Share

BAB 07

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-06-08 20:56:01

“Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria.”

Dera yang baru saja sampai di depan pintu kos langsung terdiam. Tangannya yang masih memegang kunci bahkan belum sempat memasukkannya ke lubang pintu ketika mendengar kalimat dari sang ayah. Ia menatap laki-laki paruh baya yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan ekspresi tidak percaya.

Satu minggu.

Pernikahannya dipercepat menjadi satu minggu lagi?

Dera hampir saja membenturkan kepalanya ke tembok karena merasa hidupnya benar-benar sedang dipermainkan. Baru kemarin ia bertemu dengan calon suaminya.

Baru kemarin juga ia mencoba memahami seperti apa laki-laki bernama Dafi Ezekiel Addison itu, dan sekarang keluarganya justru memberitahukan bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam waktu satu minggu.

Otak Dera yang sejak tadi sudah dihajar habis-habisan karena bimbingan skripsi mendadak seperti mengalami korsleting.

Menikah?

Dalam waktu dekat?

Tidak. Tidak, ini terlalu cepat.

Ia bahkan belum selesai dengan skripsinya. Ia belum mempersiapkan mental. Ia belum pernah membayangkan dirinya mengenakan pakaian pengantin dalam waktu sesingkat ini. Bahkan untuk memiliki seorang suami saja, Dera belum pernah benar-benar memasukkannya ke dalam daftar rencana hidup.

Tolong, seseorang katakan bahwa ia sedang bermimpi.

“Gue baru pulang kuliah,” bisik Dera sambil memijat pelipisnya. “Kenapa pas sampai kos malah dikasih berita kayak gini?”

Ayahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa iba.

“Saya sudah menuruti permintaan kamu mengenai saham tiga puluh lima persen. Bahkan karena kamu, saya jadi dimusuhi oleh Dela karena katanya terlalu memanjakan kamu. Mungkin jika bukan karena nama baik keluarga, saya segan memberikan saham saya kepada kamu.”

Dera yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.

“Kalau nggak ikhlas, aku bisa kembalikan semuanya.”

Tatapan ayahnya langsung mengeras.

“Dengan catatan,” lanjut Dera. “Aku bebas ngelakuin apa yang Dera mau. Termasuk bebas dari pernikahan ini.”

“Saya tidak datang ke sini untuk berdebat dengan kamu.”

“Terus buat apa?”

“Cepat kemasi barang-barangmu. Saya tidak ingin berlama-lama di tempat kumuh ini. Saya masih ada pekerjaan lain.”

Kalimat itu membuat Dera terdiam beberapa detik.

Tempat kumuh?

Ia menoleh ke sekitar. Kos sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya memang jauh dari kata mewah. Cat dindingnya tidak lagi sempurna, perabotannya juga sederhana, dan ukuran kamarnya tidak seberapa. Namun tempat inilah yang selama ini menjadi rumah bagi Dera ketika keluarganya sendiri tidak pernah membuatnya merasa memiliki rumah.

Lalu sekarang ayahnya datang dan menyebut tempat ini kumuh?

Dera mengepalkan tangannya.

Kesal tentu saja menjadi perasaan pertama yang muncul. Namun jauh di balik rasa kesal itu ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Laki-laki paruh baya di hadapannya ini benar-benar tidak seperti seorang ayah.

Atau mungkin memang dia bukan ayahnya?

Dera terkadang benar-benar merasa dirinya adalah anak yang tertukar.

Kalau memang menganggap tempat tinggalnya begitu buruk, mengapa ayahnya harus repot-repot datang ke sini?

“Kalau tau ini tempat kumuh, kenapa Ayah harus bela-belain datang ke sini?” tanyanya akhirnya.

Ayahnya menghela napas kasar.

“Jangan mulai lagi.”

“Ini juga bagian dari rencana kalian, kan?”

“Rencana apa?”

Dera menatapnya lekat-lekat.

“Kalian nggak pernah peduliin aku dalam kondisi apa pun. Kalian terlalu mementingkan Dela di atas semua penderitaan yang aku rasain. Kenapa kita harus dibedakan terus?” Suaranya mulai bergetar karena emosi. “Jangan-jangan Ayah bukan ayahku.”

“Jangan mengada-ada.”

“Aku serius.”

“Cepat kemasi barang-barangmu. Saya tidak punya cukup waktu untuk meladeni ocehan kamu yang tidak jelas.”

Dera tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena sudah terlalu muak.

“Nggak jelas Ayah bilang?”

Ia melangkah mendekat.

“Kalian nggak pernah ngasih kehidupan yang layak buat aku. Materi saja kalian enggan ngasih kalau itu buat aku. Lantas semuanya masih nggak jelas, Ayah bilang?”

Ayahnya mulai kehilangan kesabaran.

“Dera.”

“Ayah tau nggak?” potong Dera. “Aku bisa hidup sampai sekarang karena orang tua Arkan. Mereka yang peduli sama aku. Mereka yang bantu aku kalau aku kesulitan. Bukan kalian.”

Wajah ayahnya berubah.

“Kamu mau mempermalukan saya di sini?”

“Kenapa Ayah harus malu?”

“Cepat pulang. Kita bicarakan baik-baik di rumah.”

Dera mendengus.

“Perbuatan buruk Ayah terhadap salah satu anak sendiri justru harus segera ditampilkan di media.”

“Kamu—”

“Aku senang kalau di sini ada kamera.”

“Dera!”

“Apa?”

“Kamu makin hari makin lancang dengan saya!”

“Terus?”

“Apakah ini karena pergaulan bebas kamu?!”

Dera sampai terdiam.

Pergaulan bebas?

Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut ayahnya.

Selama dua puluh satu tahun hidup, Dera bahkan tidak pernah memiliki pacar. Pertemanannya juga itu-itu saja. Arkan, Zidan, Aldo, Reina, Zea, dan beberapa orang lain yang memang sudah dikenalnya sejak lama. Tidak ada perubahan berarti dalam lingkaran pertemanannya.

Bahkan sekalut apa pun hidupnya, Dera tidak pernah menyentuh rokok ataupun minuman keras. Pernah ada rasa penasaran, tentu saja. Ia manusia biasa. Namun Dera terlalu takut mencoba karena khawatir sesuatu yang awalnya hanya rasa ingin tahu justru berubah menjadi kebiasaan dan membuatnya kecanduan.

Lalu pergaulan bebas seperti apa yang dimaksud ayahnya?

Dera tertawa hambar.

“Pergaulan bebas seperti apa yang Ayah maksud?”

Ayahnya diam.

“Contohnya kayak Dela yang bolak-balik masuk klub sama pria yang berbeda-beda? Itu maksudnya?”

Ekspresi ayahnya seketika berubah.

Tangannya mengepal erat.

Siapa pun yang menjelek-jelekkan putri kesayangannya tentu akan membuat amarahnya meledak. Dan Dera tahu betul bahwa ia baru saja menyentuh bagian paling sensitif dari laki-laki itu.

“Jaga ucapan kamu.”

“Kenapa?”

“Atau kamu mau saya bunuh sekarang juga?”

Dera justru bersedekap di depan dada. Tidak ada ketakutan yang terlihat di wajahnya.

“Tapi itu fakta, kan?”

“Dera!”

“Ya udah, Ayah pulang.”

Ia membuka pintu kos.

“Tapi aku bisa pulang sendiri tanpa disuruh. Aku masih pengin istirahat. Aku capek. Otakku rasanya pengin meledak. Jadi, jangan nambah-nambahin bebanku untuk sementara.”

Tanpa menunggu jawaban, Dera masuk ke kamarnya.

BRAKKKK!

Pintu ditutup dengan bantingan keras.

Dera tidak peduli jika setelah ini dirinya akan kembali dicap sebagai anak durhaka, anak tidak tahu diri, atau anak yang tidak menghormati orang tua.

Lalu apa bedanya?

Dibandingkan dirinya, bukankah mereka juga sudah lebih dulu durhaka kepadanya?

Dera berdiri membelakangi pintu. Napasnya naik turun. Dadanya terasa sesak, sementara kepalanya semakin berat.

“DERA!”

Suara ayahnya terdengar dari luar.

“JANGAN KURANG AJAR! KELUAR SEKARANG!”

Dera memejamkan mata.

Ia tidak keluar.

Bukannya takut, Dera memang sudah tidak memiliki tenaga untuk menghadapi satu pertengkaran lagi. Ia mengambil earphone dari meja, memasangnya di kedua telinga, lalu menaikkan volumenya cukup tinggi untuk menenggelamkan suara dari luar.

Ia tidak tahu harus bagaimana.

Tidak tahu harus melakukan apa.

Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.

Mungkin teriakan ayahnya sudah mengundang keheranan tetangga kos. Bisa saja beberapa orang sedang bertanya-tanya siapa yang sedang bertengkar. Mungkin sebentar lagi kabar tentang dirinya akan menjadi bahan gosip.

Namun saat ini Dera benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memedulikannya.

Ia hanya ingin tidur.

Sayangnya, bahkan tidur pun terasa mustahil ketika kepalanya terus dipenuhi kata pernikahan.

Seminggu lagi.

Dera mencabut earphone dari telinganya.

“Arghhhhhh!”

Ia mengacak rambutnya kasar.

“Apa-apaan sih!”

Dera berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

“Nikah! Bahkan gue nggak pernah kepikiran bakalan punya suami!”

Ia berhenti di tengah kamar.

“Gue pengin hidup. Tapi dengan alur yang gue buat sendiri. Bukan karena paksaan siapa pun!”

Dadanya kembali terasa sesak.

Skripsi.

Keluarga.

Pernikahan.

Dafi.

Dela.

Saham.

Semuanya seperti dilempar bersamaan ke dalam kepalanya.

Mau dibawa tidur pun rasa lelahnya sudah tidak ada selera. Ketika beban skripsi dicampur dengan beban hidup, lalu ditaburi lagi dengan beban pernikahan, rasanya otak Dera sudah tidak mampu berpikir dengan jernih.

“Gue nggak tau masa depan gue bakal kayak apa!”

Suara Dera mulai pecah. Semua yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah begitu saja.

“Gue aja nggak tau harus hidup buat apa! Gue nggak tau tujuan gue ke mana, gue nggak tau harus jadi apa. Gue cuma pengin hidup tenang, kenapa malah semuanya dipersulit begini?”

Air mata Dera akhirnya luruh membasahi pipinya.

Ia yang selama ini selalu terlihat kuat ternyata hanya sedang berusaha keras menutupi betapa takutnya ia menghadapi masa depan yang bahkan tidak pernah ia pil ih.

“Kenapa mereka yang nggak pernah peduliin gue, justru nambah-nambahin beban hidup gue? Gue sebenarnya salah apa sama mereka”

Dera menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Semua amarah yang selama ini ia simpan, semua rasa kecewa yang selalu ia tutupi dengan candaan, semua rasa sakit karena tidak pernah merasa cukup bagi keluarganya, seolah keluar sekaligus malam itu.

Selama ini ia terlihat kuat.

Bar-bar.

Tidak takut apa pun.

Suka bercanda tentang kematian.

Bahkan ketika hidupnya berada dalam kondisi sulit, Dera masih mampu tertawa dan mengolok-olok dirinya sendiri.

Namun semuanya hanyalah topeng.

Ia tetap seorang perempuan berusia dua puluh satu tahun yang sebenarnya ingin disayangi.

Ingin dianggap ada.

Ingin memiliki seseorang yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja tanpa ada kepentingan tertentu di balik pertanyaan tersebut.

“Orang-orang kenapa sih semena-mena banget sama gue?”

Dera terduduk di lantai.

“Gue salah apa sebenarnya?”

Tangisnya semakin deras.

“Kalau emang gue nggak layak diantara mereka, kenapa gue harus lahir?”

Pertanyaan itu menggantung begitu saja di dalam kamar.

Tidak ada yang menjawab.

Tidak akan ada yang menjawab.

Sejak kecil, Dera memang selalu merasa dirinya seperti seseorang yang tidak terlihat. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa kesalahannya. Ia tidak tahu mengapa keluarganya berubah ketika ia mulai menginjak bangku sekolah.

Yang ia tahu hanyalah Dela selalu mendapatkan tempat pertama.

Sementara Dera selalu berada di belakang.

Karena selalu dianggap tidak ada, akhirnya Dera mencari kebebasannya sendiri. Ia memilih hidup sesukanya, melakukan apa pun yang ia inginkan, mengejar hal-hal yang membuatnya merasa hidup.

Balapan.

Drifting.

Hal-hal ekstrem yang bagi orang lain mungkin terlihat gila.

Dera menikmatinya.

Namun hatinya tidak pernah benar-benar bahagia.

Ada kehampaan yang tidak bisa dijelaskan.

Dan untuk menutupi kehampaan itu, Dera terus mencari sesuatu yang mampu membuat jantungnya berdebar.

Sekali gagal, taruhannya nyawa.

Bukan karena Dera benar-benar tidak menghargai hidup, melainkan karena jauh di dalam dirinya, ia memang sering merasa tidak keberatan jika hidupnya berakhir.

Ia hanya tidak ingin mati dengan cara memilih bunuh diri.

“Anjing…”

Dera mengusap air matanya.

“Bangsat.”

Ia menarik napas panjang.

“Gue capek.”

Setelah itu Dera terdiam cukup lama.

Tatapannya kosong. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi tangisan keras. Seolah-olah ledakan emosi tadi tidak pernah terjadi.

Perubahan suasana hati Dera memang sering kali begitu. Ketika emosinya sudah mencapai puncak, ia akan meledak sepuasnya. Setelah itu, ia bisa kembali bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Dera akhirnya bangkit dan mengambil pakaian.

Ia masuk ke kamar mandi.

Air dingin mengguyur tubuhnya. Untuk waktu yang cukup lama, hanya suara air yang terdengar dari balik pintu. Hampir satu jam Dera berada di sana, mencoba membuang segala macam pikiran yang memenuhi kepalanya.

Ketika akhirnya keluar, tubuhnya terasa jauh lebih segar.

Ia mengeringkan rambut, lalu berjalan menuju lemari untuk memilih pakaian. Tidak ada lagi ekspresi menangis di wajahnya.

Seperti biasa.

Dera kembali menjadi Dera.

Ia bahkan sempat tertawa kecil ketika mengingat berita yang diberikan ayahnya.

“Seminggu lagi gue nikah?”

Dera menggeleng-gelengkan kepala.

“Hahaha… kenapa tuh anak sultan mau-mau aja sih nikah sama gue yang katanya Upik Abu?”

Ia mengambil pakaian lalu duduk di tepi kasur.

“Tingkah gue aja begajulan nggak jelas kayak gini.”

Namun di balik tawanya, ada rasa takut yang masih tersisa.

Dera tahu bahwa pernikahan itu mungkin terjadi karena keadaan. Dafi kehilangan kebebasan untuk memilih karena keluarganya, sementara Dera masuk ke dalam pernikahan tersebut sebagai pengganti Dela.

Tidak ada kisah cinta.

Tidak ada proses saling mengenal.

Hanya kepentingan dua keluarga.

Karena itu, Dera tidak mau menggantungkan hidupnya kepada laki-laki tersebut.

Ia mengambil laptop dan menyalakannya.

Jika benar satu minggu lagi ia akan menikah, setidaknya ia harus menyelesaikan skripsinya secepat mungkin.

“Gue harus lulus.”

Dera membuka file skripsinya.

“Gue harus jadi sarjana sebelum semuanya makin kacau.”

Antisipasi menjadi janda muda, pikirnya.

Kalau benar pernikahannya hanya bertahan sebentar, setidaknya ia sudah memiliki gelar dan bisa mencari pekerjaan dengan lebih mudah.

Tatapannya kemudian beralih pada ponsel.

Saham tiga puluh lima persen yang sekarang menjadi miliknya mungkin akan mulai ia atur dari sekarang. Ia tidak ingin hanya bergantung pada perusahaan keluarganya. Kalau saham itu bisa dijual atau dialihkan sesuai peraturan yang berlaku, ia akan mencari pilihan investasi lain yang lebih menjamin masa depannya.

Dera mulai menyusun rencana di kepalanya.

Ia tidak tahu pernikahan ini akan membawanya ke mana.

Namun satu hal yang ia tahu, ia tetap harus mengandalkan dirinya sendiri.

“Gue bakalan belajar gimana jadi istri yang baik,” gumamnya sambil menatap layar laptop. “Tapi gue juga harus sadar posisi.”

Ia menghela napas.

“Gue ngerasa nggak pantas buat jadi istri dia. Jadi rencana ke depannya, gue bakal tetap ngandelin diri gue sendiri. Gue nggak mau hidup gue bergantung sama dia.”

Dera sadar kondisi Dafi yang menggunakan kursi roda mungkin membuat laki-laki itu masih membutuhkan banyak bantuan. Ia juga mendengar kemungkinan bahwa kondisinya bisa membaik jika menjalani terapi secara rutin.

Namun justru hal itulah yang diam-diam membuat Dera takut.

Bagaimana jika suatu hari Dafi bisa berjalan normal lagi?

Bagaimana jika setelah itu Dafi tidak lagi membutuhkannya?

Bagaimana jika laki-laki itu akhirnya menghempaskannya jauh-jauh dari kehidupannya?

Dera cukup tahu diri.

Standar dan kriteria yang dimiliki Dafi mungkin jauh di atas dirinya.

Dera tidak pernah menganggap dirinya sebagai perempuan yang cocok berdiri di samping seorang pria seperti Dafi.

Karena itu, ia harus memiliki pegangan sendiri.

“Ya udah.”

Dera tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa jadi janda muda.”

Ia menatap laptopnya dengan penuh keyakinan.

“Asal gue punya pekerjaan tetap dan penghasilan bagus, itu yang bakalan jadi misi gue ke depannya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Dera merasa sedikit lebih tenang.

Mungkin hidupnya memang tidak berjalan sesuai keinginannya.

Mungkin satu minggu lagi ia akan menjadi seorang istri tanpa pernah merencanakannya.

Mungkin pernikahan itu akan menjadi awal dari kekacauan baru.

Namun Dera masih ingin percaya bahwa hidupnya tidak akan selamanya buruk.

Ia masih ingin percaya bahwa di balik semua penderitaan yang selama ini ia jalani, Tuhan mungkin masih menyisakan sedikit ruang untuk kebahagiaan.

“Semoga aja…” Dera kembali menatap layar laptop. “Takdir gue ke depannya benar-benar nggak seburuk dipikiran gue sekarang.”

Lalu, tanpa menunggu lebih lama, ia mulai mengerjakan skripsinya.

Karena kalau hidup memang memaksanya menikah dalam waktu satu minggu, Dera setidaknya ingin memastikan bahwa satu hal tetap berada dalam kendalinya.

Masa depannya sendiri.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 08

    Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 03

    "Anjirrr, gue kesiangan! Gue lupa ada agenda mau ketemu Dosen Pembimbing!" Dera kelimpungan tidak jelas. Melompat dari tempat tidur, lantas ia berlari menuju kamar mandi untuk cuci muka saja. Tidak perlu mandi, gosok gigi saja yang ia lakukan sembari mencari pakaian yang hendak digunakan. Mengam

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 02

    Kos-kosan tempat Dera tinggal malam ini tampak seperti markas besar para remaja pemberontak. Suara gelak tawa, denting botol yang beradu, dan obrolan yang tak ada habisnya menggema dari ruang tengah. Kosan kecil yang biasanya tenang kini dipenuhi keributan. Beberapa bungkus snack berserakan di lanta

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 01

    Dera berdiri di depan pintu rumahnya, dagunya terangkat tinggi saat tatapan tajam matanya menelusuri wajah kedua orang tuanya. Tas punggungnya tergantung malas di bahu kanannya, seperti benda berat yang selalu siap ia tinggalkan. Rasa jengah melandanya, udara di sekitar rumah ini terasa begitu berat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status