Mag-log inHari-hari di kediaman Zhao berjalan seperti biasa. Tidak ada kejadian mencolok, tidak ada keributan yang berarti. Namun di balik ketenangan itu, sesuatu perlahan berubah tanpa disadari.Yuwen Shuang mulai lebih sering keluar dari kamarnya. Bukan karena bosan, tapi karena ada alasan lain yang tidak bisa ia jelaskan. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, meskipun ia sendiri tidak bisa memahami kenapa.Di sisi lain, Zhao Fenglin tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Pergi, kembali, dan menghabiskan waktu di kediaman tanpa banyak bicara. Namun keberadaannya kini tidak lagi terasa sejauh sebelumnya.Mereka mulai bertemu lebih sering. Kadang di koridor, kadang di halaman dalam, tanpa direncanakan. Pertemuan singkat itu tidak selalu diisi percakapan, tapi juga tidak lagi ada kecanggungan.“Putri,” ucap Zhao Fenglin suatu pagi.Nada suaranya tetap datar. Namun kali ini tidak terdengar asing.Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Jenderal.”Jawaban itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat kehe
Suasana di ruang makan tidak langsung kembali seperti semula. Keheningan yang tersisa terasa lebih berat dari sebelumnya. Bahkan suara sendok yang menyentuh mangkuk pun terdengar terlalu jelas di telinga.Han Ruoxi menatap putranya dengan cemas. Alisnya sedikit berkerut, tangannya yang semula tenang kini tertahan di atas meja. Ia jelas menunggu penjelasan yang tidak kunjung diberikan.“Fenglin,” panggilnya lagi, lebih pelan. “Apa yang sebenarnya terjadi?”Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada cangkir teh di depannya. Permukaannya tenang, namun pikirannya tidak.“Itu belum pasti,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya rendah. “Jangan membuat keributan.”Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Namun cukup untuk membuat Han Ruoxi menahan diri. Ia tidak bertanya lagi, meskipun ia masih risau. Yuwen Shuang memperhatikan keduanya dalam diam. Tatapannya kembali mengarah ke pintu yang telah tertutup. Ingatan tentang pelayan itu kembali terlintas di benaknya.Tenang.Ke
Tangan pelayan yang memegang teko berhenti di udara. Tidak bergerak, tidak juga menurunkannya. Uap tipis masih naik dari mulut teko, berputar pelan sebelum menghilang. Yuwen Shuang sedikit mengernyit. Tatapannya beralih dari cangkir ke arah Zhao Fenglin. Ia tidak langsung memahami. “Jwnderal,” panggilnya pelan. Zhao Fenglin tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada tangan pelayan itu. Lebih tepatnya, pada posisi jari-jarinya yang memegang gagang teko. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu, perlahan, Zhao Fenglin berdiri. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Namun cukup untuk membuat suasana berubah. Pelayan itu akhirnya menurunkan teko sedikit. Kepalanya tetap tertunduk dalam. “Maaf, Jenderal,” ucapnya pelan. Nada suaranya stabil. Tidak gemetar. Zhao Fenglin melangkah mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat. Namun cukup untuk membuat tekanan di antara mereka terasa jelas. “Angkat kepalamu.” Perintah itu singkat. Pelayan itu menurut. Perlahan, ia mengangkat w
Di kediaman keluarga Zhao tampak sepi, semua pelayan sibuk dengan tugas masing-masing. Han Ruoxi, seperti biasa ikut membantu pelayan menyiapkan sarapan pagi.Namun pagi itu, ada sesuatu yang sedikit berbeda.Di halaman belakang, beberapa pelayan baru berdiri berbaris. Kepala mereka tertunduk, tangan terlipat rapi di depan tubuh. Mereka tidak berbicara. Bahkan napas mereka terasa ditahan, seolah udara di tempat itu terlalu mahal untuk disia-siakan.Seorang kepala pelayan berdiri di hadapan mereka.Pria paruh baya itu menatap satu per satu dengan tajam. Tidak ada emosi di wajahnya. Hanya penilaian.“Mulai hari ini, kalian akan bekerja di kediaman Jenderal Zhao,” ucapnya datar. “Tidak ada tempat untuk kesalahan.”Tidak ada yang menjawab.“Aturan di sini sederhana,” lanjutnya. “Jangan bertanya hal yang tidak perlu. Jangan melihat hal yang tidak seharusnya kalian lihat.”Nada suaranya tidak tinggi. Namun cukup untuk membuat beberapa pelayan menundukkan kepala lebih dalam.“Dan yang paling
Tatapan Kaisar Yuwen Longzhi tetap tertuju pada Kasim Lu Dehai. Tidak tergesa, tidak memberi tekanan yang terlihat, namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.Beberapa detik berlalu. Kemudian ia membuka suara dengan pelan. “Tidak.”Namun cukup untuk membuat Lu Dehai sedikit mengangkat pandangannya, meskipun hanya sepersekian.Kaisar tidak mengalihkan tatapannya.“Menghentikan seseorang terlalu cepat,” lanjutnya, “seringkali justru membuat kita kehilangan apa yang ingin kita lihat.”Nada suaranya tetap datar. Seolah membicarakan sesuatu yang sederhana.Lu Dehai kembali menundukkan kepalanya. “Hamba mengerti.”Ia tidak berani bertanya lebih jauh. Karena ia tahu, setiap keputusan yang diambil oleh pria di hadapannya tidak pernah tanpa alasan.Kaisar berbalik perlahan. Langkahnya tenang saat ia kembali menuju meja.“Biarkan dia bergerak,” ucapnya lagi. “Dan biarkan dia percaya bahwa tidak ada yang mengawasinya.”Kasim Lu Dehai terdiam. Kalimat itu terdengar sede
Istana kekaisaran berdiri dalam keheningan yang megah.Lorong-lorong panjangnya diterangi cahaya lampu minyak yang berjajar rapi di sepanjang dinding. Bayangan para penjaga memanjang di lantai batu, bergerak perlahan setiap kali langkah kaki terdengar.Malam telah turun sepenuhnya. Namun di bagian terdalam istana, masih ada satu ruangan yang belum kehilangan cahaya.Pintu besar itu tertutup rapat. Dua penjaga berdiri di kedua sisinya, tidak bergerak sedikit pun.Di dalam suasana jauh lebih sunyi.Seorang pria duduk di balik meja panjang, tubuhnya tegak, jubahnya jatuh rapi tanpa cela. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Tatapannya tertuju pada sebuah gulungan laporan yang terbuka di depannya.Tidak terburu-buru. Tidak juga tertarik.Seolah isi laporan itu sudah ia ketahui sebelum membacanya.“Sudah kembali?”Suaranya terdengar pelan. Namun cukup untuk memecah keheningan yang kaku itu. Dari sisi ruangan, seseorang melangkah maju.Seorang kasim dengan pakaian rapi, gerakannya halu
“Nyonya, maaf aku sedikit terlambat.”Yuwen Shuang menghampiri Han Ruoxi yang telah menunggunya di bawah atap teras gerbang dalam. Kereta kuda keluarga Zhao sudah terparkir beberapa langkah dari sana. Dua ekor kuda hitam berdiri tenang, sesekali mengibaskan ekornya. Seorang kusir memegang kendali d
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia me
Yuwen Shuang sedikit terdiam setelah mendengar pertanyaan itu.Angin musim semi kembali berhembus pelan di taman timur. Beberapa kelopak bunga persik jatuh perlahan ke permukaan kolam, menciptakan riak kecil di air yang tenang.Tatapan Yuwen Shuang sempat beralih ke arah air itu sebelum akhirnya ke







