Share

BAB 06

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-06-08 00:25:02

Dera merasa hari ini adalah salah satu hari paling melelahkan yang pernah ia jalani. Bukan karena aktivitasnya terlalu banyak, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Sejak pagi, pikirannya sudah dipenuhi masalah keluarga, perjodohan, skripsi, sampai akhirnya bertemu dengan pria bernama Dafi Ezekiel Addison yang entah kenapa berhasil membuat kepalanya semakin penuh. Bahkan sampai sekarang, perkataan pria itu masih terngiang-ngiang di telinganya.

Merayap menuju kamar yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Dera bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri, langkahnya terasa berat. Tubuhnya sudah seperti kehilangan tenaga, sementara semangat yang biasanya masih tersisa sedikit saja pun seolah ikut menghilang entah ke mana.

Begitu sampai di tepian kasur, Dera langsung menjatuhkan tubuhnya tanpa berpikir panjang. Namun baru beberapa detik tubuhnya menyentuh kasur, ia justru langsung meringis kesakitan.

“Anjir!”

Dera buru-buru bangkit sambil mengusap punggungnya. Ia menatap kasur tua yang sudah menjadi tempat tidurnya selama bertahun-tahun dengan tatapan penuh kecurigaan.

“Sakit banget, njirrrr. Kayak ditimpuk batu,” gerutunya sambil mengusap bagian pinggang. “Kapan terakhir gue ganti kasur, sih?”

Ia terdiam sejenak, lalu pikirannya tiba-tiba beralih pada sesuatu yang sebenarnya jauh lebih penting.

“Eh, soal kuliah gue, dosen pembimbing nyariin gue nggak, ya? Gue belum nyicil bahan skripsi soalnya.”

Begitulah Dera. Bahkan ketika hidupnya sedang berantakan dan dirinya baru saja dipaksa menjadi pengganti dalam sebuah perjodohan yang sama sekali tidak ia inginkan, ia masih sempat memikirkan skripsi. Mungkin karena skripsi adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan dalam hidupnya.

Dera kembali merebahkan tubuhnya. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal. Ada rasa sesak yang perlahan muncul di dalam dada ketika ia kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu.

Dela melarikan diri, sementara dirinya yang selama bertahun-tahun bahkan nyaris tidak dianggap ada justru dipaksa menggantikan posisi saudara kembarnya.

Seolah-olah selama ini ia memang hanya disimpan untuk digunakan ketika keluarga membutuhkannya.

“Gila,” gumam Dera lirih. “Dunia tuh kenapa, sih? Hobi banget ngerjain hidup gue.”

Ia menarik napas panjang.

“Penuh lika-liku, tapi jalan keluarnya nggak pernah ada. Mau nolak juga ujung-ujungnya gue yang disalahin.”

Dera memejamkan mata. Untuk beberapa saat, ia hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dua puluh satu tahun hidup, tetapi entah kenapa ia merasa belum pernah benar-benar mengetahui ke mana hidupnya akan berjalan.

“Kapan, ya, gue mati?” celetuknya tiba-tiba.

Matanya kembali terbuka.

“Dua puluh satu tahun hidup, kayaknya hidup gue datar aja. Monoton. Nggak ada kejelasan mau hidup kayak gimana.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan bagi orang lain, tetapi bagi Dera, ada sedikit kejujuran di dalamnya. Ia tidak benar-benar ingin mati. Ia hanya terlalu lelah menjalani kehidupan yang rasanya tidak pernah memberikan kesempatan untuk memilih.

Akhirnya Dera memutuskan untuk bangkit. Kalau terus rebahan, kepalanya justru semakin penuh. Ia berniat menyalakan laptop dan melanjutkan karangan ilmiahnya. Setidaknya, skripsi bisa mengalihkan pikirannya dari masalah perjodohan.

Namun baru saja laptop dibuka, layar yang muncul justru membuatnya menghela napas panjang.

Baterainya habis.

Dera menatap layar laptop dengan tatapan kosong.

“Ya Tuhan…” tangannya mengacak rambut sendiri. “Charger gue mana, sih?”

Barulah ia teringat bahwa charger laptopnya tertinggal ketika pergi kemarin.

“Pantesan nggak nyala. Gue juga yang bego.”

Dera menutup laptopnya kembali. Baru saja ia hendak mengambil ponsel, suara notifikasi terdengar.

Ting!

Untuk pertama kalinya sejak masuk kamar, perhatian Dera benar-benar teralihkan. Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.

Begitu membaca isinya, ekspresi kusut di wajah Dera perlahan berubah.

Seseorang mengajaknya menonton balapan.

Dera langsung duduk tegak, pesan itu berasal dari Zidan.

> Gas ayolah, gue tunggu depan kos. Jangan telat, ya. Kalau telat, siap-siap gue gorok leher lo.

Dera terkekeh kecil. Ia tidak membalas pesan tersebut. Malas mengetik, ia justru langsung menelepon Zidan.

“Lo serius ngajak gue?” tanya Dera begitu telepon tersambung.

“Seriuslah. Gue udah di depan kos lo.” balas Zidan dari seberang sana.

“Lima menit.” sambung Dera.

“Lima menit apaan? Gue udah nunggu dari tadi.”

“Kalau lo bawel, gue batal.”

“Yaudah, cepetan.”

Telepon langsung ditutup.

Dera yang beberapa menit lalu terlihat kusut seperti baju belum disetrika, mendadak berubah menjadi manusia paling bersemangat di muka bumi. Masalah Dafi, Dela, perjodohan, bahkan skripsi yang belum disentuh lagi-lagi ia masukkan ke dalam sudut pikirannya untuk sementara.

Ia mengambil pakaian, lalu bergegas menuju kamar mandi.

Mandi adalah pilihan terbaik untuk menyegarkan tubuhnya sebelum keluar malam ini. Dera tidak ingin memikirkan masalahnya malam ini. Soal menjadi pengantin pengganti, biarkan dipikirkan nanti. Belum tentu juga manusia sultan bernama Dafi itu mau menerimanya sebagai istri seumur hidup.

Lagipula, Dera sadar betul dirinya jauh dari kata perempuan ideal.

Kelakuannya lebih mirip preman yang kebetulan dilahirkan sebagai perempuan.

Beberapa puluh menit kemudian, Dera sudah berdiri di luar kos. Pakaiannya sederhana seperti biasa. Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada usaha khusus untuk membuat dirinya terlihat seperti perempuan yang baru saja bertemu calon suami dari keluarga kaya raya.

Zidan yang sudah menunggunya langsung menaikkan alis.

“Tumben lo berani ngajakin gue nonton ginian,” kata Dera. “Biasanya kicep sama si Arkan.”

Zidan mendengus sambil memasukkan kunci motornya.

“Seorang Zidan Erkano takut sama Arkan? Udah nggak zamannya kali.”

“Terus?”

“Gue tahu lo lagi stres mikirin beban hidup, makanya gue ajakin keluar sekarang. Gue nggak mau, ya, sohib cewek satu-satunya gue kena gangguan jiwa.”

Dera menyipitkan mata.

“Alah, biasanya aja lo nggak peduli gue stres apa enggak. Lo juga nggak pernah berani ngajakin gue ke tempat beginian, kecuali gue yang maksa sendiri. Emang ada apa nih, lo mendadak jadi baik?”

“Udah gue bilang nggak kenapa-kenapa.”

“Bohong.”

“Lo jadi ikut nggak?”

“Ikut.”

“Kalau nggak, gue pergi sendiri sekarang.”

“Enak aja pergi sendiri. Gue udah siap-siap dari tadi. Gas, ayo!”

Zidan terkekeh lalu menyalakan motornya. Di antara semua sahabat Dera, selain Arkan, Zidan memang bisa dikatakan salah satu orang yang paling dekat dengannya. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tidak banyak hal yang bisa disembunyikan satu sama lain karena mereka terbiasa saling mencurahkan isi hati.

Jika Arkan adalah orang yang selalu merasa harus melindungi Dera, Zidan lebih sering menjadi orang yang menemani Dera ketika ia hanya ingin didengarkan. Ia bahkan tidak keberatan menggantikan posisi Arkan sesekali ketika Dera membutuhkan seseorang untuk diajak pergi atau sekadar bercanda.

Baru beberapa menit perjalanan, Zidan tiba-tiba bertanya.

“Lo tadi ketemuan sama calon suami lo, udah dikasih makan belum?”

Dera langsung tertawa hambar.

“Boro-boro dikasih makan. Dia aja masih bertanya-tanya kenapa yang datang ke restoran itu malah si Upik Abu, bukan si Ratu Kecantikan.”

Zidan melirik ke belakang sebentar.

“Spesies kayak lo? Dikatain Upik Abu?”

“Makna tersiratnya mah gitu.”

Zidan tertawa.

“Ya emang pantes sih lo disebut Upik Abu.”

“Anjir, bukannya hibur gue malah nambahin.”

“Gue belum selesai.”

“Apaan lagi?”

“Lo itu sebenarnya cakep, cuma tampilan lo aja yang amburadul. Dibandingkan jadi cewek, lo lebih cocok jadi laki.”

Dera mulai memasang wajah tidak suka.

“Zidan…”

“Serius. Lo adu tonjok sama preman aja, premannya mungkin yang angkat tangan duluan.”

Dera langsung menepuk bahu Zidan cukup keras.

“Anjir! Gue merasa terhina sama dia, kenapa lo nambah-nambahin juga, sih!”

Zidan malah tertawa puas.

“Ya emang faktanya kayak gitu. Emang kudu gimana lagi, Der?”

“Bodo amatlah. Gue sakit hati, sumpah!”

Dera kembali memeluk tubuhnya sendiri sambil memasang wajah sebal. Namun Zidan hanya terkekeh. Membuat Dera kesal memang salah satu hiburan favoritnya.

Padahal sebenarnya Dera memiliki wajah yang cantik. Hanya saja ia hampir tidak pernah berusaha memperlihatkannya. Rambut kusut bukan masalah. Tidak menggunakan makeup juga bukan masalah. Pakaian seadanya pun tidak pernah membuatnya merasa perlu memperbaiki diri. Dera terlalu nyaman dengan dirinya sendiri, meskipun kenyamanan itu terkadang membuat orang lain menganggapnya terlalu berantakan.

Zidan kembali membuka suara.

“Saran gue, mulai sekarang lo kudu ngikutin aktivitas-aktivitas yang dilakukan sohib cewek lo deh.”

“Ngapain?”

“Mereka kan kaum sosialita. Belajar hal-hal kecil dari mereka. Cara berpakaian, cara merawat diri, atau apa kek.”

Dera langsung menggeleng.

“Gue ngikutin gaya hidup mereka? Ribet.”

“Lo tuh cewek apa cowok, sih, Der?”

“Cewek.”

“Kadang gue ragu.”

“Terus?”

“Mending lo operasi ganti kelamin aja sekarang.”

Dera langsung memukul lengannya.

“Sekate-kate lo. Nggak baik ngerubah ciptaan Tuhan, tau. Orang takdir gue kayak begini, ya gue harus terima. Hidup nggak ada yang sempurna, Zidan.”

Zidan terdiam sebentar sebelum mengangguk.

“Ya, sorry. Bukan maksud gue kayak gitu kok.”

“Gue tau lo bercanda.”

“Jadi intinya, lo mau kayak gimana ke depannya?”

Dera menyandarkan dagunya ke bahu sendiri.

“Entahlah.”

Jawabannya begitu singkat hingga Zidan tidak langsung membalas.

Dera kemudian menepuk perutnya sendiri.

“Yang jelas gue laper banget sekarang. Cepet berangkat. Tenaga gue sisa lima persen ngadepin ocehan lo.”

“Lima persen?”

“Bahkan mungkin tinggal dua.”

Zidan terkekeh dan mempercepat laju motornya.

Mereka akhirnya memutuskan mampir ke angkringan sebelum pergi ke tempat balapan. Tidak ada cafe mahal atau restoran mewah. Selain karena mereka memang lebih nyaman makan di tempat sederhana, mereka juga sama-sama tahu bahwa menghemat uang bukan sesuatu yang memalukan.

Begitu sampai, Zidan langsung bertanya.

“Lo mau beli apa?”

Dera melihat berbagai makanan yang tersedia, lalu menjawab santai.

“Beli aja semuanya.”

“Semua?”

“Lo kan orang kaya.”

“Terus?”

“Lo yang bayar, kan?”

Zidan menatapnya.

“Kenapa?”

“Gue kere soalnya.”

Zidan tidak menjawab. Ia hanya mengambil makanan yang Dera tunjuk satu per satu. Baginya, mengeluarkan sedikit uang untuk membuat sahabatnya kembali ceria bukanlah masalah.

Saat Dera mulai makan dengan lahap, Zidan kembali mengingat sesuatu.

“By the way, nih. Kalau lo akhirnya jadi nikah gantiin si mak lampir Dela, gimana nasib skripsi lo?”

Dera masih mengunyah ketika menjawab.

“Bakalan tetap gue lanjutin. Antisipasi aja.”

“Serius?”

“Serius. Gue nggak mau kuliah gue berhenti gara-gara nikah.”

“Terus lo yakin bakal bertahan?”

Dera mengangkat bahu.

“Gue yakin baru nikah seminggu udah cerai.”

Zidan hampir tersedak.

“Kampret! Lo ngebayanginnya udah jauh banget dari konteks.”

“Realistis.”

“Ya nggak gitu juga.”

Zidan tertawa kecil. “Tapi nggak apa-apa sih. Tinggal cari duda kaya raya kan bisa, Der?”

Dera menatapnya curiga.

“Misalnya?”

“Bapak gue.”

Dera langsung meletakkan makanannya.

“Anjing lo! Nggak sudi gue jadi mak tiri lo!”

“Semisal aja gitu, Der!”

Mereka tertawa. Untuk beberapa saat, Dera benar-benar berhasil melupakan masalahnya. Ia makan dengan lahap, persis seperti orang yang belum diberi makan selama tiga hari.

Namun di balik tawanya, Dera sebenarnya tidak ingin terlalu jauh memikirkan masa depan.

Ia takut berharap.

Selama ini, setiap kali ia berharap sesuatu akan berjalan baik, selalu ada saja hal yang membuatnya kembali kecewa. Karena itu, Dera memilih menjalani semuanya sebisanya. Kalau memang harus menikah, ia akan menikah. Kalau memang harus menyelesaikan skripsi, ia akan menyelesaikannya. Kalau suatu hari semuanya terlalu berat, ia akan mencari jalan lain.

Zidan yang sedari tadi memperhatikan Dera akhirnya berkata lebih serius.

“Der.”

“Hm?”

“Lo semisal kalau mau kabur, kita siap bantu lo, kok.”

Tangan Dera berhenti sebentar.

“Lo nggak perlu ngorbanin diri buat orang-orang yang nggak pernah menganggap lo ada di dunia ini. Lo nggak sendirian, Dera.”

Dera tersenyum tipis. Ia menunduk, memainkan ujung bungkus makanan di tangannya.

“Lo orang yang kesekian kalinya yang nyaranin gue hal itu.”

“Karena kita semua tau lo nggak baik-baik aja.”

“Gue baik-baik aja, Dan.”

“Lo yakin?”

“Yakin.”

Dera menarik napas pelan.

“Lagian gue mau gantiin tuh anak manja juga nggak gratis. Ada upah yang harus dibayar.”

Zidan tahu apa yang dimaksud Dera.

“Tiga puluh lima persen?”

Dera mengangguk. “Anggap aja setimpal karena mereka ngasingin gue selama ini.”

“Tapi masa depan lo bakalan hancur. Bakalan kehambat. Lo juga harus mikir buat kebahagiaan diri lo.”

Dera tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan menjauh dari Zidan, memandang keramaian jalanan di depan mereka.

“Emang apa yang harus gue bahagiain, sih?”

Zidan terdiam.

“Gue aja nggak tau gimana caranya cinta sama diri sendiri. Tujuan hidup gue juga nggak tahu apa.”

Kalimat itu membuat suasana yang sebelumnya penuh tawa mendadak berubah hening.

Benar. Dera memang menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Ia selalu bergerak, tetapi tidak pernah tahu ke mana tujuannya. Bahkan ketika melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa, ia seolah tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi jika suatu hari semuanya berakhir buruk.

Ia hanya ingin merasakan sesuatu.

Apa pun itu.

Setelah beberapa saat, Dera kembali bersuara.

“Gue mau ikut balap motor juga.”

Zidan langsung menoleh.

“Hah?”

“Ntar daftarin, ya. Kayak biasa.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Gue nggak mau mati muda.”

“Yang balapan gue, kenapa lo yang mati?”

“Karena kalau Arkan tahu gue yang ngajak lo, gue yang digorok duluan.”

Dera mengerucutkan bibir.

“Peliiiit.”

“Bukan pelit. Gue sayang nyawa.”

“Gue juga sayang nyawa.”

“Bohong.”

“Serius.”

“Kalau sayang nyawa, lo nggak bakal terus-terusan balapan.”

Dera mendengus.

“Gue cuma mau ikut sekali.”

“Nggak.”

“Sekali.”

“Nggak.”

“Dua kali.”

“Dera.”

“Lima kali?”

“Gue bisa ngajak lo ke tempat itu aja udah atas izin Arkan dengan seribu aturannya. Jangan bikin gue menyesal.”

Dera langsung terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengerucutkan bibir sebal.

Kalau begini caranya, untuk apa ia ikut ke arena balap?

Padahal sejak awal, satu-satunya alasan Dera mau keluar malam ini adalah karena ia ingin melupakan semua kekacauan hidupnya.

Namun sepertinya malam ini pun tidak akan semudah yang ia bayangkan.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 08

    Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 07

    "Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 05

    Syarat yang diajukan olehnya mengenai saham tiga puluh lima persen itu berhasil. Ayahnya mampu menyetujui apa yang ia ajukan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga mengiriminya banyak uang ke nomor rekening Dera. Perjodohan itu tak lama lagi akan terlaksana, dan sepertinya hidup bebasnya tidak akan

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 04

    Ayahnya tidak main-main sepertinya. Apa yang ia ucapkan kemarin adalah mutlak, dan tidak bisa dibantah oleh Dera. Sedangkan Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa saja sekarang, sepertinya dia benar-benar ditimbalkan kepada masalah mereka. Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status