MasukYuwen Shuang berdiri di tengah Aula Naga dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya. Tatapannya tetap tertunduk, tetapi pikirannya terus bergerak memikirkan perkataan Lu Dehai sebelumnya. Kaisar tidak mungkin memanggilnya hanya untuk menanyakan keadaan Li Mei. Terlebih setelah beberapa hari terakhir dipenuhi berbagai kejadian aneh di dalam istana. Di hadapannya, Yuwen Longzhi duduk di balik meja kekaisaran dengan wajah tenang. Tidak ada kemarahan ataupun kegelisahan yang terlihat dari raut wajahnya. "Kenapa kau begitu terburu-buru ketika mendengar kabar tentang ibumu?" tanya Kaisar akhirnya.Yuwen Shuang menundukkan kepala lebih dalam. "Hamba hanya khawatir terhadap keselamatan Ibu.""Begitu?"Nada suara Kaisar terdengar ringan, tetapi tatapannya tajam mengamati setiap perubahan ekspresi putrinya."Sepertinya kau semakin dekat dengan ibumu setelah kembali ke istana."Yuwen Shuang tidak menjawab. Ia tahu satu kesalahan kecil dalam percakapan ini bisa menjadi alasan bagi Kaisar unt
Langkah Yuwen Shuang begitu terburu-buru menyusuri lorong istana. Wajahnya yang semula tenang kini dipenuhi kekhawatiran, sementara pikirannya terus mengulang perkataan kasim tadi. Jika benar sesuatu terjadi kepada ibunya, ia tidak mungkin hanya duduk diam di Istana Phoenix. Terlebih setelah mengetahui bahwa Kaisar sedang menggunakan Li Mei untuk mengendalikannya. Di belakangnya, Yuwen Zhen berjalan dengan langkah yang lebih tenang. Wajah Putra Mahkota tetap datar, tetapi sorot matanya tampak jauh lebih waspada. Ia tidak banyak bertanya sejak mereka meninggalkan Istana Phoenix. Hanya sekali ia memerintahkan pengawal yang mengikuti mereka untuk tetap berjaga di sekitar koridor. Yuwen Shuang sempat menoleh kepadanya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dalam keadaan seperti ini, ia hanya ingin memastikan ibunya baik-baik saja.Tidak lama kemudian, gerbang Istana Dingin terlihat di hadapan mereka. Yuwen Shuang memperlambat langkahnya. Anehnya, tidak ada tanda-tanda kekacauan seperti yang d
Langit pagi Ibu kota Jingzhou yang masih diselimuti awan kelabu. Embun membasahi ujung dedaunan di sepanjang jalan menuju Istana Phoenix, sementara para penjaga mulai berganti posisi setelah berjaga sepanjang malam. Kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya telah mereda, tetapi bekas ketegangan masih terasa di setiap sudut istana. Beberapa pelayan bahkan masih berbisik mengenai penyusup yang belum tertangkap.Yuwen Shuang berjalan perlahan melewati koridor panjang dengan ditemani dua pelayannya. Langkahnya terlihat tenang, tetapi jemarinya sesekali meremas ujung lengan bajunya. Undangan Permaisuri yang diterimanya semalam terus terbayang di pikirannya. Ini bukan pertama kalinya ia melihat wanita itu, cotetapi mereka belum pernah benar-benar berbicara dalam suasana seperti ini.Ketika gerbang Istana Phoenix mulai terlihat, Yuwen Shuang menarik napas panjang. Ia mengingat kembali nasihat ibunya agar tidak mudah mempercayai siapa pun di dalam istana..Pintu utama terbuka setelah pen
"A-apa maksud, Putri?"Yuwen Shuang menyipitkan matanya. Tatapannya tidak lepas dari wajah pria di hadapannya. Semakin ia memperhatikan, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Seragam yang dikenakan pria itu memang sama seperti pengawal Istana Dingin lainnya, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak pernah melihat pria ini sebelumnya."Siapa namamu?" tanyanya lagi.Pengawal itu tampak gugup. "Hamba ...."Belum sempat melanjutkan perkataannya, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Beberapa pengawal lain berlari melewati halaman Istana Dingin. Pria di hadapan Yuwen Shuang secara refleks menoleh ke arah suara tersebut.Gerakannya begitu cepat, tetapi cukup untuk membuat Yuwen Shuang semakin curiga."Kau bukan pengawal yang biasa berjaga di sini," ucap Yuwen Shuang tegas.Wajah pria itu seketika berubah."Putri, hamba memang baru ditugaskan malam ini.""Siapa yang menugaskanmu?" tanya Yuwen Shuang dengan suara tajam. Pengawal itu tak langsung menjawab. Pria itu semakin gu
Suasana di dalam kamar seketika menegang. Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam tangan Selir Li Mei lebih erat, sementara Bibi Sun berdiri terpaku di depan pintu dengan wajah penuh kewaspadaan.Selama bertahun-tahun, Permaisuri Xie Zhaoyun hampir tidak pernah mengirim orang ke Istana Dingin, apalagi di tengah malam seperti ini. Bahkan ketika Yuwen Shuang pertama kali datang ke Istana, wanita itu tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepadanya ataupun kepada selir Li Mei.Karena itulah, kedatangan utusan Permaisuri saat ini terasa sangat aneh.Selir Li Mei menoleh ke arah Bibi Sun dan menganggukkan kepalanya pelan. "Buka pintunya."Bibi Sun tampak ragu-ragu. Tatapannya sempat beralih kepada Yuwen Shuang sebelum akhirnya berjalan menuju pintu kayu itu. Begitu pintu dibuka, seorang kasim muda segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat."Hamba memberi salam kepada Selir Li dan Putri Kedua."Yuwen Shuang memperhatikan pria itu dengan saksama. Wajahnya tampak asing. Ia yakin belum perna
Yuwen Shuang menatap Kaisar dengan wajah pucat. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Kini kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dari apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tentang Heishan yang disebut oleh Kaisar, dan Zhao Fenglin yang ternyata masih hidup. Suaminya akan kembali ke ibu kota. Namun, mengapa ayahnya sendiri justru berbicara seolah-olah Zhao Fenglin adalah musuh yang harus diawasi?"Baginda ...," suara Yuwen Shuang bergetar, "apa yang sebenarnya terjadi di Heishan?" Kaisar Yuwen Longzhi membalikkan tubuhnya dan memandang halaman istana yang gelap. "Ada seseorang yang mencoba membunuh Zhao Fenglin."Mata Yuwen Shuang langsung membelalak. "Membunuh?" bisiknya."Namun, dia selamat." Kaisar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejak saat itu, aku tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya."Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam erat lengan bajunya sendiri. Selama ini, Zhao Fenglin adalah jenderal paling setia di
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Kereta terus bergerak mendekati gerbang istana.Suara roda kayu yang berderak perlahan bercampur dengan langkah para penjaga yang berjaga di sepanjang jalan menuju gerbang utama.Lampion merah besar yang tergantung di kedua sisi gerbang bergoyang pelan tertiup
Langit ibu kota perlahan berubah gelap ketika matahari akhirnya tenggelam di balik tembok kota.Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan utama. Cahaya kuning hangat memantul di batu jalan yang telah dipakai selama puluhan tahun oleh kereta para pejabat dan bangsawan.Di dep
Yuwen Shuang dan Zhao Fenglin menoleh hampir bersamaan.Di barisan meja utama yang sedikit lebih tinggi dari tempat para pejabat duduk, seorang wanita anggun telah berdiri dari kursinya.Gaun sutra merah tua yang dikenakannya jatuh panjang hingga lantai. Hiasan emas di rambutnya berkilau di bawah c







