Share

Perlahan Menerima

last update Last Updated: 2025-08-14 22:43:01

Abyan menghela napas, suaranya tegas tapi lembut. "Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan mundur dari semua rencana keluarga. Aku nggak mau kehilangan kamu, Nisa. Aku mau kita berjuang bareng, walaupun jalannya nggak mudah. Dalam hidupku cukup satu kali menikah."

Nisa menggigit bibir, hatinya seperti berperang antara ingin percaya dan takut kecewa. "Mas tahu kan… aku cuma nggak mau hidup dalam bayang-bayang orang lain. Aku nggak mau selalu dibandingkan dengan… dia."

Abyan mengangguk pelan. "Aku ngerti. Makanya aku mau selesain semua ini dulu. Tapi yang jelas… hatiku udah milih kamu. Dan aku percaya, pertemuan kita ini bukan kebetulan. Tapi Allah yang ngatur."

Keheningan menyelimuti kamar itu sejenak. Nisa menunduk lagi, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Baiklah… aku percaya sama Mas. Tapi aku nggak janji bisa selalu kuat."

Abyan tersenyum tipis, lalu berkata lirih, "Kalau kamu nggak kuat, biar aku yang jadi kuat buat kita."

Tidak lama kemudian, Abyan menatap Nisa dengan sorot mata yang penuh keyakinan.

"Nisa… mulai malam ini, aku mau kamu pindah ke kamarku. Kita tidur bareng, nggak usah lagi terpisah kayak gini. Aku mau kita benar-benar suami istri, bukan cuma sekadar status di atas kertas." ucap Abyan.

Nisa terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Mas… apa nggak terlalu cepat? Kita kan baru…," ucapnya ragu, jemarinya saling meremas.

Abyan tersenyum tipis, tapi nada suaranya mantap. "Aku serius, Nisa. Aku nggak mau hubungan kita setengah-setengah. Kalau aku udah memutuskan, berarti aku siap bertanggung jawab penuh. Aku mau kita belajar saling memahami dari dekat, bukan dari jarak."

Nisa menunduk, berpikir keras. Ada rasa takut, tapi juga ada rasa percaya. "Kalau… kalau aku setuju, Mas janji nggak akan menyesal?"

Abyan langsung mengangguk. "Janji. Dan aku nggak akan pernah menyesal."

Akhirnya, dengan napas panjang, Nisa mengangguk pelan. "Baiklah…"

Tanpa menunggu lama, Abyan bangkit dan membuka lemari kecil milik Nisa. Ia mengambil baju-baju yang terlipat rapi, hanya beberapa stel saja.

"Sedikit banget baju kamu," komentarnya sambil tersenyum tipis.

"Ya… cuma bawa yang perlu aja," jawab Nisa lirih. Padahal dia memang tidak punya banyak baju di rumahnya. Itu juga diberi orang lain yang memang sedikit mempunyai harta. Sesekali Nisa juga dibelikan baru bukan hanya bekas saja oleh keluarga Haji Sodiq. Sudah lebih dari dua tahun Ini memang Nisa bekerja di rumahnya.

Abyan menaruh semua pakaian itu di lengannya, lalu berjalan menuju kamarnya. "Mulai malam ini, nggak ada lagi jarak di antara kita, Ya."

Nisa mengikutinya perlahan, masih ada rasa gugup, tapi juga hangat yang mulai merayap di dadanya.

**

Di kamar, suasana terasa berbeda. Lampu kamar hanya menyala redup, menyisakan cahaya hangat yang menenangkan. Abyan sudah duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Nisa duduk di tepi ranjang, memegang ujung selimut seperti mencari pegangan.

Abyan menoleh, memperhatikan wajah istrinya yang jelas-jelas masih canggung. “Nis, kamu santai aja. Anggap ini… ya rumah kita,” ucapnya sambil tersenyum tipis. "Untuk sementara, kita di sini dulu." sambungnya.

Nisa mengangguk pelan, tapi tatapannya masih ke bawah. “Iya… cuma… belum terbiasa, Mas.”

Abyan tertawa kecil, tapi nada suaranya tetap lembut. “Aku ngerti. Aku juga masih belajar terbiasa ada kamu di sini. Tapi aku mau kita ngobrol sebelum tidur, biar pelan-pelan nggak ada canggung lagi.”

Nisa mengangkat pandangan, ragu-ragu. “Ngobrol… tentang apa?”

“Banyak. Tentang kamu, tentang aku, tentang apa aja. Misalnya… kamu suka makan apa?” tanya Abyan ringan.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi Nisa butuh waktu sebelum menjawab. “Hmm… sayur bening. Sama tempe goreng.”

Abyan mengangguk, tersenyum. “Berarti gampang, nggak ribet. Kalau aku… suka apa ya? Kayaknya aku suka semua makanan, asal ada kamu yang masakin.”

Nisa menahan senyum, tapi matanya masih menunjukkan rasa kikuk. “Mas bisa aja…” gumamnya.

Abyan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah. “Nisa, aku nggak cuma bisa aja. Aku serius. Aku mau kamu tahu, mulai malam ini, kamu itu… rumah aku.”

Kata-kata itu membuat Nisa terdiam lama. Ada rasa hangat sekaligus haru, meski mulutnya hanya bisa menjawab pelan, “Makasih, Mas…”

Abyan menarik selimut, lalu menepuk sisi ranjang di sampingnya. “Udah, sekarang kita tidur. Tapi inget, kita bangun bareng juga nanti.”

Nisa mengangguk, lalu perlahan merebahkan diri. Walau masih canggung, ia bisa merasakan satu hal—kehadiran Abyan di sisinya mulai membuatnya merasa aman.

Setelah itu, Nisa berbaring membelakangi Abyan, memeluk guling. Suara detak jarum jam terdengar jelas di tengah keheningan malam.

Abyan memiringkan tubuh, menghadap ke arah Nisa. “Kamu nggak ngantuk?” tanyanya pelan. "Sini jangan membelakangi... "

Nisa berbalik, pandangannya tetap menunduk. “Ngantuk sih… tapi masih kepikiran aja,” jawab Nisa, suaranya hampir berbisik.

“Kepikiran apa?”

“Ya… semua ini. Cepet banget, Mas. Rasanya kayak mimpi, tau-tau kita udah serumah,” ucap Nisa sambil menatap kosong ke langit-langit kamar.

.

Abyan tersenyum kecil. “Berarti mimpinya indah dong?”

Nisa menahan tawa, tapi hanya gelengan kecil yang keluar. “Mas… bisa aja.”

“Bukan bisa aja, Nisa. Aku cuma mau bilang… walaupun kita mulai dengan cara yang nggak biasa, aku mau kita jalanin ini dengan hati yang bener. Pelan-pelan, tapi pasti,” kata Abyan sambil meraih selimutnya agar menutupi bahu Nisa yang sempat terbuka.

Hati Nisa menghangat. Ia tak terbiasa diperlakukan sedekat itu, tapi anehnya, tidak ada rasa terancam. Malah ada sedikit rasa tenang. “Iya, Mas… semoga kita sama-sama kuat.”

Abyan mengangguk. “Amin. Oh iya, Nis… besok pagi aku masakin sarapan, mau?”

“Serius? Mas bisa masak?” tanya Nisa sambil menoleh setengah tidak percaya.

“Bisa dong. Asal jangan kaget kalau nanti rasanya aneh,” candanya.

Nisa terkekeh kecil, rasa canggungnya mulai memudar. “Ya udah, nanti aku temenin di dapur.”

“Deal,” jawab Abyan sambil tersenyum puas. “Sekarang tidur, biar besok kita nggak kesiangan.”

Nisa akhirnya memejamkan mata. Abyan pun ikut merebahkan diri, namun tetap menjaga jarak, membiarkan Nisa merasa aman. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bersama, mereka tertidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.

***

"Tidak! Tidak! Jangan!"

"Jangan bude... Ampun!"

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Malam yang Menegangkan

    Dua bodyguard menyeret Abyan melewati lorong panjang yang dingin. Lampu-lampu kristal yang biasa terasa mewah kini tampak seperti saksi bisu penderitaan. Abyan meronta, tapi pegangan mereka terlalu kuat. Mereka membawanya ke ujung rumah besar itu, ke sebuah pintu baja tua yang jarang dibuka. Salah satu bodyguard memutar kunci besar dan pintu berderit berat, memperlihatkan tangga turun yang gelap dan berdebu. “Masuk.” Salah satu bodyguard mendorong Abyan dengan kasar. “Serius, kalian mau kurung gue kayak penjahat?!” Abyan melawan, tapi hanya dijawab tatapan dingin. “Perintah Tuan Besar.” Dorongan keras membuat Abyan terhuyung turun ke anak tangga. Mereka menutup pintu baja itu dan suara kunci diputar terdengar jelas, menggema di ruang bawah tanah. Kini Abyan sendirian. Udara lembab menusuk hidung, aroma besi berkarat bercampur debu. Ruangan itu kosong, hanya ada satu kursi kayu tua di tengah. Dindingnya beton dingin, tak ada jendela. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Paksaan Kakek Abyan

    “Apa…? Kakek… ini… apa maksudnya?” suara Abyan serak, nyaris tak terdengar.“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kamu cucu laki-laki satu-satunya yang akan menjadi penerus keluarga ini. Hari ini kamu menikah dengan Renata, sesuai kesepakatan keluarga beberapa bulan lalu.”Abyan menggeleng pelan, tubuhnya terasa dingin. “Kenapa… kenapa nggak ada yang bilang ke aku…?”Yasmin, mamanya hanya menunduk di sudut ruangan, terlihat gugup dan pasrah. Alvin, papa-nya berdiri kaku, menatapnya dengan ekspresi sulit terbaca. Renata duduk di dekat ibunya dengan gaun pastel, wajahnya cantik namun penuh kegelisahan.Abyan melangkah mundur, dadanya terasa sesak. “Aku… nggak bisa, Kek. Aku nggak bisa nikah hari ini…” suaranya bergetar, tapi matanya tegas.Kakeknya menghentakkan tongkatnya ke lantai, membuat semua orang terdiam. “Abyan! Kamu pikir hidup ini cuma soal keinginan kamu?! Keluarga kita sudah menjaga nama baik puluhan tahun! Kamu akan menikah hari ini, titik!”Semua mata tertuju pada Abyan. Namun

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Kamu Adalah Doa

    Pesan dari sang kakek, sang penguasa keluarga, muncul di layar ponsel Abyan. Itu menjadi sarapan pagi baginya—teguran keras yang entah untuk keberapa kalinya ia terima. Dan sepertinya, ini adalh teguran yang paling keras baginya. Abyan hanya menatap pesan itu sebentar, lalu menghela napas. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Nisa yang sedang merapikan jilbab di depan cermin kecil. Gadis itu terlihat sederhana, tapi ketenangan yang dipancarkannya membuat hati Abyan terasa damai. Tanpa aba-aba, Abyan melangkah mendekat dan memeluk Nisa dari belakang. "A-aby... Mas...!" Nisa terlonjak, nyaris menjatuhkan jarum pentul di tangannya. "Maaf..." bisik Abyan pelan di dekat telinganya. Suaranya berat, penuh ragu, seolah takut merusak ketenangan pagi itu. "Sebentar aja... izinin aku kayak gini, ya?" Nisa menunduk, wajahnya memerah. Ia kaku, bingung harus bagaimana, tapi tidak berusaha melepaskan diri. Degup jantungnya berpacu tak karuan, dan dia hanya bisa menggigit bibir, berusaha me

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Wanita Pilihan

    Malam ini Nisa kembali mengigau dengan rasakan yang hampir sama seperti malam sebelumnya. Abyan tidak membayangkan beberapa hati lalu dia tidak ada di rumah. Berarti Nisa juga mengigau seperti sekarang. "Aku janji akan membuat kamu pulih. Semoga saja tidak terlambat." Gumam Abyan di dalam hatinya. Dia tidak tega dengan Nabila yang bahkan sampai gemetar. Abyan hanya bisa memeluknya untuk meredam kegelisahan Nisa. *** Pagi harinya, sinar matahari masuk lewat celah gorden, mengenai wajah Nisa yang masih setengah terlelap. Ia mengerjap pelan, lalu sadar bahwa ia kini berada di kamar yang sama dengan Abyan. Aroma tumisan bawang langsung menyeruak ke hidungnya. Nisa bangun dan duduk, merapikan kerudung tidur yang semalam masih melekat di kepalanya. Ternyata pintu kamarnya terbuka. Nisa sampai terperanjat karena pintu itu terbuka lebar. Apa sengaja? pikirnya. Sedangkan di dapur, Abyan tampak sibuk mengaduk wajan sambil menatap panci di sebelahnya. “Nah… kalau warnanya udah begini, ar

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Perlahan Menerima

    Abyan menghela napas, suaranya tegas tapi lembut. "Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan mundur dari semua rencana keluarga. Aku nggak mau kehilangan kamu, Nisa. Aku mau kita berjuang bareng, walaupun jalannya nggak mudah. Dalam hidupku cukup satu kali menikah."Nisa menggigit bibir, hatinya seperti berperang antara ingin percaya dan takut kecewa. "Mas tahu kan… aku cuma nggak mau hidup dalam bayang-bayang orang lain. Aku nggak mau selalu dibandingkan dengan… dia."Abyan mengangguk pelan. "Aku ngerti. Makanya aku mau selesain semua ini dulu. Tapi yang jelas… hatiku udah milih kamu. Dan aku percaya, pertemuan kita ini bukan kebetulan. Tapi Allah yang ngatur."Keheningan menyelimuti kamar itu sejenak. Nisa menunduk lagi, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Baiklah… aku percaya sama Mas. Tapi aku nggak janji bisa selalu kuat."Abyan tersenyum tipis, lalu berkata lirih, "Kalau kamu nggak kuat, biar aku yang jadi kuat buat kita."Tidak lama kemudian, Abyan menatap Nisa dengan sorot mata

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Permintaan Abyan

    "Menurut kamu bagaimana hubungan kita?" Tanya Abyan kepada Nisa setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Arya. Nisa yang sedang membaca Alquran menutupnya lalu menoleh kearah Abyan. "M-maksudnya?" "Hubungan kita untuk kedepannya bagaimana?" Tanya Abyan. "Oh... Em, eu... " Nisa berpikir sejenak, lalu ia menghela napas pelan. "S-saya bagaimana masnya aja, s-saya terima apa pun keputusan nya. Karena Saya tahu kalau kemarin Mas Abyan menerima saya karena terdesak." Jawab Nisa, ia menunduk. "Saya tidak ingin berharap lebih," Gumam Nisa di dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan itu karena dia juga berpikir lagi tentang dirinya yang apalah, dia tahu kalau Abyan tidak pantas untuknya yang hanya gadis desa. Abyan menatap Nisa cukup lama, seolah berusaha membaca apa yang sebenarnya ada di balik kata-katanya. Napasnya terdengar berat, tapi bukan karena marah—lebih seperti sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkan. "Aku nggak mau hubungan kita cuma karena terpaksa, Nisa," ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status