Mag-log inAula luar istana seketika meledak dalam kegaduhan tertahan. Para pejabat yang tadi berbisik kini saling menatap terbuka. Beberapa langsung mundur setengah langkah dari Zhang Rui seolah pria itu membawa wabah. Huo Ren berdiri kaku dengan wajah pucat pasi. “Kau salah baca,” katanya dingin. Kasim tua itu gemetar, lalu cepat-cepat menunduk lebih rendah. “Hamba tidak berani, Komandan. Tulisan itu jelas. Tim pencari menemukan jejak baru di sisi timur jurang. Wakil Jenderal meminta pencarian diperluas.” Bisik-bisik kembali pecah. “Jejak baru.” “Berarti belum mati.” “Lalu kabar tadi palsu.” Zhang Rui ambruk berlutut lebih rendah, tubuhnya menggigil hebat. “Hamba hanya menyampaikan apa yang hamba dengar.” Tatapan Huo Ren jatuh padanya seperti pisau. “Dari siapa kau mendengarnya.” Pria itu tak menjawab. Bibirnya bergetar tanpa suara. Di saat yang sama, dari balik tirai aula dalam terdengar suara langkah lebih berat dan teratur. Semua pejabat langsung berlutut serentak. Kaisar Y
Cangkir porselen pecah berkeping di lantai batu. Suara itu nyaring, namun tak ada yang lebih nyaring dari dentuman jantung Yuwen Shuang sendiri. Wajahnya seketika pucat. “Lanjutkan,” katanya pelan. Suaranya begitu datar sampai Yunxi justru makin ketakutan. “Katanya Jenderal Zhao disergap saat perjalanan pulang.” Yunxi menelan ludah. “Sisa pasukan Ling menyerang rombongan beliau di jalur utara. Keadaan masih diselidiki tapi ....” “Tapi apa?” Yunxi berlutut gemetar. “Kurir berkata Jenderal Zhao gugur.” Ruangan terasa membeku. Mei’er menutup mulutnya sendiri. Pelayan-pelayan lain menunduk panik, tak berani bernapas keras. Yuwen Shuang berdiri tak bergerak. Seolah tubuhnya masih ada di sana, tapi jiwanya tertinggal jauh di tempat lain. Beberapa detik berlalu. Lalu ia melangkah satu langkah ke depan dan lututnya goyah. “Putri!” Mei’er dan Yunxi buru-buru menopangnya. “Aku tidak apa-apa.” Yuwen Shuang menarik lengannya pelan. “Lepaskan.” Namun tangannya dingin seperti es.
Fajar kedua setelah kemenangan datang bersama hujan tipis.Kabut turun lebih rendah dari hari sebelumnya, menyelimuti lereng pegunungan dan jalur-jalur batu yang licin. Tiga tim pencari bergerak sejak langit masih gelap, membawa tali, obor, dan kait besi.Wei Chen memimpin tim pertama ke arah jurang.Gu Liang turun menyusuri hilir sungai bersama enam orang.Shen Yu memilih jalur hutan di sisi timur, tempat arus sungai berbelok melewati tebing tajam dan gua-gua batu.Tak seorang pun benar-benar percaya mereka sedang mencari mayat.Mereka mencari tanda bahwa pria itu masih menolak mati.Di bibir jurang, hujan membuat tanah semalam makin lunak. Wei Chen berjongkok memeriksa batu-batu retak, bekas tapak kaki, dan jejak darah yang mulai pudar.Ia diam lama.Salah satu prajurit muda memberanikan diri bertanya, “Wakil Jenderal ada sesuatu?”Wei Chen menunjuk sisi tebing.“Lihat ini.”Di antara lumut basah, terdapat guratan panjang seperti bekas bilah tajam menancap lalu terseret turun.Bukan
Perayaan kemenangan di ibu kota berlangsung hingga sore.Jalan-jalan utama dipenuhi suara tawa, pedagang membagikan arak murah, dan anak-anak berlarian sambil membawa ranting kayu seolah pedang, meneriakkan nama Zhao Fenglin dengan penuh kagum.Namun di balik kemeriahan itu, bayangan-bayangan mulai bergerak.Utusan istana keluar masuk tanpa suara. Penjaga tambahan ditempatkan di gerbang dalam. Beberapa nama diam-diam dicatat, beberapa rumah diam-diam diawasi.Dan yang pertama masuk dalam daftar adalah Kediaman Zhou.Di halaman dalam Kediaman Zhou, meja makan siang baru saja disiapkan.Sup hangat mengepul, lauk sederhana tertata rapi, dan aroma nasi baru memenuhi ruangan. Han Ruoxi tampak jauh lebih tenang dibanding pagi tadi.Ia mengambilkan semangkuk sup untuk Yuwen Shuang.“Makan lebih banyak. Tubuhmu baru saja pulih.”Yuwen Shuang menerima mangkuk itu tanpa membantah.Biasanya ia akan menolak dua kali lebih dulu.Han Ruoxi menatapnya sambil tersenyum kecil. “Lihat? Sejak mendengar
Siang itu, ibu kota Yuwen jauh lebih ramai dari biasanya.Kabar kemenangan dari perbatasan barat menyebar cepat seperti api di musim kering. Genderang penjaga dipukul di gerbang utama, para pembawa berita berteriak di jalan-jalan besar, dan rakyat yang sejak beberapa hari terakhir gelisah kini bersorak lega.Pasukan Ling dipukul mundur.Jenderal Zhao memenangkan perang.Nama Zhao Fenglin disebut dari mulut ke mulut dengan kagum. Pedagang keluar dari tokonya, anak-anak berlarian di jalan, bahkan para bangsawan yang biasa menjaga wajah tenang mulai saling bertukar senyum.Di Kediaman Zhou, suasana tegang yang menggantung sejak pagi akhirnya pecah.Seorang pelayan berlari masuk ke halaman dalam dengan napas terengah.“Ada kabar dari perbatasan!” serunya sambil berlutut. “Pasukan kita menang besar! Jenderal Zhao memukul mundur musuh!”Han Ruoxi yang sedang duduk di paviliun langsung menutup mata sejenak. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun.“Syukurlah,” bisiknya, begitu lega, da
Matahari naik perlahan di atas pegunungan, tapi hangatnya tidak mampu menembus dingin yang tertinggal dari malam.Rombongan kecil Wei Chen bergerak turun meninggalkan jurang. Tidak ada seorang pun yang banyak bicara. Suara tapak kuda di jalur batu terdengar lebih keras dari biasanya, seolah setiap langkah sedang menginjak kemarahan yang ditahan.Gu Liang menunggang di sisi kiri dengan wajah kelam.“Jadi kita pura-pura tidak terjadi apa-apa?” gumamnya akhirnya.Wei Chen menatap lurus ke depan. “Aku bilang kita simpan dulu.”“Bedanya tipis.”“Kalau kabar ini keluar sekarang,” potong Wei Chen dingin, “musuh yang gagal membunuhnya akan datang lagi untuk membunuh kita semua.”Gu Liang terdiam. Ia tahu itu benar.Shen Yu yang biasanya paling ribut justru diam sejak tadi. Darah di punggungnya merembes lagi dari perban kasar, tapi sedikitpun ia tidak peduli.“Aku tidak suka berharap,” katanya tiba-tiba. “Tapi orang itu terlalu keras kepala untuk mati.”Wei Chen tidak menjawab.Dalam benaknya,
‘Suami?’ Sejujurnya itu masih terasa asing di pendengarannya. Yuwen Shuang menatap Han Ruoxi dengan senyuman sebelum menjawab. “Jenderal Zhao pergi ke ruang belajar, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang pada akhirnya. Han Ruoxi terdiam mendengar panggilan Yuwen Shuang padanya. “Putri, maaf sebelumnya. Ak
Yuwen Shuang melangkah menyusuri koridor. Kini tujuannya jelas, ia ingin menemui Zhao Fenglin di ruang belajar. Di kepalanya ucapan Mei’er berputar, tatapannya fokus ke depan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya memberikan hormat. Wajah mereka terkejut, tapi Yuwen Shuang tak peduli. Ia hanya
“Nyonya, maaf aku sedikit terlambat.”Yuwen Shuang menghampiri Han Ruoxi yang telah menunggunya di bawah atap teras gerbang dalam. Kereta kuda keluarga Zhao sudah terparkir beberapa langkah dari sana. Dua ekor kuda hitam berdiri tenang, sesekali mengibaskan ekornya. Seorang kusir memegang kendali d
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk







