Home / Romansa / Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang / Pertama Bertemu Langsung Akad

Share

Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang
Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang
Author: Ijahkhadijah92

Pertama Bertemu Langsung Akad

last update Last Updated: 2025-08-06 16:19:29

Hembusan angin pedesaan menyusup melalui celah jendela mobil yang sedikit terbuka. Abyan menghela napas panjang sambil melirik peta digital di dashboard. Jalan yang ia lewati kini mulai tak dikenali—tanpa petunjuk, tanpa sinyal. Hanya jalanan berbatu yang memisahkan hutan kecil dan hamparan sawah luas.

"Kenapa juga aku nekat lewat jalur alternatif ini," gumamnya pelan, menyeka keringat di pelipis.

Tiba-tiba, dari kejauhan, seorang perempuan berlari ke tengah jalan. Wajahnya panik, jilbabnya kusut, dan nafasnya memburu seolah sedang dikejar sesuatu. Tanpa pikir panjang, Abyan menginjak rem.

Ciiiittt!

Perempuan itu nyaris menabrak kap mobil, tapi ia segera membuka pintu dan masuk begitu saja.

“Tolong, Pak! Tolong… saya nggak punya tempat lagi untuk lari!”

Abyan yang masih tercengang sempat menoleh tajam. “Hei! Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara-suara ribut dari kejauhan mulai terdengar. Puluhan warga mendekat dengan wajah gelisah dan marah.

“ITU DIA! Mobilnya DI SITU!”

“Cepat! Mereka belum pergi jauh!”

Abyan menegang. Perempuan di sebelahnya—entah siapa namanya—menunduk ketakutan, tubuhnya gemetar.

Warga mulai mengepung mobil dari segala arah. Suara ketukan di kaca mobil membuat detak jantung Abyan melonjak.

Tok tok tok!

“Turun! Kalian berdua, turun sekarang juga!” seru salah satu pria paruh baya dengan nada tak terbantahkan.

Abyan membuka pintu dan melangkah keluar. “Tunggu, ini semua—”

“Jangan kasih alasan dulu! Kami semua lihat! Kalian berdua di dalam mobil berduaan, di tempat sepi seperti ini!”

“Iya! Itu anaknya Almarhum Pak Raji! Anak gadis orang, Mas! Mau dikemanakan mukanya nanti?!”

Nisa—perempuan di dalam mobil—akhirnya keluar dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca. “Saya… saya cuma minta tolong. Saya dikejar orang yang—”

“Alasan klise!” potong seorang ibu-ibu sambil menunjuk. “Mau kamu dikejar atau tidak, kamu udah mencoreng nama baik keluarga kamu sendiri!”

Salah satu sesepuh desa menatap Abyan dengan tajam. “Nak, kami nggak mau ribut. Tapi kau harus bertanggung jawab. Kau harus menikahi gadis ini. Hari ini juga.”

Deg.

Darah Abyan serasa berhenti mengalir. “Menikah…? Tapi saya bahkan nggak tahu siapa dia…”

“Dan kamu pikir kami peduli? Kau sudah merusak nama baiknya. Mau tidak mau, harus kau nikahi. Kalau tidak, urusannya bisa panjang.”

Nisa menunduk semakin dalam. Air matanya menetes satu per satu.

Dalam hatinya, Abyan bergolak. Hidupnya terjadwal rapi, segala sesuatunya tertata. Tapi hari itu… semua berubah.

Abyan menatap perempuan di sebelahnya yang masih terdiam, memeluk tas kecil lusuh di dadanya. Tubuhnya gemetar, matanya tak berani menatap siapapun. Warga terus bersuara, menuntut jawaban dan tanggung jawab.

**

Sementara itu, di balik diam dan wajah pucatnya, batin Nisa bergejolak hebat.

Ia tak pernah membayangkan pelariannya akan membawanya sejauh ini. Sejak semalam ia mengurung diri di kamar, menolak lamaran yang datang lewat bude-nya. Seorang pria tua beristri empat, dengan kekayaan yang dijanjikan akan ikut mengangkat derajat keluarga mereka. Tapi Nisa menolak. Tegas. Tak peduli seberapa mewah rumah atau harta yang akan ia dapat, ia tak mau dijadikan istri kelima, seperti barang yang dibagi-bagi.

Penolakan itu membuat bude-nya murka. Pagi tadi, saat Nisa mencoba kabur dari rumah, wanita paruh baya itu meneriakinya maling. Tuduhan yang tidak masuk akal, tapi cukup untuk membakar emosi warga sekitar.

Dan begitulah semuanya bermula.

Nisa berlari sejauh mungkin, tak tahu harus ke mana, hanya berharap bisa jauh dari tekanan dan paksaan. Sampai akhirnya... sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan masuk. Ia tak peduli siapa pengemudinya—ia hanya butuh tempat aman.

Dan ternyata, tempat aman itu malah menyeretnya ke masalah yang lebih besar.

***

Abyan mendengus pelan, memijat pelipisnya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa hanya karena menolong orang asing, kini ia nyaris dipaksa menikah.

Namun warga desa tetap tak goyah.

“Maaf, Nak,” ujar seorang sesepuh dengan wajah datar. “Kami paham maksudmu mungkin baik, tapi di tempat seperti ini, kehormatan gadis adalah segalanya. Kau membawa dia ke dalam mobil, kau harus bertanggung jawab.”

“Benar itu! Kami nggak bisa tinggal diam!” timpal yang lain. “Mau siapa pun kau, ini desa kami, dan kami punya aturan!”

Abyan memandangi sekeliling. Tak ada sinyal. Tak ada jalan mundur. Tak ada waktu untuk memperdebatkan logika di hadapan massa yang sudah menuntut keputusan.

Lalu matanya beralih pada gadis di sampingnya.

Nisa masih diam, memeluk tasnya seakan itu satu-satunya yang bisa ia genggam di dunia ini. Ingin selalu ia mengingatkan warga kalau awal mula mereka mengejar dirinya karena diteriaki maling. Tapi kenapa sekarang mereka seolah lupa dengan tujuan mereka. Nisa pasrah, lidahnya terasa kelu, dia sudah lelah untuk bercerita apalagi membela diri, karena semuanya percuma.

Satu keputusan. Hanya satu.

**

Senja mulai turun perlahan, memandikan desa kecil itu dengan cahaya jingga yang samar. Di rumah kepala desa yang sederhana namun bersih, beberapa orang mulai bersiap. Seorang penghulu dipanggil, dua orang warga ditunjuk sebagai saksi. Abyan duduk kaku di sudut ruangan, masih mengenakan pakaian kerja dengan kemeja yang sudah lusuh oleh debu perjalanan.

Sementara itu, Nisa duduk di ruangan terpisah, dengan mata sembab. Ia tak mengerti bagaimana takdir begitu cepat membalikkan hidupnya. Beberapa ibu desa menenangkannya, meminjamkan kerudung bersih, dan memakaikannya bedak seadanya agar tak tampak terlalu pucat saat ijab kabul nanti.

Namun semua persiapan itu buyar seketika saat suara lantang menerobos dari luar rumah.

“NISAAA! KELUAR KAMU!!”

Pintu rumah kepala desa terbuka lebar. Seorang wanita dengan kain lusuh dan wajah galak menerobos masuk dengan langkah kasar. Tangan kanannya langsung menyergap lengan Nisa.

“Berani-beraninya kamu mau nikah tanpa izin saya! Anak kurang ajar!” bentaknya sambil menyeret Nisa ke luar ruangan.

“Bu—Bude… tolong…” suara Nisa lirih, tubuhnya lemas.

Warga langsung bereaksi.

“Eh, Bu Marni! Jangan kasar gitu dong!”

“Lepasin dulu anaknya!”

“Dia udah setuju dinikahi! Udah ada penghulu!”

Tapi Marni tetap bersikeras. “Saya walinya! Saya yang urus dia sejak kecil! Saya yang berhak tentukan hidupnya!”

Beberapa ibu menarik tangan Nisa dengan hati-hati, melepaskannya dari cengkeraman Marni. Nisa segera diamankan dan dibawa kembali ke dalam rumah.

Marni menatap Abyan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja mahal meski agak kusut, jam tangan berkelas, dan sikap tenang khas orang kota. Tatapannya berubah.

Dalam hati, ia bergumam, “Boleh juga calon suaminya...”

Lalu dengan suara lantang, ia berkata, “Em… baiklah. Kalau memang harus menikah, saya setuju. Tapi saya minta tebusan lima ratus juta!”

Suasana langsung membeku.

Semua mata menatap Marni. Bahkan penghulu dan kepala desa saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

“Yang benar saja, Marni!” seru kepala desa.

“Dia keponakan saya. Terserah saya, dong!” sahut Marni enteng, seolah sedang menjual kambing.

“Dia itu manusia, bukan barang!” ujar salah satu warga geram.

Marni mendengus. “Yah… kalau lima ratus juta terlalu berat, kasih saya setengahnya aja. Juragan Komar malah nawar satu milyar buat nikahin Nisa. Toh saya yang urus dia dari kecil!”

Warga mulai geleng-geleng kepala, sebagian bahkan menahan emosi.

Semua tahu siapa Marni. Sejak kecil, Nisa memang dititipkan padanya setelah kedua orangtuanya meninggal. Tapi bukannya disayang, gadis itu justru dijadikan alat cari uang. Dari umur delapan tahun, Nisa sudah menjajakan gorengan buatan Marni keliling desa. Saat teman-teman sebayanya bermain, Nisa harus belajar menahan lapar dan berjalan berkilo-kilo membawa bakul dagangan.

Setelah lulus SMP, hidupnya makin keras. Marni memaksanya bekerja ke mana-mana. Dari buruh harian hingga menjadi pembantu rumah tangga di kota tetangga—asal uang terus mengalir ke kantong Marni.

Dan kini, ia ingin menjual keponakannya secara terang-terangan?

Abyan berdiri, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, menatap Marni lurus-lurus.

“Bu,” suaranya tenang, tapi tegas. “Saya menikahi keponakan ibu karena saya ingin melindunginya. Bukan membelinya.”

Marni sempat terdiam, lalu mendengus sebal.

“Laki-laki macam kamu banyak omong. Tapi tunggu aja, nanti juga kamu bosan.”

Namun kali ini, tak ada yang mendukung Marni. Bahkan warga yang semula penasaran kini memalingkan wajah dari wanita itu dengan jijik.

Kepala desa mengangguk. “Kita lanjutkan akadnya. Nisa sudah cukup dewasa, dan budenya tidak pantas jadi wali. Saya bersedia menjadi wali hakim.”

Abyan menatap Nisa yang duduk di ujung ruangan. Gadis itu menggenggam jarinya sendiri, mencoba meredam ketakutan yang masih tersisa.

Dan detik itu juga, tanpa rencana, tanpa restu keluarga, tanpa persiapan, akad nikah mereka dimulai.

Dengan satu tarikan napas, Abyan mengucapkan ijab kabul. Dan, kata sah terucap dari saksi yang diangguki oleh warga.

**

"Saya akan membawanya ke kota."

"Sebelum membawanya ke kota, kamu bayar dulu uang yang saya minta."

TBC

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Menikah Resmi

    Mama Abyan menutup mulutnya. Tangannya gemetar, tapi tak ada jerit histeris. Hanya napas yang tercekat—campuran duka dan sesuatu yang lebih berat: akhir dari ketakutan yang selama ini menaungi hidupnya. Papa Abyan melangkah mendekat ke ranjang. Ia menatap wajah ayahnya lama. Wajah yang dulu ditakuti semua orang. Kini pucat, sunyi, dan… kecil. “Sudah selesai, Yah,” gumamnya pelan. “Akhirnya.” Tak ada doa yang lantang. Tak ada isak. Hanya kelelahan generasi yang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang satu orang. Beberapa menit kemudian, Renata dan Rio datang tergesa. Renata menangis tertahan, lebih karena panik daripada kehilangan. Rio berdiri kaku, wajahnya sulit dibaca—takut, mungkin, pada apa yang akan terjadi setelah ini. “Bagaimana dengan perusahaan?” tanya Rio tanpa sadar, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya. Mama Abyan menoleh tajam. “Kakekmu baru meninggal,” ucapnya dingin. “Dan itu yang kau pikirkan?” Rio terdiam. Papa Abyan menghembuskan napas panjang. “Semua

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Selesai

    Suara itu datang dari ujung ruangan. Semua menoleh. Kakek Bagaskara duduk di kursi rodanya, wajahnya jauh lebih tua dari terakhir kali. Tatapannya kosong, bukan marah... melainkan kalah. Untuk pertama kalinya, ia tak punya kendali. “Bukan Abyan yang menghancurkan keluarga ini,” ucapnya pelan tapi menusuk. “Kitalah yang melakukannya. Aku.” Ruangan sunyi. Renata menangis tersedu di sudut ruangan. Semua ambisi, semua rencana hidup mewahnya runtuh bersamaan dengan terbongkarnya aibnya sendiri. Rio sudah lebih dulu menghilang, melarikan diri dari sorotan dan penghakiman. “Kakek…” suara Renata parau. “Kita masih bisa memperbaiki—” “Tidak,” potong sang kakek. “Sudah terlambat.” Ia memejamkan mata. Bayangan Abyan kecil terlintas.... anak yang tumbuh bukan dengan kasih, tapi dengan beban. “Abyan tidak lagi milik keluarga ini,” lanjutnya. “Dan setelah hari ini… keluarga ini juga tidak lagi berhak atas hidupnya.” Ayah dan ibu Abyan terdiam. Bagi ibu Abyan, kalimat itu adala

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Bukan Akhir

    Satu minggu kemudian. Kota bergerak lebih cepat dari biasanya. Lampu-lampu gedung menyala seperti mata-mata yang tak pernah tidur. Di salah satu titik tertinggi, Abyan berdiri menatap layar-layar monitor di hadapannya. Denyut nadi di pelipisnya terasa keras, tapi wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang melancarkan serangan terakhir. “Semua jalur siap,” lapor Arya di sampingnya. “Begitu lo kasih kode, sistem inti mereka runtuh. Setelah itu, Mahardika cuma tinggal nama.” Abyan mengangguk pelan. Tangannya sudah terangkat untuk memberi aba-aba... BIP. Satu notifikasi masuk. Bukan dari tim. Bukan dari intel. Nomor tak dikenal. Abyan menatap layar ponselnya. Jantungnya seolah berhenti satu detik terlalu lama. Video. Ia membukanya. Safe house. Kamera bergoyang sedikit, lalu fokus. Nisa duduk di kursi kayu, tangan terikat di belakang. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar tapi ia berusaha tetap tegak. Di sampingnya, Bi Rini menangis tertahan, sementara Pak

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Rencana Terbesar

    Di ujung telepon, suara Pak Santoso terdengar sedikit terengah, seperti baru saja berlari. “Mas Abyan… dia kembali. Orang itu. Kali ini dia mencoba manjat pagar depan. Untung saya sempat melihat dan saya teriaki. Tapi orangnya kabur ke gang kecil. Tinggal bekas jejak lumpurnya di pagar.” Abyan langsung tegak, sorot matanya berubah tajam. Arya yang duduk di sebelah langsung berhenti menulis dan ikut memperhatikan. “Jam berapa kejadian itu?” tanya Abyan cepat. “Sekitar jam 1 lewat 40, Mas. Hujan rintik. Dia pakai hoodie gelap, gerakannya cepat… kayak orang yang tahu situasi rumah. Tapi saya nggak sempat lihat mukanya.” Abyan mengepalkan tangan. “Berarti mereka udah mulai bergerak aktif. Tempat itu nggak lagi aman sepenuhnya.” *** Arya bersandar di kursi, mendengarkan serius. “Ini bukan sekadar intai, Byan. Mereka ngetes perimeter. Biasanya… habis ini datang kelompok berikutnya.” Abyan mengangguk, rahangnya mengeras. “Aku tahu.” Ia kembali ke telepon. “Pak Santoso, de

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Nekat

    Wanita muda itu tersenyum tipis, matanya tajam walau wajahnya terlihat lugu. “Tenang saja. Orang tidak akan curiga sama pedagang buah. Aku akan tahu siapa pun yang lewat di depan rumah itu.” Mereka berdua saling tukar pandang singkat. Sementara itu, dari dalam rumah, Nisa tengah duduk di ruang tamu, menuliskan sesuatu di buku catatannya, tak menyadari bahwa dunia di luar perlahan berubah. Ia hanya merasakan kegelisahan samar yang beberapa hari ini sering datang tanpa sebab. Di tempat lain, Rio mematikan alat komunikasinya, lalu menatap Paman Ridwan yang duduk di kursi kulit besar. “Langkah pertama selesai,” ucap Rio dengan nada puas. Ridwan mengangguk perlahan. “Jangan terburu-buru. Kita biarkan Abyan merasa aman. Saat fokusnya sepenuhnya tertuju pada perebutan kekuasaan, kita pukul dari titik terlemahnya.” Rio menyeringai licik. “Perempuan itu…” Ridwan berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang mulai gelap. “Betul. Perempuan itu akan menjadi kunci untuk men

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Serangan Balik

    “Dia melihat semua ini dari layar siaran,” lanjut Rio dengan mata berkaca-kaca. “Lo pikir semua tindakan lo tidak ada konsekuensinya? Keluarga kita… semua hancur karena ambisimu!”“Sudah, Rio,” potong Arya dengan nada menahan. “Jangan mulai di sini.”“Kenapa nggak?!” bentak Rio. “Kalian semua sibuk perang dan rebut kekuasaan! Sementara orang tua kita—keluarga kita—remuk di belakang kalian!”Suasana ruang kendali yang tadinya dipenuhi suara mesin kini berubah mencekam. Semua anak buah Abyan yang berada di sana terdiam, menyadari ini bukan sekadar pertengkaran keluarga biasa.Abyan perlahan menoleh ke Rio. Suaranya tenang tapi mengandung bara. "Gue ngelakukuin ini… supaya kita tidak terus hidup dalam bayang-bayang penindasan. Gue gak menyesal.”Rio maju selangkah, emosinya memuncak. .“Kalau semua harus dibayar dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai… apa masih pantas disebut kemenangan, Abyan?”Pertanyaan itu menggantung tajam di udara, membuat Arya pun tertunduk dalam diam. Aby

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status