang jarang dibuka. Salah satu bodyguard memutar kunci besar dan pintu berderit berat, memperlihatkan tangga turun yang gelap dan berdebu. “Masuk.” Salah satu bodyguard mendorong Abyan dengan kasar. “Serius, kalian mau kurung gue kayak penjahat?!” Abyan melawan, tapi hanya dijawab tatapan dingin. “Perintah Tuan Besar.” Dorongan keras membuat Abyan terhuyung turun ke anak tangga. Mereka menutup pintu baja itu dan suara kunci diputar terdengar jelas, menggema di ruang bawah tanah. Kini Abyan sendirian. Udara lembab menusuk hidung, aroma besi berkarat bercampur debu. Ruangan itu kosong, hanya ada satu kursi kayu tua di tengah. Dindingnya beton dingin, tak ada jendela. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu
“Apa…? Kakek… ini… apa maksudnya?” suara Abyan serak, nyaris tak terdengar.“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kamu cucu laki-laki satu-satunya yang akan menjadi penerus keluarga ini. Hari ini kamu menikah dengan Renata, sesuai kesepakatan keluarga beberapa bulan lalu.”Abyan menggeleng pelan, tubuhnya terasa dingin. “Kenapa… kenapa nggak ada yang bilang ke aku…?”Yasmin, mamanya hanya menunduk di sudut ruangan, terlihat gugup dan pasrah. Alvin, papa-nya berdiri kaku, menatapnya dengan ekspresi sulit terbaca. Renata duduk di dekat ibunya dengan gaun pastel, wajahnya cantik namun penuh kegelisahan.Abyan melangkah mundur, dadanya terasa sesak. “Aku… nggak bisa, Kek. Aku nggak bisa nikah hari ini…” suaranya bergetar, tapi matanya tegas.Kakeknya menghentakkan tongkatnya ke lantai, membuat semua orang terdiam. “Abyan! Kamu pikir hidup ini cuma soal keinginan kamu?! Keluarga kita sudah menjaga nama baik puluhan tahun! Kamu akan menikah hari ini, titik!”Semua mata tertuju pada Abyan. Namun
Pesan dari sang kakek, sang penguasa keluarga, muncul di layar ponsel Abyan. Itu menjadi sarapan pagi baginya—teguran keras yang entah untuk keberapa kalinya ia terima. Dan sepertinya, ini adalh teguran yang paling keras baginya. Abyan hanya menatap pesan itu sebentar, lalu menghela napas. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Nisa yang sedang merapikan jilbab di depan cermin kecil. Gadis itu terlihat sederhana, tapi ketenangan yang dipancarkannya membuat hati Abyan terasa damai. Tanpa aba-aba, Abyan melangkah mendekat dan memeluk Nisa dari belakang. "A-aby... Mas...!" Nisa terlonjak, nyaris menjatuhkan jarum pentul di tangannya. "Maaf..." bisik Abyan pelan di dekat telinganya. Suaranya berat, penuh ragu, seolah takut merusak ketenangan pagi itu. "Sebentar aja... izinin aku kayak gini, ya?" Nisa menunduk, wajahnya memerah. Ia kaku, bingung harus bagaimana, tapi tidak berusaha melepaskan diri. Degup jantungnya berpacu tak karuan, dan dia hanya bisa menggigit bibir, berusaha me
Malam ini Nisa kembali mengigau dengan rasakan yang hampir sama seperti malam sebelumnya. Abyan tidak membayangkan beberapa hati lalu dia tidak ada di rumah. Berarti Nisa juga mengigau seperti sekarang. "Aku janji akan membuat kamu pulih. Semoga saja tidak terlambat." Gumam Abyan di dalam hatinya. Dia tidak tega dengan Nabila yang bahkan sampai gemetar. Abyan hanya bisa memeluknya untuk meredam kegelisahan Nisa. *** Pagi harinya, sinar matahari masuk lewat celah gorden, mengenai wajah Nisa yang masih setengah terlelap. Ia mengerjap pelan, lalu sadar bahwa ia kini berada di kamar yang sama dengan Abyan. Aroma tumisan bawang langsung menyeruak ke hidungnya. Nisa bangun dan duduk, merapikan kerudung tidur yang semalam masih melekat di kepalanya. Ternyata pintu kamarnya terbuka. Nisa sampai terperanjat karena pintu itu terbuka lebar. Apa sengaja? pikirnya. Sedangkan di dapur, Abyan tampak sibuk mengaduk wajan sambil menatap panci di sebelahnya. “Nah… kalau warnanya udah begini, ar
Abyan menghela napas, suaranya tegas tapi lembut. "Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan mundur dari semua rencana keluarga. Aku nggak mau kehilangan kamu, Nisa. Aku mau kita berjuang bareng, walaupun jalannya nggak mudah. Dalam hidupku cukup satu kali menikah."Nisa menggigit bibir, hatinya seperti berperang antara ingin percaya dan takut kecewa. "Mas tahu kan… aku cuma nggak mau hidup dalam bayang-bayang orang lain. Aku nggak mau selalu dibandingkan dengan… dia."Abyan mengangguk pelan. "Aku ngerti. Makanya aku mau selesain semua ini dulu. Tapi yang jelas… hatiku udah milih kamu. Dan aku percaya, pertemuan kita ini bukan kebetulan. Tapi Allah yang ngatur."Keheningan menyelimuti kamar itu sejenak. Nisa menunduk lagi, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Baiklah… aku percaya sama Mas. Tapi aku nggak janji bisa selalu kuat."Abyan tersenyum tipis, lalu berkata lirih, "Kalau kamu nggak kuat, biar aku yang jadi kuat buat kita."Tidak lama kemudian, Abyan menatap Nisa dengan sorot mata
"Menurut kamu bagaimana hubungan kita?" Tanya Abyan kepada Nisa setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Arya. Nisa yang sedang membaca Alquran menutupnya lalu menoleh kearah Abyan. "M-maksudnya?" "Hubungan kita untuk kedepannya bagaimana?" Tanya Abyan. "Oh... Em, eu... " Nisa berpikir sejenak, lalu ia menghela napas pelan. "S-saya bagaimana masnya aja, s-saya terima apa pun keputusan nya. Karena Saya tahu kalau kemarin Mas Abyan menerima saya karena terdesak." Jawab Nisa, ia menunduk. "Saya tidak ingin berharap lebih," Gumam Nisa di dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan itu karena dia juga berpikir lagi tentang dirinya yang apalah, dia tahu kalau Abyan tidak pantas untuknya yang hanya gadis desa. Abyan menatap Nisa cukup lama, seolah berusaha membaca apa yang sebenarnya ada di balik kata-katanya. Napasnya terdengar berat, tapi bukan karena marah—lebih seperti sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkan. "Aku nggak mau hubungan kita cuma karena terpaksa, Nisa," ucap